
Tanah pemakaman ini nampak basah, Anita masih nampak duduk bersimpuh sambil menangis, sesekali dia mengusap pusara yang penuh dengan taburan bunga.
Di antara semua orang yang hadir di situ, hanya Anita yang nampak paling sedih dan terpukul, selama ini dia hanya hidup dan mengenal sosok Bidan Acih sebagai Ibu nya, selama ini mereka hanya tinggal berdua saja.
Demi merawat Anita, Bidan Acih bahkan memilih untuk tidak menikah, bahkan sampai akhir hayatnya, hanya Anita lah yang dia miliki.
Perlahan Fitri merengkuh tubuh Anita yang masih bergetar, berusaha untuk menenangkan saudara kembarnya itu.
"Sudahlah Ta, Mak Acih sudah tenang di sana, dia pergi tanpa meninggalkan beban apapun, kau jangan sedih lagi!" hibur Fitri.
Anita nampak menatap Fitri sekilas dengan mata basahnya, dia menggelengkan kepalanya seolah ingin mengatakan kalau dia baik-baik saja.
"Nak, hari sudah semakin sore, sepertinya akan turun hujan, apa tidak sebaiknya kita pulang saja?" tanya Pak Karta.
"Bapakmu benar Nak, sebaiknya kita pulang, Nanti kita akan lanjutkan obrolan kita, rasanya Ibu rindu sekali padamu Putri!" ucap Bu Eni sambil membelai rambut Anita.
Anita mengeluarkan kertas dan pulpen di saku bajunya, lalu dia mulai menulis.
Panggil Aku Anita, nama ku Anita sejak kecil!
"Maafkan Ibu Nak, baiklah kalau kau memang ingin di panggil Anita, kami akan memanggilmu Anita atau Tata!" ujar Bu Eni.
"Anita, mulai sekarang kau adalah saudara kandungku, kau tidak sendirian lagi dan kalau kau ada masalah apapun, kau bisa ceritakan padaku!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Anita.
Anita mulai tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Mereka kemudian meninggalkan area makam itu, lalu segera naik ke dalam mobil dan langsung menuju ke rumah Dicky.
Wajah Pak Karta dan Bu Eni nampak cerah dan bahagia, akhirnya keluarga mereka bisa bersatu kembali setelah sekian lama hilang dan tersembunyi.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di rumah Dicky, Dicky langsung membawa Alex naik ke atas menuju ke kamarnya, memberikan kesempatan pada Fitri dan keluarganya untuk saling melepas rindu.
"Bi Sumi, tolong siapkan satu kamar lagi untuk Anita, mulai hari ini dia adalah bagian dari keluarga kita, dia adalah saudara kandungku Bi!" ucap Fitri.
Bi Sumi nampak terkesiap melihat wanita yang begitu mirip dengan Fitri.
"Baik Mbak Fitri, saya tidak menyangka Mbak Fitri punya kembaran!" ujar Bi Sumi yang langsung menyiapkan satu kamar tamu di dekat kamar Pak Karta dan Bu Eni.
__ADS_1
Fitri kemudian mengambil beberapa pakaiannya ke dalam lemari bajunya.
Kemudian dia kembali turun dan langsung menuju kamar Anita yang sudah rapi dan bersih, Anita nampak duduk di tepi tempat tidurnya.
"Anita, ini kau pakailah pakaianku dulu sementara, besok kita akan belanja baju dan keperluanmu di toko ya!" kata Fitri.
Anita menganggukan kepalanya seolah mengucapkan terimakasih pada Fitri.
"Nah, sekarang kau mandi dan ganti pakaianmu, sebentar lagi Bapak dan Ibu pasti ingin sekali mengobrol denganmu, ini ada buku dan alat tulis, kau bisa menuliskan apa yang mau kau ucapkan di sini!" Fitri kemudian menyodorkan satu buku agenda dan alat tulis.
Anita langsung mengambilnya dan menulis di sana.
Terimakasih Fitri ...
Fitri menganggukan kepalanya dan beranjak pergi dari kamar itu, memberikan kesempatan Anita untuk istirahat dan membersihkan tubuhnya.
Pak Karta dan Bu Eni nampak duduk di ruang tamu, mereka terlihat tidak sabar ingin mengobrol dengan Anita, buah hati mereka yang telah hilang sejak masih bayi.
"Bagaimana Anita Fit?" tanya Bu Eni tak sabar.
"Dia sedang mandi Bu, nanti sebentar lagi pasti dia juga akan kesini, aku ijin ke atas dulu ya Bu mau tengok Alex!" pamit Fitri. Pak Karta dan Bu Eni menganggukan kepalanya.
Dicky nampak masih bermain dengan Alex di tempat tidurnya.
Harum khas bedak bayi memenuhi ruangan kamar itu, rupanya Dicky sudah mandi bersama Alex.
"Mas, kalian sudah mandi ya?" tanya Fitri.
"Sudah dong Fit, kami sudah mandi!" jawab Dicky.
"Mandi bareng? Kau tidak malu sama Alex?" tanya Fitri.
"Malu kenapa? Kami kan sama-sama laki-laki, kenapa harus malu mandi bersama, iya kan Lex?" Dicky mencolek Pipi Alex yang sedang guling-guling di tempat tidur.
"Hmm, Papa Dan anak sama saja!" cetus Fitri. Dia kemudian mulai duduk di samping Dicky di tepi tempat tidurnya itu.
"Fit, saudaramu itu sudah kau kasih kamar?" tanya Dicky.
__ADS_1
"Sudah Mas!" sahut Fitri.
"Syukurlah, semoga dia tidak sedih lagi atas kematian Bidan Acih!" ucap Dicky.
"Mas, aku mau tanya!"
"Katakanlah sayang, apa yang mau kau tanyakan?"
"Bisakah Anita di sembuhkan dari kebisuannya, kasihan dia Mas!" ungkap Fitri.
"Sebenarnya, Kebisuan itu terjadi karena banyak hal, seseorang yang mengalami trauma luar biasa bisa jadi dia langsung tidak bisa bicara, atau ada sesuatu yang merusak pita suaranya, ada juga karena bawaan lahir!" jelas Dicky.
"Menurut informasi yang aku dengar, Anita ini bisu sejak dia mengalami kecelakaan, Mas, sebenarnya ada yang mau aku tau tentang kecelakaan yang menimpa Anita!" ungkap Fitri.
"Apa maksudmu?"
"Pak Donny dulu pernah cerita, dia punya tunangan yang sangat mirip denganku, dan tunangannya itu meninggal saat kecelakaan, mungkinkah mereka adalah orang yang sama??" tanya Fitri.
"Aku yakin, mereka adalah orang yang sama!" sahut Dicky.
"Kalau mereka adalah orang yang sama, itu berarti, Pak Donny berpeluang untuk kembali ke Anita, mereka bisa bersama lagi Mas!" ucap Fitri.
"Tapi kan si Kampret sudah pulang kampung sejak Ibunya meninggal, dan aku mana tau kampunya di mana!" tukas Dicky.
"Mas, bisa tidak sih kau tidak memanggilnya si Kampret lagi?? Dia punya nama Mas, dan itu berarti bisa saja kita jadi saudara dengan Pak Donny!" ujar Fitri.
"Aku benci sama si kampret itu Fit, gara-gara dia pernah melecehkan mu, tak Sudi aku memanggilnya nama, terlalu bagus!" cetus Dicky.
"Dih, Mas Dicky segitunya, jangan lihat orang dari sisi jeleknya, dulu dia seperti itu kan karena depresi kehilangan tunangannya, aslinya tuh, Pak Donny guru yang baik dan sopan!" protes Fitri.
"Bagus! Terus saja kau memuji laki-laki lain di depan suamimu sendiri, sekali kampret tetap kampret!" sungut Dicky cemberut.
Fitri mulai menyadari tindakannya yang berlebihan, Dicky ini agak posesif, dia tidak pernah akan suka Fitri membahas laki-laki manapun, lebih baik diam untuk meredam kekesalan suaminya itu.
"Ya sudah deh, aku minta maaf, besok aku akan mengobrol banyak dengan Anita, sekarang adalah giliranmu untuk mandapatkan pelayanan ku sayang!" ucap Fitri sambil mulai mengecup bibir Dicky berkali-kali, hingga laki-laki itu akhirnya tersenyum.
Bersambung ....
__ADS_1
****