Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Lagu Untuk Fitri


__ADS_3

Di sebuah hotel mewah bintang lima di ruang ballroom yang luar dan besar, Dicky dan Fitri duduk di sebuah pelaminan yang di desain dengan nuansa batik sederhana namun elegan.


Mereka bagaikan sepasang pengantin baru yang baru saja menikah, bagaikan raja dan ratu di singgasana dan menjadi pusat perhatian banyak orang.


Banyak para tamu yang berdatangan memberikan ucapan selamat, walaupun mereka sudah suami istri, namun rasa yang mereka rasakan hari ini sungguh sangat berbeda.


Kebahagiaan yang membuncah dari keduanya nampak jelas dari raut wajah mereka.


Perasaan yang tidak dapat dilukiskan dengan sastra terindah sekalipun, hingga wajah keduanya begitu bersinar, penuh dengan aura kebahagiaan.


"Aku bahagia Fit, andaikan dari dulu kita melaksanakan ini!" ucap Dicky sambil menggenggam tangan Fitri erat.


"Iya Mas, aku juga sangat bahagia, dulu ... Mas Dicky datang sebagai malaikat penolongku, sekarang aku merasa Mas Dicky datang menjadi suamiku sungguhan, terimakasih ya Mas!" balas Fitri.


Tiba-tiba Bu Eni naik ke atas pelaminan, lalu mendekati Dicky dan Fitri.


"Ibu? Ibu dari mana saja?" tanya Fitri.


"Fit! Kalian bagaimana sih? Kok tidak ada tempat amplopnya? Masa semua tamu yang datang tidak membawa amplop?" tanya Bu Eni.


"Bu, kan di undangan tertulis, tidak diperkenankan membawa amplop atau hadiah apapun, jadi untuk apa Ibu cari tempat amplop!" jawab Fitri.


"Ya ampun, pesta sebesar ini kenapa kalian menolak amplop? Modalnya tidak balik dong, apalagi makanannya kan enak-enak, kalian gimana sih? Kalau tidak suka uang kan bisa kasih ke ibu??" sungut Bu Eni.


"Maaf Bu, saya mengadakan resepsi dan acara tujuh bulanan Fitri ini bukan untuk mencari untung, ini semua murni pemberian saya untuk Fitri dan para undangan yang hadir!" jawab Dicky.


"Iya Bu, Mas Dicky saja yang mengeluarkan uang ikhlas kok, masa Ibu tidak ikhlas!" timpal Fitri.


"Hmm, ya sudah lah, terserah kalian, Ibu sudah capek!" sahut Bu Eni yang kembali turun dari pelaminan.


"Maafkan Ibu ya Mas, Ibu memang seperti itu, terkadang aku malu sama Mas Dicky!" ucap Fitri sedih.


"Lho, kok mempelai wanitaku sedih? Tidak sayang, Mas mu ini tidak apa-apa, walaupun ibumu seperti itu, dia tetap ibumu, mertua Mas, juga Ibu Mas!" kata Dicky sambil mengelus pipi Fitri.


"Tapi aku kan malu Mas!" sahut Fitri.


"Jangan malu sayang, ayo senyum, banyak tamu yang melihat ke arah kita!" bisik Dicky. Fitri kemudian mulai tersenyum kembali.


Acara semakin meriah, sang pembawa acara kemudian mulai berbicara, ruangan besar itu nampak semakin penuh dan sesak, akibat terlalu banyak tamu yang hadir.


"Malam ini, Dokter Dicky ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk istri tercinta, mari kita sama-sama saksikan suara emas beliau dengan lagu yang akan di nyanyikannya!!" kata sang pembawa acara.


Tepuk tangan riuh menggema di seantero ruangan itu.


Dicky lalu bangkit dari duduknya, perlahan dia melangkah, walaupun kakinya masih sedikit nyeri, dia terus berjalan mendekati alat musik dan MC yang ada di depan ruangan itu.

__ADS_1


Semua mata memandang takjub ke arahnya, Dokter muda tampan, yang kini menjabat sebagai kepala rumah sakit, berjalan dengan balutan jas bernuansa batik yang di kenakannya.


"Malam ini, perkenankan saya untuk menyanyikan sebuah lagu, untuk seorang wanita yang telah mengisi hari-hari saya dengan senyum dan kelembutannya, wanita itu adalah istri tercinta saya, teman hidup saya, Fitri ... I Love You ...!" ucap Dicky.


Suara musik mulai di mainkan Dicky dengan melodi gitarnya.


'Akhirnya ku menemukanmu,


Saat hati ini mulai merapuh.


Akhirnya ku menemukanmu


Saat raga ini ingin berlabuh


Ku berharap engkaulah


Jawaban sgala risau hatiku


Dan biarkan diriku mencintaimu


Hingga ujung usiaku ...


Jika nanti ku sanding dirimu


miliki aku dengan segala kelemahan ku


jangan pernah letih tuk mencintaiku ...


Semua orang terpukau dengan lagu yang di nyanyikan Dicky. Terlebih lagi Fitri yang mulai menitikkan air matanya karena terharu.


Hingga saat Dicky selesai menyanyikan lagunya, semua orang yang ada di ruangan itu masih memandangnya takjub, kemudian suara riuh tepuk tangan kembali menggema di gedung itu.


Dicky berjalan kembali duduk di atas pelaminannya.


"Mas Dicky nakal! Buat orang menangis saja!" ujar Fitri sambil mengusap wajahnya yang basah.


"Bagaimana Fit? Suaraku bagus tidak?" tanya Dicky.


"Bagus Mas, sebelas dua belas sama artis ibu kota!" sahut Fitri.


"Selama ini aku jarang menyanyi di depanmu, anggap saja lagu itu tadi mewakili perasaanku padamu Fit!" ucap Dicky.


"Terimakasih ya Mas ..."


"Terimakasih apa lagi?" tanya Dicky.

__ADS_1


"Karena kau sudah mencintaiku!" jawab Fitri.


"Sama-sama Fitri!" sahut Dicky yang kemudian memeluk Fitri dengan erat, seolah di ruangan besar itu hanya ada mereka berdua, padahal ribuan pasang mata terus melihat ke arah mereka.


Suasana begitu meriah, lantunan lagu demi lagu mengiringi acara pesta malam itu.


Para tamu dan hadirin mulai makan prasmanan yang telah di sediakan dengan aneka masakan khas Nusantara.


Tidak ketinggalan juga rujak dengan aneka buah tujuh rupa yang menjadi sajian wajib karena kandungan Fitri yang sudah menginjak usia tujuh bulan.


Bu Eni berkeliling memantau suasana resepsi putri semata wayangnya itu, hingga matanya melihat seorang wanita yang memasukan beberapa makanan ke dalam tasnya, wanita itu adalah Bu Romlah. Bu Eni lalu mendekati Bu Romlah.


"Hei Bu, kalau kau makan di tempat saja, tidak usah pakai di bungkus juga kali, dasar ndeso!" tegur Bu Eni.


"Siapa yang ndeso? Situ kali yang ndeso, makanan begini banyak mubazir kalau tidak di bungkus!" sahut Bu Romlah.


"Mubazir kepalamu! Tamu masih berdatangan, kau bilang mubazir, sudah sana minggir! Jangan malu-maluin acara mantuku ya!" cetus Bu Eni.


"Dasar pelit!" sungut Bu Romlah.


"Ayo minggir!! Lihat yang lain masih mengantri! Atau ku suruh satpam di depan buat mengusirmu??" sengit Bu Eni.


Dengan wajah kesal akhirnya Bu Romlah menyingkir juga dari meja prasmanan itu.


Beberapa tamu undangan mulai menyalami Dicky dan Fitri satu persatu. Mereka semua memberikan Dicky dan Fitri ucapan selamat.


Hingga pada saat Adi, sang pengacara teman Dicky selama di panti, datang dan menjabat tangan Dicky.


"Hai Adi! Akhirnya kau datang juga, aku pikir kau lupa akan janjimu!" ujar Dicky.


"Mana mungkin aku lupa menghadiri undangan sahabat lama, Oya, ini perkenalkan calon istriku!" kata Adi yang langsung menarik salah seorang wanita yang ada di belakangnya.


Saat melihat calon istri Adi, Dicky dan Fitri terkejut bukan kepalang.


"Adi, apa kau tidak salah pilih calon istri??" bisik Dicky.


****


Halo guys ...


Di sini siapa yang mau melihat visual Dicky, Fitri, Ranti, Dio, Bu Eni, Pak Karta, Bu Romlah, dan semua tokoh yang ada di kisah ini? Komen ya ...


Jangan lupa dukungannya guys ...


Jika semua yang membaca memberikan like dan vote, authornya bisa dapat peringkat ini ...

__ADS_1


Terimakasih 🙏😉😁


__ADS_2