
Dicky memarkirkan mobilnya di parkiran gedung sebuah sekolah internasional yang sangat besar itu.
Gedung sekolah itu menjulang sangat tinggi, ada delapan lantai, memiliki lapangan sepak bola yang luas dan juga ada fasilitas kolam renang.
Sekolah ini merupakan salah satu sekolah bergengsi yang ada di kota ini, dengan tenaga pengajar yang selektif dan kebanyakan adalah lulusan luar negri.
Dicky kemudian mulai berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke ruang kepala sekolah.
Hingga dia berhenti di ujung koridor, tepat di depan ruang kepala sekolah.
Dicky perlahan mengetuk pintu kaca yang ada di hadapannya itu.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan.
Perlahan Dicky membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan yang luas dan terlihat elegan itu.
Seorang pria setengah baya yang terlihat bukan asli orang Indonesia, karena warna rambutnya yang coklat tersenyum ke arah Dicky.
"Silahkan duduk, ada yang bisa saya bantu?" sapa kepala sekolah itu ramah.
Dicky lalu segera maju dan menjabat tangan kepala sekolah itu kemudian langsung duduk di hadapannya.
"Selamat pagi Pak, saya Dokter Dicky, Dokter anak dari rumah sakit Mutiara, ada hal yang ingin saya tanyakan!" ucap Dicky.
"Saya Mark, biasa murid-murid memanggil saya Mr. Mark, silahkan jika ingin menanyakan sesuatu!" balas Mr. Mark, sang kepala sekolah.
"Sebelumnya terimakasih atas waktu dan kesediaan Bapak, saya hanya ingin menanyakan mengenai salah satu guru pengajar di sini yang bernama Pak Doni Suhardi, bisakah saya bertemu dengan beliau?" tanya Dicky.
"Kalau boleh tau, ada keperluan apa Pak Dokter menanyakan Pak Hardi?" Tanya Mr. Mark.
"Hanya ingin sedikit berbincang, kebetulan dia adalah guru les privat anak saya, dia juga kerja sampingan di yayasan SmartBrain sebagai guru les privat!" jawab Dicky.
"Ya, kami memang memberikan kebebasan para guru untuk memiliki kerja sampingan, asalkan pekerjaan utama nomor satu, Pak Doni Suhardi memang baru bergabung di sekolah ini beberapa bulan, namun kinerjanya sangat luar biasa, beliau bahkan sudah mendapatkan gelar guru teladan di sekolah kami, suatu prestasi yang membanggakan!" jelas Mr. Mark.
"Jadi, apakah bisa saya bertemu dengan beliau?" tanya Dicky.
"Maafkan saya, selama jam kerja guru memang tidak boleh di ganggu, kecuali gawat darurat, jadi anda bisa bertemu dengannya di jam pulang sekolah, sekitar jam 13.30!" jawab Mr. Mark.
"Baik Pak Mark, nanti di jam tersebut saya akan datang lagi, senang berkenalan dengan anda!" ucap Dicky sambil menjabat kembali tangan Mr. Mark.
__ADS_1
"Jangan sungkan, nanti anda bisa langsung menunggu di lobby sekolah atau ruang tunggu, tinggal titip pesan saja dengan guru piket!" kata Mr. Mark.
"Trimakasih Pak, kalau begitu saya pamit, selamat pagi!" ucap Dicky sambil beranjak keluar dari ruangan itu.
Dia segera melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke rumah sakit.
****
Dicky berjalan gontai menuju ke ruangannya, dia menarik nafas lega, paling tidak satu masalah teka teki penyebab dia celaka dan pelaku perampokan di rumahnya sudah tertangkap.
Tinggal dia mencari informasi mengenai Pak Hardi yang masih misterius, selama ini memang Pak Hardi selalu bersikap baik, tidak pernah sedikitpun dia berbuat kesalahan, Dina dan Dara juga nampak cocok dengan metode pengajaran dari Pak Hardi, apalagi di sekolah internasional tempatnya mengajar, reputasinya juga sangat baik.
Seorang guru teladan mungkinkah memiliki niat yang tidak baik? Ini yang masih menjadi tanda tanya besar di benak Dicky.
Seseorang dari belakang menepuk pundak Dicky, hingga pria itu meloncat kaget.
"Eh! Sialan kau Dim!! Buat aku jantungan saja!!" seru Dicky saat melihat Dimas yang tertawa cekikikan di belakangnya.
"Makanya kalau jalan jangan bengong dong Bro!! Nanti cepat pikun kau!!" ledek Dimas.
"Sudah, kau urusi saja sana calon istrimu! Supaya dia makin ramah pada pasien, sebentar lagi Fitri melahirkan, dia harus melayani dengan lembut, jangan kasar seperti dulu!" cetus Dicky.
Mereka berjalan beriringan menuju ke ruangan masing-masing.
"Ngomong-ngomong sorry ya Dim, aku tidak bisa datang ke acara pertunangan mu waktu itu, kau tau kan aku lagi di Jepang!" ujar Dicky.
"Santai Bro, sengaja aku buat saat kau pergi, supaya hemat makananku hahaha!" sahut Dimas tertawa.
"Dasar pelit kau!" sungut Dicky.
"Oya, gimana? Kau sudah tau pelaku kejahatan terhadapmu itu kan? Apa kau mengenalnya Bro?" tanya Dimas.
"Yah aku mengenal mereka, mereka adalah bajingan yang dulu pernah menodai Fitri, ternyata mereka masih dendam padaku, katanya aku yang menyebabkan masa depan mereka suram!" jawab Dicky.
"Yang sabar ya Bro, semua ujian pasti bisa kau lewati, sekarang kau fokus saja pada istrimu itu, sebentar lagi kau akan duluan jadi Ayah! Aku mengaku kalah padamu!" ucap Dimas tulus.
"Kau juga Dim, pasti akan segera menyusul ku!" sahut Dicky sambil menepuk bahu Dimas sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Waktu sudah menunjukan pukul 8.30 pagi, masih ada waktu setengah jam sebelum jadwal praktek di buka.
__ADS_1
Dicky tertegun menatap sebuah amplop tebal berwarna coklat yang ada di atas meja kerjanya.
Di liriknya suster Wina masih sibuk mempersiapkan peralatan untuk praktek nanti.
"Ini amplop apa Sus?" tanya Dicky sambil menaruh tas nya di atas meja kerjanya itu, kemudian dia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Oh, itu Dok, tadi pagi Ibu Anjani datang kesini, tapi Dokter Dicky belum datang, jadi dia menitipkan amplop itu buat Dokter, katanya sebagai pengganti kerugian akibat Dokter di rampok waktu itu!" jawab Suster Wina.
"Lho, aku yang di rampok kenapa dia yang mengganti rugi?" tanya Dicky heran.
"Mana saya tau? Sudah terima saja Dok, anggap saja rejeki nomplok!" sahut Suster Wina.
Dicky kemudian mengintip isi dari amplop tebal itu, setelah menghitungnya jumlahnya fantastis.
"Apakah semua kepala rumah sakit mendapat fasilitas seperti ini ya?" gumam Dicky.
"Jangan lupa traktir-traktir lho Dok!" celetuk Suster Wina sambil tersenyum.
"Hmm, sepertinya aku harus ketemu langsung sama Bu Anjani, untuk mengucapkan trimakasih!" ujar Dicky.
"Datang saja ke rumahnya Dok! Dia jarang datang ke rumah sakit!" sahut Wina.
"Nanti lah, sekalian aku ajak Fitri, selama ini aku bahkan tidak pernah ngobrol dengan Bu Anjani, padahal dia yang punya rumah sakit!" ujar Dicky.
Seorang suster lain masuk ke dalam ruangan Dicky.
"Dokter, itu di depan sudah ada pasien yang mengantri, kasihan Dokter, sepertinya kondisi nya buruk!" kata suster itu.
"Eh, iya nih sudah mau jam sembilan, ayo deh langsung saja suruh masuk Sus!" titah Dicky.
Seorang Ibu kemudian masuk ke dalam ruangan Dicky sambil menggendong seorang balita yang terlihat banyak sekali bisul di kepalanya.
Bersambung ...
****
Hai Readers semua ...
Demi kebahagiaan kalian dan cinta Author pada kalian, Author akan coba crazy up setiap hari ya 😘
__ADS_1