
Pada waktu jam istirahat, para murid berhamburan keluar, Fitri juga keluar dari kelasnya dan berjalan menuju ke ruang guru.
Dia duduk sebentar sambil meletakan buku paket di meja kerjanya.
Bu Erna datang menghampirinya.
"Bu Fitri, makan siang di kantin sekolah yuk, sekalian mengenal lokasi kerja!" ajak Bu Erna.
"Boleh," jawab Fitri.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah kantin yang di khususkan untuk para guru dan staf, kantin yang penampakannya mirip cafe, terlihat elegan dan nyaman.
Mereka duduk menghadap sebuah meja yang cukup besar, dari jauh datang Bu Ria mendekati mereka.
"Hai, aku gabung ya!" kata Bu Ria yang langsung duduk di sebelah Fitri.
"Silahkan!" balas Fitri.
"Bu Fitri ini seperti familiar dengan anak-anak murid disini!" ujar Bu Ria.
"Iya Bu Ria, dulu sebelum sekolah ini jadi, aku memang menjadi guru sukarelawan untuk mengajar anak-anak jalanan dan pengamen, tapi sejak kejadian itu, di gudang tua aku ... aku ..." Fitri menghentikan perkataannya, tiba-tiba dia teringat kejadian pemerkosaan yang memilukan hatinya.
"Bu Fitri kenapa?" tanya Bu Erna yang melihat perubahan di wajah Fitri.
"Oh, tidak, lupakan saja, aku tidak apa-apa!" tukas Fitri cepat.
"Ternyata Bu Fitri punya jiwa sosial yang tinggi juga ya!" kata Bu Ria.
Pesanan makanan mereka sudah datang,. mereka mulai menikmati santap siang mereka.
"Boleh aku gabung dengan kalian?" tanya Pak Donny yang tiba-tiba muncul itu.
Pak Donny, seorang guru olah raga muda dengan tubuh atletis, wajahnya juga menarik, persis seperti binaragawan, mungkin karena profesinya sebagai guru olah raga.
"Gabung saja Pak, guru yang lain pada kemana?" tanya Bu Erna.
Pak Donny langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Yang lain pada makan di ruang guru, biasalah, supaya bisa mengobrol lebih bebas!" jawab Pak Donny. Diapun mulai memesan makanannya.
Drrt ... Drrrt ... Drrrt
Ponsel Fitri bergetar, dia langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Halo!"
"Halo Fit, bagaimana hari pertama di sekolah?" tanya Dicky yang ternyata si penelepon itu.
"Aku senang Mas, di sini aku mulai banyak teman, murid-murid juga menggemaskan!" jawab Fitri.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya, kau sudah makan Fit? Sekarang sedang apa?" tanya Dicky lagi.
__ADS_1
"Aku sedang makan di kantin Mas, sama beberapa guru, ini jam istirahat sebelum pulang!" sahut Fitri.
"Oke Fit, nanti telepon aku kalau sudah selesai ya, aku jemput!" kata Dicky yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Fitri langsung kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Siapa Bu Fitri? Suami atau pacar?" tanya Bu Ria.
"Suami Bu!" sahut Fitri.
"Wah, suaminya perhatian sekali, sudah telepon saja!" timpal Bu Erna.
"Iya, dia memang kadang berlebihan!" jawab Fitri.
"Suaminya kerja di mana Bu?" tanya Pak Donny.
"Dia kerja di rumah sakit, Dokter anak!" jawab Fitri.
"Wah, Bu Fitri luar biasa, suaminya Dokter tapi masih mau mengajar jadi guru, kalau aku sih, mending di rumah, nonton, shoping, masak-masak!" ujar Bu Ria.
"Bagus dong Bu, biar ada aktifitas yang positif, uang bukan prioritas, iya kan Bu Fitri!" tambah Bu Erna sambil menoleh ke arah Fitri.
Fitri hanya tersenyum menanggapi perkataan mereka.
*****
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, setelah keluar dari kelasnya, Fitri langsung berjalan menuju lobby menunggu Dicky menjemputnya.
Fitri duduk di bangku lobby itu sambil memainkan ponselnya.
"Belum di jemput ya Bu?" tanya Pak Donny yang berjalan lalu menghampirinya dengan membawa tas.
"Belum Pak, mungkin sebentar lagi!" sahut Fitri.
"Bu Fitri, kalau suaminya tidak sempat menjemput, jangan sungkan minta tolong padaku, aku akan mengantar Bu Fitri sampai ke rumah!" tawar Pak Donny.
"Terimakasih Pak!" sahut Fitri.
"Kalau begitu, aku pulang duluan ya Bu!" pamit Donny yang langsung berjalan keluar dari lobby.
Dari kejauhan, nampak seorang wanita yang juga berjalan ke arah Fitri.
"Selamat siang Ibu guru, senang melihatmu sudah aktif mengajar kembali!" sapa wanita itu yang ternyata adalah Tania.
"Eh Mbak Tania, mau jemput ya? Anaknya kalau tidak salah Meira ya, aku wali kelasnya, anakmu sangat pintar Mbak!" puji Fitri.
Tania duduk di sebelah Fitri.
"Anak yang di besarkan dengan kasih sayang penuh dari orang tuanya, pasti akan baik hasilnya, asal kamu tau Bu Fitri, Meira itu adalah anak dari hasil pemerkosaan juga, tapi untungnya Daddy-nya sangat menyayanginya, dulu aku sempat mau bunuh diri sama sepertimu, tapi ternyata semua ada hikmahnya!" ungkap Tania.
"Iya Mbak, tapi sayang bayiku tidak bersamaku saat ini, Tuhan sudah mengambilnya!" ucap Fitri sambil menunduk.
__ADS_1
"Sudahlah Bu Fitri, itu juga ada hikmahnya, mungkin supaya kau lebih intim dengan Dokter Dicky, mungkin kau akan punya anak lagi dengan cara yang lain, kita tidak tau apa yang akan terjadi besok!" ujar Tania.
Tak lama kemudian, nampak seorang anak yang berlari-lari ke arah mereka.
"Mami!!"
"Eh, itu Meira, dia juga sangat senang sekolah di sini, teman-temannya banyak!" kata Tania yang langsung memeluk Meira dan memangku nya.
"Mami sudah kenal dengan ibu guru ya?" tanya Meira.
"Iya sayang, Mami dan Ibu Fitri kan berteman!" jawab Tania.
"Asyiiik!" seru Meira senang.
Tak lama kemudian, Dicky sudah muncul dari arah pintu lobby, dia langsung berjalan cepat ke arah Fitri dan Tania.
"Fitri, maafkan aku, tadi di jalan agak macet, jadi aku agak terlambat menjemputmu!" kata Dicky menyesal.
"Tidak apa-apa Mas, aku malah bisa ngobrol dengan Mbak Tania, aku senang di sini aku banyak teman ngobrol!" jawab Fitri.
"Cie cie ... sekarang kayaknya panggilannya sudah berubah nih, Ayo Meira kita pulang sekarang, biarkan Ibu Fitri dan Om Dokter bersama lebih lama!" Tania langsung berdiri dan menggandeng tangan Meira.
"Dah Ibu Fitri, Dah Om Dokter!" Ucap Meira sambil melambaikan tangan mungilnya. Mereka pun berjalan keluar dari lobby.
Dicky langsung duduk di samping Fitri.
"Wajahmu terlihat cerah dan bahagia, aku senang kau punya dunia baru dan teman-teman baru di sini!" ucap Dicky.
"Terimakasih Mas Dicky, sekarang kita pulang yuk, kau kan harus kembali ke rumah sakit!" ajak Fitri.
"Iya Fit, yuk!" Dicky lalu menggandeng tangan Fitri keluar menuju ke parkiran.
Di parkiran, Fitri bertemu dengan Bu Erna yang juga sedang menaiki motornya dan mengenakan helmnya.
"Bu Fitri!" panggil Bu Erna.
Fitri langsung menghampiri motor Bu Erna. Sementara Dicky menunggunya di samping mobilnya yang terparkir.
"Itu suamimu?" tanya Bu Erna.
"Iya Bu Erna!" jawab Fitri.
"Gila! Suamimu keren sekali Bu! wajahnya ganteng habis, mobilnya juga kelihatan mobil mahal Bu, kau beruntung sekali!" ujar Bu Erna setengah berbisik.
"Kau juga beruntung Bu!' balas Fitri.
"Beruntung apa Bu? Suamiku cuma karyawan biasa, gaji pas-pasan, makanya aku terpaksa bekerja jadi guru!" kata Bu Erna.
"Tapi kalau kita bersyukur, bagaimanapun suami kita pasti bahagia Bu!" sahut Fitri sambil tersenyum.
*****
__ADS_1