Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mengobrol Dengan Mertua


__ADS_3

Pagi ini seperti rutinitas pada umumnya, Dicky bersiap akan ke rumah sakit, meski kini dia tidak memiliki jadwal tetap, tapi dia harus tetap mengontrol dan memantau rumah sakit yang kini menjadi tanggung jawabnya secara penuh.


Mereka mulai terlibat dalam sarapan bersama di meja makan itu.


Dina dan Dara juga terlihat sudah rapi mengenakan seragam sekolah mereka. Mang Salim siap mengantarkan mereka ke sekolah.


"Apa perlu Ibu ikut mendampingi mu ke rumah sakit?" tanya Bu Anjani.


"Tidak usah Bu, Ibu di sini saja bermain dengan cucu Ibu!" jawab Dicky.


"Baiklah, ibu senang akhirnya bisa tinggal bersama dengan kalian di rumah ini, selama bertahun-tahun lamanya, Ibu hidup dalam kesepian!" ungkap Bu Anjani.


"Fitri akan menemani Ibu, mulai sekarang Ibu punya teman mengobrol, juga bis menimang cucu sepuasnya!" ucap Dicky.


Pak Bram dan Lina istrinya nampak baru turun dari lantai atas.


Mereka tidak langsung menuju meja makan, tetapi langsung berjalan keluar menuju ke parkiran, tak lama kemudian mereka sudah terlihat pergi meninggalkan rumah itu dengan sebuah mobil.


"Pak Bram dan istrinya tidak sarapan bareng kita Bu?" tanya Dicky.


"Sejak dulu, mereka tidak pernah mau untuk sarapan sama-sama, mereka akan pergi ke luar rumah dan Baru akan pulang menjelang sore!" jawab Bu Anjani.


"Oooo!" Dicky dan Fitri membuatkan mulutnya.


"Itulah sebabnya selama bertahun-tahun ibu merasa sangat kesepian, hampir setiap hari Ibu mengajak Mbok Jum dan Pak Juki supir Ibu untuk melihatmu di panti itu, walaupun dari kejauhan, sejak dulu anak ibu ini memang terlihat lincah dan tampan!" ucap Bu Anjani sambil menggenggam tangan Dicky.


"Ibu ... andai dari dulu Ibu datang untuk memelukku, aku pasti tidak akan menolaknya!" balas Dicky.


"Maafkan Ibu Nak, Ibu takut ... sangat takut kehilanganmu, lebih baik Ibu menahan rasa rindu ini, yang penting sekarang Ibu sudah bersamamu, kita tidak akan berpisah lagi!" ucap Bu Anjani.


Setelah mengobrol sebentar Dicky kemudian pamit berangkat ke rumah sakit dengan dua wanita yang kini sangat berharga dalam hidupnya, istrinya dan Ibu kandungnya.


"Aku pamit Fit, Alex, Papa berangkat dulu ya, jangan cengeng!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri dan kening Alex.


"Hati-hati Mas, jangan lupa nanti telepon pakai video call biar Alex lihat Papanya!" kata Fitri.


"Pasti sayang, ini Mas nya kok tidak di cium? Biasanya di cium dulu!" tanya Dicky.


"Malu Mas sama Ibu, sudah sana!" sergah Fitri.


"Jangan malu Fit, Ibu senang kok kalau kamu sayang sama Dicky anak Ibu!" celetuk Bu Anjani.


"Tuh dengar Fit! Ibu saja senang kok, ayo cium!" titah Dicky.

__ADS_1


Dengan sedikit sungkan Fitri berjinjit dan mencium pipi Dicky.


"Lah kok cuma pipi? Bibirnya belum!" protes Dicky.


"Iiih Mas Dicky banyak maunya!" sungut Fitri.


"Ayo! Nanti aku kesiangan gara-gara belum di cium kamu!" cetus Dicky.


Akhirnya mau tidak mau Fitri kembali mencium bibir lembut suaminya itu, Dicky nampak tersenyum senang.


Setelah itu dia segera naik ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya.


"Kau tidak mau di antar supir Nak?" tanya Bu Anjani.


"Tidak usah Bu, aku senang menyetir sendiri!" jawab Dicky.


Mobil itupun kemudian segera melaju meninggalkan rumah besar itu.


Setelah Dicky berangkat, Fitri bersiap untuk menjemur Alex sebelum mandi, Bi Sumi sudah siapkan air hangat untuk mandi dan keperluan Alex.


Kini Bi Sumi menjadi pengasuh Alex, tidak lagi sibuk dengan urusan masak memasak seperti dulu, tugasnya hanyalah membantu Fitri merawat Alex.


Ini adalah pertama kalinya Fitri mengobrol dengan Ibu mertua, selama ini Fitri selalu merasa kalau dia tidak punya mertua.


Fitri kemudian menyerahkan Alex dalam gendongan dan pangkuan Bu Anjani.


"Ibu, selain Pak Bram dan Mbak Lina, apakah di rumah ini ada orang lain yang tinggal?" tanya Fitri.


"Tidak ada, hanya yang kau lihat yang tinggal di rumah ini, memangnya kenapa Fit?" tanya Bu Anjani.


"Ah tidak Bu, hanya bertanya saja!' jawab Fitri.


Fitri tiba-tiba teringat akan kamar Pak Bram semalam, ada suara obrolan lebih dari dua orang, kamar itu terdengar sangat ramai.


Kalau memang di rumah ini tidak ada orang lain lagi, lalu suara siapakah yang Fitri dengar tadi malam? Apakah dia mulai berhalusinasi?


"Kau kenapa Fit? Adakah yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bu Anjani membuyarkan lamunan Fitri.


"Eh, tidak Bu, semalam aku agak kurang bisa tidur, mungkin karena baru kali ya!" sahut Fitri.


"Iya Fit, itu karena kau belum terbiasa, di rumah ini, semua orang tidur lebih cepat dari orang pada umumnya, jadi jam 8 itu sudah terasa mengantuk!" jelas Bu Anjani.


"Oya? Masa sih Bu?" tanya Fitri nyaris tak percaya.

__ADS_1


"Iya, kau lihat saja sendiri, semua orang bahkan pelayan juga cepat tidur, kalau kalian sulit tidur, mungkin karena kalian belum terbiasa!" jelas Bu Anjani.


Fitri terdiam mendengar penuturan Bu Anjani, dia memang merasa ngantuk yang berbeda dari biasa setelah menyusui Alex semalam itu, tapi kenapa hanya Pak Bram dan istrinya yang masih terjaga di tengah malam itu?


****


Semetara itu, Dicky yang baru tiba di rumah sakit langsung berjalan menuju ke ruangan barunya.


Kemudian Dicky segera menghempaskan tubuhnya di kursinya yang empuk itu sambil meletakan tas kerjanya di atas meja.


Ceklek!


Seorang office boy masuk sambil membawa secangkir kopi panas.


"Selamat pagi Dokter Dicky, silahkan di minum kopinya susunya!" kata office boy itu sambil meletakan secangkir kopi susu di atas meja.


"Terimakasih!" ucap Dicky.


Office boy itu hanya menganggukkan kepalanya, dia mengenakan seragam rumah sakit dan memakai masker, seperti pada umumnya.


Aroma kopi susu tercium nikmat, padahal Dicky bukanlah penggemar kopi, biasanya dia akan mencampur susu ke dalam kopi, dan kebetulan yang ada di hadapannya kini adalah kopi susu kesukaannya.


Baru saja Dicky hendak meminum kopi susunya itu, tiba-tiba telepon di mejanya berdering.


Dicky langsung mengangkat teleponnya itu.


"Halo!'


"Halo Dokter Dicky? Ini Suster Wina Dok, di ruangan ada yang mau bertemu dengan Dokter, dia tidak tau kalau Dokter sudah pindah ruangan, ini saya suruh ke tempat Dokter atau Dokter yang mau ke sini menemuinya?" tanya Suster Wina.


"Biar aku saja deh Sus yang ke sana, aku juga sudah kangen sama ruangan lamaku!" jawab Dicky.


"Baik Dokter, Terimakasih!" ucap Suster Wina sebelum menutup teleponnya.


Dicky kemudian langsung keluar dari ruangannya dan langsung berjalan menuju ruangan lamanya.


Ruangan yang sudah menemaninya selama beberapa tahun ini sebelum dia punya ruangan pribadi.


Ketika Dicky membuka pintu ruangan lamanya, senyumnya terlihat lebar saat melihat siapa orang yang mencarinya itu.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2