Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Bertemu Dalam Mimpi


__ADS_3

Dicky mengerjapkan matanya, perlahan mulai membukanya dengan sempurna.


Dia melihat ke sekelilingnya, nampak hamparan Padang rumput yang sangat hijau dan luas, hingga tak bertepi.


Kabut tipis menyelimuti tempat itu, begitu sunyi dan sepi, hanya terdengar suara desiran angin yang berhembus perlahan, membuat rasa sejuk dalam tubuh Dicky.


"Dicky ..."


Terdengar olehnya ada suara yang memanggilnya.


Suara itu terdengar jauh namun terasa begitu dekat.


Suara yang pernah sangat di kenalnya.


Dicky mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, hingga saat dia menoleh kebelakang dia sedikit terpana.


Seorang wanita cantik bergaun putih sudah berdiri menatapnya dengan tatapan lembut.


"Ra-Ranti?" suara Dicky tertahan tatkala menyebut nama itu.


"Dicky ... maafkan aku ... maafkan aku Dicky!" ucap Ranti.


Ada buliran air mata yang menetes di pipi wanita itu.


"Ranti, bagaimana kabarmu? Lama sekali aku tidak melihatmu!" ucap Dicky.


"Dicky ....aku ... aku ingin pergi Dicky ... aku lelah, aku ingin pulang!" kata Ranti lirih.


Dicky terdiam menatap Ranti, hatinya bergetar melihat bola mata yang dulu pernah sangat di kaguminya.


Namun kuasa takdir tidak pernah berpihak pada mereka, sehingga mereka harus mengalami luka itu, luka yang begitu dalam.


"Aku ingin pulang Dicky, maukah kau mengantarku pulang?" tanya Ranti dengan tatapan penuh pengharapan.


"Kau mau pulang kemana? Kenapa kau tidak meminta Dio untuk mengantarmu?" tanya Dicky balik.


Ranti nampak menangis dengan pedih, suara isakan nya memilukan hati siapa saja yang mendengarnya.


"Dio sangat baik, bahkan teramat sangat baik, aku sudah terlalu banyak melukai hatinya, aku berdosa terhadapnya dan terhadap Chika anakku!" jawab Ranti.


"Kau masih punya kesempatan untuk memperbaikinya!" ujar Dicky.


"Tidak! Waktuku tidak banyak, saat ini aku hanya ingin kau datang mengantarku pulang, walaupun terbentang dinding di antara kita, tapi aku masih bisa merasakan kenangan itu, kenangan yang tidak pernah aku lupakan!" ucap Ranti.


Dicky terdiam menatap wanita itu, Wanita yang dulu pernah menemani hari-harinya, mewarnai hidupnya, dan memberikannya sebuah impian, meskipun semuanya kandas di tengah jalan.


"Sampaikan maaf ku untuk Fitri istrimu, aku ikhlas dan bahagia melihatmu dan Fitri bahagia, maafkan aku ... maafkan aku!" Isak Ranti sambil berjalan menjauh dari Dicky.


"Ranti, kau mau kemana?? Jangan pergi Ranti, kau boleh cerita apa saja padaku!! Tapi kau jangan pergi!!" seru Dicky.


Ranti tidak lagi bicara, namun jelas terlihat dari pancaran bola matanya, ada sebuah kerinduan yang tersimpan, dan itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


"Ranti! Kenapa kau diam saja! Ayo bicaralah Ranti! Apa yang mau kau katakan? Katakanlah padaku!" teriak Dicky.


"Ranti!!"


Sebuah tepukan di pipi Dicky menyadarkan Dicky.


Dicky langsung terbangun, matanya terbuka saat melihat Fitri sudah duduk di hadapannya.


"Kau kenapa Mas?? Kau mimpi apa? Kenapa kau menyebut nama Ranti??" tanya Fitri.


Dicky tidak langsung menjawab pertanyaan Fitri, dia mengumpulkan segenap kesadarannya untuk mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.


"Matamu basah Mas, kau menangis?" tanya Fitri sambil mengusap kedua mata Dicky yang memang basah.


Tiba-tiba Dicky langsung memeluk Fitri dengan erat sambil menangis.


"Aku bermimpi Fit, aku bermimpi bertemu dengan Ranti, dia memintaku untuk mengantarnya pulang, firasat apa ini?" ucap Dicky dengan suara sedikit bergetar.


"Jadi, kau bermimpi bertemu dengan Ranti? Tumben!" gumam Fitri.


"Aku juga tidak tau Fit, tiba-tiba saja Ranti muncul dalam mimpiku, dan itu sangat terlihat nyata, seolah-olah bukan mimpi!" ungkap Dicky.


"Mas, mungkin ada yang ingin Ranti sampaikan padamu, selama ini kita bahkan sangat jarang menjenguk dia, besok kita jenguk Ranti ya Mas!" ajak Fitri sambil mengusap kedua pipi Dicky dengan tangannya.


"Iya Fit!" sahut Dicky.


Fitri terdiam, dia menyadari satu hal, bahwa selain dirinya, Dicky pernah mencintai wanita lain dengan amat dalam, dan wanita itu adalah Ranti.


Dicky dan Fitri bertemu saat keduanya tengah terluka, namun kini luka itu sudah pulih, dan berubah menjadi cinta yang tulus dan suci.


"Maafkan aku Fit!" ucap Dicky tiba-tiba, saat melihat Fitri terdiam sesaat.


"Tidak Mas, kenapa kau harus minta maaf? Semua orang pernah punya masa lalu, kalau tidak ada masa lalu, tidak mungkin akan ada masa kini!" jawab Fitri.


Dicky melirik ke arah jam dinding kamarnya sekilas, waktu sudah menunjukan pukul dua dinihari, entah mengapa dia masih kepikiran soal mimpinya tadi.


"Tidur lagi Mas, tuh lihat masih jam dua subuh, ayo, katanya besok mau mengadakan bakti sosial di rumah sakit!" ujar Fitri mengingatkan.


Dicky menganggukan kepalanya, dia kembali mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Namun matanya masih menerawang menatap langit-langit kamar.


"Besok setelah mengadakan acara bakti sosial, kita jenguk Ranti ya Mas!" kata Fitri yang ikut berbaring di sampingnya.


"Iya Fit, kau temani aku ya!"


"Tentu saja Mas ..."


"Kau tidak marah kan Fit?" tanya Dicky.


"Marah kenapa Mas?"

__ADS_1


"Kalau aku ingat Ranti!" ucap Dicky.


"Kenapa harus marah Mas? Aku tidak punya alasan untuk marah padamu, Ranti sudah ada di hatimu sebelum aku ada, dan itu bukan kesalahanmu!" jawab Fitri.


"Terimakasih ya Fit, kau sangat baik dan pengertian, aku bersyukur Tuhan dan takdir mempertemukan kita!" bisik Dicky.


"Iya Mas, aku juga sangat bersyukur, bisa jadi istri kamu, sekarang tidurlah Mas, pejamkan matamu!" ucap Fitri sambil menarik selimut Dicky.


Kemudian dengan lembut Fitri mengelus dahi Dicky, supaya laki-laki itu bisa segera memejamkan matanya.


"Aku takut Fit!" ucap Dicky.


"Kau takut apa Mas?"


"Takut kalau mimpi itu datang lagi ..."


"Biarkan saja kalau mimpi itu datang lagi, barangkali Ranti hanya rindu padamu!" jawab Fitri.


"Kasihan Dio, juga Chika ...mereka pasti sangat menderita!" gumam Dicky.


"Sudahlah Mas, yakin saja kalau mereka akan baik-baik saja!" ucap Fitri.


"Iya Fit ..." Dicky mulai memejamkan matanya.


Drrt ... Drrt ... Drrt


Tiba-tiba ponsel Dicky bergetar, Dicky kembali membuka matanya, tangan Dicky lalu segera meraih ponselnya itu yang dia letakan di atas meja samping tempat tidurnya.


Ada panggilan masuk dari Dio, dada Dicky tiba-tiba bergemuruh kencang.


Dengan perlahan Dicky mengusap layar ponselnya itu.


"Halo ..."


"Halo Dokter, maafkan aku mengganggu tidurmu ..."


"Ada Apa Dio??"


"Aku hanya ingin memberimu kabar, kalau Ranti ... Ranti sudah pergi, dia sudah pergi meninggalkan kita, dia sudah meninggal!" terdengar suara Dio yang menangis.


Dicky terhenyak, seluruh tubuhnya terasa begitu ringan bagaikan kapas, dia nyaris tidak mempercayai apa yang harus saja di dengarnya.


"A-Apa?? Ranti meninggal?? Benarkah??" tanya Dicky tak percaya, matanya kelihatan mulai memerah.


"Iya Dokter, dia baru saja meninggal sekitar sepuluh menit yang lalu, dan sebelum dia meninggal, dia sempat menyebut namamu!" ucap Dio sambil terisak sedih.


Dicky terdiam, tidak mampu lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun.


Bersambung ....


****

__ADS_1


__ADS_2