Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Penyesalan


__ADS_3

Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Riana. Wanita itu begitu beruntung mendapatkan sosok laki-laki baik seperti Rama. Entah apa jadinya jika Rama tidak berada di sisinya, mungkin hingga detik ini wanita itu masih meratapi nasib karena dikhianati oleh Raihan.


Setiap harinya Rama selalu menyempatkan waktu untuk menjemput Riana. Laki-laki itu tidak membiarkan Riana menggunakan transportasi umum dan membiarkan dirinya yang menjemput meskipun jarak dari tempatnya berkerja begitu jauh.


Riana menghentikan langkah ketika notifikasi pesan masuk terdengar dan menimbulkan getaran. Sehingga ia buru-buru melihat si pengirim pesan yang tidak lain ialah Rama. Bibir Riana tercetak manis membaca pesan dari Raihan yang berbunyi; "Aku lagi makan siang sayang. Coba ada kamu disini, aku pasti seneng dan nggak kesepian deh."


Rama bukanlah sosok laki-laki yang romantis, tetapi entah kenapa akhir-akhir ini Riana mendapati sikap Rama yang sangat manis dan romantis. Membuatnya geleng kepala, tetapi merasa berbunga-bunga, seolah banyak kupu-kupu yang berterbangan di hatinya. Terlebih apapun yang dilakukan oleh kekasihnya itu tidak lupa disertai sebuah foto.


"Iya, selamat makan Rama sayang. Aku temenin kamu dari jauh."


Balasan seperti itu yang dikirimkan oleh Riana untuk kekasihnya. Merasa seperti seorang remaja yang jatuh cinta, Riana hanya terkekeh-kekeh membaca ketikan yang berhasil dikirimkan untuk Rama. Dan satu pesan kembali di balas oleh Rama dengan emoticon hati.


Kali ini Riana tidak membalasnya, ia memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Lalu kembali melanjutkan langkah menuju gedung Alfa. Ia baru teringat jika sudah terlalu lama berada di gedung West.


Baru saja berjalan beberapa langkah, seseorang dari arah berlawanan arah menarik lengan Riana dan membawanya ke lorong yang berada di ujung. Riana terpekik, ia berusaha mendorong seseorang yang berusaha menarik tubuhnya itu.


"Apa-apaan sih!" Mendengkus marah dan menatap seseorang yang ternyata adalah seorang pria. "Kamu??" Mata Riana seketika membeliak penuh, seorang pria yang menarik dirinya tidak lain adalah Raihan. Sosok laki-laki yang sudah berhasil ia singkirkan dari hati dan pikirannya. Tetapi lihatlah, kini laki-laki itu berdiri di hadapannya dengan wajah yang masih saja tampan. "Lepasin Rai!" Riana menepis kasar tangan Raihan yang masih menggenggam lengannya.


"Ri...." Mata Raihan menatap sendu dan dalam, penuh kerinduan disana. Namun hal itu justru membuat Riana muak.


"Mau apa sih Rai? Nggak enak kalau dilihat orang lain!" Riana mencoba mendorong dada Raihan sangat kencang. Sungguh, ia tidak ingin goyah hanya karena bertemu dengan Raihan kembali. Beberapa bulan ini ia sudah berhasil menata hatinya dan memutuskan bersama dengan Rama.


"Kamu nggak balas pesan dari aku Ri. Makanya itu aku mau bicara sama kamu."


Riana terkesiap tidak percaya. Ia mencoba menggali ingatan akan pesan mana yang dikatakan oleh Raihan dan ingatannya tertuju pada sebuah pesan beberapa hari yang lalu, seseorang mengucapakan selamat ulang tahun kepadanya dan diakhiri dengan kalimat 'miss you'.

__ADS_1


"Jadi pesan itu dari kamu?" tanyanya memastikan. Jika benar, maka Riana tidak habis pikir dengan laki-laki itu.


Raihan mengangguk. "Iya, Ri. Kamu ulang tahun, jadi aku sempetin ngucapin ke kamu, tapi kamu nggak balas pesan aku." Terselip nada kekecewaan di wajah Raihan.


Dan Riana tersenyum kecut diiringi decakan lidah yang berdecih. "Buat apa aku balas pesan kamu Rai. Kita udah masing-masing, dan kamu sendiri yang pengen kita kayak orang asing. Jadi stop, jangan memasang wajah seolah kamu adalah korbannya."


Raihan menggeleng kuat, ia tidak bermaksud seperti itu. "Aku nggak mikir gitu Ri. Aku cuma kangen sama kamu, makanya aku kirim pesan."


"Nggak pantes kamu bilang kangen sama perempuan lain disaat kamu punya pacar." Riana menyilangkan tangannya di depan dada. Terlihat begitu angkuh di depan Raihan. Setahu laki-laki itu Riana adalah sosok wanita yang lembut.


"Tapi kenyataannya emang gitu Ri." Raihan gemas, bagaimana lagi ia harus membuktikan kepada Riana jika dirinya benar-benar merindukan wanita itu. "Aku kangen sama kamu. Beberapa bulan ini aku rasanya kehilangan kamu. Aku-"


"Stop Rai, diam disitu. Kamu jangan deket-deket aku!" Riana menahan langkah Raihan yang hendak mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.


"Ri..." Wajah Raihan memelas, ia begitu sakit ketika Riana menolak dirinya seperti itu.


"Aku tau Ri. Aku minta maaf, aku salah. Aku nggak bisa lupain kamu. Selama ini, biarpun aku ada di deket Anggun tapi aku selalu mikirin kamu." Raihan mencoba untuk memasuki kembali hati Riana yang sudah terlanjur patah olehnya. Sebab itu ia benar-benar menyesali semuanya.


"Ck, terus apa urusannya sama aku?" Riana membuang muka tidak peduli. "Itu urusan kamu Rai. Aku udah nggak peduli. Asal kamu tau aja, aku udah punya pacar. Jadi minggir deh!" Riana mendorong bahu Raihan, hendak berlalu dari sana, tetapi Raihan kembali menarik lengannya.


"Aku tau Ri. Pacar kamu Rama 'kan?" Sorot mata Raihan memancarkan aura kemarahan. Ia tidak terima jika Riana memiliki hubungan dengan teman masa kecil mantan kekasihnya itu.


"Kalau iya kenapa? Aku mau pacaran sama siapa aja itu bukan lagi urusan kamu Rai!" Dan Riana menantang Raihan. Ia yang saat ini bukanlah Riana yang dulu. Jika dulu ia selalu tertunduk dan takut melihat pancaran wajah Raihan yang penuh amarah, kali ini wanita itu menatap begitu berani.


"Kamu tau dari dulu aku nggak suka sama Rama. Kenapa kamu pacaran sama dia?" Apapun alasannya, Raihan begitu tidak terima jika Rama-lah yang menjadi kekasih dari Riana.

__ADS_1


"Astaga Rai. Apa urusannya sama kamu sih?" Semakin gemas saja bicara dengan Raihan. "Kita udah nggak ada hubungan apapun Rai. Jadi stop ngatur-ngatur aku mau pacaran sama siapa aja!"


"Nggak Ri. Kamu masih pacar aku." Kedua tangan Raihan menangkup bahu Riana. "Aku udah pernah bilang sama kamu. Tunggu aku, biarpun aku pacaran sama yang lain tapi aku tetap mau nikahnya sama kamu!"


"Gila!" seru Riana menepis kedua tangan Raihan dan menatap Raihan dengan remeh. "Kamu pikir hati aku apa Rai? Aku bukan perempuan bodoh yang mau aja di bodohin sama cinta kamu?!"


"Ri...." Raihan mencoba mendekat.


"Kamu egois Rai. Selama ini kamu pacaran sama siapa aja aku nggak pernah ganggu. Tapi kenapa saat aku udah sama yang lain, kamu kayak gini!"


"Ri..." Kembali Raihan memanggil Riana dengan nada lirih dan terdengar bergetar.


"Stop. Udah nggak ada yang perlu kita bicarain lagi Rai. Aku pergi dulu dan jangan ganggu aku!" Kali ini Riana melangkah cepat agar Raihan tidak berhasil menjangkaunya kembali. Riana benar-benar berlalu pergi dari Raihan yang menatapnya dengan sendu dan penuh penyesalan.


Raihan tidak pernah mengira jika Riana akan cepat menggantikannya dengan laki-laki yang tidak lain adalah Rama.


Bersambung


Raihan



...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2