
Dicky langsung kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, hilang sudah rasa laparnya yang sejak tadi melandanya.
Berganti dengan rasa khawatir akan buah hatinya yang kini ada di UGD rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Fitri tak henti hentinya menangis, membayangkan kondisi Alex, yang entah bagaimana saat ini.
"Kenapa Alex bisa terjatuh? Anak itu begitu aktif, meleng sedikit pasti terjadi sesuatu, padahal di rumah begitu banyak orang, kenapa bisa kecolongan begitu!" Isak Fitri sambil menyeka wajahnya yang basah.
"Tenang sayang, kau jangan panik, ingat bayi kita yang ada di perutmu, kau harus tenang, percaya saja kalau Alex akan baik-baik saja!" ujar Dicky mencoba menenangkan.
"Mana bisa aku tenang Mas? Alex masih kecil, walaupun dia sudah pandai berlari, tapi belum bisa menjaga keseimbanganngan tubuhnya sendiri!" sergah Fitri.
Hingga mobil yang di kendarai Dicky sudah terparkir di parkiran VIP rumah sakit.
Tanpa menunggu, Fitri langsung berlari ke ruang UGD, Dicky ikut berlari menyusul di belakangnya.
"Tunggu Fit! Jangan lari Fit! Di perutmu ada anakku Fit!!" teriak Dicky.
Namun Fitri terus saja berlari, yang ada di pikirannya saat ini adalah Alex dan Alex.
Bu Eni dan Pak Karta nampak duduk di bangku koridor di depan ruang UGD.
Bu Eni nampak menangis sambil mengusap air matanya yang berjatuhan.
"Ibu! Apa yang terjadi dengan Alex, kenapa dia bisa jatuh Bu?? Apakah Ibu dan yang lainnya tidak ada yang memperhatikan Alex??" tanya Fitri.
Dicky yang baru sampai langsung mengelus punggung Fitri untuk menenangkannya.
"Maafin Ibu Fit, Ibu yang salah, tadi Alex sedang bermain dengan Ibu, tiba-tiba Alex minta susu, Ibu lalu ke belakang sebentar mau minta tolong Bi Sumi buatkan, eh pas kembali lagi Alex sudah jatuh dari atas! Maafin Ibu Fit!" ungkap Bu Eni sambil menangis.
"Bapak juga salah Nak, tadi Bapak sedang mengobrol dengan Mang Salim di depan, tiba-tiba terdengar suara orang jatuh, ternyata Alex yang jatuh, Bapak menyesal Fit!" lanjut Pak Karta.
Dicky terlihat langsung masuk ke ruang UGD itu di ikuti oleh Fitri.
Dengan sigap Dicky langsung mengambil alih dan menangani anaknya sendiri.
__ADS_1
"Ada luka robek di kepalanya Dok, sepanjang 6 centi, sepertinya kepalanya membentur sesuatu yang sedikit tajam!" kata Dokter UGD yang terlihat sedang membersihkan luka di kepala Alex.
Fitri langsung memeluk buah hatinya itu sambil menangis.
"Maafin Mama Alex, Maafin Mama, Mama lalai jaga Alex, Mama salah tinggalin Alex!" Isak Fitri sambil terus memeluk Alex.
Alex nampak merintih kesakitan, hati Fitri dan Dicky hancur melihat kondisi Alex.
"Fit, aku mohon kau tunggu di luar, biar aku yang menangani Alex, kau percaya padaku kan? Aku ini Dokter Fit, jadi kau jangan khawatir!" ujar Dicky.
"Tapi Mas ..."
"Dengar kata-kata ku Fit, kau tunggu di luar, biarkan aku yang akan menangani Alex!" tegas Dicky.
Akhirnya Fitri melepaskan pelukannya dan berjalan gontai ke luar ruangan itu.
Sesampainya di luar ruangan, Fitri duduk di sebelah Bu Eni dan Pak Karta.
"Gimana Alex Fit?" tanya Pak Karta.
"Lagi di tangani sama Mas Dicky Pak, sama Dokter UGD juga!" jawab Fitri.
Fitri diam saja tanpa menanggapi ucapan Ibunya, yang ada di pikirannya hanya Alex dan Alex.
"Kamu sih Bu! Tidak becus jaga cucu! Masa Alex bisa jatuh padahal lagi main sama neneknya!" cetus Pak Karta.
"Bapak sendiri, bukannya jaga cucu malah ngobrol di luar! Gimana sih?? Bisanya hanya menyalahkan saja!" sungut Bu Eni.
"Lho, aku kan memang sedang mengobrol, kan Ibu yang mengajaknya bermain!" sergah Pak Karta.
"Terus saja salahkan Ibu! Iya memang Ibu salah! Puas?!" sengit Bu Eni.
"Stop!! Cukup! Sekarang Alex sedang di tangani di dalam, kenapa Bapak dan Ibu ribut di sini? Siapapun yang salah, toh semuanya sudah terjadi, Alex sudah terlanjur jatuh!" sergah Fitri.
Bu Eni dan Pak Karta langsung terdiam.
__ADS_1
Pintu ruang UGD terbuka, Dicky nampak keluar dari ruangan dengan dua orang perawat yang mendorong tubuh Alex untuk di pindahkan ke ruang perawatan sementara.
Fitri lalu segera mendekati dan mengikuti Dicky. Bu Eni dan Pak Karta juga.
"Gimana Mas? Alex baik-baik saja kan?" tanya Fitri cemas.
"Dia baik-baik saja, tapi sementara di rawat dulu di kamar rawat, kasihan dia di UGD tidak nyaman, nanti setelah kondisi nya membaik, bisa di bawa pulang untuk di rawat di rumah!" jelas Dicky.
Tak lama mereka masuk ke ruangan VIP yang cukup luar dan nyaman, persis seperti di hotel bintang lima.
Tentu saja Alex mendapat fasilitas nomor satu dan mendapat prioritas utama, karena pemilik rumah sakit ini adalah Papanya sendiri.
Alex terlihat tertidur nyenyak, dengan balutan perban di kepalanya, dan infus yang menusuk tangan mungilnya, efek obat penenang yang di berikan oleh Dicky, sehingga Alex tidak banyak bergerak.
Fitri kemudian mulai menyelimuti Alex dan duduk di sampingnya sambil menggenggam tanganya.
"Aduh!!"
Tiba-tiba Dicky memegangi perutnya, dia baru sadar kalau dirinya belum makan sejak siang, padahal sudah sedari tadi dia merasa lapar.
"Mas Dicky lapar ya, ya ampun Mas, maaf, sampai lupa kalau kita belum makan siang, padahal Mas Dicky sudah lapar dari sejak menjemputku pulang tadi!" ucap Fitri menyesal.
Dicky lalu duduk di sofa ruangan itu.
"Sebentar Nak, biar Bapak beli makanan duku di kantin ya, sebentar!" Dengan sigap Pak Karta ke luar ruangan dan langsung berjalan cepat menuju kantin rumah sakit.
"Perutku perih Fit, kalau begini aku bisa kena asam lambung!" ujar Dicky.
Fitri kemudian mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya.
"Sini berbaring Mas, aku balurkan minyak kayu putih dulu di perutmu supaya hangat!" ujar Fitri yang langsung membaringkan Dicky di sofa itu.
Kemudian membuka kancing resleting celana sedikit, lalu mulai membalurkan minyak kayu putih di perut Dicky yang sedikit kembung.
Bu Eni terlihat duduk termenung di sebelah Alex, wajahnya penuh penyesalan yang dalam.
__ADS_1
"Maafin Nenek ya Lex, Nenek salah!" bisik Bu Eni di telinga Alex cucunya.
Bersambung ...