
Dicky dan Dimas berjalan menghampiri wanita setengah baya yang duduk di kursi roda itu.
Wanita itu menatap ke arah mereka dengan tatapan heran.
"Selamat Pagi Bu?" sapa Dicky mengawali pembicaraan.
"Pagi, kalian siapa ya? Apa temanya Donny?" tanya ibu itu.
"Iya Bu, kami temannya Donny!" bohong Dimas. Dicky menyenggol pinggang Dimas.
"Tapi sayang, dia sudah berangkat ke sekolah sejak tadi, saya Bu Sarmi Ibunya Donny, ayo masuk dulu deh!" tawar Bu Sarmi.
Dicky dan Dimas menganggukkan kepalanya, mereka kemudian masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Seorang suster mendorong kursi roda Bu Sarmi dan mereka kini duduk bersama di ruang tamu.
"Sus, tolong buatkan minuman hangat untuk mereka!" titah Bu Sarmi.
Suster yang merupakan perawat Bu Sarmi itu menganggukan kepalanya dan bergegas jalan ke arah belakang rumah itu.
"Kalian teman Donny dari mana? Rasanya Donny jarang mempunyai teman di sini!" tanya Bu Sarmi. Suaranya agak tidak jelas karena penyakit struk yang di deritanya.
"Oh, kami teman lamanya Bu, sudah lama dan bertahun-tahun tidak pernah ketemu!" sahut Dimas beralasan.
"Donny sudah menikah apa belum ya Bu?" tanya Dicky to the point, Dimas menyenggol tangan Dicky.
"Dia sepertinya enggan menikah, padahal banyak wanita yang menaruh hati padanya, entahlah, Ibu juga bingung!" jawab Bu Sarmi.
"Nah itu siapa Bu yang di foto??" tanya Dicky langsung menunjuk ke arah pigura foto yang terpajang di dinding.
Bu Sarmi nampak menunduk sedih, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Dicky.
"Kalian tidak tau ya, dia itu Anita tunangan Donny yang meninggal akibat kecelakaan, padahal sebulan lagi mereka akan segera menikah, Donny sampai terpukul, dia mengurung diri berbulan-bulan, sampai suatu hari, dia kembali bersemangat mengajar di sekolah, entah apa yang membuat dia begitu bersemangat, tapi sayang, tiba-tiba dia mengundurkan diri dari sekolah itu, dan pindah ke sekolahnya yang sekarang!" ungkap Bu Sarmi.
Suster Bu Sarmi datang dan meletakan sebuah nampan berisi minuman hangat di atas meja.
"Silahkan di minum Mas!" tawar si suster itu.
"Jadi yang di foto itu Anita kan Bu??" tanya Dicky.
"Iya, itu semua foto-fotonya Anita!" jawab Bu Sarmi.
"Oh, syukurlah!" Dicky menarik nafas lega.
"Kok bisa tunangan Donny mengalami kecelakaan? Itu kecelakaan tunggal atau apa? Apakah Donny ada pada saat tunangannya kecelakaan?!" tanya Dimas kepo, jiwa detektifnya mulai beraksi.
"Anita kecelakaan di daerah puncak, dia jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, saking dalamnya, jenasahnya sampai tidak di temukan sampai sekarang!" jawab Bu Sarmi.
"Ya Tuhan, berarti Donny tidak tau di mana Anita di makamkan ya? Kasihan sekali!" gumam Donny.
"Yah, makanya Ibu sedih melihat anak Ibu jadi seperti itu, padahal Ibu sangat ingin sekali punya menantu!" ungkap Bu Sarmi.
__ADS_1
"Mudah-mudahan Donny bisa menemukan jodohnya lagi ya Bu, kami turut prihatin!" ucap Dicky.
"Terimakasih Nak, Oya, siapa nama kalian? Biar ibu sampaikan nanti sama Donny!" tanya Bu Sarmi.
Dicky dan Dimas saling berpandangan.
"Saya Paijo Bu dan dia Asep!" sahut Dimas asal. Dicky spontan melotot ke arah Dimas.
"Tidak usah di sampaikan Bu, biar kami nanti ketemu langsung saja di sekolah!" ujar Dicky.
"Kalau begitu, kami pamit ya Bu, mohon maaf kami sudah mengganggu pagi-pagi!" ucap Dimas.
"Sama sekali tidak mengganggu, saya malah senang kalian datang, Donny sendiri jarang membawa temannya datang ke rumah!" kata Bu Sarmi.
Dicky menatap dari dekat foto Anita, sekilas memang dia sangat mirip dengan Fitri, namun saat di perhatikan, ada perbedaan di antara mereka, mereka adalah orang yang berbeda, Dicky menarik nafas lega.
Setelah berpamitan, Dicky dan Dimas kemudian kembali melanjutkan perjalanan mereka ke rumah sakit.
"Sudah puas sekarang Bro?? Dia bukan si Fitri kan? Untung kau tidak main hantam kromo kemarin!" ujar Dimas.
"Iya Dim, kasihan juga si Donny, masa sampai sekarang dia tidak bisa move on sama si Anita itu?" sahut Dicky.
"Yah namanya juga cinta, kata film sun gokong, penderitaannya tiada akhir!" cetus Dimas.
"Tapi menurutmu, apakah mungkin si Anita itu masih hidup?" tanya Dicky.
"Mana ku tau? Kalau pun masih hidup kenapa juga dia tidak mencari tunangannya!" sahut Dimas.
"Sudah deh, yang penting kau sudah jelas kan, kalau Fitri itu tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan guru palsu itu!" kata Dimas. Dicky menganggukan kepalanya.
"Kau sendiri, bagaimana dengan Mia? Kapan aku di kasih undangan ini?? Keburu anakku lahir!!" tanya Dicky.
"Kau tenang saja Bro, undangan sudah di cetak, tinggal di bagikan saja!" sahut Dimas.
Mereka kemudian sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Pada saat Dicky memarkirkan mobilnya, di sebelahnya juga terparkir sebuah mobil mewah.
"Alamak Dicky!! Itu kan mobilnya Bu Anjani!!" pekik Dimas sambil menunjuk ke arah samping.
"Masa sih??" tanya Dicky.
"Lah, aku kenal mobilnya kali, cuma dia yang mobilnya platnya nomornya cantik begitu dan ada tulisan CEO!" sahut Dimas.
Mereka kemudian turun dari mobil, dan hendak melangkah menuju lobby.
Dari dalam mobil mewah itu juga turun seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik, elegan dan berkelas, dia adalah Ibu Anjani, pemilik tunggal rumah sakit ini.
"Selamat pagi Bu Anjani!" sapa Dicky dan Dimas sambil menundukkan kepalanya.
Bu Anjani tersenyum ke arah mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi!" balasnya ramah.
Kemudian dia segera berjalan mendahului Dicky dan Dimas masuk ke dalam Lobby.
"Ck ck ck! Ini baru namanya wanita terhormat dan berkelas!" gumam Dimas kagum.
"Ah, kau ini Dim!" cetus Dicky.
"Kau tau Bu Anjani itu janda tanpa anak, lalu semua aset rumah sakit sebesar ini dia wariskan pada siapa ya?" gumam Dimas.
"Sudah! Sudah! Pikirkan saja pasienmu! Jangan mengurusi yang bukan urusanmu!" sergah Dicky.
"Dih sirik saja kau, ngomong-ngomong kau sudah bilang trimakasih belum, kata si suster Wina kan kau dapat uang pengganti saat kau kerampokan waktu itu?" tanya Dimas.
Dicky tertegun mendengar ucapan Dimas, dia baru ingat Bu Anjani pernah menitipkan sejumlah uang sebagai pengganti kerugian akibat kasus perampokan di rumahnya.
Tanpa menunggu lagi Dicky segera mengejar Bu Anjani yang berjalan ke arah ruangan khusus pribadinya yang jarang di kunjungi orang.
Bersambung ...
****
Hai Guys ...
Ini Author berikan sedikit gambaran mengenai visual sebagian tokoh di novel ini.
Tapi visual yang sesungguhnya ada di dalam imajinasi Readers semua lho ...
Donny Suhardi.
Ferdio Dacosta (Dio)
Dokter Mia
__ADS_1
Jangan lupa selalu dukung karya Author ya guys ... terimakasih ... 😘😉🖐️