Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Korban Tabrak Lari


__ADS_3

Beberapa orang nampak menggotong tubuh seorang pria masuk ke dalam klinik itu.


Wajahnya penuh darah karena kena aspal, kaki kirinya patah.


Dicky lalu membuka pintu ruangannya dan menyuruh orang-orang itu menaruh si korban tabrak lari itu ke atas ranjang pasien.


"Sus, segera telepon ambulan dan bawa dia ke rumah sakit besar!" titah Dicky.


"Baik Dok, untuk pertolongan pertama di obati saja dulu luka luarnya, sesuai dengan stok obat-obatan yang kita punya!" ujar suster Wina.


"Iya, siapkan obatnya! Aku akan periksa lukanya!" ujar Dicky.


"Lah, saya telepon ambulan dulu atau ambil obat dulu nih Dok?" tanya Wina.


"Kau ini gimana sih? Ambil obat dulu, setelah itu baru telepon ambulan!" sahut Dicky.


"Ashiap Dok!" ujar Wina yang langsung ke rak obat untuk mengambil obat-obatan yang di perlukan.


Saat Dicky membersihkan luka di wajah pria itu, matanya terbelalak lebar ketika Dicky mengenal siapa orang itu.


"Hah?? Kau Sontoloyo!!" seru Dicky saat melihat ternyata si Agus yang jadi korban. tabrak lari.


Agus nampak meringis menahan sakit, wajahnya terlihat pucat, banyak luka memar dan gesekan aspal di pipi dan dahinya.


Sementara kaki yang di sebelah kiri patah tulang karena terlindas mobil.


"Aduuuh ... sakiiit, Tolooong!" rintih Agus.


"Selama ini kau yang sudah meneror istriku dengan paket murahan mu itu! Sekarang aku malah harus menolongmu!" dengus Dicky.


"Lho Dok, kok berhenti membersihkan lukanya?? Nanti infeksi Lho Dok! Apa Dokter mengenalnya??" tanya Wina.


"Bukan kenal lagi! Sekarang kau teruskan membersihkan lukanya Sus! Aku tak Sudi memegang wajahnya!" sahut Dicky.


"Dih, kok Dokter segitunya, biasanya Dokter selalu menolong pasien tanpa memandang bulu!" ujar Wina.


"Kecuali dia!" cetus Dicky.


Dengan kesal Dicky segera masuk ke dalam rumahnya, Wina hanya bisa memandang kepergian Dicky dengan terheran-heran.


Dicky lalu duduk di ruang makan rumahnya sambil bertopang dagu, seandainya saja Agus tidak dalam keadaan terluka, pastilah sudah habis di hajarnya.


"Pak Dokter kenapa? Kok kusut wajahnya?" tanya Bi Sumi yang terlihat sedang menyuapi Alex.


"Bi, tolong buatkan aku kopi panas dong, siapa tau emosiku langsung reda!" pinta Dicky.


"Sebentar Pak Dokter, ini tanggung Alex sedang makan!" jawab Bi Sumi.


"Sini Alex berikan padaku!" kata Dicky sambil mengulurkan tangannya.


Bi Sumi lalu memberikan Alex pada dicky lalu dia mulai membuat kopi panas.


"Pak Dokter belum buka praktek?" tanya Bi Sumi.


"Sebentar lagi Bi, masih ada sontoloyo di sana!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Sontoloyo siapa sih?"


"Siapa lagi kalau bukan peneror murahan!" sungut Dicky.


Bi Sumi semakin bingung, lalu dia kembali menggendong Alex dan mulai menyuapinya lagi.


Sementara Dicky langsung meneguk kopi panas itu.


"Aww! Panas!" serunya sambil mengipasi bibirnya yang sedikit melepuh karena kopi panas itu.


Bi Sumi hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sayup-sayup terdengar suara ambulan yang semakin lama semakin mendekat.


"Yess! Akhirnya Sontoloyo pergi juga!"


Dicky kemudian beranjak dari tempatnya menuju ke kliniknya.


Suster Wina nampak sedang memberikan perban di wajah dan kepala Agus.


"Hei, setelah ini kau akan di bawa ke rumah sakit ya, di sana kau akan mendapat pelayanan yang lebih baik!" ujar Dicky pada Agus.


"Aku tidak menyangka, suaminya Fitri galak sekali! Pantas saja di sangat takut aku dekati!" ujar Agus.


"Sekali lagi kau mendekati istriku, ku patahkan kakimu yang satu lagi!!" sengit Dicky.


"Kau membuatku takut Dokter!" sahut Agus.


"Asal kau tau, aku hanya galak pada orang yang mengusik istriku! Setelah ini aku harap kau segera menghilang dari muka bumi!" seru Dicky.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan mendekati saudara kembar Fitri, sebenarnya tadi aku mau ke sini, ketemu sama kembaran Fitri, namun apes! Di jalan aku malah di tabrak orang!" sungut Agus.


"Lupakan keinginanmu bung! Kembaran istriku itu hanya milik si kampret!" seru Dicky.


"Siapa lagi kampret?" tanya Agus yang kini mulai di gotong ke dalam ambulan.


"Yang pasti dia lebih berkualitas dari kamu!!" sahut Dicky.


Mobil ambulan itu langsung meluncur menuju ke rumah sakit.


"Lho, kenapa aku jadi membela si kampret ya!?" gumam Dicky sambil menggaruk kepalanya.


****


Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, Fitri dengan cepat menyelesaikan tugas kelasnya, setelah itu dia langsung menuju ke ruang guru.


Beberapa guru sedang beristirahat, sebagian juga sudah ada yang pulang.


Fitri duduk dan membereskan beberapa buku tugas murid di atas meja kerjanya.


Rasanya dia ingin cepat-cepat sampai di rumah.


"Bu Fitri kelihatan terburu-buru sekali!" sapa Pak Riko yang baru masuk ke ruangan itu.


"Iya Pak, maklum nih Ibu rumah tangga, ingat anak saja bawaannya!" sahut Fitri.

__ADS_1


"Tak terasa ya Bu, sudah punya anak saja, saya istri saja belum punya!" kata Pak Riko.


"Makanya di cari dong Pak! Keburu jadi perjaka tua!" celetuk Bu Erna yang sejak tadi diam saja di mejanya.


Tiba-tiba Dara masuk mencari Fitri, Fitri lalu mengambil tasnya dan mulai berdiri dari tempatnya.


"Saya duluan ya Pak, Bu!" pamit Fitri.


Sambil menuntun Dara Fitri turun dan langsung menuju ke parkiran, Mang Salim sudah menunggu di dalam mobil.


"Kita langsung pulang ya Mang, nanti setelah itu tolong jemput Dina!" kata Fitri.


"Siap Mbak Fitri!" jawab Mang Salim yang langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah.


Sesampainya di rumah, sudah ada tulisan Istirahat di pintu kaca klinik Dicky, Fitri tersenyum.


Fitri langsung masuk ke dalam rumah, melihat Mamanya datang, Alex yang kini sedang ada di baby Walker tertawa dan langsung berjalan menghampiri Fitri.


"Eh, anak Mama sudah pintar datang sekarang, kangen ya sama Mama!" Fitri langsung mengangkat Alex ke dalam gendongannya.


"Iya dong Mama!" sahut Bi Sumi yang ada di belakang Alex mengawasi dan mengikuti gerak Alex.


"Hati ini dia tidak rewel kan Bi?" tanya Fitri.


"Tidak dong, sejak pagi dia banyak di gendong Papanya!" sahut Bi Sumi.


"Papanya?"


"Iya Mbak, sejak pagi Pak Dokter kelihatan kesal, gara-gara ada sontoloyo katanya!" ujar Bi Sumi sambil menggaruk kepalanya karena bingung sendiri.


"Sontoloyo?! Jangan-jangan ..." Fitri menghentikan ucapannya. Takut tebakannya menjadi kenyataan.


Bu Eni, Pak Karta dan Anita nampak sedang mengobrol di ruang keluarga, Fitri langsung datang menghampiri dan duduk bergabung dengan mereka.


"Kau sudah pulang Fit?" tanya Pak Karta.


"Iya Pak, Mas Dicky mana ya, kok tidak kelihatan?" tanya Fitri.


"Tadi sih katanya mau ke sekolah mana gitu, makanya kliniknya istirahat!" jawab Bu Eni.


"Pasti mau mencari informasi soal Pak Donny!" gumam Fitri.


"Fit, sepertinya Bapak dan Ibu besok pulang ke Sukabumi, Bapak tidak tenang meninggalkan sawah dan kebunnya, juga ternaknya!" kata Bu Eni.


"Lalu, Anita bagaimana?" tanya Fitri.


"Itulah Fit, kami sedang menanyakan ke Anita, dia mau ikut kami pulang ke sukabumi atau tetap tinggal di sini!" sahut Bu Eni.


Fitri terdiam, kalau Anita tetap tinggal di sini, Dicky pasti tidak akan setuju. Tapi kalau Anita ikut Ibu dan Bapak, tidak tau apakah Anita mau atau tidak tinggal di kampung pedalaman.


Anita nampak sedang menulis sesuatu di buku hariannya itu.


Bersambung ...


****

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys ...


Author sering lupa promosi dan minta dukungan hehehe 😘😉🙏


__ADS_2