Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pertanyaan Fitri


__ADS_3

Fitri tertegun mendengar penuturan Agus di hadapannya, sebenarnya Fitri sangat enggan mengobrol dengan Agus, Fitri takut kalau Agus akan kembali bertindak bodoh seperti dulu, mengirimkan paket yang sebenarnya Fitri tidak pernah menikmatinya.


"Sudahlah Gus, pikiranku sedang pusing, kau jangan bicara aneh-aneh padaku, terserah kau mau mengejar siapapun asal jangan aku!" sergah Fitri.


"Justru itu Fit, sebenarnya aku ingin menanyakan ini padamu, tapi aku tau kau pasti menghindariku, aku cuma penasaran saja!" tukas Agus.


Tiba-tiba Bu Eni masuk ke ruangan itu sambil menggendong Alex yang terlihat mulai menangis.


"Gus, kau pulang saja deh, Fitri itu sudah istri orang, nanti suaminya tau kau pasti kena hajar!" ujar Bu Eni.


"Iya Bu, ini juga mau pamit, sudah selesai ngobrolnya!" kata Agus.


"Maaf ya Gus, aku harus menyusui bayiku!" tambah Fitri yang kini berdiri dan mengambil Alex dari gendongan Bu Eni.


Setelah Agus pamit, laki-laki itu lalu segera beranjak keluar dari rumah Bu Eni.


Sebenarnya Fitri masih kepikiran dengan kata-kata Agus tadi, benarkah ada wanita lain yang sangat mirip dengannya?


Waktu itu Dicky juga pernah mempertanyakan itu saat dia melihat Foto wanita yang mirip Fitri di rumah Donny.


Tapi kata Donny, wanita tunangannya itu sudah meninggal karena kecelakaan.


Lalu sekarang Agus mengatakan kalau ada lagi wanita yang mirip dengannya, Fitri berpikir, apakah wajahnya begitu pasaran sehingga banyak orang yang mirip dengannya?


"Fit, oleh-oleh untuk di Jakarta sudah Ibu siapkan di kardus meja depan ya!" kata Bu Eni.


"Iya Bu!" sahut Fitri.


Setelah menyusui Alex, Fitri mulai mengirim pesan pada Mang Salim untuk menjemputnya, selama Fitri menginap di rumah orang tuanya, Mang Salim juga menginap di rumah kerabatnya yang kebetulan tinggal di daerah yang sama dengan keluarga Pak Karta.


Setelah mengirim pesan, Fitri kemudian keluar dari kamarnya, Alex nampak tertidur karena kekenyangan minum ASI.


Fitri kemudian duduk sambil menunggu Mang Salim datang.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel Fitri, ada panggilan video dari Dicky.


Fitri kemudian langsung mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Mas, kok tumben video call jam segini, memangnya tidak buka praktek??" tanya Fitri yang melihat jam dinding menunjukan pukul 11 siang.


"Ini kan hari Sabtu Fit, buka praktek jam 1 siang!" sahut Dicky yang terlihat masih baringan di tempat tidurnya.


"Hei mantu! Sehat-sehat ya! Nanti Ibu datang ke sana kalau Bapak sudah sehat betul!" kata Bu Eni yang langsung menimbrung di ponsel Fitri.


"Iya Bu, aku kangen nih, ayo dong datang lagi ke rumahku, anak-anak pasti senang kalian datang!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Siap Mantu, nih Fitri sudah siap-siap mau balik, katanya kau tidak bisa di tinggal lama ya! Duh so sweet sekali, jadi pengen muda lagi Ibu!" kata Bu Eni.


Dicky hanya tertawa mendengar ucapan mertuanya itu.


"Sudah Fit, kau cepat pulang saja, aku sudah tak sabar menunggumu dan Alex pulang!" ujar Dicky.


"Iya Mas, sampai ketemu ya, Dah!" sahut Fitri sambil menutup layar ponselnya itu.


Tin ... Tin ...


Suara klakson terdengar dari arah depan, Mang Salim sudah sampai di depan rumah, siap mengantar Fitri kembali ke Jakarta.


Pak Karta nampak membantu mengangkat barang dan dus ke dalam mobil.


Sementara Bu Eni membawakan tas bayi milik Alex sambil berjalan ke arah luar.


"Hati-hati ya Fit, salam buat suamimu! Mantu kesayangan Ibu!" ucap Bu Eni.


"Iya Bu!" sahut Fitri.


"Kalau butuh apa-apa jangan sungkan hubungi Ibu dan Bapak!" tambah Bu Eni.


"Iya Bu!"


Sebelum masuk ke dalam mobil, Fitri menoleh pada kedua orang tuanya yang berdiri di belakangnya.


"Bu, Pak, sebelumnya ada yang mau aku tanyakan pada Ibu dan Bapak!" kata Fitri.


"Apa yang mau kau tanyakan Nak?" tanya Pak Karta.


"Selama ini, sejak kecil aku hanya sendirian tanpa punya saudara kandung, apakah aku memang benar-benar anak tunggal Bapak dan Ibu?" tanya Fitri.


Tiba-tiba raut wajah Pak Karta dan Bu Eni berubah, mereka berdua saling berpandangan.


"Fit, kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" tanya Bu Eni.


"Tidak apa-apa Bu, aku hanya ingin tau saja!" sahut Fitri.


"Eh, Fit, tuh kelihatannya Mang Salim sudah kelamaan deh nungguin kamu, kamu cepat balik deh Fit, kasihan suamimu pasti tak sabar menunggumu!" ujar Bu Eni yang langsung mendorong lembut bahu Fitri untuk segera naik ke dalam mobil.


Mau tidak mau Fitri langsung masuk ke dalam mobil.


Pak Karta dan Bu Eni hanya melambaikan tangannya saat mobil yang di kendarai Mang Salim bergerak perlahan meninggalkan rumah itu.


Sepanjang perjalanan itu, Fitri terus berpikir mengenai perkataan Agus soal wanita yang mirip dirinya, Bapak dan Ibunya juga terlihat enggan untuk menceritakan masa lalunya, seolah ada yang di sembunyikan dari Fitri.

__ADS_1


Kembali terdengar suara ponsel Fitri, lagi-lagi Dicky meneleponnya dengan video call.


"Mas Dicky berlebihan sekali! Baru juga tadi telepon!" sungut Fitri.


"Di angkat saja lah Mbak, barangkali Pak Dokter sudah kangen berat!" kata Mang Salim.


"Dia baru telepon tadi Mang, sebelum berangkat!" tukas Fitri.


"Mungkin Pak dokter lagi bete Mbak, namanya juga suami!" ujar Mang Salim.


Akhirnya Fitri mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Mas!"


"Fit, kau jam berapa sampai rumah??" tanya Dicky.


"Mas Dicky gimana sih? Baru juga aku pulang dari rumah Bapak, ini masih di Sukabumi Mas!" jawab Fitri.


"Fit, ada undangan dari Dimas, besok Minggu dia menggelar resepsi pernikahannya di hotel, kita wajib datang tuh!" ujar Dicky antusias.


"Iya Mas, undangannya kan masih besok!" sahut Fitri.


"Cepat pulang Fit, aku membelikanmu gaun yang indah, nanti kau pakai di acara resepsi Dimas dan Mia ya!" lanjut Dicky.


"Apa? Gaun? Kapan kau beli gaun itu Mas? Kok tidak tanya aku dulu?" tanya Fitri.


Dalam layar ponsel itu, Dicky menunjukan sebuah gaun indah warna abu-abu muda yang terlihat cantik dan elegan.


"Bagus tidak Fit?" tanya Dicky.


"Bagus sekali Mas, terimakasih ya!" ucap Fitri.


"Ya, aku tak sabar melihatmu pakai gaun ini Fit, aku beli di sebuah butik besar milik pasienku, dan ternyata barangnya bagus-bagus!" kata Dicky.


"Iya Mas, aku juga tak sabar pulang, ada yang mau aku ceritakan padamu!" ujar Fitri.


"Soal apa sayang?" tanya Dicky penasaran.


"Ada deh!" sahut Fitri sambil tertawa.


Kemudian Fitri mematikan layar ponselnya itu sambil tertawa cekikikan, membayangkan ekspresi Dicky yang penasaran itu.


Bersambung ....


****

__ADS_1


__ADS_2