
Perkataan Raihan yang seolah lebih memilih karirnya membuat hati Riana semakin gelisah. Setiap hari wanita itu selalu menduga-duga akan perasaan Raihan untuknya saat ini. Apakah perasaan Raihan kepada dirinya telah berkurang? Bukan tanpa alasan Riana menduga demikian, mengingat perubahan diri Raihan seolah mendukung dugaannya. Tetapi meskipun hati gelisah tidak menentu dan sesak berkepanjangan, Riana tetap berusaha tersenyum saat di hadapan Raihan. Dirinya ingin terlihat baik-baik saja, dan tidak ingin jika Raihan marah kepadanya. Terlebih jika Raihan berpikir jika sikapnya sangat kekanak-kanakan. Selama ini memang Riana selalu manja terhadap Raihan, hanya kepada Raihan. Karena tentunya sikap Raihan yang posesif itu tidak memperbolehkan Riana dekat dengan pria lain. Meski sekedar say hello kepada teman terdekat Riana yang seorang laki-laki.
Seperti saat ini, Riana diam-diam membalas pesan dari Rama, teman semasa kecilnya. Hingga saat mereka beranjak dewasa hubungan mereka masih terjalin sangat baik. Namun hubungan pertemanan mereka merenggang karena Raihan tidak menyukai kedekatannya dengan Rama.
From : Rama
"Kamu apa kabar Ri?"
Begitulah isi pesan Rama setelah bertahun-tahun tidak saling menghubungi. Dan Rama menghargai keputusan Riana saat wanita itu mengatakan jika Raihan tidak menyukai kedekatan mereka. Sebab itu Rama tidak pernah lagi menghubungi Riana, meskipun sekedar silahturahmi.
"Aku baik Ram. Kamu sendiri gimana?"
Riana membalas layaknya kepada teman biasa saja, karena hubungan mereka murni pertemanan. Dan Riana menghargai Rama yang hanya ingin bersilaturahmi kepadanya. Lagi pula setau Riana, saat ini Rama sudah mempunyai kekasih.
"Aku juga baik. Aku kepikiran kamu belakangan ini Ri. Kamu benar baik-baik aja 'kan?"
Nyess
Hati Riana mendadak sesak ketika membaca isi pesan dari Rama. Temannya itu sejak dulu tidak pernah berubah, Riana akui jika Rama selalu peka terhadap dirinya. Meskipun mereka tidak pernah berkomunikasi setelah sekian lama.
Untuk sesaat, Riana hanya berulang-ulang membaca isi pesan Rama tanpa ingin membalasnya. Saat ini ia tidak tau harus membalas apa. Matanya mengembun, sungguh seandainya Raihan bisa seperti Rama yang bisa sedikit peduli dan peka terhadap dirinya, mungkin ia tidak akan merasa sesak seperti ini. Rasanya menyakitkan ketika ada pria lain yang lebih peduli ketimbang tunangannya sendiri.
Riana mengabaikan pesan dari Rama. Ia membanting ponselnya di atas tempat tidur, sebelum kemudian Riana menenggelamkan wajahnya di sela-sela bantal. Membiarkan air matanya membanjir bantal kesayangannya.
Ting
Ponsel Riana kembali mendapatkan notifikasi, untuk sejenak Riana membiarkan pesan itu tidak terbaca hingga dirinya benar-benar merasa lega karena telah menumpahkan rasa sesak di dada. Tangan Riana terulur meraih ponselnya, kemudian mengangkat kepalanya dan menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Ia mulai membaca pesan yang ternyata dari Rama lagi.
"Aku denger kamu udah tunangan sama Raihan ya Ri? Selamat ya. Doain aku sama Dita supaya cepet nyusul kamu. Aku masih nunggu Dita lulus kuliah."
Kening Riana berkerut, ia baru ingat jika Dita berbeda beberapa tahun dengan mereka. Kenapa Riana bisa mengetahui dan kenapa Rama juga mengetahui perihal pertunangannya? Karena Riana dan Rama memiliki teman-teman yang juga mengenal mereka. Meskipun mereka tidak pernah berkomunikasi tetapi terkadang mereka saling menanyakan kabar dari teman-teman mereka.
Riana mulai mengetik balasan untuk Rama. Tidak ada alasan baginya untuk tidak membalas pesan dari teman masa kecilnya. Biarlah untuk saat ini saja Riana menjadi pembangkang, mengkhianati kepercayaan Raihan yang tidak ingin ia dan Rama saling berkomunikasi.
"Iya Ram. Aku tunangan sama Rai 6 bulan yang lalu. Semoga kamu juga cepat nyusul ya. Salam buat Dita." Lalu Riana menambahkan emot senyum di akhir kalimatnya, sebelum kemudian ia mengirim pesan itu.
__ADS_1
See? Selama ini mereka hanya saling berkirim pesan seperti itu, meskipun Rama memang perhatian terhadapnya, tetapi Riana tidak heran lagi karena Rama selalu seperti itu sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun Raihan selalu beranggapan jika Rama memiliki perasaan kepada dirinya.
Ting
Tidak lama kemudian, notifikasi kembali muncul di ponsel Riana. Dan tentu saja itu balasan dari Rama.
"Iya, nanti aku sampein salam kamu ke Dita. Aku juga titip salam buat Raihan ya. Btw udah malem, kamu tidur gih. Kebiasaan tidur malam terus."
Riana hanya bisa tersenyum kecut membaca pesan dari Rama. Salam untuk Raihan? Riana tidak mungkin menyampaikan salam Rama untuk Raihan, Riana sangat yakin jika Raihan mengetahui dirinya dan Rama kembali berkomunikasi, Raihan akan murka dan akan memperpanjang masalah. Seperti itulah sikap Raihan yang tidak Riana sukai.
Pesan dari Rama cukup menghibur Riana, senyumnya sedikit terukir di kedua sudut bibirnya saat membaca kalimat terakhir Rama, temannya itu masih sangat tau benar jika dirinya tidak bisa tidur cepat, selalu di atas pukul 10 malam.
Terdengar kembali notifikasi pesan masuk. Riana buru-buru membuka pesan itu, ia mengira jika Rama kembali mengirim pesan, tetapi ternyata Raihan yang mengirim pesan untuknya.
"Ini udah malam sayang. Kamu belum tidur?"
Riana melupakan sesuatu, jika Raihan pasti melihat dirinya masih online. Sehingga tunangannya itu mengirim pesan padanya.
"Tidur sekarang juga! Aku nggak suka ya kamu bergadang kayak gini. Lagian kamu lagi chat siapa sih?"
Seperti itulah Raihan, sikapnya selalu mendominasi dan tidak suka dibantah. Apapun yang Raihan katakan, Riana harus menurutinya, suka tidak suka Riana harus patuh kepadanya. Sebab itu Riana selalu mengalah, karena ia tidak suka keributan. Riana yang terlahir dari keluarga yang sangat harmonis paling tidak menyukai pertengkaran, itulah alasan wanita itu jarang sekali terlihat marah dan lebih suka memendamnya seorang sendiri jika ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Riana membalas cepat pesan dari Rama laku mengirimnya. Setelah itu menonaktifkan ponselnya dan meletakkan ponsel di atas tempat tidur. Bahkan ia lupa jika belum membalas pesan dari Rama. Yang ada di pikirannya hanya ingin Raihan yakin jika dirinya sudah tidur setelah menonaktifkan ponsel. Lagi pula ia terkadang mengherankan sikap Raihan yang berlebihan, dirinya bukan anak kecil lagi yang harus diberitahu. Apa Raihan lupa jika usia dirinya sudah 24 tahun?
Karena terlalu larut dalam pikirannya, Riana yang sebelumnya tidak merasakan kantuk, kini sudah memejamkan mata. Dan tidak lama setelahnya, menyelam ke alam mimpi.
***
Hari berjalan seperti biasanya, Riana sudah kembali pulang ke apartemen. Selama dua hari ia menghabiskan waktu di rumah saja bersama keluarganya. Riana hanya menjawab seadanya ketika Mama Linda menanyakan tentang Raihan karena tidak ingin mengundang kecurigaan kedua orang tuanya jika sebenarnya Raihan selalu sibuk dan jarang memberikan waktu untuknya.
Dan seperti pagi biasanya, Raihan selalu menjemput Riana di apartemen, menunggu tunangannya di dalam mobil hingga kini Riana baru saja masuk ke dalam mobil. Wanita itu hanya bisa menatap penampilan Raihan yang semakin lama semakin tampan.
"Kenapa liatin aku kayak gitu sayang?" tanya Raihan yang sejak tadi memperhatikan Riana yang tidak memalingkan pandangan darinya.
"Nggak apa-apa. Mungkin cuma perasaan aku aja, kamu keliatan tambah ganteng." Memang Riana tidak bisa memungkiri ketampanan Raihan, jadi wajar saja jika banyak wanita yang menyukai tunangannya itu. "Kamu sengaja ya mau tebar pesona sama cewek-cewek di kantor kamu?" Kini Riana tidak bisa lagi menahan rasa gatal pada bibirnya jika tidak melontarkan perkataan seperti itu.
__ADS_1
Mendengar perkataan Riana membuat Raihan justru terkekeh-kekeh. "Kamu apaan sih sayang? Ya, nggak mungkinlah aku tebar pesona. Aku 'kan udah punya kamu."
"Ya aku 'kan nggak tau kamu bicara benar atau nggak. Aku juga nggak bisa pantau kamu 24 jam," celetuk Riana memalingkan wajahnya, melihat ke arah luar jendela.
"Kamu nuduh aku?" Nada bicara sedikit meninggi. Pria itu tidak suka jika mendengar tuduhan seperti itu.
"Aku nggak nuduh kok." Buru-buru Riana mengoreksi ucapannya. Ia bisa melihat jika saat ini Raihan nampak ingin marah kepadanya. "Aku percaya sama kamu By." Dan mengulas senyum manis, semanis madu. Berharap wajah masam Raihan kembali segar dan tidak menatapnya dengan horor seperti itu.
Seketika wajah Raihan melembut melihat senyum manis Riana. Lalu memberikan usapan lembut di puncak kepala tunangannya itu. "Yaudah, kita berangkat sekarang ya. Kalau kelamaan nanti kena macet dijalan." Dan sebagai jawabannya Riana mengangguk.
"Nanti aku jemput kamu lagi kalau aku udah selesai di lapangan. Kamu nggak lupa 'kan kalau besok aku ada kerjaan di Bandung?" Raihan mulai menjalankan mesin mobilnya. Lalu melaju dengan kecepatan rendah meninggalkan apartemen Riana.
"Iya, aku inget kok." Tidak mungkin Riana lupa karena seharusnya besok mereka pergi berdua ke Bogor.
"Maaf ya, besok kita nggak jadi pergi. Nanti aku luangin waktu lagi buat kamu." Sejenak Raihan mengalihkan perhatiannya dari kemudi dan tersenyum tipis kepada Riana.
"Hem...." Entahlah, rasanya untuk bersuara pun Riana sudah tidak memiliki tenaga lagi. Raihan benar-benar memilih pekerjaan ketimbang dirinya. Apa dirinya memang sangat egois dan kekanak-kanakan jika berharap Raihan akan lebih memilihnya?
Bersambung
Visual
Riana
Raihan
Riana dan Raihan
...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...
__ADS_1
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...