
Dicky mengelus lembut perut Fitri yang semakin terlihat membuncit, kini tangannya sudah bisa digerakkan, namun kakinya masih terasa nyeri jika bergerak.
"Aduh!" Fitri memegang perutnya.
"Kenapa Fit?" tanya Dicky cemas.
"Ini Mas, si Dedek menendang terlalu keras, belakangan gerakannya semakin lincah saja!" sahut Fitri.
"Hmm, kalau kau mau main bola, Papa yang jadi lawanmu Nak, bukan Mamamu!" bisik Dicky sambil mengusap perut Fitri.
Sentuhan Dicky membuat bayi dalam kandungan Fitri menjadi tenang.
"Beberapa hari ini, menemani Mas Dicky di rumah sakit, Si Dedek kelihatan senang, aku merasa sangat fit dan sehat, bahkan keinginan makanku juga bertambah!" ujar Fitri.
"Iya dong, dia mana mau jauh dari papanya, belum lahir saja kami sudah sehati!" sahut Dicky.
"Makanya Mas Dicky cepat sembuh dong, supaya bisa cepat pulang, bosan juga lama-lama aku di rumah sakit!" cetus Fitri.
"Aku malah senang Fit!" kata Dicky.
"Senang? Senang karena kau bisa modus setiap hari Mas, dengan alasan kaki sakit tangan sakit, mau pipis, mau mandi, minta ganti baju, ada-ada saja!" sungut Fitri cemberut.
Dicky tertawa melihat ekspresi Fitri yang di rasa sangat menggemaskan itu.
Ceklek!
Pintu ruangan itu di buka dari luar. Nampak Pak Jamal, Bu Erna, Bu Sita dan beberapa orang guru yang lain datang menjenguk Dicky.
"Wah! Kejutan sekali kalian bisa datang, kalian tau dari mana kalau Mas Dicky di rawat di sini?" tanya Fitri terkesiap.
"Dari Pak Kevin Bu, katanya Pak Dokter kecelakaan, tapi saat kami melihatnya, dia nampak baik-baik saja!" sahut Pak Jamal.
"Ya iyalah baik-baik saja, orang istrinya yang menjaganya!" timpal Bu Erna.
"Aku kangen sama kalian semua, bagiamana kabar murid-murid?" tanya Fitri antusias.
"Baik Bu Fitri, apalagi Dara, sekarang dia jadi anak pintar dan berprestasi, saingan dengan Meira, dan mungkin mereka yang akan jadi juara kelas!" jelas Pak Jamal.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya, iya kan Mas?" Fitri menoleh ke arah Dicky.
__ADS_1
"Iya, itulah sebabnya mengapa cinta dan kasih sayang bisa merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin!" ucap Dicky.
"Ehm! Asal jangan jadi gila pujian saja, seolah-olah hanya kita yang paling sempurna di dunia ini!" celetuk Bu Sita tiba-tiba.
"Oh, Bu Sita masih mengajar di sekolah, aku pikir ... " Fitri menghentikan ucapannya.
"Pikir kenapa Bu Fitri? Waktu itu memang Pak Jamal sempat mengistirahatkan aku, tapi dia kembali memanggilku karena sekolah kekurangan guru dan kau juga keluar dari sekolah!" sahut Bu Sita.
"Bu Sita sudah menandatangani surat perjanjian kelakuan baik, kalau sampai terciduk lagi, maka semua sekolah akan memblokir dia!" tambah Pak Jamal.
"Tenang saja, kami para guru juga selalu mengawasi perkataan Bu sita kok, setiap orang pasti bisa berubah kan?!" ujar Bu Erna.
"Sekarang Bu Sita tidak berani lagi bicara sembarangan, dari pada dia kehilangan pekerjaan!" timpal Pak Riko.
"Sekali lagi Terimakasih atas kunjungan kalian semua! Bapak dan Ibu guru semuanya!" ucap Dicky.
"Iya Pak Dokter, kami juga tidak pernah lupa kalau Pak Dokter salah satu donatur tetap di sekolah kami, makanya kami sangat menghormati dan menghargai Pak dokter!" balas Pak Jamal.
****
Sore itu, Fitri sudah bersiap untuk mengontrol kehamilannya ke Dokter Mia, di temani oleh Bu Eni, Ibunya.
"Sudahlah Mas, kau kan harus banyak istirahat, kali ini biar Ibu yang menemaniku, lagi pula Ibu sangat ingin melihat cucunya!" sahut Fitri.
"Iya Dicky, Ibu belum pernah lho lihat bayi di layar komputer, jaman sekarang ada-ada saja ya, makin canggih! Di kampung saja jarang orang pakai alat begituan!" ujar Bu Eni.
"Itu namanya alat USG Bu!" jelas Dicky.
"Iya, makanya Ibu ingin lihat!" sahut Bu Eni.
"Kalau begitu aku jalan sekarang ya Mas, kau istirahat saja, jangan nakal!" bisik Fitri sambil tersenyum.
"Ya ya, pergilah kalian, tolong bilang ke Mia, kasih detil laporan perkembangan bayiku, kalau perlu di print sekalian!" sahut Dicky.
Fitri dan Ibunya lalu segera berjalan menuju poli kandungan, karena Fitri sudah mengambil nomor antrian duluan, jadi mereka langsung bisa masuk.
Dokter Mia nampak duduk sambil tersenyum di meja kerjanya.
"Nah gitu dong, jangan lupa di kontrol bayinya!" kata Dokter Mia.
__ADS_1
Fitri kemudian berbaring di ranjang pasien, kemudian Dokter Mia langsung mengarahkan ke layar monitor 4 dimensi.
Bu Eni takjub melihat alat USG yang bisa melihat bayi dalam perut itu.
"Waah, hebat euy! Siapa ini yang menciptakan alat secanggih ini?" gumam Bu Eni.
"Bayinya sehat Fitri, ini sudah akurat bayi laki-laki, pasti mirip Papanya nanti!" ujar Dokter Mia.
"Sudah pasti ya Dok?" tanya Fitri.
"Iya, sudah kelihatan jelas kok, bayinya sehat dan lincah, beratnya sesuai umurnya, tetap jaga asupan gizi dan pola makan ya, selalu rutin minum vitamin juga susu hamilnya!" jelas Dokter Mia.
"Sejak si Dicky kecelakaan Fitri malah tidak minum susu lagi Dok, soalnya tidak ada yang membuatkannya!" celetuk Bu Eni.
"Ah Ibu, bukan begitu juga alasannya Bu, susunya kan ketinggalan di rumah!" sergah Fitri malu.
"Hmm, dasar ... Dulu setiap kali Ibu buatkan susu kau juga tidak pernah meminumnya Fit, tapi kalau Dicky, baru deh mau di minum!" sungut Bu Eni.
Dokter Mia tersenyum melihat mereka berdua.
"Untuk kehamilan kedua ini, karena jaraknya kurang dari dua tahun dari kehamilan sebelumnya, jadi kemungkinan lahirnya Caesar ya Fitri, untuk meminimalisir resiko!" lanjut dokter Mia.
"Apa? Memangnya Fitri pernah hamil sebelumnya??" tanya Bu Eni kaget.
"Lho, memangnya Ibu tidak tau? Fitri pernah mengalami operasi Caesar karena bayi yang di kandungnya meninggal waktu itu, makanya saya bilang kemungkinan bayi yang kedua ini akan lahir Caesar karena jaraknya kurang dari dua tahun!" jawab Dokter Mia.
Bu Eni langsung menatap tajam ke arah Fitri. Ada tanda tanya besar di benaknya. Dia sama sekali tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa Fitri pernah hamil dan kehilangan bayinya.
Selama ini Fitri memang merahasiakan peristiwa yang menimpa dirinya di waktu lampau, selain karena tidak siap mental, Fitri juga tidak ingin Ibu dan Bapaknya malu.
Apalagi peristiwa pemerkosaan yang menimpanya dulu menghasilkan buah, dan itulah yang menyebabkan Dicky menikahinya.
Mungkin sudah saatnya Fitri berkata jujur pada Ibunya, tentang apa yang di rahasiakan selama ini.
"Nanti aku akan jelaskan Bu!" bisik Fitri.
Setelah Fitri selesai berkonsultasi dan memeriksakan kandungannya di Dokter Mia, Bu Eni langsung menarik tangan Fitri keluar dari ruangan itu.
"Sekarang tolong ceritakan semuanya pada Ibu, apa yang sesungguhnya terjadi padamu selama ini Fit??" tanya Bu Eni sambil menatap tajam wajah Fitri.
__ADS_1
****