Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Fitri mulai mengemasi pakaiannya untuk di masukan ke dalam koper, wajahnya terlihat cerah malam itu, besok pagi rencana mereka akan berangkat berbulan madu.


Dalam hati Fitri sangat bersyukur dan bahagia, betapa selama ini bulan madu hanya ada dalam impiannya, sejak menikah bahkan Dicky tidak pernah mengajak Fitri untuk pergi bulan madu, seperti kebanyakan pasangan yang baru menikah pada umumnya.


"Mas Dicky, kau tidak membereskan pakaianmu? Atau mau aku yang membantu membereskannya?" tanya Fitri saat melihat Dicky yang nampak duduk melamun di sisi tempat tidurnya.


"Tidak usah Fit, biar aku membereskan sendiri saja pakaianku, kau sudah selesai?" tanya Dicky balik.


"Hampir Mas, sejak tadi dadaku terus berdebar, membayangkan tidur di villa dengan pemandangan indah bersama dengan Mas Dicky, laki-laki yang aku sayang!" ungkap Fitri yang kini duduk di samping suaminya.


"Fit, kau benar-benar menyukai tempat itu?" tanya Dicky.


"Suka Mas, tadi siang aku sudah menjelajah lewat internet, itu destinasi bulan madu yang sangat indah dan romantis, ternyata kau sangat pintar memilih lokasi!" jawab Fitri sambil bergelayut manja di bahu Dicky.


"Fit, kita rubah tujuan bulan madunya ya, kita ke Lombok saja bagaimana? Di sana wisata alamnya juga indah, apalagi panorama lautnya, ada villa yang bagus yang mengapung di atas laut lho!" ajak Dicky.


Fitri menatap wajah suaminya itu dengan penuh heran.


"Lho kok tiba-tiba berubah Mas, bukankah kau sudah boking semua dan membayarnya lunas?" tanya Fitri bingung.


"Iya sih, tapi aku tiba-tiba ingin ke Lombok Fit, kita ke Lombok saja ya!" sahut Dicky.


"Jangan Mas, aku suka villa yang di Bali itu, sayang kalau kau membatalkannya, lagi pula aku kan belum pernah ke sana!" ujar Fitri.


Dicky kemudian terdiam beberapa saat lamanya, kemudian dengan lembut Dicky membelai rambut Fitri.


"Kau sungguh sangat ingin ke Bali Fit?" tanya Dicky sambil menatap dalam wajah Fitri.


"Iya Mas, walau hanya melihatnya di gambar, tapi aku suka tempatnya, nanti kita bisa sama-sama menikmati matahari terbenam dan terbit di pantai, tidur sambil memandang lautan yang luas, aku sangat ingin Mas ..." ungkap Fitri.


Dicky lalu memeluk Fitri dengan erat sambil menciumi puncak kepala wanita itu.


"Baiklah sayang, apapun yang kau suka, pasti akan ku turuti, sekarang bantu aku untuk menyiapkan pakaianku!" ucap Dicky.


Sambil tersenyum, Fitri kemudian mulai menyiapkan pakaian Dicky lalu di masukannya ke dalam koper.


"Jangan lupa pakaian renang di bawa Fit, aku ingin mengajakmu berenang di sana!" seru Dicky.


"Siap Mas, aku bawakan lebih pakaian dalam mu, di sana kau bisa bebas menumpahkan hasrat mu!" ujar Fitri menggoda.

__ADS_1


"Kau mulai nakal Fit! Jangan lupa obat dan vitamin serta susu hamil kau bawa, tubuh mu harus kuat untuk menerima serangan ku!" balas Dicky.


"Siapa takut!" sahut Fitri sambil tertawa.


"Wah, kau mulai menantangku Fit, awas saja, aku tidak akan memberimu ampun!" cetus Dicky.


"Coba saja kalau berani, aku ingin tau, seberapa perkasanya suamiku ini!" sahut Fitri.


Dicky lalu melepaskan pakaian yang ada di tangannya, kemudian dengan cepat menangkap Fitri dalam gendongannya.


"Tidak usah menunggu besok, malam ini aku tidak akan melepaskanmu!" bisik Dicky dengan nafas hangatnya di telinga Fitri.


"Aakh, aku kan cuma bercanda Mas, lepaskan!" jerit Fitri sambil berusaha mengurai pelukan Dicky.


"Betina nakal ini sudah di tangan, mana mungkin aku lepaskan!" ucap Dicky.


Dicky lalu menyusupkan wajahnya di dada Fitri, hingga wanita itu meringis kegelian.


"Ampun Mas, jangan sekarang please ... beres-beresnya belum selesai!" seru Fitri.


"Siapa suruh membangunkan macan yang sedang tidur, rasakan sendiri akibatnya!" ujar Dicky sambil terus menciumi wajah dan dada Fitri, hingga kini berhenti di perut Fitri.


"Sehat-sehat kau ya Nak, Papa sayang padamu!" ucap Dicky sambil terus menciumi perut Fitri.


Ada perasaan hangat yang Fitri rasakan. Selama seumur hidupnya, Fitri baru merasakan apa itu bahagia yang sesungguhnya.


****


Ceklek!


Suster Wina terkejut saat melihat Ranti yang masuk ke ruangan Dicky pagi itu.


"Dokter Ranti? Bukankah semalam Chika sudah di jemput sama Ayahnya?" tanya Suster Wina bingung.


"Aku sudah tau Sus, aku hanya ingin menemui Dicky, di mana dia?" tanya Ranti balik.


"Dokter Dicky kan ambil cuti beberapa hari, katanya mau mengajak istrinya bulan madu!" jawab Suster.


"Bulan madu kemana??" tanya Ranti penasaran.

__ADS_1


"Saya tidak tau, mungkin Dokter Dimas tau, dia kan Dokter paling dekat dengan Dokter Dicky!" sahut Suster.


"Oke, terimakasih!" ucap Ranti yang segera melangkah keluar dari ruangan itu.


Kemudian Ranti segera berjalan menuju ke ruangan Dokter Dimas, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ranti?? Bukankah kau sudah tidak bekerja di sini lagi? Masih punya muka saja kau datang!" tanya Dimas yang kaget melihat kedatangan Ranti.


"Dim, apakah kau tau Dicky pergi kemana?" tanya Ranti.


"Kenapa kau tanya padaku? Kau pikir aku tau segalanya tentang Dicky?!" sahut Dimas.


"Dim, ayolah, bukankah kita sudah berteman sejak lama, bahkan sejak kita baru masuk kuliah? Waktu itu kita bertiga dengan Dicky bersahabat bukan?" tanya Ranti sambil menatap Dimas.


"Ranti, untuk apa lagi kau mengurusi Dicky?? Dia sudah bahagia dengan istrinya yang sekarang!" ungkap Dimas.


"Bahagia? Dim, aku mohon, beritahu aku kemana Dicky pergi?" mohon Ranti.


"Untuk apa kau tau kemana dia pergi? Apa kau mau mengganggunya lagi?" tanya Dimas.


"Bukan itu Dim, aku hanya ingin pamit!" sahut Ranti.


"Pamit? memangnya kau mau kemana?" tanya Dimas lagi.


"Aku di terima bekerja di rumah sakit besar di Papua, sementara Chika ikut Ayahnya, aku pergi hanya untuk melupakan masa laluku Dim, setelah itu aku baru tenang!" jelas Ranti.


"Kenapa kau tidak meneleponnya dan bicara langsung padanya?" tanya Dimas.


"Dia tidak pernah mengangkat teleponku Dim, aku tau aku salah, penyesalanpun sudah terlambat, tapi paling tidak aku mau pergi baik-baik!" ungkap Ranti.


"Baiklah, akan ku beri tau, saat ini Dicky sedang bulan madu ke Bali, di villa pelangi sebuah resort di pantai Sanur, kau pasti tau kan tempat itu!?" jelas Dimas.


Ranti terdiam mendengar penuturan Dimas.


"Ya, aku sangat tau tempat itu!" gumam Ranti.


"Ingat Ranti, kau jangan lagi berbuat ulah, aku tau kau orang baik sebenarnya, cuma waktu dan keadaan yang membuat orang bisa berubah!" ujar Dimas.


"Baiklah Dimas, terimakasih, aku pamit juga padamu ya, selamat tinggal!" ucap Ranti yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dimas.

__ADS_1


****


__ADS_2