
Fitri membuka pintu kamarnya setelah meletakan Alex di dalam box bayinya.
BI Sumi sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"BI Sumi? Ada apa Bi?" tanya Fitri.
"Mbak Fitri, tadi Bibi sudah tanya ke kurir, mengenai paket dari orang misterius itu, katanya Mbak Fitri bisa mengecek siapa pengirimnya itu di kantor ekspedisi!" jawab Bi Sumi.
"Oya? Kantor ekspedisi di mana Bi?" tanya Fitri antusias.
Bi Sumi kemudian menyodorkan secarik kertas pada Fitri.
"Ini alamatnya Mbak, di kasih sama kurir tadi!" sahut Bi Sumi.
"Oke Bi, besok aku coba datang ke kantor ekspedisi ini, penasaran siapa sih yang suka kirim paket untukku? Barangnya sih bagus-bagus, tapi kurang kerjaan banget deh!" ujar Fitri.
"Iya Mbak, coba saja datang, mudah-mudahan cepat ketahuan, kasihan pak Dokter, kalau melihat paket ini dia cemburu banget, pasti bawaannya urung-uringan!" sahut Bi Sumi.
"Kalau begitu besok pagi aku titip Alex ya Bi, aku mau minta Mang Salim yang mengantarku ke kantor ini!" kata Fitri.
"Siap Mbak, kalau begitu Bibi turun dulu ya, mau menemani Dina dan Dara, mereka baru selesai makan!" kata Bu Sumi yang langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Fitri kemudian kembali menutup pintu kamarnya, Alex masih terlihat nyenyak tertidur.
Lalu Fitri mulai berbaring di tempat tidurnya, banyak pikiran membuat Fitri menjadi sulit tidur.
Baru juga beberapa hari keluarga Fitri tinggal di rumah ini, sudah banyak sekali hal-hal aneh yang terjadi, Fitri tak berani membayangkan jika mereka akan tinggal lebih lama lagi.
Lama kelamaan Fitri mulai mengantuk dan akhirnya dia pun tertidur.
****
Cup!
Sebuah kecupan di keningnya mengejutkan Fitri yang tengah tertidur, dia pun langsung melonjak bangun dari posisi berbaringnya.
Dicky sudah berdiri sambil menggendong Alex di hadapannya sambil tersenyum padanya.
"Senang sekali melihat istri yang tertidur begitu nyenyak, maafkan aku ya sayang jadi membangunkanmu!" ucap Dicky sambil duduk di samping Fitri.
"Mas Dicky, sejak kapan kau pulang Mas?" tanya Fitri sambil mengucek kedua matanya.
"Sekitar sepuluh menit yang lalu, aku lihat Alex sudah terbangun, makanya aku menggendongnya!" jawab Dicky.
"Mas Dicky sudah makan belum? Yuk aku temani ke bawah!" tawar Fitri.
__ADS_1
"Aku belum lapar Fit, kebetulan tadi Ibu mengajakku makan di luar, setelah dari rumah sakit, jadi aku masih kenyang, nanti malam saja makannya!" tukas Dicky.
"Kalau begitu Mas Dicky duduk di sini dulu sama Alex, aku akan menyiapkan air mandi untuk mas Dicky!" kata Fitri yang langsung beranjak dari tempatnya menuju ke kamar mandi yang ada di ujung kamar itu.
Tak lama kemudian Fitri sudah kembali.
Dicky masih nampak menimang Alex dan mengajaknya berbicara, layaknya seorang Papa yang berbicara pada anaknya.
"Air hangatnya sudah siap Mas, sekarang kau mandi saja dulu!" ujar Fitri.
"Iya sayang, aku sedang bermain dengan Alex, bahagia sekali sepulang bekerja melihat buah hati yang begini lucu dan tampan!" ucap Dicky yang matanya tak berkedip memandang Alex.
"Iya, tapi Mas Dicky mandi dulu, aku juga mau memandikan Alex!" sahut Fitri.
Akhirnya Dicky kembali meletakan Alex di tempat tidurnya, kemudian dia langsung beranjak menuju ke kamar mandi.
Fitri juga mulai membuka pakaian Alex untuk di mandikan nya di bak air hangat.
Tak lama kemudian Dicky dan Alex sudah selesai mandi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Harum khas bayi mulai tercium di ruangan itu, Dicky memperhatikan dengan seksama bagaimana Fitri dengan cekatan membalurkan minyak telon dan bedak bayi di sekujur tubuh Alex, kemudian dia mulai memakaikan Alex pakaian.
"Berikan padaku Fit, aku sangat ingin menggendongnya!" pinta Dicky. Alex yang baru mandi kelihatan segar dan wangi, membuat siapa saja pasti ingin menggendongnya.
"Mas, besok pagi aku ijin mau ke kantor ekspedisi!" kata Fitri.
"Mau apa kau ke kantor ekspedisi?" tanya Dicky.
"Asal Mas Dicky tau, sampai sekarang aku masih menerima kiriman paket dari orang misterius itu, dan Bi Sumi sudah menemukan kantor ekspedisi tempat si pengirim mengirim paketnya!" jelas Fitri.
"Oya?? Kalau begitu besok aku ikut!" sahut Dicky.
"Untuk apa Mas? Bukankah kau ada pekerjaan yang lebih penting dari sekedar mengetahui siapa orang iseng itu?" tanya Fitri.
"Aku kan mau memberi pelajaran pada si sontoloyo itu! Enak saja memberikan hadiah untuk istri orang! Dia pikir aku tidak mampu untuk memberikan istriku barang-barang bagus!!" dengus Dicky.
"Kau ini Mas, sekarang sontoloyo, lalu bagaimana dengan si kampret??" goda Fitri.
"Sudahlah! Pokoknya besok aku mau ikut, titik!" cetus Dicky cemberut.
"Iya iya, duh yang lagi sewot! Untung masih ganteng Mas!" ledek Fitri sambil mencubit dagu suaminya itu.
Mereka pun kemudian keluar dari kamarnya dan turun dari tangga.
Aroma masakan untuk makan malam sudah tercium nikmat di indra penciuman semua penghuni rumah ini.
__ADS_1
Sambil menunggu makan malam mereka duduk berkumpul ruang keluarga dengan sofa yang sangat panjang dan luas, dengan sebuah televisi besar di depannya.
Bu Anjani nampak sudah duduk di sofa itu, melihat kedatangan Dicky dan Fitri, dia segera melambaikan tangannya.
"Sini cucu Oma! Dari tadi Oma tunggu-tunggu, duh sudah wangi ya!" Bu Anjani langsung mengambil Alex dari gendongan Dicky kemudian langsung mencium dan menimangnya.
Dina dan Dara nampak sedang mengerjakan tugas di ruangan itu juga, jadi kini ruangan itu terasa hangat, penuh suasana kekeluargaan.
Tiba-tiba Pak Bram dan Lina istrinya muncul dari arah depan, melewati ruang keluarga itu, di tangan Lina banyak sekali barang belanjaan.
"Kau dari mana saja Bram? Kebiasaan lamamu tidak berubah juga!" tegur Bu Anjani.
"Biasa Mbak!" sahut Pak Bram singkat.
"Mulai besok kau bisa olah lahan dari bagian warisanmu Bram, jadi kau tidak usah mengurusi rumah sakit lagi, karena sudah ada Dicky anakku yang mengelolanya!" ujar Bu Anjani.
"Tapi Mbak, bukankah aku masih boleh mengawasi di lapangan? Mbak Anjani sendiri yang bilang waktu itu!" sahut Pak Bram.
"Sekarang aku cabut kata-kataku waktu itu Bram, bukankah kau tau, dulu Mas Rahmat pernah mengatakan bahwa rumah sakit itu hanya putranya yang berhak untuk mengurusnya!" ucap Bu Anjani.
"Tapi Mbak ..."
"Sekarang putranya sudah ada di sini, dan siapapun tidak ada yang boleh merubah wasiat itu!" lanjut Bu Anjani.
Pak Bram terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi, namun dari sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit untuk di ungkapkan dan di gambarkan.
"Baik Mbak!" sahut pak Bram yang langsung kembali melangkah menuju ke kamarnya.
Bersambung ...
****
Halo guys ...
Di sini siapa yang punya aplikasi ungu?
Mampir yuk ke karya Author yang berjudul
"Cahaya Cinta Alina"
Di jamin Baper wkwkwk
Di tunggu dukungannya guys ...
Terimakasih ...🙏😘
__ADS_1