
Dicky yang mendengar kabar dari Bi Sumi mengenai tamu yang mencarinya dan menunggunya di bawah, langsung bergegas menghampiri Fitri yang masih berbaring.
"Fitri, aku turun ke bawah sebentar ya, ada tamu, nanti akau akan ke sini lagi, kau istirahat saja!" ucap Dicky sambil mengelus kepala Fitri.
"Iya Dokter, tamu siapa?" tanya Fitri.
"Entahlah, aku juga belum lihat, sudah kau jangan banyak pikiran, pokoknya kau jangan beranjak dari tempat tidurmu!" titah Dicky.
Fitri menganggukan kepalanya, lalu Dicky segera keluar dari kamarnya.
Dicky segera turun dari bawah lalu menuju ke ruang tamu, Bi Sumi nampak sedang memberikan minuman pada sang tamu yang ternyata adalah Ranti.
"Rupanya kau yang datang, ada keperluan apa?" tanya Dicky sambil duduk di sofa ruang tamu rumahnya itu.
"Dicky, kenapa perkataanmu jadi sinis padaku, aku datang bermaksud menjenguk Fitri, kata Dimas dia baru kecelakaan dan kehilangan bayinya!" jawab Ranti.
"Maaf Ranti, tapi Fitri tidak perlu di jenguk olehmu, bukannya terhibur dia akan semakin ... ah sudahlah, pokoknya aku tak mengijinkan mu untuk menjenguk Fitri!" ujar Dicky.
"Kau takut Fitri akan cemburu padaku? Oya, aku juga ingin memberitahukan, aku sudah resmi bercerai dengan suamiku, sekarang aku adalah wanita bebas!" kata Ranti.
"Lalu, kalau kau wanita bebas kenapa?" tanya Dicky.
"Kita bisa bersama lagi seperti dulu Dicky, kini Fitri juga sudah kehilangan bayinya, jadi kau tak perlu tanggung jawab lagi terhadapnya, biarkan dia bebas menemukan jodohnya sendiri!" jawab Ranti.
"Tidak! Aku sama sekali tidak berniat untuk menceraikannya, jadi aku mohon kau jangan berharap lebih, lebih baik kau pulang sekarang Ranti, tidak baik seorang wanita berada di rumah seorang pria yang sudah beristri!" ujar Dicky.
Dicky mulai berdiri, bermaksud untuk membuat Ranti beranjak dari tempatnya dan segera pulang.
Namun tiba-tiba Ranti mendekat ke arah Dicky, lalu memeluknya erat, untuk beberapa saat lamanya Dicky terkejut dan terdiam di peluk oleh Ranti.
"Aku sangat merindukanmu Dicky, sangat, setiap hari aku selalu berpikir, kapan aku bisa merasakan lagi pelukan hangat mu, hanya dirimu yang bisa membuat hati dan perasaanku tak menentu, aku masih sangat mencintaimu!" ucap Ranti sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Dicky.
Seperti tersadar Dicky langsung mendorong lembut tubuh Ranti, dan melepaskan pelukan itu. Ranti menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan pengharapan.
"Maaf Ranti, aku bukan Dicky yang dulu lagi, jadi jangan kau bangkitkan lagi kenangan masa lalu kita, semuanya sudah mati dan terkubur bersamaan dengan kepergian mu waktu itu, sekarang aku sudah punya kehidupanku sendiri!" ucap Dicky.
"Dicky, tapi kau tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, katakan kalau dalam hatimu masih ada aku!" kata Ranti yang kini mulai menangis.
"Tidak Ranti, aku bukan milikmu lagi, bahkan semua fotomu sudah aku singkirkan, di ponselku juga sudah ku hapus semua kenangan tentang kita, jadi ku mohon, pergilah dariku, aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku yang sekarang!" ucap Dicky.
__ADS_1
Sambil menangis dan berlinang air mata, akhirnya Ranti keluar dari rumah Dicky.
Bi Sumi yang saat itu sedang ada di dapur nampak sungkan saat melihat Dicky yang datang menghampirinya.
"Bi Sumi ..."
"Iya Pak Dokter!"
"Aku mohon, jangan beritahu Fitri mengenai kedatangan Ranti, aku tidak mau dia berpikir yang tidak-tidak!" kata Dicky.
"Baik Pak Dokter!" sahut Bi Sumi.
"Terimakasih Bi, sekarang aku mau membuatkan Fitri susu hangat, setelah itu aku akan ke atas!" kata Dicky.
"Baik Pak Dokter!" jawab Bi Sumi.
Dicky lalu langsung membuatkan Fitri minuman hangat, kemudian dia segera ke atas menuju ke kamarnya.
Fitri masih nampak berbaring di atas tempat tidurnya.
Matanya menerawang menatap ke langit-langit kamar.
"Terimakasih Dokter!" ucap Fitri.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah perutnya masih nyeri?" tanya Dicky.
"Sedikit Dokter, tapi sudah lebih baik dari kemarin!" jawab Fitri.
"Syukurlah, tiga hari lagi jadwal buka perban di rumah sakit, kalau aku lupa kau ingatkan aku ya!" kata Dicky.
"Iya Dokter!"
"Cepatlah pulih Fit, setelah itu aku mau mengajakmu ke suatu tempat!" ujar Dicky.
"Kemana Dokter?" tanya Fitri.
"Nanti kau juga akan tau, sebenarnya aku sudah lama ingin menjamu ke sana, tapi tidak sempat-sempat!" jawab Dicky.
"Dokter ..."
__ADS_1
"Ya ..."
"Tadi siapa yang datang?" tanya Fitri.
"Bukan siapa-siapa, hanya teman sesama dokter, sudahlah, tidak usah membahas hal yang tidak penting!" sahut Dicky.
"Tapi wajah Dokter kelihatan berbeda, Dokter kelihatan sedih!" ucap Fitri.
"Tidak Fit, itu hanya perasaanmu saja, aku tidak apa-apa kok!" sahut Dicky.
"Dokter ... Kau pasti lelah, tidurlah Dokter, jangan terlalu mengurusiku!" kata Fitri.
"Iya Fit!" Dicky lalu mulai berbaring di samping Fitri, lalu mulai memejamkan matanya.
Fitri tidur menyamping menghadap Dicky, memandang laki-laki yang kini berada sangat dekat dengannya, laki-laki yang menggetarkan hati Fitri dengan ketulusan dan kelembutannya.
Rasanya Fitri ingin sekali menghampiri tubuh itu, memeluk dan menciumi wajahnya, tapi Fitri memukul kepalanya sendiri, walau bagaimana dia harus menghormati perasaan Dicky, Fitri harus bersabar, bersabar untuk mendapatkan hati Dicky.
Tanpa sadar Fitri menaruh tangannya di dada Dicky yang saat itu sedang tidur terlentang, Fitri merasakan ada detak jantung Dicky yang beraturan, Fitri tersenyum.
"Dokter sudah tidur?" tanya Fitri berusaha untuk memastikan apakah Dicky benar-benar tidur atau tidak.
Tidak ada jawaban dari Dicky, sepertinya pria itu benar-benar lelah sehingga dia langsung cepat tertidur.
"Aku mengagumimu Dokter, kau bukan hanya tampan, tapi sikapmu mampu menggetarkan hatiku setiap kali aku berada dekat denganmu!" gumam Fitri dengan suara lirih, nyaris tak terdengar.
Perlahan Fitri berusaha bangun dari tidurnya dan mendekat ke arah Dicky, dengan sedikit menahan nyeri di perutnya.
Lalu dengan perlahan Fitri mendekat ke wajah Dicky, lalu mencium pipi Dicky, Dicky masih nampak tertidur, tidak sadar dengan apa yang di lakukan Fitri terhadapnya.
Fitri tersenyum, lalu kembali membaringkan tubuhnya.
Tiba-tiba Dicky membalikan tubuhnya ke samping dan langsung memeluk Fitri.
Fitri terkejut namun dia membiarkan Dicky memeluknya. Kemudian Fitri pun mencoba untuk memejamkan matanya.
Semua duka dan luka seolah lenyap saat Fitri ada di dekat Dicky.
*****
__ADS_1