Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Ketegasan Dicky


__ADS_3

Pak Dirja masih nampak berdiri menunggu jawaban Dicky atas penawaran kerjasama yang baru saja di utarakan nya.


Sebenarnya Dicky kurang tertarik membahas itu, selama ini dia tidak pernah mengalami kendala apapun mengenai rumah sakit ini.


Berada di bawah pimpinannya rumah sakit ini semakin maju dan berkembang, bahkan sudah menjadi rumah sakit contoh terbaik se Asia tenggara.


Namun dia juga harus belajar menghargai penawaran orang lain, di situlah terletak kebijaksanaan Dicky.


"Bagaimana Dokter Dicky? Aku ini rekan bisnis Ayahmu sejak lama, juga pengacara pribadinya, namaku akan berpengaruh pada masa depan rumah sakit ini, siapa yang tidak kenal Pak Dirja, pengacara kondang, yang berjaya di masa keemasannya!" ujar Pak Dirja sedikit mengejutkan Dicky.


"Maafkan saya Pak Dirja, di negara ini, banyak rumah sakit lain yang jauh lebih baik dari pada rumah sakit ini, lagi pula sejak jaman Ayah saya, rumah sakit ini berdiri tanpa ada suntikan dana dari pihak manapun, dan saya akan tetap menjalankan apa yang telah beliau wariskan untuk saya!" jawab Dicky.


Pak Dirja nampak manggut-manggut sambil mengelus janggutnya yang menjuntai panjang.


"Hmm, baiklah, bagaimana kalau kau menanam saham di perusahaan ku, aku punya perusahaan tambang di Papua, jadi kau juga bisa mendapatkan keuntungan melalui perusahaanku itu, kau tau, perusahaan tambang yang ku miliki berskala internasional, bukan perusahaan ecek-ecek!" ucap Pak Dirja.


"Berikan kesempatan saya untuk berpikir Pak, saat ini saya masih memikirkan Alex, sejak semalam dia rewel, jadi mohon maaf kalau ucapan saya kurang berkenan, harap maklum!" ujar Dicky.


"Kenapa kau tidak mencari pengasih unyuk anakmu ini Dokter? Kurasa kau mampu hanya untuk membayar seorang pengasuh!" tanya Pak Dirja.


"Terimakasih untuk masukannya Pak, nanti saya akan mempertimbangkannya kembali!" sahut Dicky.


Tiba-tiba Alex terbangun dan langsung menangis mendengar suara berisik orang mengobrol.


"Maaf Pak, mungkin Alex lapar, sepertinya saya harus menyuapinya sekarang!" kata Dicky yang berharap Pak Dirja dan Keyla segera pergi dari ruangan itu.


"Baik, kalau begitu kami pamit dulu Dokter, terimakasih!" ucap Pak Dirja.


"Dicky, kalau kau butuh pengasuh, kau hubungi saja aku, aku bersedia kok jadi pengasuh anakmu, walau kau tak menggaji ku sama sekali!" ujar Keyla dengan senyum nakalnya.


"Key! Jaga ucapanmu!" hardik Pak Dirja.


Mereka kemudian segera keluar dari ruangan itu.


Dicky dan Fitri menarik nafas lega.


"Ah, syukurlah mereka sudah pergi! Kalau bukan karena Pak Dirja adalah teman Ayahku, sudah sejak tadi aku usir mereka!" sungut Dicky.


Fitri kemudian mulai mengambil makanan Alex dan mulai menyuapinya, sementara Alex tetap berada dalam pangkuan Dicky.

__ADS_1


Mungkin karena lapar, Alex dengan cepat menghabiskan makanan nya.


"Wah, anak pintar, pasti Alex akan cepat sembuh nanti!" puji Dicky sambil mencium pipi Alex.


"Ya Pa!" jawab Alex yang sudah mulai pandai bicara itu.


"Sekarang Alex minum obat ya, nanti siang kalau Alex sembuh, kita pulang kerumah!" ujar Fitri sambil menuangkan obat Syrup ke dalam sendok teh.


"Yeaaay!!" seru Alex senang.


Fitri langsung menyodorkan obat itu ke mulut Alex, Alex langsung menelannya tanpa kendala.


"Duh, pintar amat anak siapa sih ini!" ucap Fitri gemas sambil mencubit lembut pipi gembul Alex.


"Anak Mama! Papa!" jawab Alex.


"Bisa saja ini anak jawab, sepertinya dia anak jenius Fit, di usia 8 bulan dia sudah bisa berjalan dan mengucapkan beberapa kata, usia setahun bahkan dia sudah berlari dan kosa katanya semakin bertambah!" ucap Dicky.


"Mas ..."


"Iya Fit?!"


"Apa maksudmu Fit?" tanya Dicky.


"Aku ingin berhenti mengajar Mas!" jawab Fitri.


"Kau serius Fit?" tanya Dicky terkesima.


Sementara Alex mulai turun dan duduk tempat tidurnya sambil bermain mobil-mobilan yang selalu di bawanya kemanapun.


Sepertinya anak itu sudah tidak terlalu merasakan sakit lagi.


"Bukan karena kau merasa tersindir dengan perkataan Keyla tadi?" tanya Dicky dengan senyum menggoda.


"Sebenarnya aku sangat suka mengajar, dengan mengajar aku merasa duniaku begitu luas, tapi aku juga tidak mau kejadian yang menimpa Alex terulang kembali!" jawab Fitri.


"Hmm, kalau begitu, aku sangat setuju Fit, kau bisa menyalurkan hobby mengajarmu ke anak-anak kita nanti, apalagi sekarang kau sedang hamil, ayo Fit, besok kita menghadap Pak Jamal, kita ajukan pengunduran diri lagi!" kata Dicky bersemangat.


"Iiih, kok jadi Mas Dicky yang bersemangat!" ujar Fitri.

__ADS_1


"Asyiiik! Bakal dapat jatah tambahan nih karena waktumu banyak di rumah!" seru Dicky senang.


Fitri mencubit pinggang Dicky hingga pria itu meringis.


****


Siang itu, Dicky membawa Alex pulang ke rumah karena kondisinya yang sudah mulai membaik.


Pak Karta dan Bu Eni menyambut kedatangan cucu mereka dengan gembira.


"Alex, sini main sama kakek!" ujar Pak Karta yang langsung mengambil Alex dari gendongan Fitri.


Alex nampak senang dengan suasana ramai rumahnya itu.


Alex memang anak yang periang, selalu mau dengan siapa saja tanpa memilih orang.


"Bu, mulai besok aku akan berhenti mengajar dan fokus mengurus Alex!" Kata Fitri pada Ibunya.


Bu Eni nampak tertegun mendengar ucapan Fitri.


"Jadi, pasti gara-gara Ibu lalai kemarin menjaga Alex sampai kau berhenti bekerja, maafin Ibu ya Fit, Ibu tau Ibu salah, tapi bukan berarti kau harus mengorbankan profesimu juga!" ujar Bu Eni.


"Bukan Bu, bukan karena persoalan yang kemarin, aku memang mau fokus terhadap keluargaku, apalagi kan sekarang aku sedang hamil!" tukas Fitri.


"Kalau memang begitu, lalu apa gunanya lagi Ibu di sini, lebih baik Ibu pulang kampung saja, di sini Ibu juga tidak berguna!" sahut Bu Eni.


"Ya ampun Ibu, kenapa Ibu sekarang jadi sensitif sih? Ibu dan Bapak di sini ya untuk bermain dengan cucu Ibu, menikmati hati tua Ibu bersama Bapak dan keluarga besar Ibu!" jelas Fitri.


Tiba-tiba Dicky datang menghampiri mereka.


"Fit, kalau memang Ibu mau pulang kampung biarkan saja, barangkali Ibu rindu dengan kampung halamannya, biar nanti aku suruh Mang Salim untuk mengantar Ibu ke Sukabumi!" ucap Dicky.


Bu Eni langsung terdiam seketika.


"Jadi, Nak Dicky lebih suka kalau Ibu pulang kampung ya?" tanya Bu Eni yang kini suaranya melembut.


"Lho, bukankah Ibu yang katanya ingin pulang kampung? Sebagai menantu yang baik, saya hanya mendukung keinginan Ibu saja kok!" jawab Dicky sambil tersenyum.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2