Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tamu Dadakan


__ADS_3

Malam ini Dicky cukup lelah, setelah mulai membuka prakteknya, ternyata untuk di awal banyak pasien yang datang.


Berhubung dia sendirian, jadi Dicky merasa agak kecapean karena harus memeriksa pasien seorang diri di kliniknya.


Dicky mulai menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamunya, sementara kliniknya di pasang tulisan Tutup.


"Sudah tutup Mas? Baru juga jam 8 malam!" tanya Fitri yang langsung duduk di samping suaminya sambil menggendong Alex.


"Istirahat dulu Fit, maklum sekarang kan aku tak ada asisten!" jawab Dicky.


"Memangnya Mas Dicky kasih tarif berapa untuk pasien yang berobat? Tadi kelihatannya ramai juga!" tanya Fitri.


"Hmm, seikhlasnya Fit!" sahut Dicky.


"Apa? Seikhlasnya? Jadi tidak ada tarif tetap gitu?" tanya Fitri nyaris tak percaya.


"Tidak ada Fit, lagi pula kan pasien yang datang beda-beda kemampuan finansial nya, jadi ya seikhlasnya saja, tapi kau tenang saja Git, walau seikhlasnya tapi tadi banyak juga yang kasih lebih!" jawab Dicky.


"Syukurlah Mas, aku bangga padamu, kau sungguh berjiwa sosial, mudah-mudahan akan ada rejekinya ya Mas!" ucap Fitri.


"Amin Fit!" sahut Dicky.


Mang Salim kemudian terlihat datang dari arah gerbang depan menghampiri Dicky dan Fitri di ruangan itu.


"Pak Dokter!" panggil Mang Salim.


"Ada apa Mang Salim?" tanya Dicky heran.


"Itu Pak, di klinik depan ada tamu sepertinya, dari tadi ketuk-ketuk pintu kaca terus, padahal kan sudah di kasih tulisan Tutup!" kata Mang Salim.


"Siapa Mang??" tanya Fitri.


"Saya tidak tau Mbak, mana tau pasien gawat darurat, jadi gimana nih, di bukakan pintu tidak?" tanya Mang Salim.


"Biar aku ke depan deh Mang, buka saja pintunya!" sahut Dicky yang langsung beranjak bangun dari duduk ya.


Sementara Fitri berjalan mengikuti di belakang Dicky.


Mang Salim langsung membuka pintu klinik, seorang wanita sudah berdiri di depan pintu yang tadinya tertutup itu.


"Suster Wina??!" pekik Dicky.


Dia nyaris tidak percaya, kalau Suster Wina, mantan asistennya dulu di rumah sakit datang ke tempat kliniknya yang baru.


"Selamat malam Dokter Dicky, maaf mengganggu!" ucap Suster Wina.

__ADS_1


"Oh, masuklah!" ujar Dicky.


Suster Wina masuk dan langsung duduk di ruang tunggu klinik itu.


"Ada yang bisa aku bantu Sus? Kau apa kabar? Lama tidak bertemu!" tanya Dicky.


Dicky lalu duduk di hadapan suster Wina dan Fitri duduk di sebelah Dicky.


"Dokter, saya sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit, bolehkan saya bekerja di sini untuk membantu Dokter?" tanya Suster Wina.


Dicky terdiam beberapa saat lamanya.


"Sus, tapi aku tidak bisa menggaji mu sebesar waktu di rumah sakit, aku juga belum bisa memberikanmu tunjangan dan fasilitas apapun, karena klinik ini baru di mulai!" ucap Dicky.


"Dokter, tidak usah memberikan saya gaji sebesar di rumah sakit dulu, saya tidak masalah gaji kecil yang penting nyaman bekerja, lagi pula saya masih sendiri, belum punya kebutuhan banyak!" jawab suster Wina.


Dicky lalu menoleh ke arah Fitri yang sedari tadi diam saja.


"Bagaimana Fit?" tanya Dicky meminta pendapat istrinya.


"Mas Dicky kan memang butuh asisten untuk membantu pasien, tidak ada salahnya memberikan suster Wina kesempatan untuk mencoba bekerja di sini, mana tau semakin hari pasien semakin banyak!" jawab Fitri.


"Iya Dokter, di rumah sakit itu pasien semakin sedikit, sekarang banyak komplain dari pasien, makanya tidak sedikit Dokter keluar dari rumah sakit, Termasuk Dokter Dimas!" kata Suster Wina.


"Apa?? Dimas juga keluar??" tanya Dicky tak percaya.


"Sialan Dimas! Ikut-ikutan saja!" sungut Dicky.


"Jadi bagaimana Dok? Apakah saya di ijinkan untuk bekerja di sini??" tanya Suster Wina lagi.


"Baiklah kalau begitu, mulai besok kau bisa datang ke klinik, tugasmu sama seperti dulu, menjaga klinik, mengecek suhu dan tensi pasien, dan mencatat rekam medis pasien!" jelas Dicky.


"Terimakasih Dok! Terimakasih!" seru Suster Wina senang sambil menyalami Dicky dan Fitri bergantian.


"Tapi ingat, jangan berharap gaji besar dulu, karena pasien di klinik ini membayar pengobatan seikhlasnya!" ujar Dicky.


"Siap Dokter! Di perbolehkan bekerja dengan Dokter saja, saya sudah senang!" sahut suster Wina.


"Semoga betah Di sini ya Sus!" tambah Fitri.


"Iya Bu, sekali lagi terimakasih, kalau begitu saya pamit mau kembali ke kos saya!" kata Suster Wina sambil berdiri dari tempatnya.


Dicky dan Fitri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah itu Suster Wina membuka pintu dan keluar dari klinik itu.

__ADS_1


Dicky masih tertegun dan belum beranjak dari tempatnya.


"Kalau kondisi rumah sakit semakin hari seperti itu, rumah sakit itu lama-lama akan terancam bangkrut, kasihan Ibu!" gumam Dicky yang wajahnya tiba-tiba berubah mendung.


"Kita doakan saja tidak seperti itu Mas!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan suaminya itu.


"Sebenarnya aku rindu pada Ibu, bagaimana ya kabarnya sekarang?" lirih Dicky.


"Kalau Mas Dicky ingin menjenguk Ibu, aku mengijinkan Mas!" kata Fitri.


"Tidak Fit, sepertinya Ibu tidak merindukan aku dan tidak ingin aku menjenguknya!" tukas Dicky.


"Belum tentu Mas!" sahut Fitri.


Tok ... Tok ... Tok


Pintu kaca klinik kembali di ketuk dari luar, Fitri lalu bergegas membukakan pintu.


"Selamat malam Dokter?? Masih terima pasienlah??" tanya seseorang yang sudah sangat familiar itu.


"Bu Romlah??" seru Dicky dan Fitri bersamaan.


"Pak Dokter, kepala saya pusing nih belakangan ini, bisa tolong periksa dong, mumpung sekarang punya klinik baru ini!" kata Bu Romlah.


"Bu Romlah apa kabar? Sudah lama tidak kelihatan, ayo sini Bu saya coba tensi dulu! Nanti saya berikan obat!" ujar Dicky.


Bu Romlah kemudian duduk menghadap meja periksa, Dicky kemudian memeriksa Bu Romlah dan memeriksa juga tekanan darahnya.


"Wah, tekanan darah Ibu tinggi nih, itu yang membuat pusing, hindari stress dan makanan yang mengandung garam ya Bu, nih saya berikan obat hipertensi dan vitamin untuk Ibu!" kata Dicky sambil mencatat di kartu rekam medis.


"Hebat Pak Dokter! Tau saja kalau saya lagi stress!" sahut Bu Romlah.


"Iya Bu, tekanan darah tinggi salah satu pemicunya ya stress selain faktor makanan!" jelas Dokter Dicky.


Dicky kemudian mengambil obat dan Vitamin dari dalam lemari besar tempat obat-obatan.


"Ini Bu, vitaminnya di minum sehari satu kali saja, obat tensinya juga sehari satu kali, nanti beberapa hari lagi datang ke sini Bu, kita cek lagi tensinya!" kata Dicky.


"Wah, terimakasih Pak Dokter, jadi saya harus bayar berapa ini??" tanya Bu Romlah.


"Kalau untuk Bu Romlah sih, tidak usah bayar Bu!" sahut Dicky.


"Jangan begitu Pak Dokter, saya tau kok sekarang Pak dokter sedang merintis, sekarang saya buka toko perabot, lumayan rame, makanya saya agak stress karena banyak pelanggan, ini uang untuk berobat saya Pak Dokter! Permisi!" kata Bu Romlah sambil meletakan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas meja.


Dicky tertegun menatap uang yang ada di atas meja itu, sementara Bu Romlah langsung pergi begitu saja meninggalkan klinik.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2