Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Hilangnya Sebuah Rasa


__ADS_3

Dicky tidak menjawab pertanyaan Bi Sumi yang heran melihat piring yang pecah, dia langsung meninggalkan Ranti dan Bi Sumi yang masih berdiri terpaku di ruang dapur itu.


Dicky terus naik ke atas menuju ke kamarnya, Fitri sudah nampak berbaring di tempat tidurnya.


Dicky kemudian menyusul berbaring di samping Fitri.


"Dokter, kau lama sekali di dapur, apa yang terjadi? Aku dengar seperti ada piring yang pecah!" tanya Fitri.


"Tadi aku tidak sengaja menyenggol piring Fit, sehingga piringnya jatuh dan pecah, Bi Sumi sedang membereskannya!" jawab Dicky.


"Ooh, begitu, sekarang Dokter tidur saja, wajahmu tegang dan berkeringat!" ucap Fitri.


"Iya Fit, selamat tidur!" Dicky segera membalikan tubuhnya membelakangi Fitri.


Fitri pun berusaha untuk memejamkan matanya, walaupun terasa sulit, entah mengapa dia agak menyesal membiarkan Ranti menginap di rumah Dicky, seharusnya Dicky lah yang mengambil keputusan, hanya karena kasihan kepada anaknya.


Fitri merasa ada niat yang kurang baik dalam diri Ranti, karena dari sorot matanya, Ranti terlihat masih menyimpan rasa terhadap Dicky.


Fitri membetulkan selimut Dicky, dalam hati Fitri mulai merasa terbiasa dengan laki-laki itu, bahkan kini Fitri merasakan takut kehilangan sosok Dicky dalam hidupnya.


"Good night Dokter!" ucap Fitri sebelum dia memejamkan matanya.


****


Pagi datang menjelang, Dicky sudah menyiapkan alat dan perlengkapan medis untuk membuka perban jahitan di perut Fitri.


"Hari ini aku berangkat ke rumah sakit, jadi ganti perbannya sekarang ya!" ujar Dicky.


"Iya Dokter!" sahut Fitri.


Dicky mulai membuka daster Fitri, kemudian dengan perlahan mulai melepas perban plastik yang menutupi jahitan di perut Fitri, Dicky melakukannya dengan lembut dan sangat perlahan.


"Sakit tidak Fit?" tanya Dicky.


"Tidak Dokter!" jawab Fitri.


"Wah, lukanya sudah kering, kau tak perlu memakai perban lagi Fit!" ujar Dicky.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu!" sahut Fitri senang.


"Tapi tetap di minum obatnya ya Fit!" kata Dicky.


"Iya Dokter!" sahut Fitri.


"Hari ini semua stok ASI mu akan ku bawa ke rumah sakit, aku akan memberikannya pada Dokter Mia!" ujar Dicky.


"Silahkan Dokter, aku senang kalau ASI ku bermanfaat bagi orang lain!" jawab Fitri.


Tak lama kemudian Dicky sudah selesai melepas perban dan membersihkan perut Fitri.


Fitri lalu beranjak ke kamar mandi untuk mandi, sementara Dicky mulai berganti pakaian.

__ADS_1


Setelah Fitri selesai mandi dan memompa ASI sebentar, seperti biasa Dicky akan menggendongnya turun ke bawah.


Di meja makan, Ranti nampak sudah duduk manis sambil menggendong anaknya.


Dia sedikit tertegun melihat Fitri yang di gendong oleh Dicky menuruni tangga.


"Kau masih di sini rupanya, aku pikir kau sudah pergi!" sindir Dicky.


"Aku mana mungkin pergi pagi-pagi, apalagi tanpa kendaraan dan membawa seorang anak!" ujar Ranti.


"Lalu kau mau apa lagi?" tanya Dicky kesal.


"Aku mau menitipkan anakku sebentar, Fitri kan tidak ada kerjaan, aku mau cari rumah kontrakan!" jawab Ranti.


"Enak saja! Aku tak akan mengijinkannya, Fitri masih belum pulih, lagi pula aku tak mau lagi berurusan denganmu!" cetus Dicky.


"Kau keterlaluan Dicky!" sengit Ranti.


"Sudah! Kenapa kalian jadi ribut?? Dokter, cepatlah kau sarapan, atau kau akan terlambat pergi ke rumah sakit!" sergah Fitri, di tangannya sudah ada kotak yang berisi beberapa botol ASI beku.


"Kau temani aku sarapan Fit!" ajak Dicky sambil menuntun Fitri duduk di sampingnya.


Mereka lalu sarapan tanpa banyak bicara, Ranti merasa risih dan dongkol karena merasa di cuekin.


Setelah selesai sarapan, Dicky beranjak menuju ke mobilnya yang ada di garasi, Fitri mengikutinya dari belakang.


"Tunggu Dicky!" panggil Ranti yang langsung mengejar Dicky.


"Aku boleh nebeng kan sekalian kau jalan, dari pada aku naik taksi!" pinta Ranti.


"Tidak! Kau pergi saja sendiri!" cetus Dicky sambil naik ke dalam mobilnya.


Fitri mencium tangan Dicky, Dicky lalu mengecup kening Fitri, melihat itu hati Ranti semakin panas.


"Dokter, biarkan Ranti dan anaknya ikut denganmu, dari pada dia terus menerus merengek, lebih cepat dia dapat rumah lebih baik!" usul Fitri.


"Tapi Fitri ..."


"Anggap saja kau membantu kesusahan Ranti, ijinkan dia ikut denganmu!" potong Fitri cepat.


Akhirnya Dicky mengijinkan Ranti ikut bersamanya naik mobil.


"Kau bawa semua barang mu, jangan ada yang ketinggalan!" ketus Dicky.


Ranti dengan cepat membawa semua barangnya lalu mulai naik ke dalam mobil Dicky.


"Kau jaga diri baik-baik ya Fit!" ucap Dicky sambil mengelus rambut Fitri.


"Iya Dokter!" sahut Fitri patuh.


Dicky lalu melajukan mobilnya keluar dari rumah besarnya.

__ADS_1


"Nanti kau mau turun di mana?" tanya Dicky datar.


"Hmm, di dekat rumah sakit saja!" sahut Ranti.


"Ku peringatkan kau jangan lagi mengganggu hidupku dan rumah tanggaku!" ujar Dicky.


"Apa kau tidak ada rasa sedikitpun untukku Dicky?" tanya Ranti.


"Tidak Ranti, jujur semua rasa itu telah hilang, aku sudah tidak punya perasaan apapun terhadapmu!" jawab Dicky.


Jawaban Dicky membuat rasa sakit dalam hati Ranti.


"Kau tega Dicky! Apakah segitu mudahnya kau melupakan aku?" Air mata Ranti mulai menetes di pipinya.


"Ya, itulah kenyataannya, kini hatiku bukan lagi milikmu, semua rasa itu telah pergi!" sahut Dicky.


"Apakah kau mulai mencintai Fitri?" tanya Ranti.


"Mungkin, aku sangat menyayangi Fitri, sedikitpun aku tidak ada niat untuk menceraikannya, makanya ku mohon kau jangan lagi berharap padaku, aku doakan kau akan menemukan jodohmu sendiri, yang tulus dan benar-benar mencintaimu!" ucap Dicky.


Tak lama kemudian mereka sudah hampir sampai di rumah sakit.


"Tapi dalam hatiku masih mencintaimu Dicky, bagaimana cara aku untuk melupakanmu?" tanya Ranti sambil menangis.


"Sekarang aku adalah milik Fitri, milik istriku, lebih baik kau cepat turun dan cari rumah, ini sudah hampir sampai di rumah sakit!" Dicky segera menepikan mobilnya di pinggir jalan itu.


"Dicky ... " Ranti memandang pada Dicky.


"Cepat turun Ranti, pasienku sudah menunggu!" cetus Dicky.


Akhirnya perlahan Ranti membuka pintu mobil Dicky, lalu dia segera turun dan melangkah dengan gontai.


Tanpa menoleh lagi, Dicky langsung kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit yang kini ada di hadapannya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Dicky langsung turun dan berjalan menuju ke ruangan prakteknya.


Di depan ruangan prakteknya nampak beberapa pasien yang sudah menunggu.


Dicky langsung masuk ke dalam ruangan prakteknya, suster nya terlihat audah menunggu sambil duduk dan mencatat sesuatu.


"Dokter lama sekali, ada pasien yang harus segera di tindak lanjuti karena ada gejala usus buntu!" kata Suster.


"Maafkan aku Sus, tadi aku ada sedikit urusan! Panggilkan pasien yang kondisinya darurat sekarang!" titah Dicky.


Sang Suster langsung beranjak keluar dari ruangan untuk memanggilkan pasien.


****


Halo guys ... tetap di tunggu dukungannya selalu ya ...


Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2