Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tanda Tanya


__ADS_3

Di kantor ekspedisi itu, Dicky dan Fitri juga belum menemukan siapa orang yang telah mengirimkan paket ke Fitri.


Setiap hari nya ada begitu banyak paket yang di kirim, tidak mungkin bisa menyelidikinya satu persatu.


Mau tidak mau besok pagi harus kembali lagi menyelidiki, karena orang yang bersangkutan pasti ada di tempat ini.


Dicky lalu mengajak Fitri pulang ke rumah.


"Ayo Fit, kita pulang saja, besok pagi-pagi aku akan memergoki si sontoloyo itu, ku pastikan hidungnya akan bengkok karena aku tonjok!" ujar Dicky.


"Tunggu sebentar Mas, aku masih penasaran, kalau yang di katakan oleh customer servis itu benar, kalau orang dalam yang melakukan itu, berarti pelakunya adalah salah satu dari karyawan di sini!" kata Fitri.


"Karyawan di sini? Memangnya kau pernah kenal atau punya kenalan karyawan di kantor ini??" tanya Dicky.


Fitri menggelengkan kepalanya.


"Itulah yang membuat aku penasaran, aku merasa kalau aku tidak mengenal siapapun di sini, tapi mengapa paket itu selalu datang!" jawab Fitri.


"Sudahlah Fit, anggap saja yang mengirim paket itu orang gila, kita minta sama customer servis di sini, agar jika ada paket yang tak ada namanya, jangan lagi di kirim ke rumah, simpel kan?" ujar Dicky.


"Iya juga sih Mas, jadi si pengirim juga tidak bisa sembarangan mengirim ya!" tambah Fitri.


"Iya Fit, jujur saja aku malas sebenarnya mengurusi hal-hal receh seperti ini, karena banyak hal penting dan besar yang akan ku kerjakan!" ucap Dicky.


Drrtt ... Drrt ... Drrt


Ponsel Fitri bergetar, ada panggilan masuk dari Bi Sumi, Fitri kemudian langsung mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Bi, ada apa?" tanya Fitri.


"Mbak Fitri, Bu Eni sejak pagi tidak mau keluar kamar, Bibi takut kalau dia sakit, Bibi sudah panggil, tapi dia tidak mau keluar kamar!" kata Bi Sumi.


"Apa? Ibu masih di kamar? Ibu kenapa sih?" tanya Fitri cemas.


"Tidak tau Mbak, bibi juga bingung, dari pagi malah Bu Eni belum makan!" sahut Bu Sumi.


"Ya sudah deh Bi, aku pulang sekarang!" kata Fitri sebelum menutup teleponnya.


"Ada apa sayang? Apa yang terjadi pada Ibu?" tanya Dicky saat melihat ada raut wajah cemas pada Fitri.


"Kita pulang deh Mas, aku khawatir dengan Ibu!" jawab Fitri.

__ADS_1


"Iya sayang, kita pulang ya!" Dicky lalu merangkul Fitri meninggalkan kantor ekspedisi itu, untuk sementara mereka mengabaikan si pengirim paket, meskipun sebenarnya Fitri sangat penasaran.


Setelah mereka naik ke dalam mobil, Mang Salim segera melajukan mobilnya itu kembali menuju ke rumah.


"Mas, nanti biar aku saja ya yang bicara sama Ibu dari hati ke hati, aku takut ada yang ibu sembunyikan dari aku!" kata Fitri saat dalam perjalanan pulang.


"Bu Eni itu tipe wanita periang dan polos, sepertinya dia tidak suka menyembunyikan apapun, bicaranya saja ceplas-ceplos!" sahut Dicky.


"Itu dia Mas, aku juga bingung, makanya aku mau bicara empat mata sama Ibu!" ujar Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.


Ketika mereka sudah sampai rumah, tanpa membuang waktu Fitri langsung berjalan menuju kamar Bu Eni, sedangkan Dicky mencari Bu Anjani untuk mengambil Alex.


Perlahan Fitri mengetuk pintu kamar tamu yang di tempati Ibunya itu. Tidak ada jawaban.


Kemudian Fitri membuka gagang pintu kamar itu, ternyata tidak di kunci, Fitri kemudian masuk kedalam kamar itu.


Bu Eni, nampak berbaring menghadap ke dinding kamar, Fitri lalu medekati Ibunya itu, dan duduk di tepi tempat tidurnya sambil menepuk lembut punggung Bu Eni.


"Bu, Ibu sakit?' tanya Fitri lembut.


"Tidak Fit!" sahut Bu Eni.


"Tapi kenapa Ibu jadi mengurung diri di kamar? Apa Ibu ada masalah?" tanya Fitri lagi.


"Ibu mau pulang Fit!" kata Bu Eni. Fitri terkejut.


"Apa? Ibu mau pulang? Tapi kenapa Bu?" tanya Fitri.


"Ibu kangen Bapak!" jawab Bu Eni singkat.


Fitri menarik nafas panjang, tidak biasanya Ibunya seperti ini, dari wajahnya seperti ada kesedihan, tapi Fitri tidak berani menebak, selama ini, Ibunya tidak pernah seperti itu, biasanya Bu Eni selalu bisa meramaikan suasana dengan celotehannya, juga kepolosannya, dan bicaranya yang apa adanya.


"Kapan Ibu mau pulang?" tanya Fitri.


"Kalau bisa hati ini Fit, Ibu mau pulang!" jawab Bu Eni.


"Kalau memang Ibu mau pulang, aku tidak bisa menahan Ibu, tapi kalau Ibu ada masalah, ceritakan padaku Bu!" ujar Fitri.


"Tidak kok Fit, Ibu tidak ada masalah apa-apa!" jawab Bu Eni.


"Baiklah, nanti aku akan minta tolong Mang Salim untuk mengantar Ibu pulang, Ibu siap-siap saja!" kata Fitri yang langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Fit, kalau Ibu tidak di sini, kamu hati-hati ya, seringkali orang-orang kaya hanya bisa berinteraksi dengan sesama orang kaya, dan kamu harus peka, terhadap sekeliling kamu, tetaplah setia pada Nak Dicky!" ucap Bu Eni.


"Iya Bu!" singkat Fitri.


"Ada satu lagi Fit, Ibu pesan padamu, sekarang kan kau tinggal satu atap dengan mertua, bijaklah dalam bersikap, kadang orang ketiga itu bukan orang lain, tapi juga mertua kita!" ungkap Bu Eni.


"Apa maksud Ibu?" tanya Fitri.


"Tidak ada maksud apa-apa, Ibu kan cuma pesan, kau ini terlalu polos Fit, ya sudah, Ibu mau siap-siap dulu!" ujar Bu Eni.


Fitri kemudian beranjak keluar dari kamar itu.


Fitri terus merenungi perkataan Ibunya, aneh sekali Ibunya bisa mengatakan hal seperti itu.


Terdengar suara Alex yang menangis, Fitri buru-buru mengambil Alex dari gendongan Dicky.


"Bagaimana Ibu Fit?" tanya Dicky.


"Ibu kau pulang kampung Mas!" jawab Fitri.


"Pulang kampung? Tapi kenapa?"


"Tidak tau, katanya sih kangen sama Bapak!" sahut Fitri.


Alex mulai menyusu di dada Fitri, dengan di tutupi oleh kain.


Tak lama Bu Eni keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah tas besar. Dicky langsung mendekati Ibu Mertuanya itu.


"Bu, kok buru-buru pulang? Sabtu ini kan ada acara pesta syukuran, untuk cucu ibu juga lho, kenapa malah pulang?" tanya Dicky.


"Ibu memang harus pulang Nak, tempat ibu bukan di sini, tapi di disi Bapak!" jawab Bu Eni.


"Yah ibu, apa tidak bisa di tunda beberapa hari lagi?" tanya Dicky.


"Maaf Nak Dicky, Ibu harus pulang, Ibu hanya titip Fitri untuk kau jaga, Alex, Nenek pulang ya!" pamit Bu Eni.


Setelah menciumi Alex, Bu Eni segera berjalan ke depan, mang Salim terlihat siap mengantar Bu Eni.


Bu Anjani tidak nampak, dia hanya duduk di kamarnya sambil menonton tv.


Dicky dan Fitri menatap heran ke arah Bu Eni yang langsung naik ke mobil tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


Bersambung ...


*****


__ADS_2