Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Panci Oh Panci


__ADS_3

Fitri menata pakaian-pakaian calon bayinya yang sudah di cuci itu ke dalam sebuah lemari bayi yang mungil.


Fitri mengatur sendiri di mana letak barang-barang yang akan di pakai oleh calon bayinya kelak, mulai dari tempat tidur bayi, lemari dan area bermain bayi,


Bi Sumi yang membantu juga ikut sibuk di ruangan itu. Fitri terlihat begitu semangat dan antusias menata semua perlengkapan bayinya.


Semua selimut dan pakaian bayi Fitri lipat dengan tapi, kemudian di susunnya di dalam lemari.


"Bi, ini selimut si Dedek kenapa jadi berubah warna abu-abu ya, perasaan aku beli warna putih!" tanya Fitri.


"Lho, itu memang warna putih kok Mbak!' sahut Bu Sumi.


"Masa sih Bi? Kok aku lihat itu warna abu muda, masa aku bisa salah warna begini sih Bi?" ujar Fitri sambil kembali mengucek matanya.


"Jangan di kucek Mbak, nanti tambah merah matanya!" sergah Bi Sumi.


"Masa aku tidak bisa bedakan warna sih Bi? Ini aku lihat kenapa warna abu?" tanya Fitri yang mulai terlihat cemas.


"Eh, ternyata Bibi yang salah Mbak, yang ini memang warna Abu, yang itu baru yang putih!" ujar Bi Sumi berusaha menenangkan Fitri.


Bi Sumi terpaksa berbohong supaya Fitri tidak cemas lagi. Padahal sudah jelas kalau selimut yang di maksud memang berwarna putih.


Bi Sumi melihat Dicky yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan bayi itu, Dicky buru-buru menempelkan telunjuknya di bibirnya, supaya Fitri tidak tau kalau Dicky datang.


Dicky lalu perlahan mendekati Fitri yang masih terlihat sibuk melipat pakaian dan selimut bayi, juga popok dan celana yang sudah di belinya itu.


Kemudian dari belakang Dicky langsung memeluk Fitri dan mencium lehernya.


"Mas Dicky? Kau sudah pulang Mas??" tanya Fitri terkesiap. Biasanya Dicky akan pulang sore.


"Iya sayang, Mas Dicky lagi kangen sama Fitri, makanya pulang cepat!" bisik Dicky.


"Dih, Mas Dicky bisa saja beralasan, sini ikut bantuin beresin kamar Dedek, nanti setelah dia lahir pasti dia senang melihat kamarnya senyaman ini!" ujar Fitri.


"Hmm, Dedek terus yang di perhatiin, kapan giliran Papanya?" tanya Dicky.


"Mas Dicky mulai deh! Malu tuh sama Bi Sumi!" sergah Fitri yang terus mengurai pelukan Dicky karena merasa risih jika ada orang yang melihatnya.


"Kok malu sih sayang, cuek aja kali, wajar saja kita romantis begini, namanya juga suami istri, iya kan Bi Sumi??" kata Dicky sambil melirik ke arah Bi Sumi yang hanya diam sambil tersenyum.


"Benar apa yang di bilang Pak Dokter, ngapain malu, Bibi juga biasa lihat adegan itu di sinetron!" sahut Bi Sumi.


"Sekarang, tinggalkan pekerjaanmu, ikut aku ke kamar ya!" tanpa menunggu jawaban Fitri, Dicky langsung mengangkat Fitri dalam gendongannya.

__ADS_1


"Eh Mas Dicky sudah bisa gendong-gendong?? Memang tidak sakit kakinya?" tanya Fitri.


"Sudah bisa dong, kakiku akan cepat sembuh, kau jangan khawatir!" jawab Dicky yang langsung membopong Fitri keluar dari kamar itu.


Dicky lalu masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Fitri di ranjang besarnya itu.


Dicky tak segera beranjak, dia menatap dalam wajah istrinya itu.


"Mas Dicky mau apa?" tanya Fitri sambil menahan tangannya di dada Dicky.


"Mau makan kamu Fit!" bisik Dicky.


Seluruh tubuh Fitri meremang seketika.


"Ini masih siang Mas! Jangan macam-macam!" ancam Fitri.


"Memangnya kalau masih siang kenapa? Aku sengaja pulang cepat karena ingin bersamamu sayang!" ucap Dicky.


"Gombal!" sungut Fitri.


Perlahan Dicky langsung mengecup bibir Fitri yang sedang cemberut itu.


"Jangan harap aku akan melepaskanmu siang ini, aku kangen di servis olehmu!" bisik Dicky di telinga Fitri.


Dicky tidak melepaskan cengkraman dan ciumannya. Dia malah membuka seluruh pakaiannya, Fitri paham apa yang di inginkan suaminya itu.


Akhirnya Fitri pasrah saat Dicky mulai mencumbunya dan menyatukan tubuh mereka berdua dengan sangat perlahan, karena perut Fitri yang kian membesar itu.


"Pelan-pelan Mas!" lirih Fitri saat nafas Dicky mulai memburu cepat.


"Iya Sayang ... terimakasih ya!" ucap Dicky sambil kembali mencium bibir Fitri dengan lembut.


Setelah mencapai puncak kenikmatannya, Dicky terkulai di samping Fitri dengan nafas tersengal-sengal, tapi Fitri tau beberapa menit kemudian Dicky akan memintanya lagi. Kalau belum berulang-ulang Dicky tidak akan puas.


Benar dugaan Fitri, lima menit kemudian Dicky kembali on maksimal, dia lalu menoleh ke arah Fitri.


"Lagi ya Fit?" pinta Dicky.


Fitri tersenyum, namun tiba-tiba senyumnya pudar saat dia melihat ada yang berbeda di wajah Dicky.


"Mas, kenapa wajahmu kelihatan pucat?" tanya Fitri.


Dicky langsung menoleh ke cermin.

__ADS_1


"Pucat? Tidak Fit! Wajah ku tidak pucat!" tukas Dicky.


Fitri lalu memandang ke langit-langit kamarnya.


"Kenapa semua yang aku lihat berwarna abu dan pucat? Itu kenapa langit-langit kamar jadi berwarna abu-abu dan ... agak buram!" ujar Fitri.


Dicky yang menyadari sesuatu langsung beranjak dari tidurnya, dia kembali memakai pakaiannya walaupun miliknya masih tegak berdiri, dia paksakan masuk ke dalam celananya.


Tanpa banyak bertanya lagi Dicky langsung menggendong Fitri yang kini sudah berpakaian lengkap ke arah garasi mobil rumahnya.


Mang Salim tertegun melihat wajah Dicky yang cemas sambil menggendong Fitri.


"Mas kita mau kemana Mas? Bukankah kau belum puas? Kan baru main sekali!" tanya Fitri.


"Mang Salim! Kita ke rumah sakit sekarang, ke dokter spesialis mata!" titah Dicky.


"Baik Pak Dokter!" sahut Mang Salim yang langsung masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya.


Baru saja keluar dari gerbang rumahnya, tiba-tiba muncul Bu Romlah menghadang mobilnya sambil membawa berbagai macam panci.


"Pak Dokter mau kemana??" seru Bu Romlah.


"Minggir Bu! Kami mau ke rumah sakit!" teriak Dicky.


"Saya baru mau nawarin dagangan saya Pak, ayo pak beli panci-panci saya, ini barang impor lho!" ujar Bu Romlah.


"Maaf Bu, lain waktu ya, kami lagi buru-buru!" tukas Dicky.


"Yah beli satu kek Pak buat penglaris! Dari pagi saya keliling belum laku-laku nih panci saya!" sahut Bu Romlah.


"Oke, berapa harga pancinya??" tanya Dicky kesal.


"Murah kok pak, cuma 500 ribu saja di jamin awet bergaransi!" jawab Bu Romlah.


Dicky kemudian mengambil uang cash 500 ribu, lalu di sodorkannya ke Bu Romlah, Bu Romlah langsung menyodorkan pancinya ke arah Dicky, mau tidak mau Dicky mengambilnya.


"Mang Salim! Ayo kita jalan lagi!" titah Dicky.


Mang Salim menganggukan kepalanya, mobil itupun kembali meluncur meninggalkan tempat itu.


"Laris manis tanjung kimpul ...!" seru Bu Romlah yang kembali melanjutkan jalannya sambil menenteng beberapa panci di tangannya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2