Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kembali Menelan Pil Kekecewaan


__ADS_3

Disinilah Riana berada, di salah satu lantai gedung apartemen yang saat ini disinggahi oleh Raihan. Tangan Riana bergetar begitu ingin meraih bel, ia mendadak ragu karena tanpa berpikir panjang menemui Raihan. Tetapi ia sudah satu langkah akan berhadapan dengan Raihan setelah sekian lama laki-laki itu menghilang dan selalu menghindari dirinya.


Riana mengangguk mantap untuk menyakinkan dirinya sendiri. "Kamu bisa Ri. Cuma bicara sebentar sama Rai, semoga Rai bisa bikin aku sedikit lebih tenang." Jujur saja jika memang dirinya benar-benar tengah mengandung, ia berharap Raihan dan dirinya segera menikah.


Jari telunjuk Riana menekan bel berulang kali, hingga kemudian seseorang membukakan pintu untuknya. Yang berdiri di hadapan Riana adalah Raihan, laki-laki itu nampak mengenakan t-shirt santai dengan celana pendek saja.


"Masuk Ri." Raihan tersenyum canggung, biasanya jika mereka masih bersama, Raihan akan langsung memeluk wanita di hadapannya itu..


"I-iya...." Riana pun mengulas senyum, penuh kecanggungan melingkupi keduanya. Riana melangkah masuk mengekori Raihan. "Kamu lagi ada tamu ya Rai?" Samar-samar Riana memang mendengar suara seseorang lebih dari satu berada di ruangan lain.


"Iya, aku sama temen-temen aku lagi nyusun sketsa buat proyek bulan depan." Raihan menjelaskan begitu santai seolah kecanggungan yang sempat melingkupi sebelumnya mendadak menyurut.


Riana mengangguk saja, ia teringat perkataan laki-laki itu beberapa bulan yang lalu. Raihan akan dipercayai untuk memegang salah satu proyek. Wanita itu hanya bisa tersenyum getir mengingatnya, kenangan keduanya begitu banyak dan sulit untuk dilupakan.


"Duduk Ri, aku ambil minum dulu ya." Raihan mempersilahkan Riana untuk duduk setelah sekian lama membiarkan wanita itu berdiam diri seperti patung.


Melihat punggung Raihan yang menuju sebuah dapur, Riana mendaratkan tubuhnya di sofa panjang. Sorot matanya mengitari setiap sudut ruangan, tidak terlalu banyak barang karena setahu dirinya Raihan memang menyukai ruangan yang luas agar bisa bergerak bebas. Dinding di dalam apartemen Raihan juga menjadi pusat perhatian Riana, tidak ada satu figura apapun. Hanya terdapat satu lukisan pemandangan. Ya, setidaknya ia tidak perlu melihat figura mantan tunangannya itu bersama kekasih barunya.


"Di minum Ri. Maaf adanya cuma ini." Raihan datang mengalihkan perhatian Riana dari seisi apartemen milik laki-laki tersebut. Riana tersenyum dan meraih gelas tersebut, meskipun hanya minuman sirup rasa kelapa pandan sudah cukup melegakan dahaganya.


Setelah meletakkan gelas tersebut kembali ke atas meja, Riana memberanikan diri menatap Raihan. "Ada yang mau aku bicarain sama kamu Rai."


"Iya bicara aja." Raihan menunggu Riana untuk bicara.


"Be-begini...." Riana menggigit bibir bawahnya, entah kenapa keberanian yang sejak tadi ia kumpulkan mendadak lenyap. "A-aku..." Dan semakin ciut saja nyali Riana ketika Raihan menatap lekat padanya. "Bu-bulan ini aku belum datang bulan Rai, aku takut kalau aku.... hamil."


Penuturan Riana sontak membuat Raihan terkejut, ia pikir Riana akan membicarakan masalah lain. "Apa maksud kamu, Ri?"


"Aku takut kalau aku hamil Rai. Kita udah sering ngelakuin itu, aku-"


"Nggak mungkin kamu hamil, Ri." Raihan mencoba membantah dugaan mantan tunangannya itu. "Apa kamu lupa kalau selama ini aku selalu pakai pengaman, jadi kamu nggak mungkin hamil." Ya, Raihan sangat ingat benar, jika selama melakukan hubungan suami istri dengan Riana, ia selalu menggunakan pengaman, sehingga mustahil jika wanita itu hamil.

__ADS_1


"Tapi aku belum datang bulan Rai. Belakangan ini aku juga muntah-muntah terus." Riana memberitahukan apa yang ia rasakan beberapa hari ini. Penyebab dirinya sakit, bisa saja karena sedang hamil.


"Itu baru dugaan kamu aja 'kan Ri?" Namun Raihan bersikukuh pada pendapatnya.


"Walaupun baru dugaan, tapi kalau aku benar-benar hamil gimana? Aku takut Rai." Air mata mulai menggenangi kelopak mata Riana. Ketakutan luar biasa Riana adalah hamil diluar nikah dan mempermalukan kedua orang tuanya.


"Nggak, kamu pasti nggak hamil. Aku selalu pakai pengaman setiap kali kita main. Jadi kemungkinannya kecil bisa buat kamu hamil, kecuali..." Kedua mata Raihan mendadak menelisik wajah Riana, seolah tengah mencari dugaan-dugaan mengenai kelakuan Riana di belakangnya.


"Kecuali apa? Kamu nuduh aku selingkuh dan main sama laki-laki lain? Jangan gila kamu Rai! Aku nggak seburuk itu." Napas Riana menderu penuh amarah, membantah dugaan Raihan walau tidak menuduh secara langsung.


"Aku nggak nuduh Ri, aku cuma berpikir gimana kamu bisa hamil, sedangkan aku selalu pakai pengaman."


"Tapi sama aja kamu nuduh aku main juga sama laki-laki lain, Rai!" Nada bicara Riana terselip kekesalan.


"Ya, nggak gitu Ri." Raihan tertuduk, memang ia sempat berpikir seperti itu.


"Denger Rai, kamu udah ambil keperawanan aku. Selama ini aku cuma ngelakuin itu sama kamu, aku nggak mungkin ngelakuin itu juga sama laki-laki lain. Apalagi selama sama kamu, aku selalu berangkat dan pulang kerja sama kamu. Terus gimana aku bisa selingkuh? Selingkuh virtual nggak bakalan bisa bikin hamil, Rai."


"Kenapa sih Rai, kamu nggak pengen banget kalau aku hamil? Kamu mau lepas tanggung jawab kalau aku beneran hamil?!" seru Riana tidak habis pikiran dengan jalan pikiran Raihan. Sikap laki-laki itu sungguh sudah berubah 180 derajat.


"Nggak gitu Ri, aku yakin kalau kamu nggak hamil."


"Terus kalau aku hamil beneran gimana? Apa kamu masih bisa nyangkal Rai?" Riana tidak ingin kalah dalam berdebatan kali ini. Selama ini ia selalu mengiyakan apapun perkataan Raihan.


"Kamu sengaja 'kan buat aku ngerasa bersalah dan supaya balik lagi sama kamu?" Perkataan Raihan dengan segala tuduhannya itu mampu menghujam jantung Riana dengan sebilah pisau. "Sekarang aku tanya sama kamu, kamu udah tes kalau kamu beneran hamil? Belum 'kan?"


Bibir Riana terkatup, perkataan Raihan sebelumnya saja sudah menggores luka baru di hatinya. "Aku belum ngecek," cicitnya pelan tapi mampu di dengar oleh Raihan.


"Tuh 'kan bener. Pasti kamu sengaja 'kan bikin aku ngerasa bersalah gitu?" semburnya menuduh.


"Nggak gitu Rai, aku nggak bisa mikir. Aku udah takut duluan." Dan Riana hanya mampu tertunduk, ia tidak mampu menatap wajah Raihan yang sangar itu.

__ADS_1


"Mendingan kamu pulang aja Ri." Apapun yang dikatakan oleh Riana, Raihan tidak ingin mendengar lagi. "Aku udah janjian sama Anggun, jadi aku nggak bisa biarin kamu lama-lama disini." Raihan beranjak berdiri, nampak kentara sekali jika laki-laki itu diliputi oleh emosi.


Riana hanya bisa menatap punggung Raihan yang masuk ke dalam kamarnya. Namun tak lama, laki-laki itu keluar dari kamar bersama dengan seorang temannya yang ia kenal bernama Marcell.


"Cel, lo 'kan mau keluar, tolong sekalian anterin Riana. Gue nggak bisa, Anggun udah dijalan mau kesini." Raihan berbicara kepada Marcell tepat di hadapan Riana, membuat wanita itu hanya bisa tertunduk dan meratapi dirinya yang memang sudah benar-benar tidak di inginkan lagi oleh Raihan.


"Iya, nanti gue anter sekalian," jawab Macell. Kemudian pandangannya tertuju pada Riana. "Nggak apa-apa 'kan Ri kalau gue yang anter?" Marcell tersenyum canggung, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dulu ia menyaksikan kemesraan keduanya, kini ia bisa melihat jika Raihan sudah tidak menginginkan Riana lagi. Tapi ia bisa apa, tidak mungkin ia ikut campur dalam permasalahan Raihan dan Riana.


"Iya, nggak apa-apa Cel. Makasih ya." Riana memaksakan senyumnya. Tidak mungkin juga ia mengharapkan Raihan yang mengantarkan dirinya, sebab kini di hati laki-laki itu sudah tersimpan nama wanita lain.


Riana kemudian bangkit dari duduknya setelah Macell keluar dari apartemen lebih dulu. Sebelum berlalu, Riana menoleh ke arah Raihan, laki-laki itu memunggungi dirinya dan berlalu masuk ke dalam kamar begitu saja. Lagi-lagi Riana harus kembali menelan pil kekecewaan.


Motor yang dikendarai oleh Marcell sudah tiba di tempat tujuan. Bukan di apartemen atau di rumah Riana, melainkan di tepi jalan yang tidak jauh dari gedung tempat mereka bekerja.


"Bener nih Ri, gue cuma nganter lo sampe sini aja?" Marcell memastikannya kembali. Padahal ia tidak keberatan jika mengantar mantan tunangan dari temannya itu sampai ke apartementnya.


"Iya Cel, disini aja. Aku di jemput sama temen aku." Riana menjelaskan dengan seulas senyum.


Marcell mengangguk saja, ia pun tidak akan memaksa. Namun ia memutuskan menemani Riana hingga temannya itu datang menjemput.


"Temen aku udah datang Cel. Aku pergi dulu ya, makasih banyak udah mau nganterin aku." Padahal Raihan saja sudah tidak peduli padanya. Riana melambaikan tangannya kepada Marcell, kemudian berlari kecil menuju motor yang sudah terparkir di tepi jalan.


"Ram...." Riana sudah berdiri di sisi motor Rama hingga membuat laki-laki terkejut. Terlebih Riana sudah berlinang air mata.


Rama segera turun dari motor dan memeluk teman masa kecilnya itu. Sebenarnya Marcell belum pergi dari sana, sehingga menyaksikan laki-laki itu memeluk Riana.


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2