
Siang itu sepulang Fitri mengajar, dia langsung berkemas untuk berangkat ke Sukabumi, menjenguk orang tuanya.
Mang Salim juga nampak sudah siap mengantar Fitri.
"Mama, lama tidak pulang kampungnya?" tanya Dara yang terlihat berat melepas Fitri.
"Tidak kok, paling lama dua hari!" sahut Fitri.
"Yah, lama dua hari!" sungut Dara.
"Sebentar itu Dek, kasihan Mama, kan dia mau ketemu sama Nenek dan Kakek!" timpal Dina yang nampak lebih dewasa.
"Nanti kalian di rumah bantu Bi Sumi ya, masak, cuci piring, jemur pakaian, juga bantu Papa bersihkan klinik setiap pagi, kaca di lap, lantai di pel!" ujar Fitri.
"Siap Ma!" sahut Keduanya.
"Kalian memang anak-anak pintar!" puji Fitri sambil mengusap rambut keduanya.
"Ini tas bayi dan semua perlengkapan Alex, semua ada di dalam sini ya mbak!" kata Bi Sumi sambil menyodorkan sebuah tas bayi besar berisi kebutuhan dan perlengkapan Alex.
"Iya Bi, terimakasih!" ucap Fitri.
Mang Salim mengambil tas itu dan menaruh semua barang-barang Fitri ke dalam bagasi.
Dicky yang baru selesai memeriksa pasien langsung bergegas menghampiri Fitri.
"Mas, aku berangkat ya!" pamit Fitri sambil mencium tangan suaminya itu.
Dicky langsung memeluk Fitri dengan erat.
"Mana bisa aku tidur tanpa mu Fit!" bisik Dicky sambil memeluk Fitri dengan erat.
"Mas Dicky jangan lebay ah, dulu juga sebelum kita menikah kau sendirian terus!" sergah Fitri.
"Itu kan dulu Fit, sekarang aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu, makanya aku tidak bisa kehilanganmu!" ucap Dicky.
Fitri lalu berjinjit dan mencium kedua pipi Dicky.
"Nanti setelah sampai aku langsung menelepon mu!" bisik Fitri.
Fitri kemudian melepaskan pelukan Dicky dan langsung naik ke dalam mobilnya itu, sementara Mang Salim sudah siap di dalam mobil.
Perlahan mobil itu pun bergerak meninggalkan rumah Dicky.
__ADS_1
"Dokter kelihatannya sayang sekali dengan Bu Fitri, saya jadi iri!" ujar Wina yang tiba-tiba sudah berada di belakang Dicky.
"Yah, begitulah Sus, namanya juga suami istri, nanti kalau kamu sudah menikah kamu akan mengalaminya juga!" sahut Dicky.
"Padahal dulu Dokter kan tidak bersungguh-sungguh untuk menikahi Ibu Fitri, cuma sekedar menyelamatkan dirinya!" ujar Wina.
"Itulah keajaiban cinta Sus, seringkali orang menganggap cinta ada di atas segala keindahan dan kebahagiaan, namun aku mengalami kalau cinta juga bisa hadir di atas luka, dan karena cinta luka itu kini menjadi sembuh!" ucap Dicky.
"Saya salut sama Dokter, bukan hanya dalam hal kemanusiaan, dalam hal percintaan Dokter juga luar biasa!" puji Fitri.
"Kau ini Sus, lebih baik kau lihat sana, apakah ada pasien yang datang? Aku mau menelepon Istriku dulu, sudah sampai mana dia!" kata Dicky yang segera beranjak dari tempat itu.
"Lah, baru juga Bu Fitri berangkat, pastinya masih ada di Jakarta lah!" gumam Wina yang langsung kembali berjalan ke arah klinik.
****
Malam itu setelah Dicky menutup kilinik nya, Suster Wina juga sudah pamit pulang, Dicky kembali menghempaskan tubuhnya di kursi kerja kebesarannya.
Rasanya lelah memeriksa pasien yang mengantri begitu panjang hari ini.
Dia mulai mengambil ponselnya dan menelepon Fitri, belum satu hari Fitri pergi, rasanya begitu rindu setengah mati.
"Halo Mas!" Fitri tersenyum sambil melambaikan tangannya melalui video call.
"Ya ampun Mas, ya tidak apa-apa lah, rejeki itu Mas!" sahut Fitri.
"Alex sedang apa Fit?" tanya Dicky.
"Alex sedang main sama kakek dan neneknya, dia kelihatan senang, mungkin karena suasana pedesaan yang adem membuat dia nyaman!" jawab Fitri.
"Syukurlah, Gimana kondisi Bapak?"
"Bapak memang agak kurusan, tapi sekarang dia sudah lebih baik, bisa bercanda sama Alex, kata Ibu, efek kangen sama cucu!" sahut Fitri.
"Oh, maafkan aku ya Fit, tadi aku lupa menitipkan amplop buat Bapak dan Ibu!"
"Tidak apa-apa Mas, kau ini, kan tiap bulan kau masih rutin memberi pada mereka, itu sudah cukup Mas!" tukas Fitri.
"Di sini aku kesepian Fit, aku kangen, biasanya ada suara Alex yang menangis, biasanya ada yang selalu memijiti tubuhku kalau capek!" keluh Dicky.
Fitri tertawa mendengar keluhan manja suaminya itu.
"Mas Dicky, tahan dulu atuh kangennya, eh, sudah dulu ya Mas, Alex kelihatannya menangis minta nyusu, nanti malam sebelum tidur aku telepon lagi oke!" Fitri kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya, Dicky mendengus kesal.
__ADS_1
Baru saja Dicky hendak beranjak dari tempat itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kaca kliniknya.
Perlahan Dicky bangun dan melangkah mendekati pintu, lalu membukanya dengan hati-hati.
Matanya melotot saat melihat siapa orang yang kini berdiri di hadapannya.
"Keyla?!!" seru Dicky kaget.
"Halo Dicky, akhirnya aku bisa juga menemukan klinik barumu ini, hmm ... sempit sih, tapi lumayanlah!" ujar Keyla yang matanya nampak menjelajah ke seluruh isi klinik itu.
"Mau apa kau datang ke sini?? Kita tidak punya urusan apa-apa bukan??" tanya Dicky.
"Kau ini bagaimana Dicky, aku ini tamu, kenapa kau tidak mempersilahkan aku masuk dan duduk dulu, malah mengintrogasi aku!" cetus Keyla.
"Kau tidak boleh masuk, ini sudah malam dan klinik ini sudah tutup, jadi tidak ada alasan untuk aku menerima tamu malam-malam!" tegas Dicky.
"Kau ini sombong sekali, apa kau tidak rindu pada Ibumu??" tanya Keyla.
Dicky terdiam, sesungguhnya dia juga sangat merindukan ibunya, namun dia juga tidak bisa terlalu sering mengunjunginya.
"Ibu ... bagaimana keadaannya?" tanya Dicky lirih.
"Ibumu masih sama, tetap di tempat tidurnya, menjalani pengobatan, tanpa bisa berbuat apapun!" sahut Keyla.
"Besok aku akan menjenguknya!" ujar Dicky.
"Oke, terserah, aku kesini hanya ingin mengobrol denganmu, apakah kau ada waktu?!" tanya Keyla yang langsung nyelonong masuk tanpa permisi dan duduk di bangku tunggu itu.
"Aku tidak ada waktu, karena setelah ini aku mau istirahat!" sahut Dicky.
"Setidaknya luangkan sedikit waktumu untukku, aku hanya minta tidak lebih dari lima belas menit!" kata Keyla.
"Apa yang mau kau bicarakan?? Cepat katakan!" sengit Dicky.
"Kau ini galak sekali, tapi anehnya semakin galak aku semakin penasaran, seperti apa sih watak Dokter Dicky yang selalu di puji-puji orang itu?" ujar Keyla sambil tersenyum santai.
"Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi, sebaiknya kau pulang sekarang, atau aku akan memanggilkan satpam untuk mengusirmu!!" Ancam Dicky.
Keyla kemudian bangkit dari duduknya, dia melangkah mendekati Dicky yang masih berdiri di sudut ruangan itu, dia menatap Dicky dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Aku hanya ingin menguji mu Dok, apakah dengan ini, kau masih bisa bersikap galak dan tak ramah terhadapku??" ucap Keyla sambil mulai membuka kancing kemejanya satu persatu hingga terlepas seluruhnya.
Bersambung ....
__ADS_1
****