
Dicky memeluk Fitri yang menangis pilu dengan erat, kemudian mengangkatnya dalam pangkuannya.
Dicky juga tak kuasa menahan air matanya yang kini jatuh, rasa penyesalan yang amat dalam mulai menghampiri nya.
Dicky merasa sangat bersalah karena telah secara diam-diam menemui Ranti, bahkan berpelukan yang tidak seharusnya terjadi.
"Fitri, maafkan aku Fit, maafkan aku!" ucap Dicky sambil menangis.
Tak mampu lagi dia untuk berkata-kata, Dicky mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang membuat Fitri sampai seperti sekarang ini.
Fitri terus menangis dalam pelukan Dicky, rasanya dia ingin berteriak bahkan memukul laki-laki itu, tapi rasa cintanya yang begitu besar menghalanginya, apalagi sosok Dicky adalah sosok pria yang di pujanya selama ini, tidak sanggup Fitri untuk menghakimi Dicky dengan alasan apapun. Rasa cinta yang besar dan dalam mampu menutup setiap luka sedalam apapun.
"A-Apakah, kau melihatku malam itu Fit?" tanya Dicky dengan suara bergetar dan terbata-bata.
Fitri hanya bisa Menganggukan kepalanya tanpa bisa menjawab apapun.
"Ya Tuhan Fit, maafkan aku, aku bersalah Fit, aku bersalah padamu, maafkan aku!" tangis Dicky semakin menjadi.
Dia semakin menyadari bahwa tanpa sadar dia kembali melukai hati Fitri, luka yang di goreskan bukan dengan perkataan, tapi dengan perbuatan. Dicky benar-benar menyesal.
"Hukum aku Fit! Kalau itu bisa menghilangkan rasa sakit hatimu, pukul aku, atau kalau perlu kau juga bisa membalas aku!! Ayo Fit! Pukul aku!!" Dicky memukul-mukulkan kepalanya sendiri dengan tangannya, dia sungguh merasa menyesal.
Fitri kemudian menahan tangan Dicky, supaya dia jangan memukul kepalanya sendiri lagi, mata Fitri terlihat merah dan menyimpan banyak luka yang terpendam.
"Sudah Mas! Sudah! Aku sudah memaafkanmu! Jangan lagi kau sakiti dirimu, aku tak sanggup melihatmu seperti ini!" pekik Fitri.
"Tidak Fit, aku tidak pantas untuk kau maafkan semudah itu, malam itu aku benar-benar tidak sadar, aku khilaf Fitri, benar-benar khilaf, seharusnya aku mengabaikan Ranti, seharusnya aku tidak menemuinya, walaupun untuk yang terakhir kalinya!" ungkap Dicky sambil menyeka wajahnya yang basah.
"Terakhir kalinya?"
"Ya, Ranti menulis pesan, bahwa dia ingin bertemu denganku untuk yang terakhir kalinya, karena sejak hari ini dia sudah tidak ada lagi di sini, dia di terima bekerja di papua, hanya untuk menghargainya aku bahkan tidak berkata jujur padamu, maafkan aku Fit, aku bukan suami yang baik!" ucap Dicky dengan wajah menunduk.
Fitri kemudian mengangkat wajah Dicky dan menatapnya dalam.
__ADS_1
"Malam itu aku begitu sakit hati dan terpukul Mas, dalam hati ini aku sungguh tidak rela suamiku di peluk dan di cium oleh wanita lain, hatiku hancur Mas, aku sangat sakit dan cemburu, rasanya aku ingin pergi jauh darimu, tapi ... aku ingat di dalam rahimku ada benihmu Mas, ada calon anak kita!" Fitri kembali menangis.
Dicky kemudian beralih pandang ke arah perut Fitri, kemudian dia memeluk perut itu dan menciuminya berkali-kali.
"Maafkan Papa Dek, maafkan Papa telah menyakiti hati Mamamu, Papa salah Dek, Papa menyesal!" bisik Dicky sambil menangis.
Fitri terenyuh melihat Dicky yang seperti itu. Selama pernikahannya dengan Dicky, Fitri hampir tidak pernah melihat Dicky menangis sesedih ini.
Dicky yang selalu bersikap manis dan memanjakannya, dia selalu bersikap dewasa dan bijaksana dalam segala hal.
Tapi hari ini Dicky terlihat begitu rapuh, mungkin benar kata orang, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna seratus persen, dan Dicky telah menjadi bagian dari manusia yang tidak sempurna itu.
Perlahan Fitri mengusap wajah Dicky yang kembali basah, lalu dengan lembut Fitri mengecup wajah Dicky, bagaimanapun Dicky telah membuatnya sakit hati, tapi tidak sedikitpun membuat cinta Fitri luntur, Fitri malah semakin mencintai suaminya itu.
"Jangan menangis lagi Mas, aku tidak sanggup melihatmu seperti itu, Dedek sudah memaafkanmu, aku juga sudah memaafkanmu!" ucap Fitri sambil terus mengecupi wajah Dicky.
Dicky kemudian mulai bangkit dari posisinya. Di tatapnya sangat dalam wajah istrinya itu.
"Apa Mas yakin dia tidak akan kembali lagi?" tanya Fitri.
"Yakin Fit, dia juga sudah membuang ponselnya yang berisi kenangan kami di masa lalu, bahkan kini dia tak lagi memiliki nomor ponselku!" jawab Dicky.
Fitri menganggukan kepalanya dan berusaha mulai tersenyum.
"Iya Mas, aku juga akan berusaha melupakan kejadian malam itu, anggap saja aku sedang bermimpi buruk, aku percaya kau tidak sungguh-sungguh melakukan itu, kau hanya khilaf dan terbawa suasana, apalagi aku tau, bahwa Ranti adalah cinta pertamamu, pasti sebelumnya kau banyak mempunyai mimpi bersamanya!" ucap Fitri.
"Terimakasih Fit, kau istri yang luar biasa, aku beruntung bisa mendapatkan mu, terimakasih!" Dicky langsung memeluk Fitri.
"Sudahlah Mas, lupakan semua yang sudah lewat, sekarang sebaiknya kita mandi dan turun untuk makan, sejak pagi kita bahkan belum makan apapun!" ujar Fitri yang kini mulai berdiri.
"Kau benar Fit, aku bahkan belum mandi dari pagi, karena buru-buru hendak menyusul mu yang sedang marah padaku! Aku sangat takut kehilangan dirimu lebih dari apapun!" sahut Dicky.
Dicky lalu langsung menyambar handuknya dan beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Fitri menyusul Dicky. Dia langsung membuka pintu kamar mandi yang memang tidak pernah di kunci itu.
"Mas ..."
"Ada apa Fit?" tanya Dicky yang terlihat sudah menyiram tubuhnya yang polos dengan shower.
"Aku ingin mandi bersama!" jawab Fitri dengan menahan rasa malunya.
"Ooh, ayo Fit, sini, aku bantu bukakan bajumu!" sahut Dicky senang. Biasanya Fitri tidak pernah seberani ini.
"Walau Mas Dicky pernah berpelukan dengan Ranti, tapi Mas Dicky tidak pernah melakukan hubungan ini kan? Hanya dengan aku saja Mas Dicky memberikan seluruh tubuh Mas untukku?" tanya Fitri.
"Iya sayang, Ranti tidak pernah sedikitpun melihat milikku, hanya kau seorang, dia hanya bisa menyentuh bagian luar tubuhku, tapi tidak yang ini!" jawab Dicky sambil mulai menempelkan tubuh polosnya pada Fitri.
Ada sesuatu yang bergerak dan bangkit di bawah sana.
"Jaga hati dan tubuh mu hanya untuk aku ya Mas, cukup sudah apa yang telah kita alami kemarin!" ucap Fitri.
"Iya sayang, Mas janji tidak pernah berbuat khilaf lagi, maafkan Mas mu yang tidak sempurna ini ya sayang!" bisik Dicky sambil memeluk tubuh Fitri yang kini polos di bawah pancuran air shower.
Bersambung ...
****
Sudah ya guys ... jangan tegang-tegang lagi wkwkwk ...
Sambil menunggu up, yuk baca karya Author yang lain, yang tak kalah menariknya dan pastinya tema nya selalu berbeda ...
Baca juga karya dengan judul "Dia Sang Idola"
Terimakasih atas semua dukungan Readers sekalian ... 🙏😉😘❤️
__ADS_1