Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Naik Jabatan


__ADS_3

Pagi itu, setelah sarapan bersama, Fitri mengantar Dara yang sudah berpakaian seragam lengkap dan Dicky ke depan teras rumahnya.


Hari ini Dara akan berangkat ke sekolah di antar oleh Dicky, sementara Fitri di rumah.


Kini Dara sudah berubah, pakaiannya tak lagi Kumal, rambutnya kini tersisir dengan rapi dan wangi, tidak seperti dulu, rambut yang selalu berantakan dan acak-acakan.


Bahkan tas dan sepatunya juga baru dan bagus, Fitri dan Dicky memberikan fasilitas yang terbaik untuk Dara.


"Nah Dara, nanti pulangnya Dara ikut jemputan sekolah ya, Papa Dicky sekarang semakin sibuk di rumah sakit!" ucap Fitri.


"Iya Mama!" sahut Dara.


"Dara belajar yang pintar, nanti Papa akan berikan les privat apa saja yang Dara suka ke rumah, jadi Dara bisa banyak belajar!" tambah Dicky.


"Iya Pa!" sahut Dara.


"Jangan lupa bekalnya di habiskan!" timpal Fitri.


Dara kemudian mencium tangan Fitri dan mulai masuk ke dalam mobil Dicky.


"Dengan kehadiran Dara, mudah-mudahan kau tidak kesepian di rumah!" ucap Dicky sambil mengecup pipi Fitri. Fitri mendorong lembut tubuh suaminya itu.


"Jangan seperti ini Mas, malu sama Dara!" ujar Fitri.


"Lho, kenapa malu, kita harus tunjukan pada anak-anak kita kalau Papa Mamanya saling mencintai, sehingga kelak mereka dewasa mereka menyadari bahwa cinta bisa mengubah segalanya!" ujar Dicky.


"Iya Mas ... sudah sana berangkat, tuh Dara sudah menunggu di dalam!" kata Fitri.


"Cium aku dulu!" cetus Dicky.


"Hmm, kau ini Mas, selalu saja!" Fitri menjinjit dan mencium pipi Dicky.


"Terimakasih sayang, Dek, Papa jalan dulu ya, baik-baik sama Mama ya Dek, nanti malam Papa tengok Dedek lagi!" ucap Dicky sambil mencium perut Fitri.


"Jangan nanti malam Mas tengoknya, sudah terlalu sering dia di tengok, lama-lama dia bisa muntah karena kebanyakan makan cairanmu!" sergah Fitri.


Dicky tersenyum kemudian mencubit pipi Fitri, lalu segera naik ke dalam mobilnya.


"Dah Mama!" Dara melambaikan tangannya saat mobil itu bergerak meninggalkan rumah itu.


****


Setelah Dicky mengantar Dara ke sekolah, dia langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.

__ADS_1


Belakangan ini Dicky semakin banyak pasien, sehingga sering kali dia kerja ekstra.


Setelah sampai di rumah sakit, Dicky langsung bergegas ke ruangannya.


"Selamat pagi Dokter Dicky!" sapa suster Wina yang nampak sedang membereskan ruangan Dicky.


"Pagi Sus, kita ada jadwal jam 9 kan? Jadi kita masih ada waktu satu jam untuk persiapan, tolong kau susun kembali catatan rekam medis dengan rapi dan berurutan, supaya aku bisa memantau perkembangan kesehatan pasien!" titah Dicky.


"Baik Dokter, Oya, tadi dokter Rizky berpesan agak Dokter Dicky ke ruangannya, ada hal penting yang hendak beliau bicarakan!" kata Suster Wina.


"Oke, aku akan ke ruangannya sekarang!" Dicky lalu kembali keluar dari ruangannya dan langsung menuju ke ruangan Dokter Rizky, kepala rumah sakit besar itu.


Dicky berhenti di depan ruangan Dokter Rizky, kemudian dengan perlahan dia membuka pintu kaca ruangan itu.


Dokter Rizky nampak sedang duduk sambil menatap layar laptopnya.


"Selamat pagi Dokter Rizky!" sapa Dicky.


"Ya, silahkan duduk Dokter Dicky!" sahut Dokter Rizky.


Dicky kemudian duduk di hadapan Dokter Rizky.


"Ada apa dokter memanggil saya?" tanya Dicky.


"Begini Dicky, setelah melihat kinerja anda di beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk memilihmu menjadi kepala rumah sakit menggantikan saya, karena sebentar lagi saya akan pensiun!" ucap Dokter Rizky.


"Maaf Dokter, apakah tidak terlalu berlebihan Dokter memilih saya, saya ini baru lulus kemarin sore, belum banyak pengalaman!" ujar Dicky merendah.


"Yah, tapi banyak dokter senior yang memilih anda menjadi kepala rumah sakit ini, selain bijaksana, anda juga cukup berkompeten dan profesional di bidang kedokteran, belum pernah ada pasien yang mengeluhkan pelayanan anda!" lanjut Dokter Rizky.


"Terimakasih Dokter atas kepercayaannya pada saya, saya benar-benar terharu dan merasa di hargai!" ucap Dicky.


Dokter Rizky berdiri lalu menjabat tangan Dicky.


"Selamat Dokter Dicky, selamat memimpin di rumah sakit ini, nanti acara serah terima jabatannya akan di infokan secepatnya!" ujar Dokter Rizky.


"Saya juga terimakasih atas kepercayaan rumah sakit ini untuk memilih saya yang masih banyak belajar ini Dokter!" balas Dicky.


"Baiklah kalau begitu, kau boleh kembali ke ruanganmu, selamat bekerja!" ucap Dokter Rizky sambil menepuk lembut bahu Dicky.


Dicky kemudian keluar dari ruang Dokter Rizky.


Ada senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah Dicky.

__ADS_1


Kemudian dia langsung merogoh ponselnya dan langsung menelepon Fitri.


"Halo Mas ..."


"Fit, aku ada kabar gembira!" ujar Dicky antusias.


"Kabar gembira apa Mas?" tanya Fitri penasaran.


"Sebentar lagi, suami kesayanganmu ini akan naik jabatan, aku di tunjuk menjadi kepala rumah sakit menggantikan Dokter Rizky Fit!" seru Dicky senang.


"Oya, benarkah? Wah, selamat ya Mas ... tidak sia-sia kerja kerasmu selama ini, aku makin kagum padamu!" ucap Fitri.


"Semua itu juga ada kau di balik semua ini, kau punya andil cukup besar Fit, kau tau, di balik kesuksesan suami pasti ada doa seorang istri, Terimakasih ya Fit!" sahut Dicky.


"Malam ini aku akan masak spesial untukmu Mas, nanti langsung pulang ya!" kata Fitri.


"Tentu sayang, ya sudah, aku siap-siap mau praktek dulu, jangan capek dan jaga Dedek untukku ya, I Love you!" ucap Dicky yang kemudian menutup panggilannya.


Setelah itu Dicky kembali masuk ke dalam ruangannya.


Belum ada pasien yang mengantri di jam itu, karena hari masih pagi. Suster Wina nampak masih sibuk membereskan rak tempat rekam medis pasien.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruangan Dicky di buka dari luar. Dicky terperangah saat melihat Dio, datang menghampiri Dicky sambil menggendong Chika.


"Selamat pagi Dokter Dicky!" sapa Dio.


"Pagi, apakah Chika sakit lagi?" tanya Dicky.


"Tidak dokter, aku hanya ingin pamit, nanti siang aku dan Chika akan menyusul Ranti ke Papua!" jawab Dio.


"Baguslah kalau begitu, aku turut senang kalau kalian bisa bersatu kembali, aku harap kalian bisa menemukan kebahagiaan kalian!" ucap Dicky.


"Terimakasih Dok, sebenarnya, Ranti bukan bekerja di rumah sakit di Papua, tapi ... dia sedang menjalankan pengobatan!" ujar Dio menunduk.


"Pengobatan? Pengobatan apa?" tanya Dicky.


"Ranti baru mengetahui kalau dia ternyata mengidap kanker otak stadium lanjut, itulah sebabnya aku dan Chika hendak menyusulnya!" jawab Dio.


"Kanker otak? Sejak kapan dia mengidap penyakit itu?" tanya Dicky lagi.


"Aku juga tidak tau, tapi saat ini, Ranti sangat membutuhkan support dariku, maafkan dia atas semua yang telah dia perbuat padamu!" ucap Dio sambil berdiri dan bergegas meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Dicky hanya bisa tertegun melihat kepergian Dio dan anaknya


****


__ADS_2