Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Persiapan Acara


__ADS_3

Malam itu Dicky dan Fitri menerima tamu seorang pengacara, teman Dicky sesama di panti dulu.


Semua hidangan sudah siap dan tertata rapi di meja makan. Aroma nikmatnya menggugah selera.


"Bagaimana kabar mu Adi? Apakah kau sudah menikah? Sudah lama juga kita tidak berjumpa setelah kau ambil kuliah di luar negri!" ujar Dicky yang nampak senang akan kedatangan teman lamanya itu.


"Yah, seperti yang kau lihat, aku sehat walafiat, hanya saja aku masih belum menikah, maklum Dicky, kebanyakan sekolah!" sahut Adi.


"Cepatlah kau cari jodoh Di! Ingat umur, kita bukan ABG lagi!" ujar Dicky.


"Kau tenang saja Dicky, ngomong-ngomong memangnya kau mengangkat sekaligus dua anak??" tanya Adi.


"Yah, begitulah Di, itulah sebabnya aku meminta bantuanmu, untuk mengurus surat resminya, supaya kelak kami tidak di ganggu gugat oleh orang yang tidak bertanggung jawab!" jawab Dicky.


"Bagus Dicky, segala sesuatu memang harus legal dan sesuai hukum, jadi kau akan aman kedepannya!" sahut Adi.


"Hmm, kita mengobrol sambil makan malam saja, nanti makanannya keburu dingin!" kata Fitri di sela-selaa obrolan mereka.


Mereka kemudian mulai berjalan ke ruang makan, kemudian duduk mengelilingi meja makan bundar yang besar itu.


"Ayo silahkan Di, hanya ini yang bisa aku berikan untuk menyambut kedatanganmu!" tawar Dicky.


"Kau ini selalu merendah dari dulu, ini tuh merupakan sambutan termewah yang pernah aku rasakan, kita kan sama-sama pernah merasakan bagaimana susahnya hidup di panti, saling berbagi makanan dengan yang lain, walaupun sedikit jumlahnya tapi sangat senang dan penuh keceriaan!" ungkap Adi.


"Kau benar Di, dari situ kita tau bagaimana menghargai setiap yang kita punya, tau apa itu bersyukur!" timpal Dicky.


Mereka mulai menikmati santap malam mereka.


"Oya Di, sekalian aku juga ingin mengundangmu di acara resepsi pernikahan kami, sekaligus tujuh bulanan istriku!" kata Dicky sambil menyantap makanannya.


"Oya? Kalian baru resepsi sekarang?" tanya Adi bingung.


"Yah waktu itu, kami menikah buru-buru, jadi belum sempat resepsi, pokoknya kau harus datang Di, karena aku juga mengundang Ibu Nuri dan adik-adik panti!" jawab Dicky.


"Aku pasti akan datang, kalian tenang saja, untuk surat adopsi kedua anak angkatmu, secepatnya akan aku urus!" ujar Adi.


"Terimakasih Di, aku juga mendoakan mu semoga kau cepat dapat pendamping, menikah itu enak tau!" bisik Dicky.


"Kau jangan membuatku iri Dicky! Untuk urusan itu kau tenang saja, aku pasti akan memperkenalkannya padamu!" sahut Adi.


"Jadi, kau sudah punya calon rupanya, kenapa kau tidak bilang dari tadi?!" cetus Dicky.

__ADS_1


"Hahaha, makanya bro jangan langsung berasumsi dong, nanti aku akan membawanya di pestamu!" ujar Adi.


Setelah mereka selesai menyantap sajian makan malam, Adi segera pamit pulang karena hari semakin malam.


Dicky dan Fitri juga langsung beranjak ke kamarnya, Dina dan Dara juga sudah tidur kelihatannya, karena waktu sudah menunjukan jam 9 malam.


"Akhirnya masalah adopsi Dina dan Dara sudah ada jalan keluarnya, Adi akan membantuku!" ucap Dicky sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


"Syukurlah Mas, aku juga ikut senang!" sahut Fitri yang menyusul Dicky berbaring di sebelahnya.


"Tapi ... masih ada satu hal yang mengganjal pikiranku!" gumam Dicky.


"Apa itu Mas?" tanya Fitri.


"Soal pelaku perencanaan kecelakaan yang menimpaku, sampai hari ini aku belum tau siapa orangnya!" jawab Dicky.


"Sudahlah Mas, nanti Tuhan juga akan tunjukan pada kita lewat caraNya, yang penting hatimu selalu baik dan tulus pada setiap orang!" hibur Fitri.


"Iya Fit, untung aku memilikimu, istri yang sabar dan selalu menemani saat susah dan senang ku!" ucap Dicky.


"Hmm, mulai lagi ... sudah Mas, tidur saja ya, besok kau harus bangun pagi kan?" kata Fitri.


"Iya iya ... lagi manja ya Mas!" goda Fitri sambil mulai membelai rambut Dicky.


****


Hari ini seluruh keluarga Dicky dan Fitri sudah berkumpul di rumah besar Dicky. Karena besok adalah acara resepsi pernikahan Dicky dan Fitri, yang akan di langsungkan di sebuah ballroom hotel bintang lima, di bilangan Jakarta.


Pak Karta yang sudah sehat dan Bu Eni sudah datang sejak pagi tadi, nampak berwajah gembira, karena pada akhirnya putri mereka merasakan resepsi pernikahan yang sesungguhnya.


Dicky sedari tadi sibuk menelepon Dimas, karena Dimas adalah seksi repot untuk acara ini.


"Pokoknya semuanya kau atur Dim! Makanan jangan sampai kurang, semua EO dan musik juga aku percayakan padamu!" ujar Dicky.


"Kau tenang saja sih Bro, semuanya di jamin beres!" sahut Dimas.


"Oya Dim, nanti bilang sama tim EO nya, aku mau menyanyi di acara besok, tolong di persiapkan!" kata Dicky.


"Apa?? Kau mau menyanyi? Alamak! Memangnya kau bisa nyanyi??" ledek Dimas.


"Jangan meremehkan aku Dim! Aku pernah juara Nyanyi tingkat RT dulu waktu di panti!' sahut Dicky. Dimas tertawa mendengar pengakuan Dicky.

__ADS_1


"Oke lah Bro! Asal kau senang! Semua aman!!" ujar Dimas sebelum menutup teleponnya.


Baru saja Dicky meletakan gagang telepon rumahnya, Bi Sumi datang menghampirinya.


"Pak Dokter, di luar ada yang mau ketemu Bapak!" kata Bi Sumi.


"Siapa Bi?" tanya Dicky.


"Itu lho Pak, ibu-ibu yang waktu itu, ibunya Dina dan Dara!" jawab Bi Sumi.


Dicky lalu segera menggandeng tangan Fitri yang sedang mengobrol dengan orang tuanya ke depan rumah mereka.


Bu Romlah sudah berdiri di sana.


"Bu Romlah? Ada apa lagi?" tanya Fitri.


"Kalian bagaimana sih? Besok ada acara sebesar itu, masa saya selaku orang tua kandung Dina dan Dara tidak di undang?? Kalian keterlaluan!!" cetus Bu Romlah.


Dicky dan Fitri saling berpandangan.


"Lho, Bu Romlah tau dari mana?" tanya Dicky.


"Saya lihat di koran yang baru terbit Pak, di situ di tulis, mengenai resepsi Bapak kepala rumah sakit di hotel terkenal, jangan sombong dong Pak!" sungut Bu Romlah.


"Bagaimana saya bisa mengundang Ibu? Di mana Ibu tinggal saja saya tidak tau!" sahut Dicky.


"Sekarang kan saya sudah datang, mana sini undangannya! Lumayan kan bisa makan enak di hotel, gratis lagi!" kata Bu Romlah sambil menadahkan tangannya.


Dicky lalu menoleh ke arah Fitri.


"Fit, tolong ambilkan undangan sisa di meja kerjaku, lalu berikan pada Bu Romlah!" titah Dicky.


"Baik Mas!" jawab Fitri yang langsung masuk kedalam rumah, tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah undangan.


"Ini Bu, undangannya, silahkan datang!" ujar Dicky.


"Nah, begitu dong, kalau begitu saya permisi dulu, ingat ya, saya ini Ibu kandung Dina dan Dara, jadi kalian jangan melupakan saya begitu saja!" ujar Bu Romlah yang segera melangkah pergi meninggalkan rumah itu.


****


Di tunggu selalu dukungannya ya Readers yang setia ... 😉🙏

__ADS_1


__ADS_2