Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Ada Yang Tidak Beres


__ADS_3

Dicky bingung melihat ekspresi wajah Ibunya saat melihat berkas yang baru saja di bacanya.


Dicky merasa tidak ada yang aneh dalam berkas itu, semuanya komplit dan jelas.


"Ibu kenapa? Apa ada yang salah dalam berkas itu?" tanya Dicky.


"Nak, laporan bulan lalu ini, jumlahnya sangat tidak sesuai dengan yang ibu terima!" jawab Bu Anjani.


"Apa maksud Ibu?" tanya Dicky.


"Bram memberikan aku laporan yang jumlahnya berbeda dengan yang ada di berkas ini, dan jumlah selisihnya sangat jauh, hampir 50 persen!" jawab Bu Anjani.


Dicky mulai berpikir sesuatu.


"Jadi ... Pak Bram selama ini telah memanipulasi data rumah sakit, berikut omset keuangannya?" Dicky menatap ke arah Bu Anjani, Bu Anjani menganggukan kepalanya.


"Ibu juga baru tau saat melihat ini, selama ini, Ibu selalu percaya saja dengan apa yang dia laporkan ke Ibu!" ucap Bu Anjani.


"Pantas saja!" gumam Dicky.


"Kenapa Nak?"


"Sejak Ibu mengumumkan ke publik kalau aku adalah putra Ibu, Pak Bram jadi bersikap dingin padaku, bahkan cenderung tak bersahabat, mungkin karena masalah ini!" jelas Dicky.


"Ibu jadi bingung harus bagaimana, kalau Ibu langsung menegur Dia dan mengambil alih semua kepercayaan yang sudah Ibu berikan padanya, Ibu takut dia melakukan hal yang ..." Bu Anjani menghentikan ucapannya.


"Aku tidak mengira kalau selama ini, Pak Bram telah melakukan korupsi secara halus dengan menggunakan kepercayaan Ibu, apalagi Ibu berada satu rumah dengannya, aku takut terjadi apa-apa pada Ibu!" ucap Dicky.


"Sebenarnya sudah sejak lama Ibu agak risih berada satu rumah dengan Bram, apalagi Lina istrinya itu, setiap hari kerjaannya hanya shopping di mall, sekarang Ibu tau, dari mana mereka mendapatkan banyak uang!" ujar Bu Anjani.


Dicky terdiam dan nampak sedang berpikir sesuatu, dia menyadari bahwa Ibu yang baru dimilikinya setelah puluhan tahun berlalu kini dalam masalah.


Dicky tidak ingin kehilangan surganya lagi, sudah cukup selama ini dia merasa sepi tanpa hadirnya seorang Ibu kandung.


"Ibu, aku akan tinggal bersama Ibu!" ucap Dicky.


Bu Anjani terperangah mendengar ucapan Dicky.


"Apa? Benarkah? Ibu tidak salah dengar kan?" tanya Bu Anjani dengan mata berkaca-kaca.


"Iya Bu, aku akan mengajak istri dan anak-anakku untuk tinggal bersama Ibu, aku tidak ingin Pak Bram punya niat jahat terhadap Ibu, aku akan menjaga dan melindungi Ibu!" ucap Dicky yakin.

__ADS_1


Bu Anjani berdiri dan langsung memeluk Dicky dengan erat.


"Terimakasih Nak, akhirnya Ibu bisa juga merasakan punya Keluarga, terimakasih!" ucap Bu Anjani sambil membelai sayang rambut Dicky.


"Baiklah, sepertinya aku harus segera kembali ke rumah, aku akan memberitahu Fitri dan orang-orang rumah soal rencana ku pindah ke rumah Ibu, aku lebih sayang Ibu dari pada rumahku itu!" ujar Dicky.


"Berada dekat bersamamu membuat Ibu menjadi lebih tenang Nak!" ucap Bu Anjani.


Dicky kemudian mulai bersiap akan kembali pulang ke rumahnya, setelah Bu Anjani kembali ke ruangan pribadinya.


Dicky mulai berjalan menyusuri lorong menuju ke lobby, dia berniat akan pulang untuk memberitahukan Fitri mengenai rencananya untuk pindah dan tinggal bersama Bu Anjani.


Sebelum Dicky pergi, dia menyempatkan diri untuk mampir ke ruangannya Dimas, kangen juga dia belakangan jarang bertemu dengan Dimas, walaupun Dokter gigi itu menyebalkan, tapi Dimas adalah satu-satunya teman Dicky satu angkatan sejak dulu.


Ceklek!


Dicky langsung masuk ke dalam ruangan Dimas tanpa mengetuk pintu dulu.


Dimas yang sedang serius di depan laptopnya terkejut melihat kedatangan Dicky yang tiba-tiba itu.


"Hai Dim! Tumben pasien sepi hari ini!" ujar Dicky.


"Diam kau Dim!" cetus Dicky.


"Sekarang kau jarang buka praktek, ruanganmu juga berubah jadi eksklusif, aku membayangkan kehidupan apa yang kau rasakan sekarang Bro!" ujar Dimas.


"Tapi tetap saja, Dokter Dicky selalu akrab dengan Dokter Dimas, bagaikan kepompong!" sahut Dicky.


"Nah aku suka gayamu, ternyata walau sudah di atas kau tidak sombong juga Dic, ada apa kau datang ke sini? Mau memantau kinerjaku?" ledek Dimas.


"Tidak! Hanya memastikan bajwa Dokter gigi yang satu ini masih bertengger di sini!" sahut Dicky.


"Kau bisa saja!" Dimas lalu merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sesuatu, lalu menyodorkan nya pada Dicky.


"Dicky, aku mengundangmu di acara pernikahanku Minggu depan, awas saja kalau kau tidak datang dan membawa amplop tebal!" ujar Dimas.


"Wah!! Akhirnya! Kau pecah telur juga Dim!! Selamat ya!!" Dicky langsung berdiri dan memeluk Dimas sahabatnya.


"Telurku belum pecah Bro, belum juga di sentuh!" sahut Dimas.


"Mau aku bantu pecahkan? hahaha!" Dicky tertawa lepas sambil menepuk bahu Dimas.

__ADS_1


****


Fitri sambil menggendong Alex, menyambut saat Dicky sudah pulang ke rumah.


"Tuh Papa sudah pulang, Alex jangan menangis lagi ya!" bisik Fitri pada bayinya.


Dicky yang melihat buah hatinya langsung mengecup keningnya, rasanya rindu sekali, padahal baru tadi pagi dia pergi.


Dicky lalu hendak mengambil Alex dalam gendongannya.


"Jangan Mas, cuci tangan dan cuci muka dulu sana, apalagi dari rumah sakit!" sergah Fitri.


"Iya iya, pasti Ibu bilang ya, pamali kalau dari luar langsung pegang bayi!" sahut Dicky.


"Yah, kalau sudah bersih kan lebih enak pegangnya Mas, ini Alex juga dari pagi rewel, kebiasaan mungkin di gendong Papanya terus kalau lagi di rumah, jadi bau tangan deh!" ujar Fitri.


Dicky langsung mencuci tangan dan wajahnya di wastafel yang ada di dekat situ, lalu mulai menggendong Alex, sementara Fitri membawakan tas kerja suaminya itu.


"Duh anak Papa kangen ya sama Papa, sama dong, Papa juga kangen sama Alex, jangan rewel lagi ya sayang, kasihan Mama capek, udah kasih Alex susu kan!" Dicky mengajak bicara bayinya itu.


Seolah mengerti, Alex menatap wajah Papanya itu, wajah yang sudah sangat di kenalnya.


Fitri kembali sambil membawakan semangkok bubur kacang hijau.


"Kemarikan Alex Mas, kau makan dulu, biar enak perutnya!" ujar Fitri.


"Yah Fit, baru juga sebentar gendongnya, lagian aku juga sudah subur kali tanpa harus makan bubur kacang hijau!" sungut Dicky.


"Siapa bilang aku suruh makan bubur kacang hijau supaya subur, supaya perutmu hangat Mas, supaya sehat!" ujar Fitri.


"Iya iya, tapi aku masih mau mengendong Alex Fit, Oya, tolong kau beritahu Dina dan Dara, Bi Sumi, juga mang Salim, kita akan pindah dari rumah ini!" ucap Dicky.


"Apa? Pindah? Kenapa kau mendadak mengajak pindah?" tanya Fitri bingung.


"Ibuku sendirian Fit, lagi pula, ada sedikit masalah yang di alami oleh Ibu, aku hanya ingin terus bisa menjaga dan melindungi ibuku, Ibu kandungku!" jawab Dicky.


Tanpa bertanya lagi, Fitri langsung menganggukan kepalanya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2