Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mencari Tau Masa Lalu


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari Bu Nuri, Dicky mulai berpikir tentang masa lalunya.


Selama ini dia tidak pernah perduli tentang masa lalu, baginya hanya Bu Nuri yang menyayanginya di dunia ini, Dicky tidak pernah mencari tau di mana keberadaan orang tuanya.


Ada rasa benci dalam hatinya terhadap orang tua yang sudah membuang dan menelantarkannya dulu, entah dengan alasan apapun.


Dicky berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit yang pagi itu terlihat sudah ramai.


Walaupun dalam hatinya begitu penasaran, ingin menguak masa lalunya, namun dia berusaha untuk menepiskan nya.


"Suster! Kosongkan jadwalku hari ini, aku mau pulang cepat ke rumah!" ujar Dicky pasa saat sampai di ruangannya.


"Baik Dokter, tapi saya harus menghubungi Dokter Tika dulu untuk menggantikan Dokter! Apakah Dokter sedang kurang sehat?" tanya Wina.


"Kepalaku pusing! Aku mau istirahat di rumah!" jawab Dicky.


Suster Wina mulai menelepon Dokter Tika.


"Baiklah Dokter, sebentar lagi Dokter Tika Juga akan datang ke sini!" ujar Suster Wina sambil beranjak dari ruangan nya.


Tak lama kemudian Dokter Tika datang ke ruangan Dicky, hari ini kebetulan Dokter Tika sudah datang pagi-pagi karena ada penyuluhan untuk orang tua di rumah sakit ini.


"Tadi suster Wina meneleponku, katanya kau kurang sehat?" tanya Dokter Tika, Dokter yang nampak senior dan berpengalaman.


"Iya Dok, kepala saya agak pusing, saya mau istirahat saja di rumah!" jawab Dicky.


"Mungkin kau sedang banyak pikiran, aku tau sebagai kepala dan pimpinan di rumah sakit ini, pasti banyak hal yang di kerjakan, baru kali ini makanya ada sejarah pimpinan rumah sakit itu masih muda sepertimu!" kata Dokter Tika yang langsung meletakan tasnya di meja itu dan duduk di hadapan Dicky.


"Dokter, sudah berapa lama Dokter bekerja di sini?" tanya Dicky pada Dokter Tika.


"Wah, sudah berapa lama ya? Lupa aku Dok, tapi pas Pak Rahmat meninggal aku sudah di sini lho!" jawab Dokter Tika.


"Oya? Sudah lama sekali dong!"


"Iya, sebentar lagi aku bahkan akan pensiun karena usiaku sudah sepuh hehe!" Dokter Tika terkekeh.

__ADS_1


"Pak Rahmat Pradita itu apakah juga seorang Dokter? Karena nama belakangnya sama denganku, aku jadi kepo Dok!" tanya Dicky.


"Kau ini Dok, Pak Rahmat itu memang Dokter, dia itu pendiri rumah sakit ini, orangnya sangat baik, tapi sayang Bu Arini istrinya tidak bisa punya anak, padahal Dokter Rahmat itu kaya raya, asetnya banyak di mana-mana!" jawab Dokter Tika.


"Lalu dia menikah lagi??"


"Ya, kau tentu tau, Bu Anjani yang kini pemilik tunggal rumah sakit ini adalah istri kedua dari Pak Rahmat, dia bisa memberikan Pak Rahmat seorang anak laki-laki, makanya Pak Rahmat sangat sayang sama Bu Anjani, apalagi setelah putranya lahir, semua aset dan warisan bahkan sudah tertulis di surat wasiatnya!" jelas Dokter Tika.


"Lalu di mana sekarang anaknya itu Dok? Pastinya dia sudah dewasa kan?" tanya Dicky.


"Yah, sampai sekarang tidak ada yang tau di mana keberadaan anak itu, ada yang bilang di culik, ada yang bilang di sembunyikan, bahkan ada yang bilang sudah meninggal, ceritanya jadi banyak versi, aku juga bingung jadinya!" ungkap Dokter Tika.


"Lalu di mana keberadaan istri pertama Pak Rahmat itu??" tanya Dicky makin kepo.


"Istri pertamanya itu kabur dan juga menghilang, entah dia masih hidup atau sudah mati, dia sakit hati karena Pak Rahmat lebih mencintai istri keduanya, dia sangat benci pada Bu Anjani dan anaknya! Makanya Bu Anjani jarang datang kan? Dia merasa rendah diri karena statusnya yang istri kedua itu!" jawab Dokter Tika.


"Siapa nama anaknya Pak Rahmat Dok?" tanya Dicky.


"Tidak ada yang tau juga namanya, hanya orang tuanya yang tau, karena baru juga lahir keluarga Pak Rahmat sudah ribut besar waktu itu, istri pertamanya ngamuk dan berusaha membunuh bayinya Bu Anjani yang batu lahir, iih pokonya ngeri deh ceritanya, berbau horor gitu deh!" jelas Dokter Tika lagi.


"Kau pikirkan saja masalah istrimu yang mau melahirkan itu Dok! Jangan memikirkan yang lain! Ayo semangat!" kata Dokter Tika.


Dicky hanya tersenyum lalu keluar dari ruangan itu.


****


Sementara Fitri duduk di sofa sambil membaca dari ponselnya nama-nama bayi yang bagus, juga menjelajah bagaimana cara merawat bayi baru lahir.


"Sudah ketemu nama yang bagus Mbak?" tanya Bi Sumi sambil meletakan minuman di meja di ruang keluarga itu.


"Ah aku bingung Bi, biar nanti Mas Dicky saja yang memilihkan nama!" jawab Fitri.


Tin ... Tin ... Tin


Terdengar suara klakson mobil Dicky, Fitri dan Bi Sumi heran dan saling berpandangan, ini bahkan batu jam 10 pagi, tapi Dicky sudah pulang ke rumah.

__ADS_1


Bi Sumi lalu bergegas membukakan pintu, mobil Dicky sudah terparkir di depan rumah, lalu Dicky turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah itu.


"Sudah pulang Mas? Kok cepat sekali?" tanya Fitri saat Dicky berjalan melewati tuang keluarga.


Dicky lalu menghempaskan tubuhnya di sofa di sebelah Fitri.


"Aku sengaja pulang cepat Fit, kepalaku mendadak pusing!" sahut Dicky.


"Mau aku ambilkan makanan? Atau minuman Mas?" tanya Fitri.


"Tidak usah,kau disini saja menemani aku, lagi pula aku tidak lapar kok!" ucap Dicky.


Fitri hanya menganggukkan kepalanya, hari ini Dicky terlihat aneh, seperti orang yang banyak beban.


"Mas Dicky kenapa? Boleh dong cerita sama aku!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Dicky.


"Fit, kenapa tiba-tiba aku jadi ingin tau tentang silsilah ku ya?!" gumam Dicky.


"Maksud Mas Dicky apa?" tanya Fitri.


"Aku penasaran saja, apakah orang tua kandungku masih hidup atau sudah mati!' sahut Dicky.


"Lho, kok Mas Dicky bilang seperti itu?"


"Aku hanya ingin tau alasannya, kenapa dulu mereka membuang aku di panti?? Apakah aku adalah anak yang tidak diinginkan? Apakah aku ini anak haram? Sampai kelahiranku pun tidak di kehendaki!" ujar Dicky.


Fitri terkesiap memandang wajah suaminya, baru kali ini Dicky membicarakan tentang masa lalu, bahkan masa lalu yang tidak ingin Dicky ketahui sebelumnya.


"Kenapa kau tiba-tiba berbicara begitu Mas?" tanya Fitri.


"Entahlah, mungkin aku hanya ingin meluapkan kemarahanku saja selama ini, bagiku hanya Ibu Nuri lah orang tua sejatiku!" jawab Dicky.


"Sudahlah Mas, kalau sudah waktunya nanti, semua tabir pasti akan terkuak dengan sendirinya, kalau seandainya orang tua mas Dicky masih hidup, dia pasti akan mencari Mas Dicky ke panti itu!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan suaminya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2