Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dinner Berdua


__ADS_3

Sore itu Dicky buru-buru membereskan meja kerjanya, setelah Pak gubernur selesai mengadakan peninjauan di rumah sakit Dicky.


Dia harus segera cepat sampai di rumah karena Fitri sudah menunggunya sejak siang, sebenarnya Dicky sudah memberitahu perihal keterlambatan kedatangan pak gubernur itu, namun Fitri sepertinya sangat ingin sekali Dicky pulang.


Entah mengapa belakangan ini istrinya menjadi sangat manja sekali, tidak seperti biasanya.


Ceklek!


Suster Wina masuk ke dalam ruangan Dicky, sambil membawa beberapa berkas di tangannya, kemudian dia meletakkannya di meja kerja Dicky dan duduk di hadapan Dicky.


"Dokter Dicky, ini laporan perkembangan Rumah Sakit dua tahun terakhir, mohon diperiksa dulu, karena menurut rapat dewan Dokter tadi, rumah sakit ini akan berubah status menjadi Rumah Sakit internasional, jadi segala administrasinya harus ditinjau kembali!" jelas Suster Wina.


" Oke, kau taruh saja di situ, besok lagi aku akan mempelajarinya, sekarang aku aku harus buru-buru pulang istriku sudah menunggu!" ujar Dicky.


"Yah dokter, kami semua kan sedang menunggu persetujuan dokter, kami tidak bisa melakukan apapun tanpa persetujuan dokter lho!" kata suster Wina.


"Kau ini, menyusahkan saja! Kenapa tidak datang dari tadi? Ya sudah, aku bawa pulang saja berkasnya, lalu aku kirimkan melalui pesan singkat, setelah aku mempelajarinya!" kata Dicky sambil mengambil berkas itu dan menaruhnya di dalam tas kerjanya.


"Dokter!"


"Apa lagi??"


"Minggu depan aku mau mengajukan cuti, mungkin sekitar dua minggu!" kata suster Wina.


Dicky tertegun sejenak mendengar ucapan Suster Wina, selama ini, sejak suster Wina bekerja di rumah sakit menjadi asisten Dicky, tidak pernah sekalipun suster Wina mengajukan cuti.


Dia adalah suster yang paling rajin di rumah sakit ini, makanya Dicky mengangkat suster Wina menjadi suster kepala, karena suster kepala yang lama sudah pensiun.


"Apa? Cuti? Tumben sekali kau mengajukan cuti, memangnya dalam rangka apa kau mengambil cuti? Lama lagi sampai 2 minggu!" tanya Dicky.


"Saya akan menikah dokter!" jawab suster Wina.


"Apa? menikah? Kau menikah dengan siapa? Selama ini aku tidak pernah melihatmu jalan dengan seorang laki-laki!" tanya Dicky.


"Ya saya menikah dengan pacar saya lah! Lagian memangnya saya harus pamerin ke dokter, kalau saya lagi jalan sama pacar saya!" sahut suster Wina.

__ADS_1


"Ya bukan begitu juga, Okelah kalau begitu, kalau boleh ambil cuti, aku akan memberimu cuti satu bulan, supaya kau bisa bulan madu dengan suamimu itu!" ucap Dicky.


"Wah, terima kasih Dokter! Nanti dokter datang ya, di acara pernikahan saya, acaranya dekat kok Dokter, di Gedung Serbaguna tidak jauh dari tempat saya tinggal!" ujar Suster Wina berseri-seri karena permintaan cutinya diperpanjang.


"Ya ya, aku akan datang dengan istriku, nanti pokoknya kau kirimkan saja lokasi, di mana acara pernikahanmu itu! Sudah, kapan aku pulang kalau terus mengobrol denganmu!" ujar Dicky yang langsung mengambil tasnya dan bergegas keluar dari ruangannya, Wina mengikutinya dibelakangnya.


"Nanti jangan lupa ya dokter, amplopnya yang tebal!" seru Suster Wina saat Dicky mulai melangkahkan kakinya cepat meninggalkan ruangannya itu.


Dicky hanya mengacungkan ibu jarinya saja, tanpa menoleh, dia terus berjalan menuju ke arah lobby lalu ke parkiran, di mana mobilnya terparkir.


****


Dicky sampai di rumah sekitar 30 menit dari rumah sakit, karena dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, untuk bisa segera sampai di rumah.


Saat dia masuk, rumah besarnya itu terlihat sepi, biasanya ada Alex dan Alena yang selalu bermain dan menyambutnya pulang, tapi sore ini tidak seperti biasanya.


Di ruang makan, hanya terlihat Bi Sumi dan Mbok Jum, yang sedang menata meja makan, menyiapkan untuk makan malam nanti.


"Pak Dokter sudah pulang?" tanya Mbok Jum.


"Mbak Fitri ada di atas, di kamarnya, Alex dan Alena sedang diajak bermain sama Mbak Karina ke rumahnya, tadi dijemput Sekitar jam tiga!" jelas Mbok Jum.


"Oke deh Mbok, aku ke atas dulu ya, sepertinya ada yang sedang ngambek, karena aku pulang terlambat!" sahut Dicky yang langsung bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.


Sesampainya dikamar, Fitri terlihat sedang duduk di tepi ranjangnya, sambil memegang ponselnya, sepertinya dia juga baru selesai mandi.


Dicky pun langsung berjalan menghampirinya, dan duduk di sebelahnya.


"Selamat sore cantik, maafkan aku ya, pulang sedikit terlambat, meleset dari perkiraan!" ucap Dicky.


"Ini bukan sedikit lagi terlambatnya, tapi banyak!" cetus Fitri cemberut.


"Ya kan tadi aku sudah minta maaf, Kok akhir-akhir ini ini Istriku yang cantik ini sering sekali marah, Apa kau sedang datang bulan?" tanya Dicky.


"Ah Papa, aku sudah menunggumu sejak siang tadi, aku kesal karena kau bilang kau akan terlambat pulang lagi!" sahut Fitri.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebagai ucapan permintaan maaf, kita dinner di luar yuk, mumpung anak-anak sedang bersama tantenya!" ajak Dicky.


"Tumben Papa ngajak aku dinner, biasanya mana pernah kita dinner berdua, selalu rombongan!" sahut Fitri.


"Ya maka nya itu, mumpung anak-anak sedang main sama Tantenya, kita dinner berdua dong, Oke?" ucap Dicky.


Akhirnya Fitri menganggukan kepalanya sambil tersenyum, hatinya luluh seketika, saat Dicky mengajaknya dinner berdua.


Dicky langsung cepat-cepat mandi dan berganti pakaian, setelah itu itu mereka langsung turun ke bawah, dan bersiap akan berangkat untuk dinner berdua.


"Bi Sumi, nanti kalau Alex dan Alena sudah pulang, kalian makan malam duluan saja ya, karena aku dan Mas Dicky akan makan malam di luar!" kata Fitri sebelum mereka berangkat.


"Cie Mbak Fitri sama Pak Dokter mau kencan berdua lagi nih!" goda Bi Sumi.


Dicky dan Fitri hanya tersenyum, kemudian mereka melangkah ke depan dan langsung naik ke dalam mobil mereka, mobil itu pun segera berangkat menuju ke sebuah restoran tempat mereka dinner.


Mobil Dicky berhenti di sebuah restoran mewah, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


Setelah itu mereka langsung masuk ke dalam restoran itu, dan mengambil tempat yang paling romantis.


Sebuah meja makan bundar, dengan lilin yang berwarna merah di tengah-tengahnya, menambah keromantisan suasana malam itu.


Fitri terlihat begitu bahagia, apalagi lagi dia hanya makan malam berdua dengan suaminya, tanpa ada siapapun yang mengganggu mereka.


"Malam Ini Kau boleh memilih makanan apa saja yang kau suka, setelah itu kita berdansa ya?" ajak Dicky.


"Dansa?"


"Iya, kalau kau tidak bisa, nanti aku akan memandumu, kau ikuti saja aku!" kata Dicky.


Terdengar suara musik klasik menambah syahdunya suasana malam itu, sebelum pesanan makan malam mereka sampai ke meja makan, Dicky kemudian menuntun Fitri dan memeluk pinggangnya mereka mulai berdansa.


"Kau peluk aku sayang, aku juga akan memeluk pinggangmu, ikuti saja Irama musik dengan naluri, seolah di dunia ini, hanya kita berdua saja yang tinggal!" bisik Dicky.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2