Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menghabiskan Waktu Berdua


__ADS_3

Senja mulai menyapa, warna jingga bercampur pink kemerahan memecah di langit ketika sebentar lagi matahari mulai tenggelam ke tempat peraduannya. Nampak Riana yang berdiri di depan gedung perusahaan berlantai 32 itu. Sepatu high heels yang sejak tadi melekat di kaki cantiknya sudah berganti dengan flatshoes tanpa heels. Karena jika sudah pulang, hampir seluruh karyawan mengenakan sepatu biasa agar tidak menyulitkan diri ketika menumpangi kendaraan umum seperti busway atau KRL (Kereta Rel Listrik).


Salah satu kakinya mengetuk-ngetuk aspal dan satu tangannya menekuk di depan dada, sementara tangan yang lainnya menggenggam ponsel dan sesekali mengecek benda pipih itu. Sudah hampir 15 menit Riana menunggu, akan tetapi batang hidung sang kekasih pujaan belum nampak di matanya.


Pikiran Riana tertuju kepada kemungkinan terburuk, entah Raihan melupakan janji mereka atau Raihan kembali diharuskan lembur.


"Kamu kemana sih Rai? Kalau emang kamu nggak bisa, kamu 'kan bisa kabarin aku, nggak buat aku nunggu kamu kayak gini. Pesan aku juga nggak kamu balas." Kembali, Riana melihat ponselnya, tidak nampak balasan pesan dari Raihan.


Namun detik kemudian, telinga Riana tersentak ketika suara klakson mobil mengejutkannya. Ia memperhatikan mobil yang berhenti tepat di depannya. Ia bingung sekaligus tidak menyadari pengemudi yang entah siapa, hingga pada saat jendela kaca mobil terbuka, menampakkan wajah tampan Raihan yang tersenyum kepadanya. Ah, dia melupakan mobil milik Raihan, padahal tadi pagi ia menumpangi mobil sedan hitam itu.


"Kenapa diam aja sayang? Cepat masuk," ucap Raihan masih menyematkan senyum di sudut bibirnya.


Mau tidak mau Riana merespon dengan senyuman tipis, meskipun masih tersisa kekesalan di hati Riana. Wanita itu segera masuk ke dalam mobil, lalu mengenakan seat belt.


"Maaf sayang tadi aku sibuk banget. Jadi nggak sempat balas pesan kamu. Ada laporan darurat yang di tunggu sama Bu Mayang." Raihan membelai rambut Riana dengan lembut. Nampak sorot matanya penuh penyesalan karena sudah membuat Riana menunggu dirinya. Bu Mayang adalah manager satu divisi dengannya dan ia tidak bisa menolak kala diminta bantuan oleh manager setengah baya itu.


"Iya yaudah nggak masalah. Yang penting kamu udah disini sekarang." Mengalah bukan berarti merendahkan diri, sehingga Riana berpikir tidak mengapa jika dirinya harus menekan ego dan emosinya. Itu adalah salah satu bentuk agar hubungan mereka tetap harmonis.


"Good. Pinter banget sih tunangan aku, jadi makin cinta deh." Dan Raihan mencuri kecupan di pipi Riana, sehingga membuat Riana menyembulkan rona merah di wajahnya.


"By, kalau dilihat orang lain gimana?" pekik Riana melihat kesana-kemari, khawatir jika apa yang baru saja dilakukan oleh Raihan diliat oleh orang-orang yang berlalu lalang.


"Nggak, tenang aja. Kaca mobil aku kelihatan gelap kalau dilihat dari luar." Perkataan Raihan seketika membuat Riana seketika menjadi tenang.


Riana terdengar menghembuskan napas lega. Biasanya mereka terlihat mesra jika berada di lingkungan lain. Tetapi jika berada di lingkungan perusahaan, Riana cemas jika ia menjadi bahan ejekan rekan-rekan yang lain. Sungguh Raihan sangat gemas jika memperhatikan bibir Riana yang mengerucut. Sebelum kemudian ia melajukan mobil meninggalkan gedung-gedung pencakar langit itu.


Mobil yang di kendarai Raihan masuk ke pemukiman kawasan rumah makan sunda. Meskipun sederhana, akan tetapi pemandangannya sangat asri. Karena malam menyapa, sehingga hanya berbagai lampu yang memenuhi tempat itu. Terlebih dihiasi dengan kolam ikan yang siap ditangkap jika ada pembeli yang menginginkannya.


Lantas keduanya segera turun dari mobil. Raihan tidak lupa untuk menautkan jemari mereka hingga memasuki rumah makan tersebut. Detik itu juga seorang karyawan menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Kita duduk disana aja Mas," kata Raihan menunjuk meja yang kosong.

__ADS_1


"Baik, silahkan Mas... Mbak...." Dan karyawan laki-laki itu menuntun jalan Riana serta Raihan ke tempat duduk.


"Silahkan tuan putriku." Perlakuan manis Raihan yang menarik kursi untuk Riana, membuat wanita itu bersemu merah. Terlebih kini disaksikan secara live oleh karyawan laki-laki yang hanya mengulum senyum.


"Ma-makasih." Dengan masih menyisakan rona merah di pipi, lantas Riana segera duduk disusul Raihan setelahnya yang juga membenamkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Riana.


Karyawan tersebut memberikan buku menu kepada keduanya, sehingga Riana dan Raihan nampak sibuk meneliti makanan di buku menu tersebut.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Raihan masih membaca deretan menu yang tersaji di buku menu.


"Cumi asam manis sama ikan gurame bakar aja, By. Minumnya es lemon tea," kata Riana. Wanita itu memang menyukai segala jenis makanan yang berbau seafood.


"Oke." Raihan mengangguk, ia pun sudah menemukan makanan yang diinginkannya. Lalu mendongak ke arah karyawan yang masih setia berdiri menunggu pesanan mereka. "Cumi asam manis, ikan gurame bakar, nasi bakar dan sayur asem. Minumnya dua lemon tea Mas" imbuhnya kepada karyawan laki-laki tersebut yang segera menuliskan pesanan di kertas khusus rumah makan tersebut.


"Apa ada tambahan lagi, Mas?" tanya karyawan itu memastikan kembali.


"Nggak ada Mas. Ini dulu aja, kalau nanti ada tambahan saya bisa panggil Mas," kata Raihan yang langsung di angguki oleh karyawan laki-laki itu. Sebelum kemudian berlalu untuk memberikan pesanan pasangan kekasih kepada sang koki andalan.


"Iya, makanya aku ajak kamu kesini. Aku udah sering dateng kesini."


"Oh ya? Sama siapa By?" Riana penasaran, karena setau dirinya Raihan jarang makan ke tempat seperti masakan berkhas sunda jika dirinya tidak memaksa. Karena Raihan berasal dari keluarga berada, kekasihnya itu selalu menyukai makanan ala jepang dan makanan mewah lainnya. Tidak heran jika mobilnya saja selalu berganti-ganti.


"Sama teman dan rekan kerja aku sayang. Aku tau tempat ini juga dari mereka," sahut Raihan tersenyum.


"Oh...." Dan Riana hanya mengangguk saja. Ia tidak begitu mengenal baik teman-teman Raihan selama satu tahun mereka bekerja di distrik perusahaan yang sama, hanya divisi dan gedung saja yang memisahkan mereka. Mengingat mereka tidak memiliki hubungan kerja yang berkaitan. Divisi Raihan merupakan jasa penyewaan gedung atau jual beli perumahan dan sebagainya. Sedangkan divisi dirinya menyangkut tentang property atau perabot rumah tangga.


Di tengah percakapan mereka, ponsel Raihan berdering. Ia membiarkannya karena ketika sedang bersama dengan sang kekasih, Raihan tidak menyentuh ponsel, hanya sesekali saja jika ada yang penting menyangkut pekerjaan atau yang lainnya.


Riana mulai merasa tidak nyaman ketika Raihan terus mengabaikan panggilan telepon yang entah dari siapa. Kekasihnya itu nampak tidak berniat menyentuh ponsel atau bahkan menjawab panggilan itu.


"Kenapa nggak di angkat By? Siapa tau penting loh," ucap Riana menyarankan. Lagi pula ia tidak nyaman ketika suara dering ponsel mengganggu percakapan mereka.

__ADS_1


"Nggak apa-apa sayang. Paling Frans yang telepon," jawabnya tersenyum. "Aku cuma pengen ngabisin waktu sama kamu sayang. Jadi aku nggak mau siapapun itu ganggu kita." Raihan menyambar tangan Riana yang berada di atas meja itu, lalu menggenggamnya erat.


Entah Riana harus menjawab apa. Ada rasa haru ketika Raihan selalu mengutamakan dirinya ketika bersama. Namun tidak lama suara ponsel Raihan kembali berdering, bukan deringan suara panggilan, tetapi notifikasi yang sepertinya pesan masuk.


"Sebentar sayang, aku cek dulu. Kayanya penting deh sampai kirim pesan juga." Raihan melepaskan genggaman tangannya, lalu merogoh ponsel di dalam saku celananya. Ketika membaca pesan itu, wajah Raihan nampak datar, namun kentara sekali jika rahangnya tiba-tiba saja menegang.


"Ada apa By?" Sejak Raihan menyentuh ponsel dan membuka isi pesannya, Riana tidak memalingkan wajah.


Raihan terkesiap lalu buru-buru memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku celananya setelah mengubah pengaturan ponsel dalam mood silent. "Nggak apa-apa sayang. Frans cuma ingetin aku buat meeting di lapangan besok pagi."


"Meeting pagi?" Kening Riana berkerut dalam. "Berarti nggak bisa jemput aku dong By?" sambungnya sedikit kecewa. Riana tau benar jadwal meeting Raihan sekitar pukul 08.00 pagi. Sedangkan divisi Riana bekerja mulai pukul 08.30 pagi.


Bibir Raihan membentuk garis tipis. "Iya maaf banget ya sayang. Besok kita nggak bisa bareng, aku nggak bisa jemput kamu, karena aku langsung ke lapangan." Sedikit tidak tega sebenarnya Raihan membiarkan Riana berangkat menggunakan taksi atau transportasi umum lainnya.


"Iya nggak apa-apa, aku ngerti kok. Aku malah senang kamu kerja keras kaya gini." Berbeda dengan bibirnya yang berkata demikian. Hati Riana entah kenapa merasakan sesuatu yang lain yang akan menimpa hubungan mereka.


"Tentu dong sayang, aku kerja keras gini 'kan buat kita. Setelah aku mengumpulkan uang banyak, aku bisa langsung lamar kamu dan resepsi mewah yang kamu pengen." Raihan menampilkan kembali senyum menawan khas miliknya.


"Nggak perlu mewah, yang penting sah By," koreksi Riana meralat ucapan Raihan. Padahal dirinya sekalipun tidak mempermasalahkan jika menggunakan resepsi sederhana.


"Iya, tapi orang tuaku maunya gitu," kata Raihan memberitahu.


Riana nampak diam sejenak. Memang kedua orang tua Raihan termasuk keluarga kaya, sehingga sudah sewajarnya menginginkan pernikahan putra mereka dengan mewah dan meriah.


Larut dalam pikirannya, Riana tidak menyadari jika dua karyawan sudah mengantarkan pesanan mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Riana dan Raihan menyantap hidangan yang menggiurkan itu. Sepanjang hari bekerja menguras tenaga keduanya, sehingga malam ini mereka ingin menyuplai makanan ke dalam tubuh hingga esok hari menjelang. Akhirnya Riana bisa menghabiskan waktu berdua dengan Raihan seperti sebelum-sebelumnya.


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2