
Pagi-pagi sekali Fitri terbangun, dia merasa ada yang basah di pakaian Dicky, terutama di bagian celananya.
Semalaman tanpa sadar mereka tidur dengan posisi berpelukan.
Perlahan Fitri bergeser dan mulai bangun dari posisi berbaring nya. Dia mengamati sesuatu yang basah di pakaian Dicky.
"Dokter Dicky mengompol?" gumam Fitri.
Kemudian Fitri segera mengguncang lembut tubuh Dicky, berniat akan membangunkannya.
"Dokter! Bangun sebentar, celana mu basah, apakah kau tidak ingin ganti dulu, setelah itu melanjutkan tidurmu?" tanya Fitri.
Dicky mulai mengerjapkan matanya, dia menatap heran ke arah Fitri.
"Fitri? Ada apa denganmu?" tanya Dicky heran.
"Ma-maaf Dokter, itu ... sepertinya Dokter mengompol, celana dan pakaiannya basah dan lengket!" jawab Fitri polos sambil menunjuk ke arah bagian yang basah.
Dicky langsung bangun dan melihat pakaiannya yang basah itu.
"Oh, Fitri, ini bukan ngompol, tapi ..." Dicky menghentikan ucapannya.
"Tapi apa Dokter? Sudah jelas kelihatan kalau itu basah!" ujar Fitri.
"Fit, apakah kau mengerti, setiap laki-laki akan seperti ini kalau, dia mimpi basah atau berhasil menumpahkan hasratnya!" jelas Dicky.
"Ja-jadi, bukan ngompol ya ..." gumam Fitri, seperti tersadar Fitri langsung membalikan wajahnya menahan malu.
Dicky lalu merengkuh bahu Fitri dari belakang.
"Kau ternyata wanita yang polos, suatu hari aku akan memperkenalkannya padamu, sekarang fokus pada pemulihan mu saja!" bisik Dicky di belakang telinga Fitri.
Bulu kuduk Fitri meremang seketika.
"Ma-maafkan aku Dokter, aku bukannya tidak tau, tapi aku ... aku hanya ... hanya ..." Fitri gugup dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Sudahlah Fit, aku akui sebagai seorang laki-laki normal, aku juga punya kebutuhan biologis, apalagi, semalam aku merasa kalau aku telah memeluk seseorang, mungkin pelukan itu yang membuat hasratku memuncak, sehingga ... seperti apa yang kau lihat tadi!" ungkap Dicky.
"Baiklah Dokter, sekarang Dokter ganti baju saja sekalian mandi, biar aku yang mencuci pakaian Dokter, sekalian ganti sprei nya juga, karena terkena ... cairan Dokter tadi!" ucap Fitri menunduk.
__ADS_1
"Kau tidak jijik mencuci pakaianku yang habis terkena cairan ini?" tanya Dicky.
"Tidak Dokter, karena, Dokter adalah suamiku, bagaimanapun kotornya pakaianmu aku tetap akan mencucinya!" jawab Fitri.
"Tapi aku tidak mengijinkan mu, perutmu masih di perban dan kau belum pulih, biar aku sendiri yang mencuci di kamar mandi!" sergah Dicky.
"Jangan Dokter, ijinkan aku mencuci semua pakaian mu, aku tidak akan kenapa-napa, aku akan cuci di wastafel, supaya aku tetap berdiri, asalkan Dokter mengijinkan ku!" pinta Fitri yang kini mulai membalikan tubuhnya.
"Fitri, aku tau kau wanita yang baik dan perhatian padaku, tapi ... "
"Tidak Dokter, aku akan sangat senang bisa mencuci pakaian Dokter!" potong Fitri cepat.
Dicky menatap dalam wajah Fitri, lalu dia mulai memeluk wanita itu, di belainya rambut Fitri dengan lembut.
"Terimakasih atas semua perhatianmu padaku Fit, kau wanita yang berbeda, aku menginjinkanmu mencuci semua pakaian kotorku, tapi berjanjilah kau jangan terlalu capek, lakukanlah dengan perlahan!" bisik Dicky.
"Iya Dokter!" sahut Fitri senang.
Entah mengapa, Fitri selalu bahagia saat dia mencuci pakaian Dicky, mungkin karena perasaannya yang mendalam pada Dicky.
Dicky lalu beranjak dari tempatnya, dia langsung menuju ke kamar mandi, membersikan dirinya sekalian mandi.
Fitri yang masih duduk di tempat tidur menatap kearah sprei yang sedikit basah dan berbekas terkena cairan Dicky, yang membuat jantung Fitri bergetar dengan hebat.
Lalu dia turun dari tempat tidurnya dan mulai mengganti sprei, dan membereskan tempat tidurnya.
Dicky sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapi. Hati ini dia sudah mulai masuk bekerja di rumah sakit.
"Wah, sudah rapi tempat tidurnya!" ujar Dicky.
"Iya Dokter, tadi pakaian Dokter ada di mana? Nanti aku akan mencucinya di atas saja!" tanya Fitri.
"Ada di keranjang pakaian kotor Fit, tapi ku mohon jangan memaksakan dirimu Fit, aku tidak mau kau terlalu lelah!" jawab Dicky.
"Iya Dokter, jangan khawatir, apa kau mau berangkat ke rumah sakit hari ini?" tanya Fitri.
"Iya Fit, kau jangan sering naik turun tangga ya, kalau berjalan pelan-pelan saja!" sahut Dicky memperingatkan.
"Iya Dokter, tapi aku mau mengantar Dokter ke bawah, sekalian menemani Dokter sarapan!" kata Fitri.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menggendongmu!" ujar Dicky.
"Jangan Dokter!"
"Selagi ada aku, kau jangan pernah menolakku untuk menggendong mu, kecuali kau di rumah sendirian, minta Bi Sumi untuk menuntunmu!" ujar Dicky.
"Iya Dokter!" jawab Fitri.
Dicky lalu menggendong Fitri dan membawanya turun ke bawah, tercium aroma sabun mandi di tubuh Dicky yang nampak segar, sedangkan Fitri malah belum mandi.
Dicky langsung membawa Fitri ke meja makan, sudah tersedia nasi goreng buatan Bi Sumi.
Dicky lalu menaruh nasi goreng itu ke piring Fitri dan piringnya sendiri.
"Dokter, seharusnya aku yang melayani Dokter!" kata Fitri yang merasa tidak enak atas perlakuan Dicky terhadapnya.
"Tidak apa-apa sekali-kali suami yang melayani istrinya!" ucap Dicky sambil tersenyum, membuat hati Fitri menghangat seketika.
Setelah selesai sarapan, Fitri mengantarkan Dicky sampai di garasi depan.
"Dokter hati-hati ya!" ujar Fitri sambil mencium tangan Dicky seperti biasanya.
"Iya Fit, kau jaga dirimu ya, ingat, kalau mau naik ke atas minta Bi Sumi untuk menuntunmu!" titah Dicky.
"Dokter berlebihan!" cetus Fitri.
"Kalau kau melanggar perintahku, aku akan marah!" bisik Dicky, lalu tanpa sadar dia mengecup pipi Fitri, wajah Fitri bersemu merah.
Selama menikah, baru kali ini Dicky mencium pipi Fitri.
"Dokter ..."
"Ah, wajahmu merah Fit, maafkan aku ya!" Dicky mencubit pipi Fitri kemudian langsung naik ke dalam mobilnya.
"Aku berangkat ya Fit!" pamit Dicky sambil melambaikan tangannya sebelum menutup kaca jendela mobilnya.
Fitri memegangi pipinya yang habis di cium dan di cubit oleh Dicky, ada jantung yang berdetak sangat cepat, membuat perasaan Fitri melambung seketika.
"Sepertinya semakin hari Pak Dokter semakin sayang sama Mbak Fitri!" Kata Bi Sumi yang tiba-tiba sudah berada di belakang Fitri.
__ADS_1
"Ah, Bi Sumi mengagetkan aku saja!" cetus Fitri yang langsung masuk ke dalam rumah.
****