
Siang itu di tempat kediaman Donny, semua orang nampak sibuk, Fitri dan Anita membuat kue dan berbagai macam cemilan untuk dibawanya ke rumah kakek Cipto.
Mereka akan merayakan malam tahun baru di tempat kediaman kakek Cipto, sekalian acara family gathering untuk mempererat tali persaudaraan.
Anak-anak nampak sedang bermain di taman bermain yang ada di samping rumah Donny, di taman itu ada kolam ikan, ada ayunan, dan berbagai macam permainan anak-anak yang lain, yang membuat anak-anak betah berlama-lama bermain di taman itu.
Sementara Dicky dan Donny memancing ikan dan udang yang ada di salah satu tambak milik kakek Cipto, yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Mereka terlihat asyik memancing dan berlomba mendapatkan ikan yang paling banyak.
"Ayo Pret! Tunjukkan kemampuan memancing mu! dulu saat aku di Panti, hampir setiap sore aku memancing di kali yang tak jauh dari panti, rasanya aku rindu dengan masa-masa kecilku dulu!" ujar Dicky.
"Dulu pun aku dan ibuku selalu rutin memancing di kolam milik kami sendiri, dan lucunya saat semua sudah aku pancing ikannya, aku masukkan kembali ke dalam kolam, karena kasihan melihat ikan yang menggelepar-gelepar karena kekurangan udara! Saat itu Ibuku marah padaku!" tambah Donny tak mau kalah.
Dicky tertawa mendengar cerita Donny, ternyata dibalik ekspresi Donny yang terlihat dingin dan tidak banyak bicara, dia punya belas kasih juga terhadap seekor ikan.
"Hahaha kau ini lucu sekali Kampret! Seandainya saat kecil kita dipertemukan, mungkin kita akan menjadi teman baik, karena sama-sama suka memancing!" ujar Dicky Sambil tertawa.
"Sudah kau jangan banyak bicara! Tuh lihat, aku sudah memancing 10 ikan, kau baru tiga ikan saja dari tadi!" ujar Donny sambil menunjuk ke arah Keranjang tempat ikan mereka.
Dicky spontan menoleh ke arah keranjang ikannya, matanya melotot, karena dia merasa sudah memancing lebih dari 5 ikan, kenapa sekarang ikannya jadi berkurang tinggal 3.
"Ah sial! Kenapa ikanku jadi menghilang? Jangan-jangan kau mencurangi aku ya Pret!" sengit Dicky.
"Siapa yang mencurangi mu? Aku dari tadi fokus memancing, sedangkan Kau terlalu banyak bicara!" sahut Donny.
"Ah tidak mungkin! Aku ingat betul tadi aku sudah memancing lebih dari 5 ekor, kalau sekarang berkurang jadi 3, kau pasti mengambil ikan ku yang lain!! Ayo ngaku!" cetus Dicky.
Tiba-tiba Sekarang gantian Donny yang tertawa, dia mentertawakan kebodohan Dicky yang memang pada dasarnya kurang pandai memancing.
"Hahaha kau ini bodoh sekali Dokter! Kau hanya pintar di rumah sakit saja! Coba kau perhatikan, dari tadi keranjang ikan mu tidak kau tutup, tentu saja beberapa ikan melompat keluar, dan kembali lagi ke tambak, lihat punyaku, ikan yang kudapat selalu aku masukkan ke keranjang dan aku langsung menutupnya!" ujar Donny sambil menujuk keranjang milik Dicky yang tidak ditutup itu, sehingga ikannya melompat-lompat keluar.
Seketika wajah Dicky menjadi merah, karena dia ketahuan tidak pandai memancing.
"Ya ya aku salah! Tapi kau jangan bilang aku bodoh juga kali, gini gini aku ini seorang dokter, mana mungkin seorang dokter itu bodoh!" protes Dicky.
__ADS_1
"Tapi setidaknya kau harus mengakui, kalau kau memang tidak piawai dalam hal memancing, keahlianmu hanya satu menaklukan hati wanita!" sahut Donny.
"Sialan! Kalau Fitri mendengarnya, dia pasti akan menegurku! Keahlianmu juga satu Pret, selalu membuat aku kesal!" balas Dicky.
Akhirnya mereka sepakat tidak lagi memancing, tetapi menjaring ikan, sekali jaring mereka mendapat banyak sekali ikan dan udang, dan dalam waktu singkat, keranjang-keranjang mereka telah penuh terisi dengan ikan dan udang. Setelah itu mereka kembali pulang ke tempat kediaman Donny.
****
Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini, beberapa jam lagi adalah pergantian tahun.
Keluarga Dicky dan keluarga Donny berkumpul di tempat kediaman kakek Cipto, mereka mulai melakukan acara bakar-bakar ikan, udang, ayam, cumi dan hasil tambak kakek Cipto yang lain.
Anak-anak terlihat sangat senang, karena mereka bisa berkumpul dan menikmati kebersamaan ini yang entah kapan lagi akan bisa terwujud, karena dalam beberapa hari ke depan, keluarga Dicky akan pulang ke Jakarta.
Bu Eni nampak tersenyum melihat keakraban anak-anak, cucu dan menantunya itu.
"Pak, Seandainya kau ada disini, Kau pasti akan sangat senang, melihat Fitri dan Anita masing-masing memiliki keluarga yang bahagia, dan mereka memiliki anak yang lucu-lucu, cucu kita akan semakin bertambah banyak Pak!" gumam Bu Eni sambil menitikkan air matanya, Karena Dia teringat dengan Pak Karta mendiang suaminya itu.
"Nenek? Kenapa Nenek malah Bengong di sini? Yuk kita makan ikan bakarnya Nek, sudah ada yang matang tuh!" ajak Alex sambil menuntun tangan Bu Eni menuju ke sebuah meja besar yang ada di pekarangan rumah sakit Cipto itu.
"Tahun depan aku akan mengundang kalian semua datang ke Jakarta, untuk merayakan tahun baru!" ujar Dicky di sela-sela makannya.
"Horeeeee!!!!" sorak anak-anak.
"Kalau Kakek ada umur, kakek pasti ingin sekali mengunjungimu ke Jakarta Nak, sekalian melihat rumah sakit yang di bangun Putraku Rahmat, Aku sangat ingin sekali melihatnya!" ujar Kakek Cipto.
"Aku sangat yakin, kalau kakek akan berumur panjang, karena kakek juga terlihat sehat sekarang!" sahut Dicky.
Tanpa terasa, hari sudah jauh malam, sebentar lagi pergantian tahun akan terjadi, sayup-sayup terdengar suara petasan dan nyala kembang api yang menghiasi langit yang gelap, hanya tinggal beberapa menit lagi pergantian tahun itu.
Anak-anak dengan riang bermain kembang api, mereka seolah melupakan rasa kantuk mereka.
Dicky dan Fitri juga duduk berdua di sebuah bangku yang ada di taman, tak jauh dari pekarangan rumah Kakek Cipto, mereka saling berpegangan tangan, sambil menunggu detik-detik pergantian tahun.
Anita dan Donny juga nampak duduk berdua mereka seolah tak mau melewatkan momen ini.
__ADS_1
"Ma, apa yang menjadi harapanmu di tahun yang akan datang?" tanya Dicky sambil menatap lembut wajah Fitri yang diterangi cahaya Rembulan.
"Pa, aku tidak punya harapan apapun, selain hanya ingin menjalani sisa-sisa hidupku bersama denganmu, dan anak-anak kita, dan bisa melihat cucu-cucu kita kelak berbahagia, seperti yang saat ini kita lihat, hanya itu harapanku!" ucap Fitri.
"kita punya harapan yang sama Ma, aku juga ingin menua bersamamu, kita melewati hari-hari kita bersama-sama, dalam suka dan duka, dalam susah dan senang, hanya kita, aku Dicky Pradita, bersama dengan Fitri, wanita yang akan bersamaku sampai menutup Mata nanti!" bisik Dicky.
Mereka pun saling berpelukan, di iringi dengan suara petasan yang bersahut-sahutan, dan kembang api yang mulai bertebaran menghiasi gelapnya langit, menandakan kalau saat ini sudah tepat jam 12 malam.
"Selamat tahun baru sayang!" ucap Dicky sambil menciumi bibir Fitri sepuas yang dia suka.
Mereka semua kemudian saling berjabat tangan dan berpelukan, mengucapkan selamat tahun baru.
Anak-anak dengan riang meniup terompetnya mereka, sehingga suasana malam itu menjadi gegap Gempita.
"Selamat tahun baru Dokter!" ucap Donny sambil menjabat tangan Dicky kemudian memeluknya.
"Selamat Tahun Baru juga kampret! Aku doakan kau selalu bahagia dengan keluarga mu disini, aku titip kakek Cipto, saat aku kembali ke Jakarta nanti!" ujar Dicky.
"Kau tenang saja, Kakek Cipto itu kakekku, sejak dulu aku juga menjaga beliau!" sahut Donny.
"Kau jangan lupa juga Pret! Kakek Cipto itu, sekarang juga adalah kakekku!" cetus Dicky.
"Iya iya, dia Kakek kita, puas?!" ujar Donny, mereka kembali berpelukan sambil menepuk bahu mereka masing-masing.
TAMAT
*****
Selamat Tahun Baru 2022 Author ucapkan untuk para pembaca sekalian ...
Semoga di tahun depan selalu aman, tenteram dan sejahtera.
Bagi yang rindu Dokter Dicky, silahkan baca Novel terbaru di "Hujan, Sampaikan Rinduku"
Si Dokter tampan akan banyak bermunculan di novel baru author itu, karena dia adalah Dokter favorit anak-anak.
__ADS_1
Trimakasih atas semua dukungan untuk author 😀💖🖐