Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kabar Dari Jauh


__ADS_3

Dicky berjalan di sepanjang koridor rumah sakit sambil bersiul. Kini dia sudah bisa berjalan dengan gagah lagi, kakinya sudah terlihat sembuh total, meskipun masih ada pen di dalam tulangnya.


Semua orang yang berpapasan dengannya menunduk hormat dan menyapanya.


Ketika sampai di ruangannya, Dicky terkejut melihat ada kotak makanan di atas mejanya.


Suster Wina nampak sedang membereskan berkas yang ada di meja ruangan itu.


"Selamat pagi Dokter Dicky!" sapa Suster Wina.


"Pagi Sus, itu nasi kotak dari mana ya?" tanya Dicky.


"Oh, itu Dok, tadi Dokter Dimas yang antar, semua staf dan karyawan, juga Dokter dan Suster di kasih juga kok!" jawab Suster Wina.


"Wah Dimas, tumben amat dia jadi royal, biasanya pelitnya setengah mati!" sahut Dicky yang langsung keluar lagi dari ruangannya dan langsung menuju ruangan Dimas.


Di dalam ruangannya, Dimas nampak senyum-senyum sambil memandang ponselnya, tanpa menyadari Dicky yang sudah masuk ke dalam ruangannya itu.


"Wooy!! Sejak kapan kau jadi gila Dim!!" seru Dicky mengagetkan Dimas.


"Eh, sialan! Mengganggu khayalan orang saja!" sungut Dimas cemberut.


"Khayalan khayalan ... pasien pikirin, nih gigiku periksa!" sahut Dicky yang langsung duduk di depan Dimas.


"Memangnya gigimu kenapa? Tumben kau periksa gigi, kalau mau harap ambil nomor antrian sana!" cetus Dimas.


"Hahahaha siapa juga yang mau periksa gigi? Gigiku sudah terawat Dim! Kalau tidak Fitri pasti akan komplain karena setiap hari kami selalu berciuman!" ujar Dicky.


"Jangan membuatku iri Bro!" sahut Dimas.


"Kenapa kau harus iri? Kau bisa kan melakukannya dengan Mia? Bukankah kalian sudah jadian? Itu nasi kotak buktinya apa??" tanya Dicky.


"Ehm, aku hanya ingin membuktikan ke Mia, bahwa aku tidak sepelit yang dia kira, padahal kalau di hitung-hitung, lumayan juga pengeluaran ku memesan nasi kotak untuk ratusan orang!" ungkap Dimas.


Dicky tertawa terkekeh mendengar curhatan sahabatnya itu.


"Dim! Cinta itu butuh pengorbanan! Baru juga ratusan nasi kotak, kau jangan terlalu perhitungan, rejeki itu akan datang saat kau banyak memberi!" ujar Dicky.


"Iya iya ... dalam hal itu kau memang pakarnya Bro! Aku harus banyak belajar darimu, sekarang Mia sudah mau membuka hatinya untukku, doakan aku agar bisa secepatnya untuk melamarnya!" ungkap Dimas.


"Pasti Dim! Kau tenang saja, kalau butuh bantuan apapun, jangan sungkan menghubungiku!" ucap Dicky.


"Thanks Bro! Kau memang paling bisa di andalkan!" balas Dimas.

__ADS_1


Ceklek!


Tiba-tiba Suster Wina masuk ke dalam ruangan Dimas.


"Ternyata Dokter Dicky di sini, aku pikir di mana!" ujar Suster Wina dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa Sus?" tanya Dicky.


"Ada telepon Dok di ruangan!" jawab Suster Wina.


"Siapa yang telepon?" gumam Dicky yang langsung beranjak keluar dari ruangan Dimas.


Dicky lalu kembali masuk ke dalam ruangannya. Dia langsung mengangkat telepon yang ada di atas meja kerjanya.


"Halo!"


"Halo Dokter, ini Dio, maaf mengganggu waktumu!" ujar Dio yang ternyata si penelepon itu.


"Ada apa kau meneleponku Dio?" tanya Dicky.


"Aku hanya ingin menyampaikan saat ini Ranti sedang kritis, bisakah kau melihatnya walau untuk yang terakhir kali?" mohon Dio.


"Ranti sedang kritis?" tanya Dicky.


Dicky terdiam, Dio terlihat sangat memahami kondisi antara dirinya dan Ranti, Dicky juga sadar bahwa Dio memiliki cinta yang besar terhadap Ranti, namun entah mengapa Ranti malah memiliki hati yang condong terhadap Dicky.


"Maafkan aku Dio, istriku sedang hamil, aku tidak mungkin meninggalkan dia, lagi pula aku dan Ranti sudah sepakat untuk saling melupakan satu sama lain!" ucap Dicky.


"Baiklah Dokter, aku tidak memaksamu, maafkan atas semua kesalahan Ranti di masa lampau, terimakasih!" ujar Dio yang langsung menutup sambungan teleponnya.


Dicky masih duduk tertegun mendengar kabar mengenai Ranti, entah mengapa ada yang sesak di dadanya, walau seberapa besar dosa dan kesalahan Ranti, saat ini kondisinya sedang kritis dan mungkin tinggal menunggu waktu.


"Dokter! Beberapa pasien sedang mengantri!" ujar Suster Wina mengejutkan Dicky.


"Eh, iya Sus, boleh mulai di panggilkan satu persatu!" sahut Dicky yang mulai mengenakan jas putihnya.


****


Siang itu Fitri duduk di sofa sambil merajut pakaian calon bayinya, sekalian menunggu Dina dan Dara pulang sekolah.


Pagi tadi Bu Eni dan Pak Karta sudah pulang ke Sukabumi, setelah mereka bermalam selama beberapa hari.


"Mbak Fitri kalau mau makan, makanan sudah siap di meja lho!" kata Bi Sumi yang terlihat sedang mengepel lantai ruangan itu.

__ADS_1


"Iya Bi, sebentar lagi, tunggu Dina dan Dara pulang sekolah, supaya bisa makan sama-sama!" jawab Fitri.


Tin ... Tin ...


Terdengar suara klakson mobil yang masuk ke halaman rumah itu, Dina dan Dara turun bersama dengan Mang Salim yang menjemputnya.


"Selamat siang Mama!" ucap mereka bersamaan.


"Siang sayang, ayo ganti baju dulu, setelah itu kita makan siang sama-sama ya!" ujar Fitri.


"Papa tidak pulang siang hari ini?" tanya Dara.


"Tidak sayang, mulai hari ini kan Papa sudah full praktek di rumah sakit, jadi pulangnya sore!" sahut Fitri.


Dina dan Dara kemudian mulai masuk ke kamar mereka dan berganti pakaian.


Fitri bangkit dan meletakan hasil rajutannya di atas meja, kemudian dia mulai berjalan ke ruang makan, menyiapkan dua anak angkatnya itu makan.


Tak lama Dina dan Dara nampak sudah keluar dari kamar mereka dengan sudah berganti pakaian. Mereka lalu duduk bersama di meja makan itu.


"Ayo makan yang banyak, supaya kalian selalu sehat dan pintar!" ujar Fitri.


"Iya Ma!" Dina dan Dara antusias mengambil makanan mereka. Mereka makan dengan lahapnya.


Sekilas Fitri menengok ponselnya yang ada di atas meja, biasanya jam segini Dicky sudah mengirim pesan singkat untuk Fitri.


Namun sejak dari pagi, Dicky bahkan belum mengirimkan satu pesan pun. Fitri berpikir mungkin Dicky sibuk menangani pasiennya.


Akhirnya Fitri berinisiatif untuk menelepon Dicky.


"Halo Fit, tumben telepon!" kata Dicky saat Fitri mulai meneleponnya.


"Iya Mas, sibuk ya!" sahut Fitri.


"Iya Fit, jadwal padat hari ini, aku pulang jam lima ya!" kata Dicky.


"Iya Mas, jangan capek-capek ya, jaga kesehatanmu!" ucap Fitri mengingatkan.


"Terimakasih Fit!" ucap Dicky. Fitri tersenyum senang. Paling tidak suaminya dalam keadaan baik-baik saja.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2