
Pagi itu setelah bangun dan mandi, Dicky menuntun Fitri keluar dari kamar hotel menuju ke restoran yang ada di bawah.
Aneka makanan untuk sarapan pagi telah terhidang dengan sangat nikmat.
"Ayo makan yang banyak sayang, hari ini kita akan menikmati indahnya salju, seperti yang kau inginkan!" ucap Dicky.
"Iya Mas, tapi perutku agak sedikit mual, mungkin aku juga tidak bisa terlalu banyak makan!" sahut Fitri.
"Aku suapi ya sedikit sedikit, bayi kita butuh nutrisi sayang, ayo ... buka mulutmu!" Dicky mulai menyuapi Fitri sedikit demi sedikit.
Fitri mau tidak mau membuka mulutnya dan terpaksa makan yang di suapi Dicky.
Setelah mereka sudah selesai sarapan, Ken ternyata sudah menunggu mereka di lobby hotel.
Mereka kemudian mulai melanjutkan wisata mereka ke Yuzawa, yaitu tempat salju dan juga pemandian air panas yang letaknya paling dekat dengan Tokyo.
"Saya sengaja memilih destinasi tempat wisata ini karena letaknya tidak terlalu jauh, hanya menempuh perjalanan satu jam setengah dari Tokyo, karena Ibu Fitri kan sedang hamil!" jelas Ken.
"Ah, kau memang paling mengerti kebutuhan kami Ken, kau patut di andalkan! Recommended!" puji Dicky.
"Pak Dokter bisa saja, saya hanya mengutamakan kenyamanan Bapak dan Ibu saja, dan tempat ini juga sangat bagus, tidak terlalu jauh untuk di jelajahi!" tambah Ken.
Mereka kemudian sudah tiba di lokasi, setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih.
"Aduh!" seru Fitri tiba-tiba sambil memegangi perutnya.
"Ada apa sayang? Kau capek? Sini aku gendong!" tanpa menunggu jawaban Fitri, Dicky langsung mengangkat Fitri dalam gendongannya.
"Perutku sedikit keram Mas, rasanya begitu kaku dan keras!" ungkap Fitri.
"Kalau begitu, kita jangan terlalu lama di sini ya, setelah kau puas bermain salju, kita segera kembali ke hotel!" ucap Dicky.
"Iya Mas!" jawab Fitri.
Ken kemudian mengantar mereka ke tempat hamparan salju yang sangat luas, banyak para wisatawan bermain ski dan membuat boneka salju.
Dengan antusias dan semangat Fitri mulai duduk dan menggenggam salju yang di impikannya selama ini.
Dicky tersenyum senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Fitri.
__ADS_1
"Sudah tau bagaimana rasanya memegang salju?" tanya Dicky.
"Iya Mas, rasanya lembut dan dingin, aku suka!" sahut Fitri.
"Syukurlah sayang, ayo kita foto dulu, kita abadikan momen ini ya, nanti kalau anak kita lahir, kita ceritakan padanya kalau dia sudah pernah jalan-jalan ke Jepang waktu dalam kandungan, dia pasti akan senang!" ucap Dicky.
Dengan bantuan Ken, mereka lalu mulai berfoto, dari mulai foto sendiri, berdua hingga foto romantis.
Setelah puas bermain-main dengan salju, mereka kemudian segera pulang ke hotel, Dicky sangat cemas jika terlalu lama jalan, mengingat kandungan Fitri yang semakin membesar itu.
Dalam perjalanan pulang ke hotel, tiba-tiba Fitri minta ke tempat menjual oleh-oleh.
"Ken, bisakah kau menunjukan di amna tempat yang menjual oleh-oleh? Aku ingin membelikan untuk Ibu dan Bapak, juga Dina dan Dara!" ujar Fitri.
"Oh, tentu saja Bu Fitri, saya akan ajak yang terdekat saja di Ameyoko, di sana banyak menjual oleh-oleh dari makanan khas Jepang juga pernak pernik yang lain! Pasti Ibu suka!" jawab Ken.
"Antar kami ke sana Ken, biar istriku yang akan memilih apa yang akan di belinya nanti!" kata Dicky.
Ken kemudian menghentikan mobilnya di parkiran dekat tempat wisata yang menjual oleh-oleh itu.
Benar kata Ken, di sini begitu ramai dan banyak sekali orang-orang yang membeli oleh-oleh.
"Iya Mas!" jawab Fitri.
Mereka berhenti di sebuah toko yang menjual makanan khas Jepang, Fitri mulai memilih dan Dicky yang melakukan transaksi pembayaran.
Mata Fitri tertuju pada sebuah toko kecil yang menjual pernak pernik indah khas Jepang, seperti gantungan kunci, liontin dan benda-benda unik lainnya.
Karena tertarik, secara tak sadar Fitri melepaskan pegangan tangannya dari lengan Dicky, dia berjalan ke arah toko pernak pernik yang menarik hatinya itu.
Fitri mulai memegang benda-benda unik itu, ingin rasanya dia membeli untuk oleh-oleh ibunya, pasti Ibunya akan sangat senang.
Namun tiba-tiba mata Fitri kembali kabur, warna indah yang sempat di lihatnya berubah menjadi gelap dan abu-abu.
"Mas! Mas Dicky!" panggil Fitri.
Namun hanya terdengar suara hiruk pikuk orang-orang yang berbelanja, Fitri mulai sadar tangannya terlepas dari tangan suaminya. Fitri mulai panik.
"Mas Dicky! Kau di mana Mas??" panggil Fitri yang mulai berjalan sempoyongan dan berputar mencari suaminya itu.
__ADS_1
Tanpa terasa air matanya mulai berjatuhan di pipinya, Fitri benar-penar panik.
"Mas Dicky!!" teriak Fitri yang hampir putus asa. Pandangannya benar-benar gelap.
Tiba-tiba ada yang memeluk Fitri dari belakang, dari aroma tubuhnya Fitri tau siapa orang itu, dia adalah Dicky suaminya.
Fitri langsung memeluk erat Dicky, seolah tak mau di lepaskan lagi.
"Mas Dicky!!" tangis Fitri histeris di pelukan Dicky.
"Jangan takut sayang, aku di sini, Mas Dicky mu ada di sini!" bisik Dicky.
"Aku takut Mas! Aku sangat takut!!" Isak Fitri dengan tubuh sedikit gemetar.
"Aku di sini sayang, ayo aku gendong, apa yang ingin kau beli sayang? Sampai kau melepaskan tanganmu padaku?" tanya Dicky lembut sambil kembali menggendong Fitri.
"Tidak jadi Mas, aku hanya mau Mas Dicky!" ucap Fitri.
"Kau lelah sayang, kalau begitu kita pulang ya ke hotel, besok masih ada waktu untuk beli oleh-oleh lagi!" bisik Dicky. Fitri menganggukan kepalanya.
Dicky kemudian menggendong Fitri hingga ke parkiran, Ken sudah menunggunya di sana.
Dicky lalu masuk ke dalam mobil bersama Fitri, tetap dalam posisi memangku nya.
Fitri menyembunyikan wajahnya di leher Dicky. Dia masih shock atas apa yang menimpanya barusan, dia sangat takut.
"Apa yang terjadi dengan Ibu Fitri Pak Dokter?" tanya Ken.
"Tidak, istriku hanya sedikit manja padaku!" jawab Dicky.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di hotel tempat mereka menginap, Dicky langsung membawa Fitri menuju ke kamar mereka.
"Tadi Dokter Mia telepon, dia merekomendasikan untuk memeriksakan kandungan mu dengan salah satu Dokter di Tokyo, besok kita ke sana ya sayang!" ucap Dicky.
"Iya Mas!" jawab Fitri.
"Jangan takut lagi, aku selalu ada bersama denganmu sayang!" ucap Dicky sambil membaringkan Fitri di tempat tidur besar itu.
****
__ADS_1