
Fitri berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruang khusus perawatan Dicky.
Matahari sudah tenggelam dan malam mulai datang menyelimuti. Ada kilat dan angin berhembus dingin menandakan hari akan hujan.
Fitri sebenarnya tidak ingin meninggalkan Alex, Alex pasti membutuhkan pelukan hangatnya saat ini, apalagi di saat akan hujan dan dingin seperti ini.
Namun Dicky suaminya saat ini juga membutuhkannya, apalagi setelah apa yang terjadi padanya.
Dua orang security masih menjaga di depan ruangan Dicky di rawat.
"Selamat malam Bu Fitri!" sapa kedua security itu.
"Selamat Malam," jawab Fitri.
Seorang security kemudian membukakan pintu ruangan itu untuk Fitri.
Fitri langsung masuk ke dalam, Bu Eni nampak berbaring di sofa, sementara Dicky juga masih terlihat berbaring dan memejamkan matanya.
Masih ada balutan perban di dada Dicky, dan dia tidak memakai baju. Fitri langsung beringsut mendekati suaminya itu.
"Aduh Mas Dicky, AC nya begitu dingin, mengapa kau tidak memakai selimut?" tanya Fitri sambil membetulkan selimut Dicky yang sejak tadi tidak beraturan.
Mendengar suara Fitri, Bu Eni dan Dicky langsung membuka matanya.
"Fitri? Sejak kapan kau datang?" tanya Dicky.
"Baru saja Mas, aku pikir Mas Dicky sudah tidur!" jawab Fitri.
"Ah, syukurlah kau cepat datang Fit, dari tadi Ibu mau suapi Nak Dicky, tapi dia malu-malu!" ujar Bu Eni yang langsung bangun dan duduk di sofa itu.
"Mas Dicky belum makan? Ini aku bawakan makanan, pasti Mas Dicky suka!" Fitri kemudian membuka bungkusan makanan yang di bawanya.
"Wah! Ikan bakar! Ayo Fit suapi aku!" ujar Dicky bersemangat.
"Hmm, tadi mau Ibu suapi pakai semur jengkol tidak mau, sekarang di bawakan ikan bakar semangat!" sungut Bu Eni.
"Apa Bu? Semur jengkol! Ya ampun Ibu, ini rumah sakit Bu, bukan sawah!" cetus Fitri terkejut.
"Ibu juga tau kali kalau ini rumah sakit, akhirnya semur jengkolnya Ibu kasih sama satpam di depan, eh mereka senang betul Ibu kasih semur!" sahut Bu Eni.
"Lagian Ibu aneh-aneh saja deh Ah, aku kan jadi malu Bu!" sungut Fitri.
__ADS_1
"Malu apa sih Fit? Jangan mentang-mentang sekarang kau sudah kaya melupakan tradisi nenek moyang, dulu saat kau kecil kau tidak mau makan kalau tidak sama semur jengkol, ingat tidak?!" ujar Bu Eni.
"Sudahlah Fit, jangan di permasalahkan lagi, sekarang aku lapar, aku mau makan ikan bakar yang tadi, makanan rumah sakit tidak enak!" sergah Dicky.
Fitri kemudian mulai menyiapkan makanan di dalam sebuah kotak makan yang berisi nasi, perlahan Fitri mulai menyuapi suaminya itu.
"Ikan bakarnya masih banyak nih Bu! Ayo makan sekalian!" tawar Fitri.
"Ibu kenyang Fit, kau urus saja suamimu, Ibu mau nonton sinetron kesukaan Ibu dulu!" tukas Bu Eni yang kembali duduk di sofa dengan selonjoran sambil menonton acara televisi yang ada di hadapannya.
Fitri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ibunya, walaupun dia sebenarnya malu, tapi itu adalah bawaan Ibunya yang telah melahirkannya, walau bagaimana Bu Eni adalah Ibu kandungnya sendiri, walaupun dengan karakter yang unik.
"Mas Dicky kenapa tadi tidur kok bertelanjang dada? Memangnya tidak dingin?" tanya Fitri yang masih terus menyuapi Dicky.
"Anu Fit, tadi Ibu membalurkan tubuhku dengan minyak tawon dan parem kocok, jadi panas, katanya sih untuk menghangatkan tubuh, tapi malah jadi panas!" ungkap Dicky.
"Aduuh, Ibu nih ada-ada saja! Maafin ibu ya Mas! Sesekali kau juga harus tegas sama Ibu, jangan di biarkan saja, kadang ibu tidak mengerti!" ucap Fitri.
"Sudahlah Fit, itu bukan masalah yang besar kok, asal Ibu menyayangiku itu sudah cukup!" sahut Dicky.
"Tapi Mas ..."
"Ssst, malam ini kau tidur di sebelahku ya, aku butuh kehangatan, biar nanti aku minta suster bawakan bed tambahan buat Ibu!" bisik Dicky.
"Yang penting Ibu nyaman Fit, besok pagi kau antarkan Ibu ke rumah Ibuku, minta tolong pelayan untuk menyiapkan kamar tamu!" kata Dicky.
"Mas, Mas Dicky serius mau ajak Ibu ke rumah itu? Aku malu Mas sama Ibumu, tau sendiri kan bagaimana sifat Ibu!" tanya Fitri.
"Tidak apa-apa, aku rasa mereka akan menjadi besan yang baik, juga saling melengkapi!" jawab Dicky.
"Mas Dicky bisa saja, tapi Ibu sudah memulangkan seluruh pelayan ke kampung halaman masing-masing, sekarang di rumah hanya ada Bi Sumi dan Mbok Jum yang belum datang!" ujar Fitri.
"Oya? Lalu sekarang kemana perginya Ibuku?" gumam Dicky.
"Aku juga tidak tau Mas, yang aku dengar katanya beliau mau menjemput seseorang, tapi aku belum tau siapa orang yang di maksud itu!" jawab Fitri.
"Fit, aku sudah kenyang, berikan aku air putih!" kata Dicky tiba-tiba.
Fitri menengok ke kotak makan Dicky, masih ada sedikit nasi yang tersisa, Dicky makan lumayan banyak.
Setelah selesai makan, Fitri lalu membantu Dicky untuk meneguk air putih di gelas minuman Dicky.
__ADS_1
"Terimakasih Fit!" ucap Dicky.
"Sama-sama Mas!"
"Fit, aku kangen Alex ..." ucap Dicky tiba-tiba.
"Alex sedang bersama Bi Sumi Mas, aku sudah pompa ASI banyak tadi sore, aku sebenarnya juga tidak tega meninggalkan Alex, tapi kan Mas Dicky pasti butuh aku!" jawab Fitri.
"Iya Fit, aku memang sangat membutuhkanmu di saat seperti ini! Apalagi dingin-dingin begini!" sahut Dicky.
"Asal jangan minta yang aneh-aneh ya Mas, ingat, ada Ibu di kamar ini!" cetus Fitri.
"Iya iya, kau tenang saja Fit, aku cuma minta di peluk, di sayang, di belai, bukan di masukin!" sahut Dicky terkekeh. Fitri mencubit pipi Dicky keras.
"Aucch! Sakit Fit!" seru Dicky meringis.
"Rasain!!"
"Bukannya di cium malah di cubit!" sungut Dicky.
"Sudah malam Mas, Mas Dicky istirahat dulu ya, aku mau mengobrol sebentar sama Ibu!" kata Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.
Fitri kemudian melangkah dan duduk di sofa di samping Ibunya.
Bu Eni nampak menyeka air matanya dengan tissue, dia menangis terisak.
"Bu, ada apa Bu? Apa Ibu ada masalah?" tanya Fitri yang bingung melihat Bu Eni menangis.
"Ini lho Fit, kok suaminya tega sekali ya meninggalkan istri sebaik dia, padahal dia lagi hamil tuh Fit! Huuu baper ibu Fit!" Isak Bu Eni sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang menyangkan sebuah sinetron kesukaannya.
"Oalaa Bu! Aku kira Ibu kenapa? Cuma sinetron saja sampai nangis Bombay begitu!" sungut Fitri.
"Ya Ibu kan membayangkan kalau itu kamu Fit, betapa kasihannya di tinggal suami, untung Ibu punya menantu sebaik Dicky, kalau Ibu punya menantu kayak di sinetron itu, Ibu langsung potong burungnya!" cetus Bu Eni sambil menyeka air matanya.
Fitri hanya tertawa cekikikan mendengar celotehan Ibunya.
Bersambung ...
****
Burung Dara burung Merpati
__ADS_1
Sampai jumpa esok lagi ...😘😉