Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menggapai Kebahagiaan


__ADS_3

Rama membiarkan Riana menumpahkan tangisnya agar perasaan wanita itu membaik tanpa beban. Meskipun sejujurnya Rama cukup terkejut dengan pengakuan Riana, tetapi ia menghargai kejujuran Riana padanya, tanpa ingin menghujat, sebab dirinya pun bukan laki-laki yang suci. Namun dari kejujuran Riana, ia bisa menilai jika Riana adalah wanita yang baik, hanya saja ia salah memilih teman hidupnya selama beberapa tahun.


"Ri, kamu dengerin aku ya." Rama menyentuh pundak Riana, mengarahkan tubuh Riana agar menghadap ke arahnya. Dengan polos serta air mata yang masih berurai di wajah, Riana menatap Rama.


"Setiap orang punya masa lalu, termasuk kamu dan aku. Jadi jangan anggap diri kamu itu rendah, karena laki-laki yang mencintai kamu nggak akan peduli seburuk apapun kamu di masa lalu," tutur Rama lembut, mencoba memberikan pengertian untuk Riana. Wanita itu mencoba mencerna hingga air matanya kembali lolos dari kelopak matanya.


"Asal kamu tau Ri, kamu layak untuk di cintai, kamu berharga di tangan laki-laki yang tepat." Rama mengulas senyum tipis, tangannya terulur di wajah Riana, menghapus sisa air mata di wajah wanita rapuh di hadapannya itu. "Ini terakhir kalinya aku liat kamu nangis demi laki-laki itu. Kamu terlalu baik buat dia."


Sungguh, Riana tidak mampu menahan rasa haru ketika mendengar perkataan Rama yang menyentuh. Rama benar jika dirinya adalah satu dari banyaknya wanita yang dengan suka rela menyerahkan tubuh demi seseorang yang dicintai, meski pada akhirnya jodoh tidak selalu menjamin setiap kebersamaan yang dilewati bersama. Satu hal yang menjadi pelajaran bagi Riana bahwa laki-laki yang mencintai wanitanya dengan tulus akan berusaha menjaganya sebaik mungkin, tanpa harus memikirkan napsu belaka.


Mendapati Riana yang sudah lebih tenang, Rama menuntun wanita itu untuk beranjak berdiri, menyentuh kedua pundak Riana dengan sorot mata yang teduh.


"Udah ya Ri nangisnya, kamu jangan mikirin yang aneh-aneh. Aku juga bukan laki-laki baik, bukan laki-laki yang suci. Aku juga paham kenapa kamu sama Raihan ngelakuin itu. Kalau kamu pikir aku bakalan ngejauh, kamu salah besar Ri, aku nggak jijik sama kamu. Jadi kamu jangan coba-coba nyuruh aku buat ngejauh dari kamu." Di usapnya lembut rambut Riana, Rama kembali tersenyum.


Melihat betapa lembut dan tulusnya teman masa kecilnya itu, Riana tidak dapat memupuk perasannya lebih lama lagi. Laki-laki seperti Rama terlalu baik, bahkan lebih dari sekedar baik, tetapi dirinya yang tidak cukup baik untuk Rama.


Riana menghambur ke pelukan Rama, menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang teman masa kecilnya itu. Rama bergeming sesaat, namun seperkian detik kemudian, ia membalas pelukan Riana, mendekap dengan erat wanita yang ia cintai itu. Riana kembali menumpahkan air matanya, ia bersyukur di saat rapuh masih memiliki Rama di sisinya. Laki-laki yang tidak pernah menghakimi dirinya jika salah.


"Ram, makasih banyak. Berkat kamu, aku jadi sedikit lebih lega. Selama ini aku selalu takut kalau nggak ada laki-laki yang mau sama aku. Aku udah nggak sempurna, aku sama aja kaya perempuan nggak benar, aku-"


"Sshhttt, udah nggak usah di bahas lagi." Rama mengusap bahu Riana, ia tahu apa yang dmingin dikatakan oleh Riana, masih saja wanita itu merendahkan diri.


"Tapi itu bener-bener yang bikin aku takut Ram."


"Kalau nggak ada laki-laki yang mau sama kamu, ada aku Ri. Dari dulu sampe sekarang rasa aku ke kamu nggak berubah."


Riana mengangguk pelan di dalam dekapan Rama, tangisnya semakin pecah ketika Rama mengatakan hal tersebut. Sungguh, mungkin ia tidak akan pernah menemukan lagi sosok laki-laki baik seperti Rama. Apa dirinya harus mencoba membuka hatinya untuk Rama? batinnya.

__ADS_1


Riana memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Rama. Rasa hangat dan nyaman menjadi satu, sehingga perasan Riana menjadi lebih tenang. Sementara Rama, hatinya turut berdenyut perih ketika wanita yang ia cintai harus merasakan sakit. Rama bertekad akan membuat Riana bahagia selama berada disisinya, selama wanita itu menginginkan dirinya.


"Ram, aku udah baik-baik aja. Aku udah nggak nangis lagi." Riana melepaskan pelukan mereka, lalu mencoba untuk mengulas senyum terbaiknya. "Maaf ya baju kamu jadi basah," sambungnya tidak enak ketika mendapati baju Rama yang tertinggal jejak air matanya.


Rama terkekeh. "Nggak apa-apa Ri, lagian cuma basah sedikit kok."


Terdengar tarik napas panjang yang Riana lakukan, sehingga membuat Rama mengernyit heran.


"Ram, kamu mau bantu aku buat ngelupain Rai?" tanyanya dan Rama mengangguk cepat. Apapun akan ia lakukan agar bisa membuat Riana tidak menangis lagi. "Kalau gitu kamu jangan pernah capek sama aku, kamu jangan nyesel kalau sikap aku kekanak-kanakan. Jangan tinggalin aku juga kalau udah tau sikap aku yang sebenernya kaya gimana."


"Emangnya kamu kayak gimana?" Rama menarik satu sudut bibirnya, ia paham arah pembicaraan wanita itu, sehingga dengan sengaja menggodanya.


"Aku cengeng, nyebelin dan kadang-kadang suka marah-marah nggak jelas." Bibir Riana mengerucut ketika menjelaskan sosok dirinya yang sebenarnya.


Mendengarnya, Rama semakin mengembangkan senyum. "Kalau itu sih aku udah tau, kamu tuh dari dulu emang kekanak-kanakan, udah gitu suka nangis dari masih bayi." Lalu mencubitmu hidung Riana yang bangir, mencoba mencairkan suasana yang melow itu menjadi sedikit lebih ceria dengan candaannya.


"Enak aja, semua bayi emang suka nangis. Kamu juga waktu bayi 'kan suka nangis." Bibir Riana mencebik kesal, merasa tidak terima dengan penuturan Rama. Setiap bayi memang suka menangis, justru akan menakutkan jika bayi yang baru saja lahir bisa tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa?" Riana mendelik, kali ini apa kesalahannya sehingga membuat Rama berpikir dirinya jahat.


"Ya jahat aja, soalnya waktu aku lahir kamu nggak dateng." Sembari menampakkan kekecewaannya.


Mendengar ucapan Rama yang konyol itu sontak aja tangan Riana mendarat di perut Rama, mencubit perut temannya itu.


"Kamu yang bener aja Ram, kamu lahir 'kan aku belum lahir." Sungguh kesal Riana kepada Rama dengan gurauannya itu. Dan melihat Riana yang mendengkus kesal, tawa Rama meledak. Mengundang kekesalan yang membuncah untuk Riana.


Rama menarik Riana agar mendekat ke arahnya, sebelum kemudian melabuhkan kecupan di kening Riana, sehingga membuat wanita itu terkesiap.

__ADS_1


"Kamu bisa andelin aku Ri, apapun jangan di pendam sendirian." Sungguh beruntung Riana karena berulang kali di perlakukan dengan begitu lembut.


"Iya Ram, makasih ya."


"Hem, tapi kamu nerima aku 'kan?" Rama mencoba memastikan, ia takut jika sikap Riana malam ini hanya kepercayaan dirinya saja, menganggap Riana sudah menerima dirinya padahal tidak.


"Mau kamu gimana Ram? Aku tolak apa aku terima?" Kali ini Riana yang menggoda Rama.


"Ya diterima dong Ri, aku udah nunggu kamu dari lama loh tapi malah keduluan laki-laki lain." Wajah Rama berubah menjadi kecewa, ia bahkan menghentakkan kaki serupa dengan anak kecil yang sedang merajuk.


Riana terkekeh gemas. "Kalau udah tau kenapa nanya."


Dan perkataan Riana membuat Rama melebarkan senyuman. Akhirnya cintanya tersambut, ia tidak lagi harus memendam perasaannya.


"Makasih ya Ri." Sangking bahagianya, Rama memeluk Riana dengan erat. "Aku janji nggak akan nyakitin kamu," katanya penuh tekad.


"Iya Ram, aku pegang janji kamu." Riana membalas pelukan Rama, sesekali mengusap punggung Rama dengan lembut.


"Kamu harus bahagia sama Rama, Ri. Lupain semua yang udah bikin kamu sakit hati, termasuk Raihan," monolognya pada diri sendiri sebagai pengingat dirinya agar terus melangkah menggapai kebahagiaannya.


Bersambung


Riana dan Rama



...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2