Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Keinginan Seorang Dicky


__ADS_3

Dicky terdiam menyadari dia telah mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan.


Pada saat Keyla datang ke klinik dan menggodanya, Dicky sengaja tidak menceritakannya pada Fitri, supaya Fitri tidak berpikir macam-macam.


Namun sekarang malah dia mengatakannya sendiri dengan mulutnya.


"Lho kok diam Mas? Kenapa tidak menjawab aku? Jadi benar ya kau sudah pernah melihat Keyla yang seksi itu dan ... dan ..." Fitri terdiam tidak sanggup melanjutkan lagi kata-katanya.


"Ssst, nanti aku jelaskan, sekarang ayo kita keluar dari sini, tidak enak di dengar Ibu, Ken, kau jaga baik-baik Ibuku! Awas saja kalau kau berbuat ulah!" ujar Dicky sambil menuntun Fitri keluar dari ruangan itu.


Ken hanya tertawa menyeringai melihat Dicky yang nampak panik untuk menjelaskan ke istrinya itu.


"Kenapa Mas Dicky tidak bilang-bilang waktu Keyla datang dan menggodamu? Kau menikmatinya ya? Kau takut kalau kau bilang aku aku akan melabrak Keyla?? Iya Mas??" Fitri memberondong Dicky dengan banyak pertanyaan.


"Aduuuh, kau ini banyak tanya deh, kan aku sudah bilang kalau dia menggoda aku seperti pelacur jalanan, mana mau aku sama pelacur jalanan!" jawab Dicky.


"Tapi tetap saja kau sudah terlanjur melihatnya kan??" tanya Fitri cemberut.


"Aku punya mata Fit, ya kalau aku melihat tanpa sengaja aku rasa itu hal yang wajar, kecuali kalau aku buta!" cetus Dicky.


"Tuh kan benar!"


Fitri lalu terdiam mendengar ucapan suaminya itu, dia juga tidak yakin Dicky akan mudah tergoda dengan wanita, yang Fitri tau Dicky hanya pernah mencintai wanita dua kali dalam hidupnya, dulu dengan Ranti, sekarang dengan dirinya.


Mereka lalu sampai parkiran dan mulai masuk ke dalam mobil, Dicky langsung menyalakan mesinnya dan melaju meninggalkan rumah sakit itu.


"Jadi kau percaya padaku kan?" tanya Dicky.


"Iya Mas, maaf ya, soalnya aku ... aku tidak suka kau melihat ..."


"Lebih seksi punya kamu Fit, Keyla tidak ada apa-apanya di banding kamu, dadanya nyaris rata, sedangkan kamu, hmm ... tidak muat se telapak tanganku, bahkan aku bisa menghisapnya dengan sepuas hatiku, selalu memuaskan dan mengenyangkan!" ucap Dicky sambil membayangkan apa yang di ucapkannya.


"Cukup! Hentikan pikiran mesum mu itu!" cetus Fitri malu.


"Lho, aku kan cuma menjawab pertanyaan mu saja Fit, kenapa kamu malah sewot?" tanya Dicky sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Fitri.


"Sudah! Aku tak akan bertanya lagi!" sahut Fitri.


"Kau tau tidak, saat Keyla melakukan itu padaku, dalam hati aku tertawa, dia belum tau kalau servis istriku sangat luar biasa, saat aku lihat dia, burungku biasa saja tuh, tidak bereaksi sama sekali, dia juga tau mana yang seksi atau tidak!" lanjut Dicky.


"Bisa diam tidak Mas?! Aku kan sudah bilang stop jangan di bahas lagi!" sahut Fitri.

__ADS_1


"Tapi kalau si burung melihatmu sehabis mandi, tanpa di komando dia langsung bereaksi, seolah dia mau menunjukan kehebatannya di depanmu, ya, hanya di depanmu saja dia bisa on!" bisik Dicky sambil tersenyum.


"Cukup Mas! Aku tidak mau mendengar cerita burung pagi-pagi! Lebih baik kau fokus menyetir saja, aku juga mau siap-siap pergi ke sekolah!" ujar Fitri.


"Hari ini ijin lagi ya Fit, aku lagi butuh kamu nih!" ucap Dicky tiba-tiba.


"Lho, kenapa aku harus ijin? Apa alasanku untuk ijin? Aku punya tanggung jawab Mas, terhadap murid dan sekolah!" jawab Fitri.


"Aku rasa pendapatan ku di klinik sekarang sudah lebih dari cukup, kau tidak perlu lagi mengajar di sekolah, di rumah saja, menjadi Ibu untuk anak-anakku dan melayani aku!" ucap Dicky.


"Mas, apa kata Pak Jamal nanti, aku keluar masuk sekolah seolah-olah sekolah hanya tempat permainan, aku juga tidak enak dengan guru-guru yang lain, lagi pula mengajar bukan hal yang melelahkan, aku hanya bekerja selama setengah hari saja, sisanya aku bisa melayani kalian dengan sesuka hatiku!" ungkap Fitri.


"Baiklah sayang, kalau kau suka mengajar kau mengajarlah dengan sepenuh hatimu, tapi sebelum kau berangkat mengajar nanti, layani dulu kebutuhan si burung!" ujar Dicky.


Fitri menepuk jidatnya frustasi.


****


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka tiba di rumahnya.


Mereka kemudian langsung masuk dan duduk di ruang makan untuk sarapan, hidangan nasi goreng untuk sarapan sudah tersedia di meja makan itu, Dina dan Dara juga sudah duduk terlebih dahulu di sana.


Bi Sumi muncul dari arah dapur sambil menggendong Alex.


"Fit, cepat habiskan makananmu, setelah ini ikut aku ke kamar!" bisik Dicky.


"Mas Dicky apa-apaan sih? Ini sudah jam berapa Mas? Nanti aku akan terlambat sampai sekolah!" sahut Fitri.


"Sebentar saja, satu kali putaran!" bisik Dicky lagi.


"Mana bisa di percaya janjimu itu? Kau seringkali tidak sesuai janji!" tukas Fitri.


"Untuk kali ini aku serius Fit, selamatkan si Burung dari sabun mandi!" lanjut Dicky.


Fitri tidak menjawab lagi, dia tau dalam hal ini Dicky pasti menang.


"Dina dan Dara berangkat duluan bareng sama Mang Salim ya, biar Mama nanti Papa yang mengantar!" titah Dicky.


"Memangnya Mama mau ngapain Pa?" tanya Dara.


"Itu bukan urusan anak kecil, pokoknya kalian berangkat duluan saja, oke? Nanti Papa kasih hadiah!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Horeee!" seru mereka bersamaan.


Mereka kemudian langsung beranjak dan berjalan ke depan naik ke mobil yang sudah di siapkan Mang Salim.


Bi Sumi menatap heran pada Dicky dan Fitri.


"Mbak Fitri mau keluar lagi?" tanya Bi Sumi.


"Bukan Bi, mau ke kamar!" sahut Dicky yang langsung menggandeng Fitri naik ke atas menuju ke kamarnya.


Fitri hanya diam saja dengan wajahnya yang merah padam menahan malu.


"Alex sini sama saya saja kalau mau ke kamar!" seru Bu Sumi.


"Berikan Alex pada Bi Sumi dulu Fit, sepertinya Bi Sumi paham apa tujuan kita!" ucap Dicky.


Fitri kemudian menoleh dan langsung memberikan Alex pada Bi Sumi tanpa bicara lagi.


Dicky tersenyum dan kembali merangkul bahu Fitri menuju ke kamarnya, dari jauh Bi Sumi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Waktuku tidak banyak Mas, tinggal 15 menit untuk kau menuntaskan keinginanmu!" ujar Fitri.


"Hmm, untuk seorang Dicky, mana cukup 15 menit, tapi apa daya, ini burung sudah meronta sedari tadi!" sahut Dicky yang mulai memainkan aksinya.


Bersambung ....


****


Note Author :


Cerita ini hanyalah untuk hiburan semata ya guys ...


Jadi jangan terlalu pusing bagaimana alurnya, kapan endingnya atau konfliknya ...


Sebenarnya kalau mau di perhatikan setiap konflik selalu selesai, semua itu hanyalah bagian dari cerita.


Author menulis panjang hanyalah untuk memenuhi target dari noveltoon, jadi mungkin akan tamat di eps 300.


Dan author juga ingin memecahkan rekor novel terpanjang yang author buat sebelum menulis cerita berikutnya.


Tetap dukung Author yuk ...😘😁

__ADS_1


Terimakasih ...


__ADS_2