Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Banyak Hadiah


__ADS_3

Bu Anjani tidak menjawab pertanyaan Dicky, dia bingung, hatinya gundah gulana, hanya tatapan sendu yang menatap penuh kasih terhadap Dicky.


"Kenapa Ibu diam? Apakah pertanyaan saya begitu sulit? Apakah Ibu mengenal orang tua saya? Saya mohon Bu, jika Ibu mengenalnya atau tau keberadaannya, beritahu pada saya!" ucap Dicky.


"Dia ... "


"Ternyata Bu Anjani ada di sini, mari Bu, ada orang media yang ingin mewawancarai Ibu mengenai rumah sakit ini!"


Pak Bram tiba-tiba muncul dari arah lapangan parkiran rumah sakit, banyak orang yang masih menikmati sajian makan prasmanan di sana.


"Kalau begitu aku permisi dulu, mari Dokter Dicky ... Dokter Dimas!" Bu Anjani segera berlalu dari tempat itu.


"Hei Bro! Berani benar kau bilang begitu sama Bu Anjani, memanganya kau sudah yakin kalau kau ada hubungannya dengan Bu Anjani??" tanya Dimas sambil menyikut pinggang Dicky.


"Entahlah Dim, tapi banyak keganjilan yang terjadi belakangan ini, Bu Anjani memberikan baby Alex gelang yang sama seperti milikku saat bayi, dia juga selalu menatapku dalam, seperti sudah lama mengenalku, aku jadi bingung Dim!" ungkap Dicky.


"Waduh Bro, jangan-jangan kau ini putranya Bu Anjani yang tidak ada kabarnya itu! Aku yakin nih Bro! Dugaanku pasti benar!" cetus Dimas.


"Ah, aku tidak berani menduga apa-apa, sebelum kebenarannya terungkap, Bu Anjani itu sangat baik dan lembut, mana mungkin sih dia membuang putranya sendiri, mana tau Bu Anjani hanya simpati padaku, karena namaku dan suaminya yang mirip itu, atau dia ingat putranya, bisa jadi dia tau masa laluku, tapi dia merahasiakannya dariku!" ucap Dicky sambil berjalan meninggalkan Dimas.


"Eh Bro! Tunggu!" panggil Dimas sambil mengejar Dicky.


Dicky terus berjalan kembali ke ruangan tempat Fitri di rawat.


Dengan cepat Dimas menarik tangan Dicky sebelum Dicky membuka pintu ruangan itu.


"Dicky! Kau jangan menutup hatimu, aku yakin sebenarnya kau juga ada feeling kan dengan Bu Anjani, cuma kau berusaha untuk menepiskannya, aku akan cari tau soal ini!" ujar Dimas.


"Sudahlah Dim! Kau jangan ikut campur juga dengan urusanku! Urusi saja pekerjaanmu sendiri!" cetus Dicky.


"Itu karena aku perduli padamu Bro! Pokoknya kau tenang saja, aku bisa cari tau dengan caraku sendiri!" ujar Dimas yang langsung berjalan meninggalkan Dicky.


"Kau jangan macam-macam Dim!!" teriak Dicky.


Dicky kemudian mulai membuka pintu ruangan itu, Fitri nampak sedang menyusui Alex, sedangkan Pak Karta terlihat tertidur di sofa, mungkin kelelahan karena perjalanan jauhnya dari Sukabumi.


"Kau dari mana saja Mas, lama sekali!" ujar Fitri.

__ADS_1


"Dari luar Fit!" jawab Dicky sambil langsung duduk di tepi ranjang Fitri.


Dicky kemudian mencolek pipi Alex yang kemerahan yang sedang asyik menyusu di dada ibunya.


"Aku ingin menggendongnya Fit, berikan Alex padaku!" pinta Dicky.


"Sebentar ya Mas, Alex masih menyusu!" sergah Fitri. Dicky menganggukkan kepalanya.


"Mas Dicky kenapa? Kok agak aneh hari ini? Mas Dicky sakit? Atau capek?" tanya Fitri yang melihat ada guratan mendung di wajah suaminya itu.


"Fit, kalau seandainya, aku pindah kerja dari rumah sakit ini, bagaimana pendapatmu?" tanya Dicky.


"Apa Mas, tapi apa alasan Mas Dicky mau pindah dari sini?" Fitri menatap bingung wajah suaminya itu.


"Kalau benar Bu Anjani itu adalah Ibuku, seperti apa yang di katakan Dimas, aku akan pindah dari sini!" ungkap Dicky.


"Mengapa Dimas begitu yakin?" tanya Fitri.


"Entahlah, sekarang dia malah mau menyelidikinya langsung!" sahut Dicky.


"Mas Dicky, memangnya kenapa kalau memang benar Bu Anjani itu adalah Ibu kandungmu? Bukankah kau memang sedang mencari tau asal usul masa lalumu?" tanya Fitri.


"Dengan keringat dan air mata Bu Nuri merawatku, dengan gajinya yang hanya guru SD, lalu ... bagaimana tentang Ibu kandungku yang mungkin hidup dalam kelimpahan, pernahkan dia memikirkan aku yang di buangnya ini?" lanjut Dicky.


Fitri mengusap butiran bening yang mulai jatuh dari pelupuk mata Dicky.


"Mas, kalau seperti itu, lebih baik kau tak usah tau masa lalu mu, kalau itu hanya akan membuatmu sakit hati dan sedih!" kata Fitri.


"Aku cuma ingin tau, siapa orang yang dengan tega menelantarkan aku, kalau sekarang mereka masih hidup, sudah terlambat jika aku baru di akuinya sekarang!" ucap Dicky.


Fitri kemudian menyodorkan Alex yang sudah selesai menyusu, bermaksud agar suaminya itu lebih tenang hatinya.


"Papa janji Lex, kau tidak akan seperti Papa, hidupmu akan penuh dengan kasih sayang dari orang tua yang lengkap, tanpa harus mengalami Bulian dari orang-orang!" ucap Dicky sambil mengecup kening putranya.


Ceklek!


Seorang Suster masuk dengan membawa banyak sekali kantong besar di kedua tangannya.

__ADS_1


"Wah, baby Alex banyak sekali hadiahnya, belum lagi di luar sana, hampir satu ruangan lebih dengan kado buat baby Alex!" ujar sang perawat sambil meletakan kantong besar itu di sudut ruangan.


"Siapa yang memberikan hadiah sebanyak ini Sus?" tanya Fitri.


"Banyak Bu, dari rekan sesama Dokter, dari para pasien Dokter Dicky, dari orang-orang yang sedang menyantap makanan prasmanan di luar sana, belum lagi dari semua teman dan banyak lagi yang lainnya!" jawab Suster itu.


"Duh Alex, kelahiranmu membuat orang lain jadi murah hati begini!' ucap Fitri terharu.


"Mungkin ini adalah buah dari apa yang pernah Dokter Dicky lakukan dulu!" kata Suster itu.


"Maksudnya gimana Sus??" tanya Fitri.


"Dulu kan Dokter Dicky sering sekali memberikan hadiah pada anak-anak yang sakit, sering memberikan pinjaman pada yang membutuhkan, mungkin ini adalah hasil tuaian nya!" jawab Sang suster.


Brak!


Terdengar suara pintu yang di buka dengan keras dari luar, semua yang ada di ruangan itu terkejut.


Bu Romlah datang dengan membawa bingkisan yang sangat besar, sehingga di menabrak pintu.


"Duh Pak dokter, Bu Fitri sudah lahiran kenapa saya tidak di kasih tau? Jadi telat deh datangnya! Selamat ya, atas kelahiran bayinya yang guanteng ini!" ucap Bu Romlah sambil menyodorkan bingkisan besarnya.


"Apa ini Bu?" tanya Dicky.


"Ini kado buat si kecil, isinya mainan mahal Lho Pak Dokter, selama ini kan saya nabung dari hasil jualan panci keliling, semoga si Dedek suka hadiahnya!" ucap Bu Romlah tulus.


Dicky dan Fitri saling berpandangan.


"Terimakasih Banyak Bu Romlah, sudah mau repot-repot membeli hadiah segala!" ucap Fitri terharu.


"Selama ini walaupun saya jahat sama kalian, tapi kalian tidak pernah benci saya, makanya saya relain deh tabungan saya buat beli kado si Dedek, saya ikhlas kok, bener deh!" ucap Bu Romlah.


"Iya Bu, saya percaya atas semua keikhlasan Ibu!' balas Dicky.


"Nah, kan di luar lagi ada makan-makan gratis tuh, kebetulan saya lapar belum makan dari pagi, saya mau numpang makan gratis dulu ah!" Bu Romlah lalu segera keluar dari ruangan itu dengan penuh semangat.


Bersambung ...

__ADS_1


****


Dedek Alex saja banyak hadiah, kasih donk Authornya hadiah wkwkwk😉


__ADS_2