
Suara mesin mobil yang di tumpangi Dicky terdengar dari kamar, biasanya dia akan menyambut suaminya itu pulang.
Namun malam ini Fitri enggan beranjak dari tempat tidurnya.
Tak lama kemudian Dicky yang baru tiba dari rumah sakit, langsung berjalan ke atas menuju ke kamarnya.
Dia heran saat melihat Fitri hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa menoleh ke arahnya, apalagi menyambutnya seperti biasanya.
"Fit? Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Dicky yang langsung duduk di tepi tempat tidur sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Fitri.
"Tidak!" singkat Fitri.
"Lalu kau kenapa? Apa yang terjadi padamu Fit?" tanya Dicky.
Fitri diam saja tanpa menjawab pertanyaan Dicky.
"Fitri, kalau kau ada masalah apapun, ceritakan saja padaku, setidaknya aku bisa mendengarkan mu!" ucap Dicky sambil membelai rambut Fitri.
"Aku ingin tinggal rumah kita yang dulu Mas, aku ingin Mas Dicky seperti dulu, walau hanya seorang Dokter yang bekerja di rumah sakit, tapi selalu membuatku bahagia!" kata Fitri.
"Hei, apa yang terjadi padamu? Kau aneh sekali Fit, aku pulang kau tidak menyambutku, sekarang malah mengajakku pindah lagi ke rumah lama, kau ada masalah apa?" tanya Dicky.
Fitri kemudian berbalik ke arah Dicky, kemudian dia duduk dan menghadap ke arah suami nya itu sambil menatapnya.
"Kalau kau tidak mengijinkan aku tinggal di rumah lama, aku ingin pulang ke kampung saja menyusul Ibu!" ucap Fitri.
Dicky terhenyak mendengar ucapan Fitri, padahal tadi pagi Fitri masih baik-baik saja, tapi saat dia pulang Fitri berubah seketika.
"Sayang, sekarang katakan dulu alasannya padaku, supaya aku bisa memahamimu, kenapa kau tiba-tiba menjadi tidak betah di rumah ini, apakah kau merasa kurang nyaman? Atau ada orang yang menyakitimu?" tanya Dicky.
"Di sini aku merasa tidak bebas merawatmu dan anakku sendiri Mas, aku bagaikan di penjara dalam sangkar emas, tanpa bisa melakukan apapun!" sahut Fitri.
"Apa maksudmu??"
"Kau tanyakan saja pada Ibumu, berapa kali dalam sehari aku bisa menggendong Alex? Apakah aku harus meminta ijin untuk menggendong anakku sendiri?? Seolah aku bukanlah Ibu yang melahirkan Alex, di sini aku merasa benar-benar tak berguna! Memasak untukmu saja aku tidak bisa!" pekik Fitri. Air matanya sudah mengalir deras mewakili perasaannya.
__ADS_1
Selama pernikahannya dengan Fitri, baru kali ini Dicky melihat istrinya se emosional ini, biasanya Fitri akan berbicara pelan dan baik-baik tanpa emosi.
Namun malam ini, Fitri seolah meluapkan seluruh perasaannya, dan menumpahkan segenap uneg-uneg yang ada di kepalanya.
Dicky kemudian maju dan langsung memeluk Fitri. Di benamkannya kepala Fitri di dadanya yang bidang, untuk supaya Fitri bisa sedikit tenang.
"Kalau itu masalahnya, kita bicarakan ini baik-baik pada Ibu, jangan kau simpan sendiri perasaanmu itu Fit, bicaralah supaya tidak ada salah paham di antara kalian!" ucap Dicky lembut.
"Kalau kita bicara, apakah Ibu tidak semakin membenciku? Apakah dia tidak mengatakan kalau aku ini mengadu domba?" tanya Fitri.
"Sayang, kau sudah kenal aku sekian lama, kau pasti tau bagaimana sikapku, apalagi kau adalah istriku, dan Bu Anjani adalah Ibuku, aku harus bersikap netral, semua masalah pasti ada jalan keluarnya!" ucap Dicky bijak.
Kemudian perlahan Dicky menggandeng tangan Fitri untuk keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
Di ruang keluarga itu, duduk Bu Anjani sambil memangku Alex, sementara Dina dan Dara terlihat sedang duduk di meja belajar mereka.
"Dicky, kau tidak makan dulu Nak sehabis dari rumah sakit?" tanya Bu Anjani
"Tidak Bu!" jawab Dicky sambil membimbing Fitri duduk di sofa di hadapan Bu Anjani.
"Ini bukan salah Fitri Bu, aku yang mengajaknya ke sini, ada yang harus kita bicarakan untuk meluruskan kesalahpahaman!" kata Dicky.
"Kesalahpahaman? Kesalahpahaman apa?" tanya Bu Anjani.
"Aku tau, di antara menantu dan mertua selalu akan ada jarak, apalagi Ibu dan Fitri baru saling mengenal!" sahut Dicky.
"Apa maksudmu Dicky??" tanya Bu Anjani.
"Ibu, aku tau Ibu sangat menyayangi Alex, selama ini Ibu kehilangan kesempatan untuk menggendong bayi Ibu sendiri, tapi Ibu harus ingat, Alex punya Fitri Bu, Ibunya, dia yang berhak mengurus dan merawat Alex!" jawab Dicky.
"Ooh, jadi kau pikir di sini Ibu tidak punya hak untuk merawat cucu ibu sendiri??" tanya Bu Anjani.
"Ibu boleh bermain dan merawat cucu Ibu, tapi jangan membatasi Fitri untuk merawat anaknya, karena dia adalah Ibu kandungnya, maafkan aku Bu, aku harap Ibu memahami ini!" ucap Dicky melembut.
Sesungguhnya Dicky tidak ingin menyakiti hati Ibunya itu, tapi dia juga harus berdiri di posisi yang benar.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu ini ambil Alex! Kalian tidak bersyukur bahwa aku menyayangi Alex bahkan lebih dari diriku sendiri, semua kebutuhan Alex Ibu kasih yang terbaik, tapi hanya karena Ibu sering bersama Alex, kalian tega menyakiti Ibu!" seru Bu Anjani sambil menyodorkan Alex, buru-buru Dicky mengambilnya dan menyerahkannya pada Fitri.
"Ibu maafkan aku Bu, maafkan aku!" ucap Dicky menunduk.
"Dicky, kau juga harus tau apa yang istrimu lakukan di luar sana!" kata Bu Anjani.
"Apa maksud Ibu??"
Bu Anjani kemudian mengambil ponselnya dan menyodorkan pada Dicky.
Seketika mata Dicky melotot, melihat kejadian tadi siang dalam ponsel itu, Fitri sedang duduk di cafe dengan Agus.
Dicky sangat mengenali kalau itu Fitri, sementara Agus karena memakai topi dan jaket, jadi tidak jelas wajahnya, wajah Dicky langsung berubah merah.
Fitri juga nampak terkejut melihat perubahan wajah suaminya itu.
Kemudian Dicky menoleh ke arah Fitri, lalu menatap dengan sorotan mata yang tajam.
"Fitri, katakan padaku, tadi siang kau pergi ke mana?!" tanya Dicky.
"Aku ... aku hanya pergi ke ... ke kantor yang kemarin itu!" jawab Fitri.
"Kau bohong Fit! Saat Ibu tanya, katanya kau hanya keluar jalan-jalan cari angin!" celetuk Bu Anjani.
Fitri semakin salah tingkah, dia tidak tau lagi harus menjawab apa, dia sama sekali tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Agus akan menjadi petaka bagi rumah tangganya.
"Fitri ... sekali lagi aku tanya, apakah benar di dalam foto ini adalah kamu??" tanya Dicky sambil menyodorkan foto yang ada di ponsel ibunya itu.
"I-Iya Mas, itu aku bersama dengan orang yang ..."
"Cukup! Aku rasa sudah cukup jelas! Dan aku tau alasan mengapa kau tidak betah berada di rumah ini!" ucap Dicky sambil berlalu meninggalkan Fitri menuju ke kamarnya bersama Alex.
"Mas Dicky! Tunggu Mas!!" panggil Fitri sambil berusaha mengejar suaminya itu.
Bersambung ...
__ADS_1
****