Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Rama Bersikap Aneh


__ADS_3

Dua bulan berlalu sudah, hubungan Riana dengan Raihan ternyata benar-benar berakhir. Antara rela dan tidak rela, sebab Riana masih menyimpan rasa cinta untuk mantan tunangannya itu. Di sisi lain Riana dan Rama semakin dekat, mereka berkomunikasi setiap hari jika sedang senggang. Adanya Rama disisinya membuat wanita itu dapat melupakan Raihan sejenak. Meskipun bayangan Raihan tidak sepenuhnya menghilang dalam pikirannya, namun Riana mencoba sekuat tenaga untuk melupakan Raihan.


Pagi ini Riana mematut dirinya di depan cermin, senyumnya terbit saat bangun tidur, ia kedapati datang bulan, yang menandakan jika dirinya tidak hamil. Siklus datang bulannya tidak teratur lantaran dirinya terlalu stress dan kelelahan. Riana bernapas penuh kelegaan setelah satu bulan merasakan batu besar menghimpit dadanya ketika kecemasan akan dirinya hamil atau tidak selalu menghantui. Kini wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik ketika bibirnya disentuh dengan lipstik berwarna peach. Ia meneliti ulang penampilan dirinya sebelum berangkat ke kantor.


Riana melirik singkat pada ponselnya yang bergetar disertai dengan notifikasi pesan masuk, ia kemudian mengambil ponselnya tersebut. Bibirnya tersenyum tipis ketika membaca pesan dari Rama, hingga Riana membalas pesan teman masa kecilnya itu dengan singkat, sebelum kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas dan segera keluar dari apartement.


Meski masih menyisakan rasa sesak, Riana mencoba untuk baik-baik saja. Terlebih saat di kantor, lagi-lagi ia harus mendapati Raihan sedang bersama Anggun. Kedua pasangan kekasih itu masih nampak hangat dan saling memancarkan cinta. Riana berdecih kesal, hatinya teriris pilu, tetapi tidak mungkin ia menangis yang nantinya akan disaksikan banyak karyawan disana.


"Kuat Ri, kamu pasti bisa." Riana memberikan semangat pada dirinya sendiri. Menguatkan hati untuk melewati Raihan dengan kekasih barunya itu. Ia harus mulai terbiasa, sebab untuk kedepannya ia akan sering berada di Gedung West untuk mengantarkan tugasnya kepada divisi yang berada satu lantai dengan divisi Raihan.


"Ri, aku temenin kamu ya." Entah sejak kapan Sella sudah berada di sisinya, Riana tidak menyadari kedatangan wanita itu, karena fokusnya hanya tertuju pada Raihan dan kekasih laki-laki itu. Sella merangkul lengan Riana dan mencoba menguatkannya.


"Sell, pelan-pelan aja jalannya." Riana berbisik ketika Sella menarik lengannya untuk mempercepat langkah mereka.


"Udah deh Ri, kita harus jalan cepat. Raihan bisa ngelihat kamu, nanti dia mikirnya kamu caper sama dia, 'kan nggak banget," cebiknya berbisik. Sella hanya tidak ingin laki-laki itu menganggap temannya gagal move on.


Riana mengangguki perkataan Sella yang ada benarnya. Sehingga langkah Riana semakin dipercepat dengan tatapan lurus ke depan tanpa menoleh ke arah mantan tunangannya itu. Namun tanpa ia ketahui jika sedari tadi Raihan sudah menyadari keberadaannya dan ekor matanya sempat melirik singkat. Ada perasaan rindu yang tiba-tiba saja menelusup masuk, tetapi ia sudah memutuskan untuk bersama dengan Anggun, mengingat Anggun adalah wanita yang tepat untuknya.


***


Menjelang senja, Riana berdiri dengan memainkan ponsel di depan gedung perusahaannya. Wanita itu menunggu Rama menjemput dirinya, sebab mereka akan menonton film yang tengah booming di bioskop. Riana tiba-tiba mengangkat wajahnya ketika suara klakson menyentakkan telinganya, seketika Riana melemparkan senyum pada sosok Rama yang baru saja datang.


"Udah nunggu lama ya Ri? Maaf ya tadi jalanan macet banget." Rama tersenyum kuda sembari menyodorkan helm kepada Riana.


"Iya nggak apa-apa Ram, santai aja. Aku juga belum sampai lumutan nungguin kamu."


Rama terkekeh, meski berkata tidak apa-apa tetapi bibir Riana mencebik kesal. Rama kemudian mengambil alih helm dari tangan Riana.


"Kamu mau ngapain? Kenapa helmnya diambil lagi?" Riana terperangah sesaat, baru saja ia hendak mengenakan helm, tetapi Rama merampas helm itu dari tangannya.

__ADS_1


"Ya mau pakein kamu helm-lah. Nggak mungkin juga aku buang helmnya. Harganya mahal ini," sahut Raihan sembari memasangkan helm di kepala Riana. Wanita itu menurut hingga helm tersebut berhasil terpasang di kepalanya.


"Iya... iya... Ram. Mendingan kita cepat-cepat jalan deh, nanti telat nonton filmnya loh."


"Yaudah naik Ri. Kamunya masih berdiri aja sih."


"Iya...." Riana pun segera naik ke atas motor Raihan. Setelah memastikan Riana sudah duduk dengan nyaman, Rama segera memacu motornya dengan kecepatan sedang.


Tidak membutuhkan waktu lama, Riana dan Rama tiba di salah satu Mall di Jakarta. Keduanya sudah memesan tiket dan segera masuk ke dalam bioskop begitu operator memberitahu jika film akan segera dimulai.


Riana dan Rama menempati kursi masing-masing. Semula biasa aja, Riana menonton dengan serius. Namun saat di pertengahan film, tangan Rama menggenggam tangannya. Sontak saja membuat Riana memekik kaget, kepalanya menoleh ke samping dan bersamaan dengan Rama yang juga menoleh ke arahnya. Sorot mata Riana menuntut penjelasan kepada Rama.


"Biarin dulu kayak gini ya Ri, jangan di lepas."


"Tapi Ram..."


"Sshhttt..." Ketika Riana hendak melayangkan protes, jari telunjuk Rama menempel di bibir Riana, agar temannya itu tidak banyak bicara. "Kita nonton lagi ya, filmnya sebentar lagi selesai kok." Dan kemudian Rama kembali menatap lurus ke depan dengan posisi duduk seperti semula namun tangannya kian diperkuat menggenggam tangan teman masa kecilnya itu.


Setelah berakhirnya film dan keluar dari gedung bioskop, tatapan mata Riana nampak kosong. Ia benar-benar hanya menonton pertengahan cerita saja, selanjutnya pikiran Riana melanglang buana entah kemana.


"Ri, kenapa diem aja sih?" Rama mengguncang tangan Riana yang masih di genggam olehnya.


"Nggak apa-apa Ram. Aku cuma sedikit ngantuk aja." Riana tersenyum menampakkan gigi putihnya. Sejujurnya ia tengah gundah dengan apa yang ia rasakan. Rama benar-benar sukses membuatnya kacau malam ini.


"Kita makan dulu ya Ri, abis itu aku anter kamu lagi ke apartement."


Riana hanya mengangguk saja dengan wajah polosnya, hingga membuat Rama terkekeh dan entah sadar atau tidak laki-laki itu menarik tangan Riana dan dikecupnya punggung Riana.


Riana dibuat membeku sekaligus terperangah dengan sikap Rama. Wanita itu merasa ada yang salah dengan Rama. Apa kepala temannya itu terbentur sesuatu? Jika orang-orang melihat mereka saat ini, sudah pasti menyimpulkan mereka adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


"Ri... Ri.... Riana...."


Raihan harus mengguncang kedua lengan Riana yang masih memeluk erat pinggangnya. Motor Rama baru saja mendarat di depan apartemen Riana, tetapi Riana tidak kunjung turun dari motor, padahal ia sudah memanggilnya berulang kali.


"Iya Ram, aku turun ya." Riana yang tersentak kaget dan baru sadar jika posisi mereka sudah tiba di depan apartement, buru-buru turun dari motor. Sungguh ia terlihat bodoh malam ini, sejak di tempat makan Riana terus bersikap bodoh dan Rama berulang menegurnya. "Ini helm kamu Ram, makasih ya." Riana mengembalikan helm milik Rama usai melepaskannya.


Rama mengambil helmnya itu, lalu meletakkannya di kursi belakang motor. Laki-laki itu pun turun dari motor dan berdiri di sisi Riana. Tubuh Rama yang menjulang tinggi itu membuat Riana harus mendongak agar dapat melihat wajah Rama yang tampan.


"Ehm Ri, maaf ya kalau aku buat kamu bingung." Rama menggaruk tengkuk lehernya. Ia pun sadar jika sikapnya itu yang membuat Riana nampak bodoh dan tercenung sepanjang jalan.


"Iya Ram,kenapa sih kamu kok aneh gini sikapnya?" Ya, Riana menuntut penjelasan, seolah laki-laki di hadapannya itu bukanlah Rama.


"Nggak aneh Ri, sebenarnya aku emang maunya bersikap kayak gini terus ke kamu, tapi aku takut kamu marah, jadi aku cuma bisa nahan aja." Rama menyematkan senyum tulus. Mungkin malam ini akan mengungkapkan sesuatu setelah sekian lama hanya terpendam di dalam hati.


"Maksud kamu apa sih Ram?" Riana gagal mencerna.


"Aku sayang dan cinta kamu Ri." Akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Rama setelah sekian tahun lamanya bersembunyi di balik ikatan teman masa kecil.


Bersambung


Rama Dharmendra



Rama dan Riana



...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2