
Setelah Bu Romlah pamit pulang ke tempatnya, Dicky nampak tercenung di kamarnya, memikirkan apa yang di katakan oleh Bu Romlah, mendengarkan setiap curahan hatinya.
Dulu Bu Romlah adalah seorang yang menyebalkan, mata duitan dan selalu merongrong Dicky, namun sekarang, melihat air mata seorang Ibu, hati Dicky luluh lantak, merasakan apa yang di rasakan hati seorang Ibu.
Fitri yang melihat kegelisahan suaminya itu kemudian mendekatinya, mengusap punggung Dicky dengan lembut, seolah memberikan ketenangan batin.
"Mas Dicky pasti masih kepikiran soal Bu Romlah ya?" tanya Fitri yang kemudian duduk di sampingnya.
"Iya Fit, selama ini aku tidak sadar, telah merebut anak dari seorang Ibu, ternyata menjadi orang tua asuh tidak selalu tinggal dalam satu atap!" jawab Dicky.
"Apa maksud Mas Dicky?" tanya Fitri.
"Kita masih tetap bisa membiayai Dina dan Dara sekolah, memberikan dia fasilitas uang saku dan kebutuhan yang lainnya, tanpa harus mengajaknya tinggal bersama kita, kasihan Bu Romlah, dia bahkan tidak punya siapa-siapa lagi sekarang!" ucap Dicky.
"Tapi surat adopsi yang di buat Pak Adi itu, bagaimana?" tanya Fitri.
"Apalah artinya sebuah surat di atas kertas, di bandingkan dengan kerinduan seorang Ibu, besok kita harus mengembalikan mereka ke Bu Romlah!" jawab Dicky.
"Tapi kita harus memberikan mereka pengertian dulu Mas, supaya mereka tidak salah paham dan menganggap kita membuangnya!" sahut Fitri.
"Iya, besok kita akan memberikan mereka penjelasan, mudah-mudahan mereka mau mengerti!" ucap Dicky sambil mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Iya, kebetulan besok hari Sabtu, anak-anak libur sekolah, sebenarnya aku tidak tega mengembalikan mereka pada Bu Romlah, tapi mungkin ini demi kebaikan bersama!" sahut Fitri.
Mereka kemudian mulai memejamkan meta mereka, kendatipun Dicky masih terus memikirkan Dina dan Dara.
****
Saat pagi datang menjelang, terdengar suara keributan dari arah belakang. Fitri yang baru mandi dan berpakaian langsung dengan cepat berjalan menuju ke bawah.
"Dasar anak tidak tau diri! Sudah hidup enak bangun pagi saja susah!! Apalagi di suruh kerja!" sungut Bu Eni.
__ADS_1
"Ada apa sih Bu, pagi-pagi sudah ribut?" tanya Fitri.
"Lihat tuh Fit kelakuan anak angkat mu! Mentang-mentang libur mereka tidak mau bangun dan membantu orang rumah, malah main game online di kamar, apa susahnya membantu siram bunga di taman, hitung-hitung kan olah raga, ini malah membantah, katanya buat apa siram bunga orang sudah ada yang siram!" ungkap Bu Eni.
"Ya sudah, biar nanti aku saja yang menegur mereka, Ibu tolong jagain Alex sebentar ya, hari ini aku dan Mas Dicky ada keperluan!" ujar Fitri sambil berlalu dari tempat itu.
Dia kemudian mulai berjalan ke arah kamar Dina dan Dara, kedua anak itu nampak asyik bermain Game online sambil tertawa riang, sambil menikmati cemilan di atas tempat tidur yang terlihat berantakan itu.
"Dina, Dara!" panggil Fitri. Mereka menoleh dan langsung duduk dari posisi berbaringnya.
"Eh, Mama, tumben datang kesini!" kata Dina.
"Kalian sudah mandi belum?" tanya Fitri. Dina dan Dara menggelengkan kepalanya.
"Kalian sudah bangun dari tadi kenapa tidak mandi dan tidak keluar kamar? Selain belajar banyak yang bisa kalian kerjakan, kenapa malah main game di kamar??" tanya Fitri.
"Pasti Nenek deh yang sudah ngadu ke Mama, dasar nenek-nenek cerewet!" cetus Dina.
"Dina! Jaga mulutmu! Wajar kalau Nenek minta bantuan kalian, apakah kalian akan menghabiskan waktu kalian seperti ini? Main game, makan cemilan, tidur, makan, tanpa melakukan sesuatu yang berguna!" sengit Fitri.
"Sekarang kalian keluar dan tunggu Mama di ruang tamu, ada yang mau Papa dan Mama bicarakan pada kalian!" ujar Fitri sambil berlalu meninggalkan kamar mereka.
Dina dan Dara lalu segera keluar dari kamar mereka dan duduk di ruang tamu rumah itu.
Tak lama kemudian Dicky dan Fitri juga muncul dan duduk di ruang itu, di hadapan Dina dan Dara.
"Dina, Dara, kalian sudah makan?" tanya Dicky.
"Belum Pa!" jawab mereka bersamaan.
"Nanti sehabis ini, kalian langsung makan ya!" titah Dicky.
__ADS_1
"Iya Pa!"
"Nak, kalian tau tidak, apa yang di dambakan oleh seorang Ibu terhadap anaknya?" tanya Dicky. Dina dan Dara menggelengkan kepalanya.
"Seorang ibu mendambakan selalu bisa dekat dengan anaknya, dulu Ibunya Papa juga begitu, kerinduannya cuma ingin selalu dekat dengan anaknya, tapi sayang, sekarang beliau telah meninggal!" lanjut Dicky.
"Benar Dina, Dara, Bu Romlah itu adalah Ibu kandung kalian, dia juga sama seperti Ibu Ibu yang lain, tidak ada seorang Ibu yang tidak sayang anaknya!" timpal Fitri.
"Jadi, mengenai pendidikan dan masa depan kalian, Papa tetap menanggungnya, kalian tetaplah anak-anak asuh kami, tapi, hanya Ibu kalianlah yang berhak tinggal bersama kalian!" ungkap Dicky.
"Jadi, Papa mau usir kami dari sini??" tanya Dina.
"Siapa bilang mengusir? Kalian boleh kok main di sini sama Alex, Papa hanya tidak ingin merampas hak Ibu kalian, supaya kalian juga belajar rendah hati dan tidak sombong!" jawab Dicky.
Dina dan Dara terdiam, mereka menunduk dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Kalian ingat tidak? Saat dulu kalian di suruh mengamen di jalanan sama Ibu kalian? Bukan karena Ibu kalian jahat pada kalian, tapi karena kebutuhan ekonomi yang memaksanya untuk berbuat begitu, tapi sekarang, Ibu kalian sudah punya usaha, kalian harus membantu usaha Ibu kalian, supaya tambah maju dan sukses!" lanjut Fitri.
"Sekarang, kalian makan dulu, setelah itu kemasi barang dan pakaian kalian, siang ini Papa akan antar kalian pulang ke rumah Ibu kalian!" ucap Dicky.
"Tidak mau! Aku tidak mau pulang!" cetus Dina.
"Aku juga! Aku mau tinggal di sini saja!" timpal Dara.
"Dina, Dara! Kenapa kalian tidak mau pulang ketempat emak kalian?? Dia rindu kalian, dia ingin selalu dekat dengan kalian, apakah kalian mengerti??" tanya Fitri.
"Tapi ... kami tidak mau tinggal di sana, tidak enak Ma, di sana sempit dan tempat tidurnya tidak enak, makanannya juga tidak enak!" rengek Dara.
"Kau harus ingat Dara, dulu kalian juga tinggal di pemukiman kumuh yang bahkan jauh lebih sempit dan sesak, sekarang Emak kalian sudah punya Toko kelontong, walaupun tinggal di toko di lantai atas, asalkan bisa selalu berkumpul dengan Ibu kalian, itu adalah hal yang membahagiakan, kalian harus belajar bersyukur!" ujar Fitri.
"Itu akan menjadi tantangan kalian supaya belajar lebih giat, sehingga kelak kalian akan bisa membuatkan rumah yang bagus untuk emak kalian, Papa janji tidak akan pernah melupakan kalian, karena kalian tetaplah anak-anak asuh Papa yang selalu Papa sayang!" ucap Dicky sambil mengelus rambut keduanya yang mulai menangis.
__ADS_1
Bersambung ...
****