Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Bertemu Di Desa


__ADS_3

Pagi itu, Fitri mulai mengemasi barang-barang nya, rencana siang ini dia akan kembali ke Jakarta, Dicky selalu ribut menanyakan kapan dia pulang.


Alex nampak sedang bermain dengan kakek Neneknya di ruang depan rumah itu, kicauan burung dan suara lenguhan sapi ikut meramaikan suasana pedesaan di kaki gunung itu.


Setelah selesai, Fitri kemudian membawa barang-barang nya itu ke depan.


"Seharusnya kau pulang besok saja Fit, besok kan masih hari libur, Ibu dan Bapak masih kangen sama cucu!" ujar Bu Eni sambil menimang Alex.


"Mas Dicky Bu, dia minta aku cepat kembali, mungkin dia kesepian tidak ada Alex!" sahut Fitri.


"Ya sudah, kalau suamimu menghendaki pulang cepat, kau pulang saja Nak, patuhi perintah suamimu!" timpal Pak Karta yang wajahnya terlihat bertambah segar.


"Iya Pak, tapi Bapak harus jaga kesehatan Bapak, jangan terlalu capek kerja di sawah, apalagi musim hujan begini, dingin Pak!" ujar Fitri.


"Iya, bapak kan tiap hari memang ke sawah, mau kerja apa lagi?" sahut Pak Karta.


"Fit, jawab Ibu jujur, memangnya kenapa kau tak lagi tinggal di rumah Bu Sultan?" tanya Bu Eni tiba-tiba.


Fitri terhenyak mendengar pertanyaan Ibunya yang to the point itu.


"Ehm, tidak apa-apa Bu, Mas Dicky hanya ingin mandiri saja!" bohong Fitri.


"Masa sih Fit? Bukan karena Bu Sultan menyakitimu??" cecar Bu Eni.


"Kenapa Ibu bilang begitu?" tanya Fitri.


"Fit, walaupun Ibu norak dan miskin, tapi Ibu tetaplah seorang ibu, yang bisa peka terhadap sekeliling yang terjadi, Ibu marah saat Ibu mendengar mertuamu itu meremehkan mu dan mulai menghina Ibu, Ibu tahan saja, makanya Ibu pulang kampung waktu itu!" ungkap Bu Eni.


"Jadi ... Ibu pulang karena itu ..."


"Iya Fit, makanya waktu itu Ibu pesan kamu hati-hati, Nak Dicky itu baik karena Ibu tau asalnya dulu dari mana, dia tau susahnya orang hidup, tapi Ibunya ..." Bu Eni menghentikan ucapannya.


"Sudahlah Bu, tidak baik membicarakan orang lain!" sergah Pak Karta.


"Ibu senang dengar kalian pindah kembali ke rumah lama, Dicky itu suami yang hebat, dia tau menempatkan posisinya, tidak lupa daratan!" puji Bu Eni.


"Iya Bu, sekarang Mas Dicky buka praktek di depan rumah lama, kita mulai lagi dari awal, makanya aku kembali mengajar di sekolah!" tambah Fitri.


Bu Eni kemudian masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa satu kotak besar.

__ADS_1


"Fit, selama ini, Dicky suka memberikan Ibu dan Bapak amplop dan perhiasan, juga uang bulanan, sebenarnya kami tidak pernah memakainya, uang hasil tani Bapak di sawah cukup untuk keperluan sehari-hari, saat ini kalian mungkin lebih butuh uang, ini ambilah Fit!" ucap Bu Eni sambil menyodorkan kotak itu.


"Tidak Bu, itu milik Ibu dan Bapak! Aku tidak bisa menerima ini!" tukas Fitri.


"Jangan sungkan Fit, Ibu tau walaupun Dicky anak sultan, tapi Dicky bukan orang yang suka menadahkan tangannya, dia pasti akan berdiri di atas kakinya sendiri, dan Ibu juga tau kalau mantu Ibu tidak kerja di rumah sakitnya lagi!" ucap Bu Eni.


"Ibu benar Fit, lagi pula Ibu dan Bapak juga tidak hidup mewah-mewah, asal bisa makan minum itu sudah cukup, kau pakai saja untuk keperluan rumah tangga kalian!" timpal Pak Karta.


Mata Fitri berkaca-kaca melihat ketulusan kedua orang tuanya itu.


Walaupun seringkali Bu Eni terlihat menyebalkan, namun ketulusan hatinya tidak dapat di tandingi, bahkan oleh pejabat sekalipun.


Selama ini Fitri berpikir kalau Bu Eni sering memboroskan uang pemberian Dicky, namun ternyata salah, uang itu mereka tabung dan kini jumlahnya sangat banyak.


"Jangan Pak, Bu, aku senang Bapak dan Ibu tulus padaku dan Mas Dicky, tapi percayalah Pak, Bu, kami tidak kekurangan, uang hasil praktek Mas Dicky di klinik sangat cukup untuk kebutuhan kami sekeluarga, jadi Bapak Ibu jangan khawatir!" ucap Fitri.


"Yah, kalau kau tidak mau Ibu mau bilang apa Fit, tapi kalau kau lagi butuh, jangan sungkan-sungkan lho bilang sama Ibu! Memangnya cuma Bu Sultan saja yang bisa kasih anak mantu yang, aku juga bisa!" cetus Bu Eni.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar, Bu Eni bergegas keluar untuk membukakan pintu.


"Selamat pagi Bu, Fitri ada??" tanya seorang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu itu.


Fitri melotot melihat kedatangan Agus itu, tiba-tiba dadanya bergemuruh kencang.


"Kamu apa kabar Gus? Dengar-dengar kamu sudah kerja di Jakarta ya!" tanya Pak Karta.


"Iya Pak, kebetulan tiap akhir pekan saya pulang kampung, pas kebetulan kemarin lihat Fitri datang!" jawab Agus yang merupakan satu kampung dengan mereka.


"Gus, ngapain juga kamu datang ke sini? Siang ini aku sudah mau pulang!" cetus Fitri.


"Fit, aku cuma mau ngobrol saja denganmu, sudah lama kan kita tidak mengobrol!" ajak Agus.


"Gus, Fitri kan sekarang sudah punya suami, sudah ada anak lagi, nih lihat, ganteng pisan kan anaknya?? Kamu jangan deket-deket Fitri lagi ya, dosa!" celetuk Bu Eni.


"Hanya ngobrol saja Bu!" tukas Agus.


"Kalau mau mengobrol ya di sini saja, jangan keluar rumah pokoknya!" sergah Pak Karta.

__ADS_1


"Ayo Bu, kita main sama Alex di teras saja!" ajak Pak Karta yang memberikan kesempatan Agus untuk mengobrol dengan Fitri.


Bu Eni kemudian mengikuti Pak Karta pergi ke teras depan rumah bersama dengan Alex.


Fitri masih diam duduk di tempatnya.


"Fit, aku tau apa yang terjadi padamu dan keluargamu!" kata Agus.


"Sudahlah Gus, hentikan kelakuanmu untuk memata-matai aku terus, nanti lama-lama aku bisa benci sama kamu!" dengus Fitri.


"Fit, walaupun kau kini telah menikah, tapi aku perduli padamu, jadi kalau ada apa-apa jangan sungkan minta bantuan padaku!" ujar Agus.


"Hmm, aku tak akan sudi minta bantuan padamu, walaupun aku butuh!" sahut Fitri.


"Fit, terserah kalau kau menganggapku sebagai musuh atau apa, aku tetap perduli padamu!" tukas Agus.


"Jadi kau pulang kampung hanya mau bicara ini padaku??"


"Bukan Fit!"


"Lalu apa??"


"Ada hal yang mau aku pastikan padamu!" kata Agus.


"Soal apa??"


"Kau ini anak tunggal ibu dan Bapakmu bukan?!"


"Lalu kenapa??"


"Karena di Jakarta, aku melihat wanita yang serupa denganmu, dia punya toko bunga di dekat perkantoran, tadinya aku pikir itu kamu, tapi tenyata bukan!" jelas Agus.


"Apa?? Benarkah??"


"Aku mau kau bertanya pada Ibumu, apakah kau punya saudara lain?" ucap Agus.


"Memangnya apa perdulimu Gus??" tanya Fitri.


"Kalau benar begitu, aku akan mendekati wanita itu, sebagai pengganti dirimu!" jawab Agus sambil menatap Fitri dengan dalam.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2