Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kenangan Di Pantai Bali


__ADS_3

Fitri berlari-lari kecil menyusuri pinggir pantai senja itu, wajahnya begitu cerah dan berseri-seri.


Dicky yang duduk sambil memandang hamparan laut yang begitu luas, hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan istrinya itu.


Belum pernah Dicky melihat wajah Fitri sebahagia seperti saat ini, sejak mereka menikah.


"Ayo Mas! Kita jalan lagi!" seru Fitri sambil melambaikan tangannya.


Dicky lalu beranjak dari duduknya, dia mendekati Fitri yang nampak begitu bersemangat hati ini.


"Kau tidak capek Fit? Istirahatlah dulu, duduk dulu!" ujar Dicky yang langsung menggandeng Fitri dengan erat.


"Tidak capek kok Mas, aku malah senang bisa sepuasnya main di pantai!" sahut Fitri.


Mereka kemudian duduk di atas pasir pinggir pantai itu, matahari mulai tenggelam dan berwarna jingga.


"Malam ini Fitri sedang ingin makan apa?" tanya Dicky sambil membelai lembut rambut Fitri yang bersandar di dadanya.


"Apa saja Mas, asal makan sama Mas Dicky, makan apapun aku suka!" jawab Fitri.


"Hmm, kau memang istri yang baik dan selalu menyenangkan suami Fit!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.


"Mataharinya bagus ya Mas, warnanya jingga kemerahan, kelihatan seperti bulan, besok aku ingin melihat matahari terbit Mas!" ujar Fitri.


"Kalau mau melihat matahari terbit, di pantai yang lain, besok aku akan mengajakmu ke sana Fit, tapi kita harus bangun pagi-pagi!" sahut Dicky.


"Siap Mas! Berarti kita harus tidur cepat Mas!" kata Fitri.


"Ya, perjalanan seharian ini sangat melelahkan, kita memang harus tidur lebih cepat, apalagi saat ini aku sedang mengandung, tidak boleh capek!" ujar Dicky.


"Iya Mas, sejak di sini, entah mengapa aku tidak merasa mual lagi, aku merasa sehat dan bahagia, mungkin si Dedek juga bahagia ya Mas!" ucap Fitri.


"Dia bahagia karena berada di tengah-tengah orang yang menyayanginya!" bisik Dicky sambil kembali mengelus perut Fitri dengan lembut.


"Sudah mau gelap Mas, kita balik yuk ke Villa!" ajak Fitri.


"Mas Dicky gendong ya!" Kata Dicky.


"Jangan Mas, malu banyak orang!" kilah Fitri.


"Kenapa malu di gendong suami sendiri, dari tadi kau sudah lari-lari, pasti capek sayang, ayo!" Dicky kemudian berjongkok di depan Fitri.


Dengan sedikit ragu Fitri memeluk punggung Dicky, kemudian Dicky berdiri dan melangkah menyusuri pantai menuju ke villa mereka.


Fitri merebahkan kepalanya di punggung Dicky, ada rasa damai dan nyaman yang Fitri rasakan.


Aroma tubuh Dicky seolah menjadi candu tersendiri untuk Fitri.


'Aku akan terus mencintaimu Mas, sampai aku menutup mata nanti' batin Fitri.


Mereka kemudian telah sampai di Villa mereka, Dicky dan Fitri kemudian mulai mandi di sebuah kolam pribadi yang ada di dalam villa itu, airnya hangat dan pegal-pegal terasa hilang.


Dicky kemudian mulai memeluk Fitri dengan erat.


"Saat seperti ini, paling enak jika menengok si Dedek!" ucap Dicky.


"Hush, jangan modus Mas, ini tempat umum!" sergah Fitri.

__ADS_1


"Ini kolam pribadi sayang, paling hanya ada pelayan yang mengantar makanan, tadi aku pesan ayam bakar dan aneka seafood, ada nasi pecel juga, supaya dedek sehat!" ucap Dicky.


"Kau banyak sekali memesan makanan, kita kan cuma berdua Mas!" kata Fitri.


"Siapa bilang berdua, bertiga dong dengan si dedek!" timpal Dicky.


Setelah mereka berendam di kolam hangat, mereka mulai menikmati sajian makan malam di tepi kolam itu, terhidang berbagai menu makanan yang menggugah selera, Dicky terlihat senang saat melihat Fitri yang makan begitu lahapnya.


"Aku ganti baju duluan ya Mas ke dalam, dingin!" kata Fitri setelah selesai makan. Dicky yang masih terlihat menyantap makanan terakhirnya menganggukan kepalanya.


"Iya sayang, nanti Mas susul!" sahut Dicky.


Fitri kemudian langsung masuk ke dalam villa untuk berganti pakaian.


Seorang pelayan datang mendekati Dicky yang terlihat masih menikmati es kelapa muda.


"Maaf Pak Dicky, ini ada titipan untuk Bapak!" kata seorang pelayan itu sambil menyodorkan secarik kertas memo ke arah Dicky.


Dicky membuka kertas memo itu lalu membacanya. Matanya membulat saat dia membaca isi memo tersebut.


****


Malam datang menjelang, Fitri sudah nampak berbaring di pembaringannya. Tubuhnya terasa letih dengan aktifitasnya seharian ini.


"Sini Mas bobo, kau tidak capek duduk terus di situ?" panggil Fitri saat melihat Dicky yang masih duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Iya sayang!" Dicky kemudian mulai mematikan televisinya lalu beranjak naik ke tempat tidurnya.


Dia berbaring di sebelah Fitri sambil memeluk pinggang Fitri.


Fitri mulai memejamkan matanya, terasa nyaman dan hangat tidur dalam pelukan suami yang amat di cintainya itu.


Beberapa saat kemudian Fitri terlihat sudah nyenyak tertidur, waktu sudah menunjukan jam 10 malam, suara deburan ombak terdengar sampai ke kamar itu.


Perlahan Dicky melepaskan pelukan Fitri, kemudian dia melangkah keluar dari kamar villanya.


Dicky terus berjalan keluar dari villanya hingga kembali sampai di pantai, cahaya bulan purnama menerangi gelapnya malam itu.


Angin laut menerpa wajah dan rambut Dicky yang lurus menjuntai.


Kini di hadapan Dicky, berdiri seorang wanita yang berdiri menghadap ke laut, pakaiannya berkibar tertiup angin. Dia adalah Ranti.


"Apa yang ingin kau sampaikan yang terakhir kalinya untukku Ranti? Katakan padaku sekarang, waktuku tidak banyak!" seru Dicky.


Ranti kemudian menoleh ke arah Dicky.


"Duduklah barang sebentar di sini Dicky, tidakkah kau rindu saat-saat seperti ini?" Ranti kemudian duduk di atas pasir tepi pantai itu.


Dicky mulai maju dan kini duduk di samping Ranti.


Untuk beberapa saat lamanya mereka saling diam tanpa bicara.


"Kau meniginap di mana?" tanya Dicky memecah kebisuan mereka.


"Tidak jauh dari sini!" sahut Ranti.


"Apa maksudmu menemui ku malam ini?" tanya Dicky lagi. Ranti nampak menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Dicky, aku di terima bekerja di rumah sakit besar di Papua, tadi nya aku sempat berpikir untuk menolak kesempatan itu, tapi aku menyadari bahwa mungkin saat aku pergi jauh, aku baru bisa melupakanmu!" ucap Ranti.


Matanya menatap lurus ke arah laut. Wajahnya malam ini terlihat begitu sendu, berbeda seperti biasanya.


"Kau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk mengatakan itu?" tanya Dicky.


"Aku tidak tau lagi bagaimana caranya untuk bisa bertemu denganmu, besok pagi aku sudah terbang ke Papua!" jawab Ranti.


"Bagaimana dengan Chika?" tanya Dicky lagi.


"Chika ada bersama dengan Ayahnya, makanya aku tidak khawatir, kalau aku kangen, setiap bulan Dio aku suruh untuk membawa Chika menemui ku!" sahut Ranti.


Tiba-tiba Ranti melempar ponselnya jauh-jauh ke tengah laut yang deburan ombaknya terdengar bersahut-sahutan.


"Hei! Mengapa kau buang ponselmu??" tanya Dicky.


"Kau tau Dicky, di ponsel itu banyak sekali kenangan tentang kita yang belum aku hapus sampai saat ini, saat kau mengajak istrimu bulan madu ke sini, tiba-tiba kenangan itu kembali muncul!" jawab Ranti.


"Tidak, aku mengajak Fitri bukan karena sebuah kenangan, kau jangan salah sangka!" tukas Dicky.


"Yah, kau mewujudkan mimpi kita dulu bersama dengan Fitri saat ini, Sekarang semua sudah selesai, aku juga sudah lelah mengejarmu, dan aku harus menyadari, hatimu kini bukan lagi milikku!" ucap Ranti.


Mata wanita itu mulai meneteskan butiran bening.


"Ranti, aku selalu berharap, kau akan dapat menemukan kebahagiaanmu!" ucap Dicky.


"Ya Dicky, takdir memang tidak pernah berpihak pada kita, mungkin saat ini, hanya Dio dan Chika yang menjadi takdirku!" kata Ranti.


"Takdir tidak pernah salah Ranti, saat hatiku terluka karena kepergian mu, di saat yang hampir bersamaan Fitri yang juga terluka datang dalam hidupku, dari situ aku belajar, bahwa hanya cinta yang dapat menyembuhkan luka!" ucap Dicky.


"Kau benar Dicky, dulu kita pernah mencatat apa saja impian kita, termasuk bulan madu di tempat ini, walaupun kini semua sirna terhapus pasir pantai ini!" lanjut Ranti.


"Lupakan tentang kenangan itu Ranti, lupakan tentang kita, tentang impian kita, karena takdir kita yang memang tidak akan pernah untuk bersama!" ucap Dicky.


Ranti menoleh ke arah Dicky dengan tatapan lembut dengan matanya yang kini basah.


"Bolehkah ... aku memelukmu untuk yang terakhir kali Dicky? Sebelum aku benar-benar pergi dan hilang darimu?" mohon Ranti.


Dicky kemudian perlahan menganggukan kepalanya.


Ranti langsung memeluk Dicky dengan erat sambil menangis, seolah mencurahkan seluruh perasaannya.


"Dicky, jangan lepaskan aku, sebentar saja ... peluk aku sebentar saja!" lirih Ranti.


Dicky terus memeluk Ranti dengan erat, seolah terhanyut dalam kenangan masa lalu.


Perlahan Ranti berjinjit dan mencium bibir Dicky dengan lembut dan dalam.


Bersambung ...


****


Guys ... Ditunggu dukungannya selalu ya ...


Terimakasih ... 🙏😘❤️


Jangan lupa mampir ke karya Author yang berjudul "Perjaka Tampan & Wanita Malam" juga karya yang lain yang banyak itu lho ... wkwkw 😉

__ADS_1


__ADS_2