Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mengunjungi Kakek Nenek


__ADS_3

siang itu sepulang sekolah, Dicky membawa Alex dan Alena berkunjung ke rumah sakit, untuk menjenguk kakeknya, juga bertemu dengan neneknya yang telah lama merindukan mereka.


Sebenarnya Dicky juga sangat merindukan Fitri, beberapa malam ini dia tersiksa lahir batin, karena tidak ada Fitri yang tidur disampingnya, karena selama mereka menikah, tidak pernah Fitri meninggalkan Dicky, kini rasanya beberapa hari saja tidak tidur bersama, Dicky sudah merasa panas dingin tak karuan.


"Papa, nanti kita Sekalian jemput mama pulang?" tanya Alex.


"Papa tidak tahu Nak, tergantung Mama nanti, Apakah mama masih mau menemani nenek di rumah sakit atau sudah capek, kan kasihan juga kalau nenek sendirian menjaga kakek!" jawab Dicky.


"Iya sih Pa, tapi kan gara-gara tidak ada mama, kami harus tidur sama Papa, Papa kan suka ngorok dan kami dijadikan guling sama Papa!" sungut Alex.


Dicky tertawa mendengar ucapan Putra sulungnya itu, sebenarnya bukan hanya mereka yang tidak nyaman, Dicky juga merasa tidak nyaman, selain bau pesing di kamar, Dicky juga tidak bisa bebas seperti saat dia tidur bersama Fitri yang nyaris tidak pernah mengenakan pakaian dalam, dan Dicky tidak bisa melakukan itu di depan anak-anaknya.


Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah sakit, Dicky langsung menuntun kedua anaknya itu berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit, menuju ke ruang perawatan Pak Karta, ruang yang paling nyaman di rumah sakit itu.


Merekapun kemudian langsung masuk ke dalam ruangan itu, Fitri duduk di sofa sambil membuka buka ponselnya, sementara Bu Eni terlihat duduk terpekur di samping ranjang suaminya, sambil menatap sendu ke arah wajahnya.


Bu Eni terlihat semakin kurus, bukan hanya makan yang sedikit, namun juga beban pikiran yang terus saja memikirkan kapan suaminya itu akan sembuh.


Alex dan Alena nampak menghambur dalam pelukan Fitri, mereka sangat merindukan ibunya itu, Bu Ani menoleh dan hanya tersenyum kearah cucu-cucunya, Ingin rasanya dia memeluk mereka, namun saat ini Pak Karta juga membutuhkan sentuhan tangannya, yang setiap hari selalu ada di dalam genggaman Bu Eni.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Dicky sambil menepuk lembut bahu Bu Eni.


"Ya beginilah Ibu nak, seharusnya kau tanyakan kabar bapak, sampai saat ini Bapak masih belum bisa bicara, juga masih belum bisa bergerak, Sampai kapan bapak seperti ini terus Nak?" ucap Bu Eni.


"Ibu yang sabar ya, kami para dokter hanya bisa melakukan yang terbaik semampu yang kami bisa, tapi tetap semuanya itu kita kembalikan pada Tuhan, Tuhan tahu apa yang terbaik buat bapak bu!" ucap Dicky.


Bu Eni hanya menghela nafas panjang, terlihat ada beban berat yang dipikul nya, betapa selama ini belahan jiwanya tidak berbicara sekian lama, dan itu sangat menyiksa hati Bu Eni, yang terbiasa bersama dengan Pak Karta, walaupun seringkali pembicaraan mereka adalah pembicaraan yang biasa, namun itu sangat berarti dalam hidup rumah tangga mereka.

__ADS_1


"Mama kapan pulang? Kasihan Papa, dia kerepotan mengurus aku dan dedek, mana tadi pagi dedek Alena mengompol di tempat tidur lagi, jadinya Papa yang repot harus membereskan semuanya!" ungkap Alex.


"Tapi Mama harus menemani nenek di sini sayang, kasihan nenek sendirian menjaga kakek!" jawab Fitri sambil mengelus rambut kedua putra-putrinya itu.


"Kau pulang saja, urus kedua anakmu itu Fitri, urus suamimu, Ibu tidak apa-apa kok di sini, suami dan anak-anakmu membutuhkanmu!" ujar Bu Eni tiba-tiba.


"Tapi Bu, Ibu pasti memerlukan teman di sini, apalagi bapak masih belum bisa berbicara, Ibu butuh teman bicara, siapa lagi kalau bukan aku, anak ibu!" tukas Fitri.


"Fitri benar Bu, aku tidak apa-apa mengurus anak anakku di rumah, toh di rumah juga ada Bi sumi dan Mbok Jum, yang siap membantu kapanpun, tapi di sini Ibu dan Bapak memerlukan Fitri, saya tidak pernah melarang Fitri untuk menemani Kalian disini, itu adalah baktinya terhadap orang tuanya, saya berdosa jika melarang Fitri berbakti pada kedua orang tuanya!" ucap Dicky.


"Terima kasih nak Dicky, kau memang benar-benar pengertian, luas dan lapang sekali hatimu nak!" sahut Bu Eni yang kini mulai menyelimuti tubuh Pak Karta dengan selimut tebal karena suasana semakin dingin.


"Nah Alex, Alena, jadi tidak apa-apa ya Mama di sini menjaga kakek, menemani nenek, Kalian kan di rumah bisa bermain sama papa, nanti Mama akan telepon kok, mama Janji deh!" ucap Fitri sambil merengkuh keduanya dalam pelukannya.


Akhirnya Alex menganggukan kepalanya diikuti oleh Alena.


"Iya Nek!" sahut keduanya.


Akhirnya malam itu, Dicky kembali pulang ke rumah, bersama dengan Alex dan Alena, tanpa Fitri.


Fitri masih di rumah sakit menemani Bu Eni menjaga Pak Karta, yang sampai saat ini kondisinya belum ada kemajuan yang berarti.


Malam Ini begitu dingin, di luar terdengar suara petir yang menggelegar, menandakan akan segera turun hujan yang lebat, angin bertiup kencang membuat pepohonan yang ada di sekitar rumah sakit itu bergoyang kian kemari, hembusan nya sampai menembus kamar perawatan Pak Karta, melalui jendela yang sedikit terbuka.


Fitri menutup jendela kamar itu, dan juga menutup hordeng yang berkibar tertiup angin.


Bu Eni masih terlihat berbaring di samping pak Karta, kelihatannya wanita paruh baya itu sudah mulai lelah dan sedikit pucat.

__ADS_1


Fitri menyodorkan makanan ke arah Bu Eni, makanan yang tadi dibawakan oleh Dicky, berharap Bu Eni akan bisa makan lebih banyak, untuk asupan nutrisi tubuhnya.


"Ini makanannya dimakan Bu, Mas Dicky sudah bawakan lho, nanti dia sedih kalau Ibu tidak memakan makanan yang dibawakan tadi!" kata Fitri.


"Nanti saja deh Fit, taruh di meja dulu, ibu belum lapar sekarang, kalau kau mau, kau makan saja duluan!" ucap Bu Eni.


Fitri menarik nafas panjang, Bu Eni selalu seperti itu, selalu saja menolak jika dikasih makanan.


Akhirnya Fitri kembali ke tempatnya, dia juga butuh istirahat untuk memulihkan stamina nya yang belakangan ini semakin menurun


"Fit! Ini Kenapa badan Bapakmu semakin dingin ya? Kok dari tadi ibu perhatikan makin lama semakin dingin!" seru Bu Eni tiba-tiba.


Fitri yang baru saja duduk di sofa, kembali berdiri dan melangkah mendekati ranjang pasien itu.


Matanya sedikit terbelalak, melihat tubuh Pak Karta yang kini terlihat begitu pucat, dengan sedikit gemetar Fitri memegang tangan Pak Karta yang sekarang terasa sangat dingin.


Bersambung....


****


Halo guys ...


Jangan lupa mampir dan favoritkan cerita sekuel dari novel ini yang berjudul, "Hujan, Sampaikan Rinduku"


Ceritanya syahdu lho guys,


Di tunggu dukungannya selalu ... Trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2