Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kondisi Pak Karta


__ADS_3

Fitri masih duduk menunggu di lobby rumah sakit itu bersama dengan Alex yang wajahnya terlihat mengantuk.


Sudah hampir setengah jam Fitri menunggu namun tidak ada ada kabar dari Dicky, Fitri mulai gelisah.


"Ma, Kok kita lama sekali menunggu disini? Papa di mana Ma? kita ke ruangannya saja yuk!" ajak Alex.


"Sabar sebentar lagi Alex, mungkin Papa masih sibuk, kalau Alex mengantuk, boboan saja di sini di pangkuan mama!" ucap Fitri sambil menepuk pahanya, supaya Alex bisa tiduran dipangkuannya.


"Tapi aku bosan mah, Yuk kita ke ruangan Papa saja yuk, aku capek lapar lagi!" rajuk Alex.


Fitri tidak dapat menolak ajakan putranya itu, wajar saja anak sekecil itu merasa bosan berada di lobby rumah sakit.


Kemudian Fitri menuntun Alex berjalan perlahan menuju ke lift, dia berniat akan langsung pergi ke ruangan Dicky.


Di dalam lift, Fitri bertemu dengan dokter Tika, seorang dokter anak yang sudah cukup senior di rumah sakit itu.


"Selamat siang Ibu Fitri, orang tua Ibu Fitri baru sampai tuh dari Jogyakarta, sekarang mereka sedang ada di ruang perawatan!" ucap dokter Tika.


"Terima kasih Dokter Tika, Kalau boleh tahu ada di ruangan apa ya? kelihatannya Mas Dicky masih sibuk!" tanya Fitri.


"Ruang perawatan orang tuanya Bu Fitri ada di lantai dua Bu, Langsung saja datang ke sana, ada di kamar VIP, kelihatannya dokter Dicky hari ini sibuk sekali, dia banyak menerima tamu di ruangannya." jawab dokter Tika.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Fitri keluar dari lift itu sambil menuntun Alex, karena sudah sampai di lantai 2.


Dia mengurungkan niatnya untuk ke ruangan Dicky, karena dia baru mendengar dari dokter Tika kalau orang tuanya ada di lantai 2 ruang VIP.

__ADS_1


Di lantai dua itu hanya ada satu ruangan VIP, Fitri langsung menuju ke ruangan itu, tak sabar rasanya Ia ingin melihat keadaan Pak Karta, setelah sampai Fitri langsung membuka pintu ruangan itu.


Pak Karta nampak berbaring di ranjang pasien, sementara Bu Eni menunggu di sampingnya.


Fitri kemudian langsung mendekati orang tuanya itu.


"Bapak, gimana keadaan Bapak? Bapak baik-baik saja kan kan?" tanya Fitri sedikit cemas, karena wajah Pak Karta terlihat sangat pucat.


"Fitri, bapakmu jangan diajak bicara dulu, Kata dokter dia harus banyak istirahat, yuk kita ngobrol di situ sama ibu!" sahut Bu Eni sambil menunjuk sofa yang ada di sudut ruangan itu.


Mereka kemudian beranjak duduk di sofa yang berada di sudut ruangan itu, Fitri langsung membaringkan Alex yang terlihat sangat mengantuk.


"Alex, sini boboan dekat nenek, nenek kangen sama Alex, Alena tidak ikut ya?" tanya Bu Eni sambil membelai rambut Alex.


"Dek Alena di rumah Nek, kata Mama Dek Alena masih kecil, jadi tidak boleh ke rumah sakit, kan di rumah sakit banyak virusnya!" jawab Alex.


"Bu, Apakah bapak dan ibu sudah bertemu Mas Dicky? sudah lama sampai di rumah sakit atau baru sampai Bu?" tanya Fitri.


"Kami belum lama sampai nak, tadi kami langsung dibawa ke ruangan ini ini atas perintah nak Dicky, tapi kami belum bertemu dengan Dicky, hanya seorang dokter yang memeriksa Bapak tadi, katanya Bapak harus sering dan rutin minum obat karena belakangan ini asma Bapak sering kambuh, malah sekarang terkena gejala stroke ringan, tangan dan kaki susah digerakkan, Kasihan bapak Fit! " ungkap Bu Edi.


"Bu, Ibu juga butuh istirahat, jangan terlalu mengkhawatirkan bapak, di sini kan banyak dokter dan perawat, kalau Ibu capek aku sudah siapkan 1 kamar untuk ibu di rumah, jadi bisa bergantian menjaga Bapak! " kata Fitri.


"Iya Fit, tapi Bapak sudah terbiasa dijaga sama ibu, nanti bapak jadi sungkan dan risih kalau dijaga orang lain, tidak apa-apa deh Ibu menjaga Bapak terus, lagi pula kan di sini tempatnya nyaman, Ibu bisa tidur di kasur yang empuk, anggap saja menginap di hotel!" ucap Bu Eni.


"Terserah Ibu saja deh, tapi aku tidak mau ibu juga ikut sakit karena kecapean menjaga Bapak, dulu kan Ibu juga pernah sakit! " sahut Fitri.

__ADS_1


"Fit, Ibu sudah sehat kok sekarang, kamu Jangan cemas, pokoknya Ibu mau sama Bapak saja, kecuali kalau Bapak sudah sembuh, baru pulang sama-sama ibu! " ungkap Bu Eni.


Fitri tidak dapat membantah lagi perkataan ibunya, selama ini Ibunya dan bapaknya memang selalu bersama, walau mereka memiliki temperamen yang berbeda dan watak yang berbeda, namun cinta di antara mereka menyatukan hati mereka, sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara mereka, bisa saling menerima dan memberi.


"Baiklah kalau begitu Bu, Ibu pasti capek kan dari perjalanan jauh, tunggu sebentar ya Bu, titip Alek sebentar di sini, aku mau beli makanan dulu di cafe bawah rumah sakit!" kata Fitri.


Alex nampak sudah tertidur di sofa itu, anak itu kelihatan lelah sekali, Fitri membelai rambut Alex kemudian membetulkan posisi tidurnya.


"Kenapa kau harus membeli makanan dibawah Fit? Bukankah bisa dipesan online saja?" tanya Bu Eni.


"Iya sih Bu, tapi aku sekalian mau mencari Mas Dicky, aku juga belum bertemu dengan dia, padahal aku sudah janjian! kalau begitu aku jalan sekarang ya Bu!" pamit Fitri. Bu Eni menganggukkan kepalanya.


Fitri kemudian beranjak keluar dari ruangan itu, sebelum dia turun ke bawah untuk membeli makanan dia berjalan ke arah ruangan Dicky.


Ruangan Dicky berada di lantai tiga, Fitri sengaja menaiki tangga untuk sampai ke ruangan Dicky, sambil melihat-lihat suasana rumah sakit yang siang itu nampak begitu ramai, dalam hati dia bangga terhadap suaminya dan prestasi yang diperbuatnya, sebagai istri, Fitri bangga memiliki suami seperti Dicky.


Setelah sampai di lantai 3, Fitri kemudian berjalan menuju ruangan Dicky yang berada ada di pojok koridor, lantai 3 lebih sepi daripada lantai dua, hanya terlihat beberapa orang perawat yang berjalan dan beberapa orang pengunjung, karena siang itu bertepatan dengan waktu berkunjung pasien.


Saat Fitri sudah sampai di ruangan Dicky ketika dia hendak membuka pintu kaca ruangan itu, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, dilihatnya Dicky sedang berbicara serius dengan seseorang.


Fitri tidak tahu siapa orang itu, tetapi dari belakang terlihat bahwa orang itu berambut panjang dan sudah dipastikan kalau itu adalah seorang wanita, tiba-tiba ada yang bergemuruh di dalam dada Fitri, mengapa Dicky berbicara dengan seseorang di dalam ruangannya? Tidakkah dia bisa berbicara di tempat umum saja?


Akhirnya Fitri mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan Dicky, dia kemudian kembali turun ke bawah, menuju ke cafe untuk membeli makanan sesuai janjinya pada Bu Eni.


Bersambung...

__ADS_1


****


Sekedar info, akhir tahun ini novel ini tamat ya guys, Author sudah menyiapkan novel terbaru yang pastinya tak kalah seru dengan cerita ini, yuk tetap dukung Author, terima kasih ...


__ADS_2