
Dicky terkesima mendengar penuturan Bu Anjani, jantungnya bergemuruh sangat cepat, dia bingung apa yang harus di katakan, semua sudah tersingkap dengan sangat jelas.
Bu Anjani menceritakan semuanya dengan gamblang sambil mencucurkan air matanya.
Kini wanita yang ada di hadapannya jelas adalah Ibu kandungnya, Ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini.
Air mata Dicky juga menetes saat mendengar kisah hidup keluarganya, yang selama ini sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Nak, jika kau marah pada Ibu, Ibu sudah siap, lakukanlah apa yang mau kau lakukan pada Ibu, kau sudah dewasa Nak, sudah bisa menjaga dirimu sendiri!" ucap Bu Anjani.
"Ibu, mengapa selama itu, Ibu tidak pernah menengok ku sama sekali? Apalagi berniat mengambil aku dari panti itu!" tanya Dicky lirih.
"Kau tau Nak, betapa berat rasa rindu yang Ibu rasakan, ibu selalu ada di dekatmu tanpa kau sadari, melihat kau bertumbuh, melihat kau sekolah, berprestasi, bahkan saat kau masuk kedokteran, Ibu bangga padamu, tanpa kau sadari kau telah mewarisi kepandaian Ayahmu!" ungkap Bu Anjani.
"Bagaimana cara Ibu melihatku dari jauh?" tanya Dicky.
"Ibu selalu mengikutimu tanpa kau sadari, memandang dari kejauhan saat kau bermain, setiap hari Ibu datang ke panti itu, hanya sekedar untuk melihatmu!' jawab Bu Anjani.
"Nyonya selalu punya jadwal khusus untuk sekedar bisa melihat putranya, bahkan itu adalah jadwal wajibnya setiap hari!" timpal Mbok Jum.
"Kenapa Ibu baru mengakuinya sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja Ibu datang kepadaku?" tanya Dicky lagi.
"Ibu selalu takut kau akan di sakiti orang Nak, jika kau bersama Ibu, Ibu selalu menunggu saat yang tepat, saat Ibu yakin kau sudah bisa menjaga dirimu sendiri!" jawab Bu Anjani.
"Karena sampai sekarang, Nyonya masih mendapat teror itu!" timpal Mbok Jum.
"Teror? Teror apa maksudnya?" tanya Dicky.
"Teror dari Ibu Arini!" sahut Mbok Jum.
"Sudahlah Mbok! Aku baru bertemu dengan putraku, aku sangat merindukannya, jangan rusak suasana ini dengan hal yang menakutkan!" sergah Bu Anjani.
"Maaf Nyonya!" ucap Mbok Jum menunduk.
Bu Anjani lalu menatap lekat pada Dicky, rasanya dia ingin berlari memeluk Dicky, selama bertahun-tahun dia selalu menahannya.
"Nak, apakah kau memaafkan Ibu?" tanya Bu Anjani.
Dicky tidak langsung menjawab, dadanya terus bergemuruh sedari tadi, sebenarnya dia juga rindu berada dalam pelukan Ibu kandungnya, yang selama ini selalu di mimpikannya.
__ADS_1
"Mas, jawablah Bu Anjani, kau jangan diam saja!" bisik Fitri.
Dicky lalu beranjak dari tempatnya, kemudian langsung duduk bersimpuh di bawah kaki Bu Anjani.
"Ibu, kata orang surga ada di bawah telapak kaki Ibu, ijinkan aku menyentuh surga itu, sebelum Ibu minta maaf, aku sudah memaafkan Ibu!" ucap Dicky.
Bu Anjani sudah tak dapat lagi membendung perasaannya Dia langsung memeluk kepala putranya itu dengan derai air mata dan penuh cinta kasih.
"Bangun Nak, bangunlah, kau sangat lembut dan baik hati, tidak heran semua staf Dokter senior memilihmu menjadi kepala rumah sakit!" ucap Bu Anjani sambil mengusap wajah Dicky yang basah itu.
"Jadi, bukan karena Ibu yang merekomendasikan aku?" tanya Dicky.
"Mereka mengajukan proposal padaku, aku langsung menyetujuinya dan ikut mendukungmu!" jawab Bu Anjani.
Mereka lalu berpelukan, pelukan antara Ibu dan Anak yang terpisah selama bertahun-tahun, selama ini saling melihat dan menatap, tapi tanpa bersentuhan.
Fitri menatap mereka dengan perasaan haru, begitu juga Mbok Jum, dia menangis terisak, selama ini dia yang selalu setia menemani Bu Anjani dalam kesendiriannya.
"Rasanya ibu ingin terus memelukmu Nak, membayar semua kerinduan Ibu padamu!" bisik Bu Anjani.
"Peluk aku Bu, peluk aku sebanyak yang Ibu mau!" balas Dicky.
Bu Anjani terus memeluk Dicky sambil menangis, menumpahkan segala rasa yang di pendamnya selama ini, putra yang selalu di lihatnya dari kejauhan Kini bahkan bisa di sentuhnya.
"Ibu jangan takut, mulai hari ini aku akan menjaga Ibu!" ucap Dicky.
"Iya Nak, Ibu percaya putra Ibu kini telah dewasa, bisa menjaga Ibu dan seluruh Keluarga! Ibu bangga padamu!" balas Bu Anjani.
Tiba-tiba Mbok Jum datang mendekati mereka.
"Maaf Nyonya, sepertinya makan malam sudah siap!" kata Mbok Jum.
Bu Anjani segera mengurai pelukannya.
"Ah, aku sampai lupa, kalau hari sudah malam, Dicky anakku, ajaklah istrimu makan malam di rumah Ibu, ini juga adalah rumahmu!" ucap Bu Anjani.
"Trimakasih Bu, tapi ... anakku sudah lama di tinggal, dia pasti butuh ASI ibunya, aku tidak menyangka hari sudah malam!" kata Dicky.
"Mas Dicky, tidak apa-apa jika kau ingin makan malam bersama Ibu, lagi pula kan ini pertama kalinya kau makan malam bersama, soal Alex, persediaan ASI ku di freezer masih banyak!" ucap Fitri.
__ADS_1
"Kau pandai memilih istri Nak, istrimu sangat bijak, kau pasti sangat bahagia saat ini!" ujar Bu Anjani sambil membelai rambut Dicky.
"Iya Bu, menikahi Fitri adalah anugrah terbesar dalam hidupku, baiklah, aku akan makan malam bersama Ibu malam ini!" jawab Dicky.
Bu Anjani tersenyum senang.
Mereka kemudian beranjak menuju ke ruang makan yang sangat besar.
Kemudian mereka duduk di meja makan besar yang berbentuk persegi panjang, yang terbuat dari kayu jati yang tebal, dengan kaca yang ada di atasnya.
Aneka makanan sudah terhidang di meja makan itu.
"Banyak sekali makanannya!" gumam Dicky.
"Tadi saat kita mengobrol, Mbok Jum menyuruh para pelayan untuk memasak makanan ini, sengaja untuk kita makan malam bersama!" ujar Bu Anjani.
"Ibu, di rumah sebesar ini, apakah Ibu hanya tinggal sendirian saja?" tanya Fitri.
"Tidak, aku tinggal bersama Bram dan istrinya!" jawab Bu Anjani.
"Bram? Pak Bram maksudnya? Apakah Bu Anjani masih ada hubungan dengan Pak Bram?" tanya Dicky.
"Pak Bram itu adalah saudara tiri dari Ayahmu, jadi dia itu masih pamanmu, tapi dia tidak makanya Ibu percayakan dia yang memegang kendali rumah sakit!" jawab Bu Anjani.
"Kenapa dia tinggal di sini?" tanya Dicky.
"Rumah ini sangat besar, tidak mungkin Ibu tinggal sendirian, makanya Bram dan Asih istrinya Ibu ajak tinggal di sini!" jawab Bu Anjani.
"Oh pantas saja, dia tau banyak tentang Ibu, sekilas dia pernah menceritakannya padaku saat aku mengantarkan berkas padanya!" ujar Dicky.
mereka kemudian mulai menikmati sajian makan malam itu.
"Mulai besok, ibu akan buka ke publik, bahwa anak Ibu adalah Dokter Dicky Pradita!" ucap Bu Anjani
"Apakah Ibu sudah siap? Tidak takut lagi?" tanya Dicky.
"Tidak sayang, Ibu tidak takut lagi, walaupun akan mendapat banyak ancaman nantinya!" jawab Bu Anjani yakin.
"Aku akan menjaga dan melindungi Ibu!" ucap Dicky sambil menggenggam tangan Bu Anjani.
__ADS_1
Bersambung ....
****