
Pagi ini begitu cerah, matahari menyinari dengan hangatnya dengan sinar yang masuk melalui celah jendela kamar Dicky.
Fitri yang sudah nampak rapi berpakaian sesudah mandi nampak memandangi wajah suaminya itu.
Tidak tega rasanya untuk membangunkan suaminya yang terlihat masih lelap tertidur itu.
Perlahan Fitri mengecup lembut bibir Dicky, berniat akan membangunkannya secara halus.
Namun tangan Dicky malah menangkap tubuh Fitri dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Mas Dicky ah!" sergah Fitri.
"Suruh siapa nakal, cium-cium orang sedang tidur, ini sebagai hukumannya!" sahut Dicky yang terus memeluk Fitri hingga Fitri nyaris kehabisan nafas.
"Mas, ini sudah siang, Apakah kau tidak ingin bangun?" tanya Fitri sambil berusaha melepaskan pelukan Dicky.
"Hmm, kalau begini rasanya aku ingin kekepin kamu terus, tapi aku harus bangun, atau anak istriku tidak makan!" ucap Dicky sambil beranjak bangun dari tidurnya.
"Nah gitu dong, itu baru namanya Mas Dicky ku yang rajin dan ganteng!" sahut Fitri sambil membereskan pakaiannya yang agak kusut karena di peluk Dicky tadi.
"Kau sudah rapi Fit? Mau berangkat jam berapa ke sekolah?" tanya Dicky.
"Sebentar lagi Mas, sudah sana mandi dulu, aku tunggu di bawah ya Mas, sekalian menemani anak-anak sarapan, nanti nyusul ya!" kata Fitri.
"Siap Nyonya Dicky!" sahut Dicky sambil mencubit hidung Fitri, kemudian dia langsung beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Fitri lalu turun ke bawah, di ruang makan, sudah duduk Dina dan Dara, sementara Alex sedang asyik bermain di dalam box bayi yang ada di ruangan itu.
Bi Sumi masih menata dan menyiapkan hidangan di meja makan.
"Mama! Ayo sini sarapan Ma, Bi Sumi masak mie goreng dan telur rebus, ada susu juga!" panggil Dara sambil melambaikan tangannya.
Fitri lalu mendekat ke arah mereka dan duduk bergabung dengan mereka.
"Kalian makan yang banyak ya, biar sehat dan pintar!" ucap Fitri sambil mengelus rambut keduanya.
"Iya Ma!" sahut mereka serempak.
"Mbak Fitri, tadi ada yang telepon cari Pak Dokter, cuma Bibi bilang Pak Dokter masih tidur!" kata Bi Sumi yang masih kelihatan sibuk mengurus dapur.
__ADS_1
"Siapa yang telepon Bi?" tanya Fitri.
"Siapa ya, katanya namanya Dimas atau Mas siapa gitu!' sahut Bi Sumi.
"Oh, si Dimas, baiklah Bi, nanti aku sampaikan pada Mas Dicky, supaya dia telepon balik!" ujar Fitri.
Tak lama kemudian, Dicky terlihat berjalan menuruni tangga sudah dengan berpakaian rapi.
Dia lalu duduk bergabung dengan Fitri dan anak-anaknya duduk menghadap meja makan.
"Sarapan Mas!" kata Fitri yang dengan sigap langsung mengambil piring dan menyodorkannya ke arah Dicky.
Dicky mulai menyantap nikmat makanannya.
"Tadi kata Bi Sumi, Dimas telepon mas, coba kau telpon balik, mana tau ada yang penting!" kata Fitri.
"Ah, paling juga soal rencananya menikahi Mia yang entah kapan terlaksana itu!" sahut Dicky sambil terus menyantap makanannya.
Drrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Dicky yang di letakan di atas meja itu bergetar. Ada gambar Dimas di layar ponselnya itu.
"Halo Dimas! Kau apa kabar? Kata Suster Wina kau buka praktek juga ya di rumah! Dasar kau!" seru Dicky saat mengangkat panggilan teleponnya.
"Kau ini, mana sempat aku nonton tv Pagi-Pagi? Berita apa lagi sih??" tanya Dicky.
"Sudah kau buka saja TV, aku mau buka ruangan dulu ya!" ujar Dimas sambil mematikan panggilannya.
"Dasar Dimas!! Sejak dulu sukanya berbelit-belit dan berteka-teki!" sungut Dicky sambil menyalahkan tv yang ada di hadapannya itu.
Dicky terkejut saat melihat siaran langsung berita yang dia tonton itu.
Di rumah sakit di tempat dia bekerja dulu, lagi-lagi telah terjadi demo besar-besaran di depan rumah sakit itu.
Yang berunjuk rasa adalah keluarga pasien dan entah siapa lagi yang menyalahkan kinerja para Dokter di rumah sakit itu, juga demo supaya Dicky kembali praktek di rumah sakit itu.
"Alamak!! Gawat ini, kenapa mereka bisa demo seperti itu??" pekik Dicky cemas.
"Mas, sepertinya kondisi rumah sakit itu sedang genting, sebaiknya kau datang ke sana dan lihatlah apa yang terjadi!" ujar Fitri.
__ADS_1
"Tapi Fit ..."
"Pergilah mas, walau bagaimana kau ada bagian di sana, itu milik Ibu kandungmu, kau wajib menjaga amanat dari ayahmu untuk kelangsungan rumah sakit itu!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Dicky.
"Baiklah Fit, aku akan datang ke sana, tapi bagaimana dengan mu dan anak-anak?" tanya Dicky.
"Kau khawatir apa sih Mas? Mereka dan aku kan sudah ada Mang Salim yang mengantar jemput, sudahlah, kasihan Ibumu sedang sakit kan? Dia pasti akan tambah tertekan jika mendengar berita seperti ini!" jelas Fitri.
Dicky menganggukkan kepalanya, dia kemudian bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir.
"Hati-jagi Mas, jaga dirimu, juga hatimu!" ucap Fitri sambil mencium kedua pipi Dicky tanpa di minta, sekedar untuk menyemangati suaminya itu.
Dicky kemudian langsung naik ke dalam mobilnya dan langsung meluncur menuju ke rumah sakit.
Fitri menatap mobil suaminya yang mulai hilang di tikungan, wanita itu sangat memahami perasaan suaminya itu.
Sebagai istri, Fitri hanya berusaha untuk menjadi setetes embun yang menyejukkan suaminya itu, juga bara api yang memberikan semangat.
"Kita berangkat sekarang Mbak Fitri?!' tanya Mang Salim tiba-tiba yang sudah berdiri di belakanganya.
"Eh, iya Pak! Dina dan Dara di mana? Mereka sudah siap belum?" tanya Fitri.
"Mereka sudah menunggu di mobil Mbak!" sahut Mang Salim.
"Kalau begitu sebentar ya Mang, aku u pamit Bi Sumi dulu!"
Fitri langsung berjalan ke arah belakang.
Bi Sumi nampak sedang menggendong Alex sambil memberinya susu.
"Bi, aku berangkat ya, titip Alex sebentar, hati ini aku mengajar sampai Sjam satu siang!" kaa Fitri.
"Oya Mbak Fitri, berangkatlah, Alex akan aman bersama saya!" sahut Bi Sumi.
Fitri kemudian berjalan ke depan dan langsung masuk ke dalam mobil itu, Dina dan Dara nampak sedang menunggu Fitri.
"Kita jalan sekarang Pak!" ucap Fitri.
Mang Salim langsung menancap gasnya dan keluar dari rumah itu menuju ke sekolah.
__ADS_1
Bersambung ...
****