Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menyesal


__ADS_3

Kesehatan yang semakin menurun membuat Riana bertanya-tanya. Ia mencurigai sesuatu yang belum pasti, tetapi perasaan itu sungguh membuatnya takut setengah mati. Sebab apapun yang masuk ke dalam perutnya selalu dimuntahkan begitu saja, sehingga menambah ketakutannya.


"Aku baru inget kalau bulan ini belum datang bulan. Siklus haidku emang nggak teratur, tapi aku bener-bener takut kalau aku beneran hamil." Riana menatap dirinya di pantulan cermin. Sudah beberapa hari ia merasakan mual-mual, gejala yang menunjukkan kehamilan. Sungguh kini tubuhnya mendadak mengeluarkan keringat dingin, bahkan tangannya tidak berhenti gemetar. Jika memang ia benar-benar hamil, ia tidak tau harus bagaimana. Apa Raihan mungkin mau bertanggung jawab? pikirnya.


Riana menjauh dari meja rias, ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Tangannya berulang kali menggulir layar ponsel, lalu berhenti saat sudah menemukan satu nama, yaitu nama Raihan.


"Aku harus bertemu dengan Rai." Ya, Riana harus memberitahu kegelisahannya kepada Raihan. Berharap jika ia benar-benar hamil, maka Raihan akan memberikan jalan keluarnya.


Riana mencoba mengirim pesan pada nomor lama Raihan, setidaknya ia sudah mencoba menghubungi. Masalah laki-laki itu akan membalasnya atau tidak, ia tidak terlalu ingin memikirkan.


"Riri, makan dulu. Udah siang loh." Mama Linda mengetuk pintu kamar, lalu tak lama kepalanya terlihat menyembul di balik pintu. "Makan dulu, nanti minum obat lagi," katanya kembali penuh dengan kelembutan.


"Iya Ma. Ini Riri juga baru mau makan kok." Buru-buru Riana meletakan kembali ponselnya ke atas tempat tidur. Sebelum kemudian menyusul langkah Mama Linda yang sudah berlalu lebih dulu.


"Deon mana Ma?" Pandangan Riana diedarkan ke segala arah. Biasanya sosok adiknya selalu ada di saat jam makan siang seperti ini.


"Adik kamu udah berangkat ke kampus dari tadi, sekalian nganterin Papa." Mama Linda menyahut sembari meletakkan lauk pauk ke dalam piring putrinya.


Riana mengangguk, lalu menerima piring yang disodorkan kepadanya. "Makasih Ma," cicitnya dan melabuhkan tubuhnya di kursi makan.


"Iya, cepet sembuh ya. Kamu kelihatan kurus banget." Mama Linda memperhatikan wajah putrinya setelah mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Riana.


"Dari dulu 'kan Riri emang kurus Ma," sahut Riana begitu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Siapa bilang. Badan kamu tuh berisi, nggak gemuk nggak kurus juga." Memang sejak dulu putrinya itu memiliki tubuh yang sangat ramping tetapi berisi, persis seperti saat dirinya masih muda.


"Iya sih, nanti Riri makan banyak deh, biar badannya berisi lagi."


Mendengar ucapan Riana, Mama Linda hanya tersenyum menanggapi. Putrinya sudah sangat dewasa meski menyimpan luka di hatinya. Ia tahu dalam sebulan ini Riana sering menangis diam-diam di dalam kamarnya. Sehingga ia menyimpulkan jika putrinya itu memiliki masalah. Tetapi ia tidak pernah menduga jika permasalahan yang membuat putrinya itu menangis karena berakhirnya hubungannya dengan Raihan.


Mama Linda mencoba menguatkan hati agar tidak menambah beban pikiran putrinya itu. Terlebih lagi Riana selalu menunjukkan wajah sendu, kelopak matanya saja nampak lebih cekung ke dalam dan selalu terlihat sembab. Mama Linda paham perasaanya putrinya, dan sejujurnya ia sangat menyayangkan hubungan Riana dan Raihan yang harus berakhir, tetapi mungkin memang sudah jalan takdirnya. Jika berjodoh, maka keduanya akan kembali bersama.


"Mama juga makan, kenapa melamun aja?" Riana menegur Sang Mama yang tidak menyentuh makanannya dan justru hanya menatap dirinya.


"Eh, iya Ri..." Mama Linda tersentak, tidak lupa perempuan setengah baya itu menyelipkan senyuman, senyum yang dipaksakan


Riana menyadari hal itu, sebab sejak dua hari lalu ia menceritakan berakhirnya hubungannya dengan Raihan, Mama Linda nampak begitu sedih. Namun ia tau jika Mamanya itu berusaha menutupi kesedihannya dan rasa kecewanya terhadap Raihan. Mama Linda menguatkan dirinya dan berkata, 'mungkin kalian nggak berjodoh'.


***


Pandangan Riana tertuju pada layar ponselnya yang baru saja redup. Langkahnya mendekati ranjang, ia duduk di tepi ranjang dan mengecek ponselnya yang ternyata terdapat notifikasi pesan masuk.


Riana mematung tidak percaya saat membaca pesan tersebut. Raihan membalas pesan darinya, padahal ia sudah menyusun rencana jika nomor ponsel Raihan tidak aktif, maka ia akan mendatangi mantan tunangannya itu di kantornya.


Besok dateng aja ke apartemen. Aku ada disana.


Kening Riana berkerut, ia baru mengetahui jika saat ini Raihan menetap di apartemen. Mata Riana membaca alamat apartemen Raihan, tidak begitu jauh dari apartemen miliknya.

__ADS_1


Riana tidak membalas pesan tersebut. Sungguh ia takut jika semakin mengharapkan Raihan untuk kembali padanya. Meski jauh di lubuk hatinya ia menunggu Raihan kembali padanya dan memutuskan perempuan yang bernama Anggun itu.


Notifikasi pesan masuk kembali terdengar, Riana membaca pesan yang ternyata dari Rama. Memang sudah beberapa hari ini ia dan Raihan kembali intens berkomunikasi. Tidak hanya dirinya saja yang menceritakan permasalahannya, Rama pun berbagi cerita mengenai hubungannya dengan Dita yang juga sudah berakhir sejak satu bulan yang lalu.


"Kenapa nasib kita sama sih Ram? Dita kenapa tega selingkuh dari kamu," gumamnya. Riana tidak habis pikir jika laki-laki sebaik Rama harus di khianati. Padahal selama berteman dari kecil, Rama selalu bersikap lembut dan ramah terhadap siapapun.


Riana membalas pesan dari Rama. Besok Rama memiliki pekerjaan dan jika sempat akan menjemput dirinya. Temannya itu mengetahui jika dirinya akan bertemu dengan Raihan. Awalnya Rama menawarkan diri untuk menemaninya, akan tetapi ditolak dengan cepat. Mana mungkin Riana mambawa Rama disaat ia harus berbicara pribadi dengan Raihan. Kedua laki-laki itu bisa saja terlibat baku hantam dan Riana pun menghindari hal tersebut.


Besok aku kabarin lagi, Ram.


Balasan itu segera di kirim oleh Riana dan tidak ada satu menit pesan itu sudah di balas oleh Rama.


Iya Ri, kasih tau aja alamatnya. Nanti aku langsung kesana jemput kamu.


Riana menarik napas dalam lalu menghembuskan. Rama tidak pernah berubah, selalu perhatian kepadanya. Tapi apa Rama akan jijik dan menjauhinya jika mengetahui dirinya sudah sering melakukan hubungan suami istri dengan Raihan? Apa Rama akan membenci dirinya jika ternyata ia benar-benar hamil?


Air mata Riana menetes membanjiri wajahnya yang putih pucat itu. Entah kenapa sangat menyesakkan jika Rama pun turut akan membencinya sama seperti Raihan yang kini sudah tidak ingin menjalin hubungan dengannya lagi.


Sungguh Riana menyesal telah menyerahkan mahkota berharganya. Tidak seharusnya ia menyerahkan tubuhnya hanya karena mengatasnamakan cinta dan napsu sesaat saja. Ia begitu percaya pada buaian laki-laki yang akan menjadi suaminya itu namun kini sudah berubah menjadi mantan calon suami.


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2