
Dicky mengusap bibirnya perlahan, di sudut bibirnya itu meneteskan darah.
"Dicky! Kau pulang saja sekarang! Donny sedang marah! Nanti kau kena imbasnya!!" jerit Anita.
"Anita! Kau masuk ke dalam rumah! Ini urusanku dengan Dokter itu! Kau istri tidak bisa menjaga dirimu sendiri, malam-malam keluar rumah dengan dia!! Masuk!!" hardik Donny.
Sambil menangis Anita lalu berlari masuk ke dalam rumah.
Dicky kemudian berdiri dari posisinya sambil mengusap wajahnya yang kini terlihat memar.
"Hei kampret! Aku tak punya urusan denganmu! Asal kau tau tadi istrimu menunggumu karena kau tak pulang-pulang, aku bertemu dengannya di halte saat dia keluar rumah untuk mencarimu! Suami macam apa kau! Membiarkan istri di luar malam-malam sendirian!! Dasar banci!!" maki Dicky.
Buggghh!!
Lagi-lagi bogem mentah mendarat di wajah Dicky, dia kembali jatuh tersungkur, namun dengan cepat dia segera bangkit dan membalas Donny dengan pukulan yang lebih keras, sehingga Donny jatuh terjerembab sambil meringis menahan sakit.
Tubuh dan pakaian mereka basah dan kotor terkena gerimis yang masih turun.
"Kurang ajar kau Dokter! Dari dulu aku selalu berurusan dengan mu! Sekarang kau malah jadi sok pahlawan di depan semua orang!!" sengit Donny.
"Lelaki sejati tidak akan lari dalam masalah dengan mencari kambing hitam! Kau pasti tau aku tak mungkin berhubungan dengan istrimu karena aku sangat mencintai istriku sendiri!!" cetus Dicky.
Donny terdiam, semua yang Dicky ucapkan memang benar, Donny jelas tau tidak mungkin Anita berselingkuh dengan Dicky, semua tuduhannya tanpa alasan, dia hanya mencari alibi untuk menutupi kelemahan dan rasa bersalahnya saja.
Donny lalu duduk bersimpuh sambil memukul tanah dengan tangannya, kemudian Donny menangis sambil menutupi wajahnya.
Dicky melihat sesuatu yang rapuh dalam jiwa Donny, suatu kepercayaan diri yang mulai habis terkikis.
Perlahan Dicky melangkah mendekati Donny, kemudian duduk di sampingnya.
"Kalau kau mau menangis, menangis saja sekarang! Kata orang laki-laki tidak boleh menangis, tapi aku kurang sependapat, laki-laki juga manusia yang punya hati dan perasaan!" ucap Dicky.
"Kau pulang saja Dokter! Untuk apa kau mengurusi aku? Aku tidak butuh petuahmu!" cetus Donny sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Aku tau kau sangat mencintai Anita, tapi kau hanya merasa tidak bisa memberikan dia yang terbaik, seharusnya kalau kau jantan, kau harus berbuat sesuatu yang membuat istrimu semakin sayang padamu, mertuamu semakin mengagumimu, semua itu bukan semata-mata karena uang, tapi bagaimana kita bisa bersikap bijak terhadap masalah!" ungkap Dicky.
__ADS_1
"Kau bisa saja bicara! Karena kau tidak berada di posisiku! Selama ini aku sudah berusaha berjuang, memberikan yang terbaik buat Anita, berusaha membahagiakannya, tapi toh aku tidak pernah di pandang, apalagi di hargai!" cetus Donny.
"Halah! Dasar Cemen! Kampret! Itu adalah jawaban pecundang! Nih, aku tanya sekarang, selama pernikahanmu dengan Anita, apa pernah kau memberikan hadiah untuk orang tua Anita??" tanya Dicky.
Donny menggelengkan kepalanya.
"Apa yang yang bisa aku berikan pada mertua matre seperti mereka, dari sejak awal selalu penghasilanku saja yang di sorot!" sahut Donny.
"Pemberian itu bukan semata-mata uang saja, contoh, kau bisa kan membelikan Ibu kebaya atau kain batik, di jamin kau pasti akan menjadi menantu kesayangannya, ku rasa kau mampu memberikan itu, atau kau berikan Bapak sepeda, supaya dia bisa sehat bersepeda di masa tuanya, ku jamin dia pasti akan sangat senang!" jelas Dicky.
"Apa mereka mau menerima pemberianku??" tanya Donny.
"Tentu saja mau, itu namanya kau perhatian pada mereka, mereka itu sudah tua, hanya perhatian dari anak, mantu dan cucu mereka yang mereka butuhkan, bukan uang atau harta! Aku harap kau mengerti!" ujar Dicky.
Donny nampak termenung mendengarkan penjelasan dan ucapan Dicky yang di rasa ada benarnya.
"Tapi seringkali, ucapan dari Ibu sangat menyinggung dan menyakiti hatiku, dia selalu membandingkan profesi Dokter dengan Guru!" kata Donny.
"Jika kau menuruti saran ku tadi, aku jamin dia tidak akan pernah mengatakan itu lagi, soal mulut Ibu, kita tidak berhak untuk menghakimimya, biarlah anak-anak mereka saja yang menegurnya, sebagai menantu, apa yang bisa kita berikan dan lakukan, lakukan bagian kita dengan sepenuh hati!" ucap Dicky.
"Terimakasih Dokter! Tidak di sangka kau sangat bijaksana, tidak heran kalau kau selalu jadi menantu kesayangan mereka!" kata Donny.
Donny juga nampak beranjak dari duduknya, kemudian dia memeluk Dicky.
"Maafkan aku Dokter, kau benar, aku memang pecundang!" ucap Donny.
"Hush! Jaga ucapanmu! Mulai sekarang perkatakan hal yang positif, supaya hidupmu juga positif! Kalau kau dan Anita bahagia, kurasa tak lama lagi kalian akan memiliki bayi!" sahut Dicky.
"Benarkah??"
"Pegang kata-kataku!" Dicky kemudian melangkah menuju ke mobilnya yang terparkir.
Tak lama kemudian mobil itu bergerak dan meninggalkan rumah itu dalam keheningan malam yang kembali datang, dengan gerimis yang mulai reda
Donny melangkah masuk ke dalam rumah itu, rumah yang bahkan tak pernah sedikitpun di ungkit oleh Dicky.
__ADS_1
Anita nampak duduk menangis di sofa ruangan yang sepi itu.
Donny kemudian langsung memeluk Anita dengan erat.
"Maafkan aku, maafkan aku sayang, jangan menangis lagi!" ucap Donny dengan mata yang memerah menahan air mata yang hendak tumpah.
Hatinya sakit melihat wanita yang di cintainya menangis sedih hanya karena perbuatan dan tuduhannya.
"Aku sama sekali tidak ada apapun dengan Dicky, kau harus percaya padaku, seharian ini aku sibuk mencarimu, aku takut sesuatu terjadi padamu, aku mengubungi semua teman-teman kerjamu, tapi tidak ada yang tau di mana keberadaan mu!" Isak Anita.
"Ssst, maafkan aku! Mulai sekarang, kita mulai lagi dari awal, ijinkan kan aku belajar lebih lagi mencintaimu, mencintai apa adanya dirimu, juga mencintai keluargamu!" bisik Donny.
Anita Menganggukan kepalanya sambil merebahkan kepalanya di dada Donny.
Donny kemudian mengangkat Anita dan membawanya ke tempat peraduan malamnya.
Di sanalah kembali benih-benih cinta di taburkan (bunga kali 😁)
Sementara Dicky baru saja sampai di depan sekolah, terlihat olehnya kedai sate yang terlihat baru akan di tutup, dengan cepat Dicky turun dari mobilnya dan berjalan cepat menuju ke kedai sate itu.
"Satenya masih ada Bang?" tanya Dicky.
"Yah Mas, arang nya sudah di matikan, sudah mau tutup ini, lagian sudah sepi juga!" jawab si Abang penjual sate.
"Tapi satenya masih ada tidak??" tanya Dicky lagi.
"Ya masih Mas, tapi kan arang nya sudah mati, lama lagi kalau di nyalakan, satenya juga cuma sisa sepuluh tusuk!" sahut si Abang sate.
"Tolong Bang, nyalakan saja arang nya, saya bayar deh sepuluh kali lipat, asal buatkan sate yang enak buat istri saya!" kata Dicky.
"Serius nih mau bayar sepuluh kali lipat??" tanya si Abang sate tak percaya.
"Ya serius lah, nih uangnya nih!" Dicky menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Dengan semangat si Abang sate kembali menyalakan Arang untuk membakar sate yang sisa sepuluh tusuk itu.
__ADS_1
Bersambung ...
****