Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Bertanya Pada Dokter


__ADS_3

Suara deringan telepon rumah mengejutkan Fitri dan Dicky yang tengah menonton acara televisi sore itu.


Bi Sumi pergi ke luar ke minimarket membeli beberapa kebutuhan rumah tangga.


Dicky beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri meja telepon lalu mengangkatnya.


"Halo!"


"Halo menantu, ini mertua kesayangan nih, gimana kabar kalian? Pada sehat semua kan?" tanya Bu Eni yang ternyata si penelepon itu.


"Eh Ibu, kami sehat Bu, bagaimana dengan Ibu dan Bapak?" tanya Dicky balik.


"Sehat Nak, ini di kampung lagi panen, lumayan hasil buminya, berasnya lagi bagus, rencana Bapak dan Ibu mau ke sono nganter beras hasil panenan, sekalian nengok kalian!" jawab Bu Eni.


"Oh, silahkan Bu, dengan senang hati!" ujar Dicky.


"Ya sudah deh, Ibu mau siap-siap dulu nih, mau bawa banyak kain buat calon cucu, ibu sudah belikan kain gendong dan stagen buat Fitri!" tambah Bu Eni.


"Iya Bu Trimakasih, kami juga sudah membeli perlengkapan bayi kami, jadi Ibu jangan terlalu banyak membeli, simpan saja uangnya Bu!" ucap Dicky.


"Tidak apa-apa Nak Dicky, namanya juga buat calon cucu, ibu bahkan sudah belikan ayunan dan keranjang bayi!" kata Bu Eni.


"Baik Bu, kapan Ibu dan Bapak datang kesini?" tanya Dicky.


"Mungkin besok Nak, nih Bapak lagi karungin beras!" jawab Bu Eni.


"Oke Bu, sampai ketemu besok ya!" ucap Dicky sebelum menutup teleponnya.


Kemudian Dicky kembali duduk di sofa di samping Fitri.


"Siapa Mas? Ibu ya?" tanya Fitri.


"Iya Fit, kata Ibu sawah sedang panen, mereka akan datang besok sekalian menengok kita dan calon cucunya!" jawab Dicky.


"Oh ..." Fitri nampak terdiam.


"Kenapa Fit?" tanya Dicky.


"Bapak dan Ibu pasti tau mataku kini tidak normal, mereka pasti sedih, apalagi aku akan melahirkan cucu mereka!" ungkap Fitri.


"Jangan sedih sayang, bukankah selalu ada aku bersamamu, kemarin aku konsultasi dengan Dokter Toni, kata beliau sementara kau tidak perlu mengkonsumsi obat apapun, karena pengaruh obat akan berdampak pada si calon bayi, nanti setelah habis melahirkan baru ada tindakan selanjutnya!" jelas Dicky.


"Iya Mas, mudah-mudahan buram nya tidak bertambah parah ya, aku hanya takut tidak bisa melihat bayi kita saat dia lahir nanti!" ucap Fitri.


"Tidak-tidak, itu tidak akan terjadi!" bisik Dicky sambil memeluk erat istrinya itu.


Dina dan Dara kemudian masuk ke dalam ruang keluarga dan langsung duduk bergabung dengan Dicky dan Fitri.

__ADS_1


"Kalian sudah selesai belajar?" tanya Dicky.


"Sudah Pa!" jawab keduanya.


"Bagaimana dengan Pak Hardi? Kalian bisa belajar dengannya?" tanya Fitri.


"Bisa Ma, Pak Hardi itu enak ngajarnya, cepat ngerti lagi!" jawab Dina.


"Syukurlah kalau begitu!" gumam Fitri.


"Tapi ada yang aneh Ma, Pak Hardi kalau mengajar selalu pakai masker, suaranya juga aneh, kayak pernah dengar gitu!" cerita Dara.


"Masa sih?" tanya Fitri.


"Iya, tanya saja dengan kak Dina!" sahut Dara.


"Benar Din?" tanya Fitri lagi.


"Iya sih Ma, aneh Pak Hardi, dia mengajar seperti sudah lama kenal, dia tau saja makanan kesukaanku, malah dia tau kalau aku paling tinggi di pelajaran olah raga waktu SD!" jelas Dina.


"Sudah sudah, ngapain sih kalian pada bahas pak Hardi, yang penting kan dia mengajar dengan baik, sekarang kalian istirahat dan mandi, lihat tuh hari sudah sore kan!" sergah Dicky.


"Oke Pa!" jawab Dina dan Dara yang langsung beranjak meninggalkan tempat itu.


****


"Bu Sumi, nanti anak-anak makan duluan saja ya, aku dan Fitri mau makan di luar!" ujar Dicky.


"Iya Pak Dokter!" jawab Bi Sumi.


"Oya jangan lupa Bi, nanti di ingatkan Dina dan Dara supaya mereka tidur jangan lebih dari jam sembilan malam!" tambah Fitri.


"Baik Mbak Fitri!" sahut Bi Sumi.


Mereka kemudian berjalan bergandengan menuju ke parkiran depan.


Mang Salim nampak sedang mengelap mobil Dicky.


"Eh, Pak Dokter, mau berangkat sekarang Pak?" tanya Mang Salim.


"Mang Salim Istirahat saja, malam ini biar aku yang bawa mobil mengantar istriku?" sahut Dicky.


"Pak Dokter memangnya sudah bisa bawa mobil?" tanya Mang Salim cemas.


"Bisa dong, kakiku sudah sembuh kok, aku bahkan sudah bisa berlari kencang!" sahut Dicky.


"Syukur deh, tapi Pak Dokter harus tetap hati-hati ya, jangan ngebut!" ujar Mang Salim memperingatkan.

__ADS_1


"Beres Mang!" sahut Dicky.


Dicky kemudian mulai membukakan pintu mobil untuk Fitri lalu dia segera naik ke dalam mobilnya dan langsung mengemudikannya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka kemudian sudah tiba di rumah sakit.


Dicky menuntun Fitri berjalan menuju ruang poli kandungan.


Tidak ada satupun pasien yang mengantri, poli kandungan terlihat sepi. Dicky dan Fitri kemudian langsung masuk ke dalam ruang praktek Dokter.


"Aduh! Kau datang di saat aku mau pulang Dicky!!" sungut Dokter Mia saat melihat Dicky dan Fitri masuk padahal dia baru mau keluar ruangan.


"Sorry Mia, periksa sebentar lah istriku, lagi pula ini belum jam delapan, kenapa kau buru-buru mau pulang?" tanya Dicky.


"Dimas sudah menungguku di parkiran, kasihan dia pasti akan menunggu lama!" sahut Mia.


"Ciyee ... suit suit ... yang sudah mulai sering kencan! Akhirnya kalian ada kemajuan juga!" ledek Dicky.


"Diam kau Dicky! Kalau mau periksa besok datang lagi ya, sorry nih, semua peralatan sudah di matikan! Suster ku juga sudah pulang!" ujar Mia.


"Huh! Gimana sih Dokter kandungan ini, sudah datang masa pulang lagi, cepek deh!" sungut Dicky.


"Memangnya Fitri ada keluhan apa?" tanya Mia.


"Tidak ada Dokter, tapi belakangan kepala saya sering pusing, entah mengapa!" jawab Fitri.


"Kalau begitu coba kau duduk dulu, biar aku periksa tekanan darahmu!" ujar Mia.


Dokter Mia mengambil alat tensi, lalu mulai mengukur tekanan darah Fitri.


"Waduh Fit, ini tekanan darah lumayan tinggi lho, kurangi makan garam ya, dan jaga pikiran supaya jangan stress!" jelas Mia.


"Fitri, pokoknya mulai sekarang kau jangan khawatir tentang apapun juga, kasihan bayi kita Fit, kau harus semangat!" tambah Dicky yang mulai cemas saat melihat tekanan darah Fitri yang tinggi.


"Iya Mas!" jawab Fitri.


"Dicky, ajak istrimu refreshing, bukankah kau dapat bonus dari rumah sakit paket liburan ke Jepang?" tanya Mia.


"Memangnya Fitri boleh berpergian dengan kondisi hamil besar begini Mia?" tanya Dicky.


"Tentu saja boleh, itu malah membuat pikirannya fresh, siapa tau Fitri malah bisa melahirkan di Jepang, aku punya rekomendasi dokter kandungan di sana, nanti aku beritahu rumah sakitnya, jadi kalian akan aman!" jelas Mia.


"Lah, liburannya saja cuma tiga hari, ya kali bisa melahirkan di sana!" cetus Dicky.


"Ya mana tau kalian mau nambah liburan jadi dua bulan!" sahut Mia sambil membereskan peralatannya dan mengembalikan ke tempatnya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2